
"Sampai rumah langsung istirahat. Jangan membantah. Kalau terlalu banyak bermain, kamu bisa kelelahan,"
"Ayo cepat, Devan. Aku merindukan Auris,"
"Iya, tenang Lov. Kita tidak boleh mengendarai mobil dengan kecepatan yang gila lagi,"
"Astaga, aku lupa. Maaf, aku akan seperti ini kalau meninggalkan anak sudah terlalu lama,"
"Lagipula Auris tidak kemana-mana. Santai saja, Mommy. Dia tidak menangis juga 'kan?"
"Kalau ada Vanilla atau Jane, Auris pasti akan tenang-tenang saja,"
Lovi mengangguk setuju dengan suaminya. Karena Jane dan Vanilla tahu apa yang bisa membuat suasana hati Auristella kembali baik, tidak berbeda jauh dengan Lovi.
********
Sampai di mansion, Adrian baru ingat kalau Devan berjanji akan membelikannya robot besar yang dilihatnya tadi, tetapi usai bermain kata Devan.
"Daddy mengucap janji palsu! tadi kata Daddy mau belikan itu untuk Adrian kalau kita sudah mau pulang,"
"Daddy tidak berjanji. Daddy hanya mengatakan 'ya, nanti saat pulang.' Tidak ada janji di dalam kalimat Daddy,"
Adrian mencak-mencak karena kesal. Kenapa Ia baru ingat ketika sudah sampai?
"Ayo, kita pergi lagi. Beli robot yang besar itu,"
"Tidak, Daddy lelah. Kamu saja ke sana sendiri, setir mobil sendiri,"
Adrian mengerang tidak terima ketika Devan malah masuk ke dalam kamar usai mengambil minum.
"Adrian, kita baru sampai. Kamu aneh-aneh saja permintaannya,"
"Tapi Daddy sudah janji tadi,"
"Daddy tidak janji. Lain kali kalau Daddy bicara kamu rekam supaya tidak salah mengartikan," sahut Devan yang masih bisa mendengar ucapan anaknya. Suka sekali memutar balikkan fakta. Jelas-jelas Ia tidak pernah berjanji ingin membelikan itu.
"Aku sudah berharap punya itu, Mommy." Adrian menghentak kakinya kesal. Ia belum mencuci tangan dan kaki, lalu tiba-tiba ingat robot. Anak yang gagal menjadi bungsu itu benar-benar tidak terduga pikirannya.
"Dia mau apa? robot?"
"Iya, tadi di jalan melihat robot besar lalu meminta Daddy-nya untuk membelikan. Devan memang tidak janji, dia saja yang asal bicara,"
"Yang penting dibelikan ya, Ad? masalah benar atau tidaknya Daddy berjanji, itu masalah di akhir,"
"Tapi Daddy janji! benar, Adrian tidak bohong,"
__ADS_1
Lovi menggeleng pelan ke arah Vanilla agar tidak meladeni anak itu. Nanti juga lelah sendiri marah-marah.
"Ya, sudah. Ayo, kita beli."
"YEAAYY, BENAR YA, UNCLE?"
"Jangan dibiasakan apa-apa langsung dituruti, lalu kalau tidak turuti malah merajuk. Tidak baik untuk ke depannya. Dia akan menjadi anak yang egois. Jangan, Jhico. Biarkan saja dia marah. Nanti juga baik sendiri,"
"Mommy..."
"Adrian semakin sulit ya diberi tahu? mainanmu sudah sangat banyak. Pakai yang ada,"
"Tapi Adrian belum punya robot besar,"
Adrian menjadi tontonan gratis kakak dan adiknya. Seharusnya Auristella yang merajuk karena tadi ditinggal. Kenapa malah dia yang merajuk hanya karena mainan? datang-datang langsung menagih sesuatu yang katanya dijanjikan Devan.
"Kamu saja masih kecil, untuk apa punya robot besar?"
Adrian duduk di ruang makan. Ia menarik kursi dengan gerak tidak santai. Hal itu menimbulkan suara mengganggu. Adiknya yang sedang makan melihat sang kakak seperti itu tampak tidak suka.
"Ayo, Uncle belikan robotnya,"
"Tidak mau! nanti dimarahi," jawabnya kesal atas pertanyaan Jhico yang sudah memiliki niat baik.
"Benar!"
"Adrian! bisa bicara yang baik? Uncle tidak salah apapun kenapa malah seperti itu jawabnya ketika ditanya?"
Jhico mengusap kepala Adrian dan anak itu menghindar. Terlihat sekali hatinya benar-benar kesal.
"Daripada sampai malam marah-marah lebih baik kita pergi lalu Uncle belikan,"
Jhico lelaki yang mudah merasa tidak tega. Melihat anak seusia ini saat keinginannya tidak dipenuhi bisa menghadirkan perasaan bersalah di hatinya. Ia tahu maksud Devan dan Lovi bersikap tegas seperti itu agar Adrian tahu bahwa tidak semua keinginan harus dituruti. Ada masanya Ia harus menerima dengan lapang dada ketika orang lain tidak berbuat sesuai dengan keinginannya.
Adrian melirik Lovi yang sedang membantu adiknya minum. Vanilla membawa dagu Adrian agar menatapnya.
"Kalau masih menginginkan robot itu, cepat pergi dengan Uncle. Nanti dibelikan,"
"Tidak, kataku. Lain kali saja. Uncle dan Aunty sudah mau pulang,"
Adrian menangis juga akhirnya. Auristella langsung melirik tajam. Ia menunjukkan kepalan tangannya pada Adrian mungkin maksudnya agar Adrian menghentikan tangisnya.
Sedari tadi Devan sudah mengira kalau masalah robot akan berlanjut. Ia di kamar tidak bisa tenang. Dan begitu turun lagi, Ia sudah mendapati anak keduanya menangis tersedu.
"Menangis, kalau tidak dituruti pasti menangis. Itu saja bisanya,"
__ADS_1
Ia juga bisa marah ketika ucapannya tidak didengarkan. Hanya demi robot, Adrian meminta Devan untuk kembali mengendarai mobil padahal Devan sudah lelah dan ingin istirahat karena besok bekerja. Tetapi Adrian tidak paham juga.
"Sudah-sudah, jangan menangis." Jhico langsung menggendong keponakannya lalu mereka pergi untuk menuruti keinginan Adrian.
Devan berusaha mengatur napasnya. Sebenarnya Ia sudah ingin membentak, tapi beruntungnya bisa ditahan. Adrian memancing emosinya ditengah rasa penat. Padahal Devan sudah berusaha membuatnya bahagia dengan mengajaknya bermain bersama Lucas.
Lovi menggeleng melihat punggung Jhico yang sudah menjauh bersama anaknya. "Benar-benar anak itu,"
"Mungkin kelelahan juga, jadi sedikit rewel."
"Ah memang begitu dia. Kalau tidak dituruti pasti merajuk lalu pada akhirnya menangis. Padahal aku sedang memberinya pengertian, tapi suamimu malah tidak kompak dengan aku," gerutu Devan pada Vanilla.
"Jhico terlaku baik, nanti Adrian melunjak,"
"Tidak mungkin, Jhico juga tahu saat-saat yang tepat untuk memanjakan Adrian. Aku yakin semakin besar nanti Adrian akan mengerti,"
********
Adrian menjadi penunjuk arah menuju toko yang menjual robot keinginanya. Beruntung otaknya cepat menghafal jalan. Sehingga tidak ada kesulitan untuk sampai di tempat yang mereka tuju.
Jhico membuka pintu dimana Adrian duduk. Lalu menghapus jejak air mata yang masih tertinggal di wajah anak itu.
"Jangan sedih lagi. Kita beli sekarang,"
Jhico menggenggam tangan Adrian lalu mereka memasuki tempat yang menjual banyak mainan itu.
Ia langsung mendekati robot yang bisa dikatakan lebih mirip dengan manekin atau sejenisnya. Jujur, Jhico terkejut begitu melihat robot yang diinginkan Adrian.
"Kenapa keinginannya aneh sekali ya? aku rasa ini untuk remaja. Lebih tepat dijadikan sebagai penghias kamar bukan untuk dimainkan," batin Jhico yang begitu melihat bentuk robotnya langsung menahan tawa.
"Ingin apa lagi?"
"Sudah, itu saja."
Menurut pelayan tokonya, robot yang dibeli akan diantar. Dan Adrian sempat protes ketika mendengar itu. Ia sudah tidak sabar memiliki benda unik tersebut. Tetapi Jhico memberi pengertian bahwa itulah peraturannya bila ingin memiliki robot impiannya. Lagi pula tiba di mansion juga tidak akan lama.
Setelah mengurus pembayaran dan alamat, mereka pulang. Keluar dari toko, Adrian langsung memeluk Jhico sangat erat lalu memberi kecupan bertubi-tubi.
"Uncle baik, sama seperti Aunty Vanilla."
"Mommy dan Daddy juga baik. Malah sangat baik, jangan marah-marah lagi dengan mereka. Adrian dilarang seperti tadi karena ada tujuannya. Supaya saat besar nanti Adrian tidak terus-terusan menuntut agar keinginannya dipenuhi tanpa memikirkan hal lain," Jhico memberi pengertian. Biar bagaimanapun orangtua yang tidak memenuhi keinginan anaknya itu bukan berarti jahat. Ada yang tidak bisa memenuhi karena kondisi yang tidak memungkinkan, ada juga yang tidak mau memenuhi agar anaknya bisa belajar untuk lebih dewasa lagi.
"Terima kasih, Uncle."
"Kembali kasih untuk keponakan Uncle yang tampan ini,"
__ADS_1