My Cruel Husband

My Cruel Husband
Awal sebuah cerita


__ADS_3

Cedera yang dialami Vanilla pada bagian kepala sangat berat. Sehingga menimbulkan beberapa komplikasi salah satunya adalah kehilangan penglihatan. Hal ini terjadi karena saraf yang bekerja untuk penglihatannya mengalami cedera bersamaan dengan benturan di kepalanya.


Vanilla dan kedua temannya langsung dibawa ke rumah sakit oleh orang yang juga mengisi jalan raya di sekitar mereka.


Rena dan Raihan bergegas ke rumah sakit setelah mendapat panggilan dari pihak kepolisian. Lelaki yang bertugas untuk menyelidiki kecelakaan itu mengatakan kalau mobil Vanilla hancur lebur karena menabrak satu truk besar di depan mereka. Tak hanya itu, dari arah belakang mobil Vanilla pun ada yang secara tidak sengaja kian memperparah kerusakan yang sudah terjadi.


Saat itu juga pikiran kedua orangtua Vanilla kacau. Perasaan khawatir jangan lagi ditanya. Rena sampai lebih dulu di sana. Sementara Raihan bergegas langsung dari kantornya.


"Saya harus bagaimana, Dok? tolong Carikan pendonor mata untuk anak saya. Dia kesakitan di dalam sana," suara Raihan sangat pelan, penuh keputus asaan. Ingatan akan kebahagiaan yang selama ini mereka rangkai, putri kecilnya yang selalu menentang dan manja kini terbaring mengenaskan.


"Saya harap bisa secepat mungkin Nona Vanilla mendapatkan donor mata dari orang yang baik,"


Kondisi Renald dan Joana yang juga diketahui oleh Rena pun tidak jauh berbeda dengan anaknya. Mereka terluka parah. Namun tidak sampai membuat keduanya cacat untuk beberapa waktu ke depan. Renald mendapat jahitan di kepalanya sementara Joana mengalami pecah pembuluh darah di hidung.


"Bagaimana kita menjelaskan perihal ini pada orangtua Joana dan Renald, Pa?"


Rena dan Raihan sedang menunggu Vanilla yang juga belum sadar. Sekarang dan entah sampai kapan menantikan mata biru itu terbuka adalah saat-saat yang menegangkan, dan membuat mereka ketakutan. Vanilla tidak akan menerima semua ini. Gadis yang sangat cinta dengan kesempurnaan itu akan marah besar pada dirinya sendiri atau bahkan penyebab kecelakaan yang baru saja terjadi.


Bukan Renald yang salah, bukan juga pengemudi truk itu. Namun takdir lah yang membuat konsep ceritanya menjadi seperti ini.


"Sudah diurus dengan orang-orangku. Mereka juga berhak mendapat santunan walaupun Vanilla tidak salah. Mereka kecelakaan di dalam mobil anak kita,"

__ADS_1


"Iya, Mereka sama hancurnya dengan kita. Tapi kita masih beruntung. Uang untuk perawatan Vanilla sampai nanti masih bisa Papa tanggung. Tapi mereka bagaimana?" kasihan, Pa." Rena terisak di dalam pelukan suaminya. Raihan mengalami dua tekanan sekaligus di punggungnya. Rena yang masih sulit menerima keadaan ini dan juga Vanilla yang kondisinya tidak baik-baik saja. Ini belum termasuk reaksi Vanilla yang bisa saja lebih dari Rena.


"Tenang saja, itu semua sudah diselesaikan,"


Hati Raihan yang keras pun akan merasa hancur bila menyangkut orang-orang yang dicintainya. Mereka adalah belahan jiwa Raihan. Rena dan Vanilla sama-sama terluka karena peristiwa ini. Semuanya tidak ada dalam bayangan Raihan. Tadi pagi Vanilla masih baik-baik saja. Bahkan Ia pamit dengan Raihan saat akan pergi kuliah dan mengunjungi pusat perbelanjaan setelah sekian lama Ia melupakan kebiasaan santunnya dulu. Raihan tidak tahu kalau itu merupakan suara terakhir yang dikeluarkan gadis kecilnya sebelum kegelapan merenggut semuanya.


Ya, setelah ini Vanilla tidak bisa lagi menikmati warna-warni kehidupan. Hanya kosong dan gelap yang akan menemaninya setiap saat. Ia hanya bisa merasakan tanpa bisa melihat. Inikah hukuman dari Tuhan untuk anak bungsunya? Ya Tuhan, Raihan sangat ingin menangis saat ini bahkan meraung keras untuk melepaskan beban besar di dadanya. Namun tidak bisa dan tidak boleh. Kalau Ia terpuruk juga, maka siapa yang akan menjadi sandaran Rena dan Vanilla? keduanya sangat membutuhkan peran Raihan untuk selamanya.


*****


PRANG


"Ya Tuhan," Devan mengusap dadanya yang tiba-tiba saja berdebar. Keringat Devan mengalir di sekitar kening juga leher. Matanya bergerak gelisah, menatap satu persatu serpihan kaca di lantai.


Lovi yang sedang menonton di televisi bersama Andrean terkejut ketika mendengar suara nyaring tersebut. Ia menghampiri Devan dengan cepat diikuti dengan si sulung.


"Dad, kenapa gelasnya pecah?"


Lovi mendekati suaminya dan membalik tubuh tegap lelaki itu. Dahi Lovi mengerinyit saat melihat wajah Devan yang tegang.


"Ada apa sebenarnya?" tanya Lovi dengan lembut. Ia menghapus jejak air di sekitar kepala suaminya.

__ADS_1


Devan meraih tangan Lovi dan meremasnya dengan kuat. Lovi sampai meringis dibuatnya.


"Dev..."


"Aku--perasaanku tidak enak, Lov. Aku tidak tahu apa yang terjadi," suaranya terbata saat menjelaskan. Tidak tahu sebabnya apa sehingga pikirannya berkecamuk saat ini. Namun batinnya mengatakan ada sesuatu yang buruk baru saja terjadi.


Lovi melepaskan tangannya dari lingkup jemari suaminya untuk mengusap wajah Devan. Menghilangkan kegelisahan yang terpatri jelas di sana.


"Tenangkan dirimu dulu. Mungkin saja itu hanya sebuah firasat. Jangan berburuk sangka," Lovi menggenggam tangan suaminya yang terasa bergetar. Bibir Lovi mengecup buku-buku jari Devan. Hanya ini yang bisa Ia lakukan. Menyalurkan ketenangan untuk Devan yang juga sedang bingung dengan apa yang terjadi.


Andrean masih berdiri tak jauh dari kedua orangtuanya. Ia tidak mengerti dengan semua ini. Daddynya yang memecahkan gelas, lalu keduanya berpelukan dengan Lovi yang mengucapkan kalimat menenangkan. Sebenarnya mereka kenapa?


Langkah kaki Adrian terdengar bergemuruh. Ia berlari menuruni tangga seraya menggenggam benda tipis yang sedari tadi dimainkannya secara diam-diam. Belum sampai di undakan terakhir Ia sudah berteriak.


"DADDY, GRANDMA TELEPON!"


----------


ADA YG PENISIRIN SM KISAHNYA SI VANILLA STLH BUTA GA?


Readers : KGK ADA! GOSAH TERBANG GEER GT DEH LU.

__ADS_1


Akyu : Ya mangap. Kn cuma nanya, Malih. Soalny aku udh nulis dikit, kl gk penisirin yaudh gosah dilanjut nulisnya awokwok.


__ADS_2