My Cruel Husband

My Cruel Husband
Mengunjungi Angel lagi


__ADS_3

"Ayo, Dad. Kita lomba renang."


"Okay, bertiga ya."


Andrean dan Adrian mengangguk. Mereka bertiga mulai bersiap. Ketiganya menciptakan jarak layaknya perlombaan renang pada umumnya.


"Adrian kurang jauh jaraknya,"


"Sudah, Dad. Mau jauh sampai mana? aku keluar dari kolam sekalian?"


"Katanya mau lomba tapi malah berdebat. Cepat lomba! Auris sudah menunggu ini," suara Rena menghentikan perdebatan putra dan kedua cucunya itu.


"Lov, kamu jadi juri,"


Lovi mengangguk saat suaminya meminta Ia jadi juri. Auristella mengangkat kepalanya untuk menatap Lovi.


"Auris juga mau? bisa berhitung?"


Auristella menggeleng seraya mengangkat bahunya. Gaya nya itu membuat Lovi tersenyum.


"Satu...."


"Dua..."


Adrian dan Andrean menurunkan kacamata renang yang ada di atas kepala mereka, bersiap untuk memasukkan kepala ke dalam permukaan air.


"Tiga!"


Byurr


Byurr


Byurr


Byurr


Ketiga lelaki itu berlomba untuk sampai lebih cepat di ujung kolam renang. Adrian panik saat melihat Andrean dan Devan sudah selangkah lebih maju di depannya.


Dan yang menjadi pemenang nya adalah Devan. Yang terakhir sampai adalah Adrian, kemudian balik lagi ke tempat semula.


Di tempat semula, Devan juga yang sampai lebih cepat. Tapi Adrian berhasil menjadi yang kedua.


"ARGHHH DADDY TIDAK BOLEH MENANG,"


"Huh? kenapa bisa begitu? harus fair lah," ujar Devan seraya tersenyum miring.


"Ayo, Lov. Beri tahu siapa pemenangnya,"


"Sekali lagi, kalian harus berlomba sekali lagi,"


"YESS!"


"Masih ada kesempatan," kata Andrean menyahuti teriakan senang adiknya. Devan menatap sang istri dengan pandangan tak terima.


"Kamu tidak adil denganku. Pasti ingin membuat aku kalah ya?"


"Sudah, Devan. Turuti saja apa kata juri," ujar Senata menengahi. Senata dan Rena tertawa geli melihat wajah kesal Devan.


Mau tidak mau lelaki itu melakukan apa yang dikatakan istrinya. Mereka harus berlomba lagi untuk menentukan siapa pemenang nya.


Mereka bertarung sekali lagi. Tekad Andrean dan Adrian semakin besar. Jiwa kompetisi sudah ada sejak mereka masih kecil karena sering mengikuti perlombaan-perlombaan. Dan ambisius untuk selalu menjadi pemenang selalu ada dalam diri mereka. Itulah yang terkadang membuat mereka sangat kecewa bila tidak menjadi pemenang hingga terkadang Adrian tidak sungkan menangis bila Ia mengalami kekalahan.


Andrean mengangkat kepalanya untuk mengambil napas banyak-banyak. Ia sudah tiba lebih dulu dibandingkan Devan dan Adrian.


Walaupun dia pemenangnya tapi tetap saja ekspresi nya datar. Berbeda sekali bila Adrian yang menang. Pasti sudah berteriak senang dia.

__ADS_1


"Baru kali ini melihat pemenang yang raut wajahnya biasa saja," gumam Rena mengundang tawa geli Senata yang mendengar nya.


"Ah aku kalah lagi,"


Adrian memukul permukaan air dengan kesal. Devan mengangkat sebelah alisnya seraya membawa rambutnya ke belakang, Ia menatap Adrian dengan pongah.


"Daddy juara dua,"


Adrian mendengus. Ia yang kalah sekarang. "Okay, Mommy umumkan pemenang nya ya,"


"Tidak usah diumumkan, Mom. Aku sudah tahu siapa yang menang," ucap Adrian.


"Harus diumumkan,"


"Karena kamu kalah jadi tidak mau mendengar pemenang nya siapa? tidak boleh begitu, Adrian." Devan mencubit pipi anak keduanya dengan gemas.


"Juara satu Andrean,"


"WUHUUU," Devan heboh sendiri. Dia mengangkat Andrean ke atas bahu nya. Auristella menatap perilaku Daddy nya dengan mimik wajah bingung.


"Juara dua Adrian,"


"Adrian? jelas-jelas aku yang----"


"Juara tiga Daddy,"


"Keputusan juri tidak bisa diganggu gugat!" Tegas Lovi menyanggah suaminya yang ingin menyampaikan protes.


Rena tertawa renyah kemudian berkata, "Mengalah demi anak, Devan."


*****


Selesai makan malam, Devan masih bertahan di meja makan bersama Raihan. Mereka membicarakan banyak hal. Sementara Lovi dan anaknya yang perempuan sudah masuk ke dalam kamar karena sejak menemani kedua kakaknya berenang, Auristella sudah mengantuk.


Andrean dan Adrian langsung mengerjakan tugas sekolah mereka setelah makan malam.


"Ini sudah benar, yang ini diperbaiki. Hitung sekali lagi coba,"


"Okay, Mom."


Tidak menyerah, Adrian tetap semangat mengerjakan tugas meskipun masih ada soal yang belum benar jawabannya.


Adrian keluar dari kamar bertepatan dengan masuknya Devan ke kamar. "Mengerjakan tugas?"


"Iya, tapi ada yang salah,"


"Ya sudah, perbaiki."


"Ini mau diperbaiki. Sabar, Dad."


Adrian berjalan masuk ke dalam kamarnya dan Devan menatap Lovi yang tengah menepuk-nepuk lembut punggung Auristella.


"Lov..."


"Hmm?"


Sebelum jujur, Devan menghela napas terlebih dahulu. Sementara Lovi menunggu Devan yang sepertinya ingin membicarakan sesuatu.


"Sebenarnya tadi siang aku datang ke pemakaman temanku dulu. Dia meninggal karena sakit dan meninggalkan satu orang anak. Aku membawa anaknya untuk bermain dan belanja untuk mengurangi kesedihannya,"


"Ya Tuhan, turut berduka cita. Dia sakit apa?"


"Leukimia,"


"Astaga..." hati Lovi terasa diremat. Meskipun Ia tidak kenal dengan orang yang dimaksud Devan, tapi Lovi bisa turut merasakan sakitnya. Tak bisa dibayangkan sesulit apa jalan hidup yang dilalui orang itu.

__ADS_1


"Maaf aku sudah membohongimu, Lov."


"Dia pernah jadi teman satu malamku," lanjut Devan yang membuat Lovi terdiam menatap Devan. Tidak, dia tidak cemburu. Hanya saja Ia sedang berpikir, tidak salah jika Devan ingin anak dari perempuan itu berhenti merasakan kesedihan. Karena Devan dan Ibunya pernah dekat.


"Suaminya meninggalkan dia saat tahu kalau dia punya penyakit,"


"Oh kalau tidak salah, kamu sudah pernah bercerita tentang hal itu. Apa itu orang yang sama?"


"Aku pernah bercerita padamu tentang Lianne?"


"Sepertinya, kalau aku tidak salah ingat."


"Ya, begitulah kisah hidupnya. Aku tidak tega dengan anaknya, Lov. Dia seusia kedua anak kita. Tapi sudah ditinggal oleh Ayahnya yang tidak peduli, dan Ibunya yang pergi dari dunia karena sakit,"


"Lalu anak itu tinggal dengan siapa sekarang?"


"Neneknya, Ibu dari Lianne."


"Aku tenang mendengar itu. Setidaknya dia masih memiliki sanak keluarga,"


"Besok aku boleh melihatnya?"


"Siapa?"


"Angel,"


"Boleh saja, aku tidak melarang. Besok kamu datang saja ke kantorku dan aku akan mengantarmu ke rumah nenek nya Angel,"


*****


Lovi memperhatikan rumah sederhana di depannya. Ia menoleh pada Devan yang mengangguk.


"Ayo, kita masuk."


"Ini rumahnya?"


"Iya, kenapa?"


"Suasana nya nyaman walaupun sederhana. Aku suka rumah seperti ini,"


Devan menghela rambut istrinya yang terbawa angin ke belakang telinga. Kemudian merangkul bahu sang istri untuk masuk ke dalam.


Devan mengetuk pintu dengan sopan. Ia melakukannya beberapa kali sampai akhirnya pintu terbuka.


Yang membukanya adalah Angel. Anak perempuan itu tersenyum menyapa Devan kemudian matanya beralih pada Lovi.


"Ayo, masuk Uncle, Aunty."


"Ya, terima kasih."


"Dimana nenekmu?"


"Nenek sedang bekerja,"


Devan dan Lovi duduk di ruang tamu yang ukurannya tidak seberapa itu. Bersih sekali rumahnya sehingga menambah kenyamanan.


"Angel, dia istriku. Kamu bisa memanggilnya Aunty Lovi,"


Angel mengangguk dan tersenyum pada Lovi Yang sedari tadi tidak lepas memperhatikan anak itu.


---------


Udh mampir ke sini👇 blm? Mampir dan tinggalkan jejak yaa.


__ADS_1


Aku akan up Nillaku jg. Ditunggu yaa hehehe. Makasih semuanyaa🙏 Peluk sayang dari aku🤗❤️



__ADS_2