
Seperti biasa, Pagi ini Devan dan yang lainnya telah memenuhi meja makan untuk sarapan bersama.
"Dimana Lovi?" Tanya Raihan yang baru saja bergabung. Ia duduk disebelah istrinya dan vanilla. Raihan menatap Devan dihadapannya yang duduk disamping Elea.
Devan mengangkat bahunya acuh.
"Aku tidak tahu," Jawabnya dengan tenang membuat suasana menjadi sedikit berbeda. Elea yang melihat tatapan menyeramkan Raihan pada kekasihnya pun langsung menyentuh lengan Devan hingga lelaki itu menoleh padanya.
"Kenapa sayang?"
Raihan tersenyum miring mendengar panggilan Putranya untuk Elea. Putranya benar-benar sudah di mabuk cinta. Bahkan di depan kedua orangtuanya, Devan tak canggung lagi memanggil Elea seperti itu padahal status mereka tidak jelas.
"Sebaiknya memang Lovi sarapan nanti saja. Dia selalu dihadapkan pada suasana seperti ini," Ujar Rena berusaha mencegah perdebatan yang mungkin akan muncul sebentar lagi.
Lovi memang tidak seharusnya berada disituasi seperti ini. Semua orang pun akan merasa muak bila selalu mendengar perdebatan. Apalagi Lovi yang hanya anggota baru dalam keluarga ini dan tidak mengetahui apapun.
"Apa yang aku dengar barusan? Apa perempuan itu tinggal di sini sekarang?" Vanilla yang sedari tadi diam pun angkat bicara. Ia tidak mengetahui apapun saat ini.
"Ya, Karena perintah papa. Ada masalah, Vanilla?"
Raihan menatap putrinya dengan datar membuat gadis itu gelagapan.
"Tidak, Pa."
__ADS_1
"Lovi ada disini karena papa. Dan Papa harap kalian menghargai keputusan itu," Ujar Raihan dengan tegas seraya menatap satu persatu keluarganya.
Elea menelan makanannya susah payah saat Raihan juga menatap ke arahnya penuh peringatan. hati Elea terasa berdenyut. Mengapa Raihan masih seperti dulu? Belum ada perubahan yang signifikan dari sikap Raihan pada Elea. Raihan hanya berbicara padanya bila ada keperluan saja. Menyapanya pun sangat jarang bahkan hampir tidak pernah.
"Kenapa papa melakukan ini?" Tanya Vanilla yang penasaran.
Sebelum menjawab putrinya, Raihan meneguk air putih yang ada di depannya.
"Tidak ada alasan khusus. Hanya papa rasa, Lovi tidak pantas tinggal terpisah dari kita.."
"Bukankah dia sudah membebaskan keluarga ini dari rasa malu lantas mengapa sekarang kita yang bersikap tidak tahu diri padanya?" Pertanyaan telak dari Raihan berhasil membuat Devan membeku. Devan sempat berhenti melahap makanannya begitupun Elea.
***********
Semua pelayan sibuk dengan pekerjaan mereka. sehingga Vanilla memutuskan untuk menginjakkan kakinya di lantai dua. Sampai di kamar Lovi, Vanilla melihat Netta yang juga ikut pindah ke mansion sedang berada di dalam kamar Lovi seraya membawa Sepiring makanan.
"Nanti aku makan, Netta." Ucap Lovi kemudian langsung terdiam saat melihat Vanilla masuk ke dalam kamarnya.
"Apa yang kamu lakukan, Netta?" Tanya Vanilla pada Netta seraya menatap tajam.
"Hanya mengantarkan makanan Nona Lovi sesuai perintah nyonya Rena," Jelas Netta dengan sopan. Vanilla tertawa sinis lalu pandangannya beralih pada Lovi yang sedang duduk di tengah ranjang kecil itu.
"Hei kamu sadar tidak posisimu di sini sebagai apa? Kamu sama seperti Netta. Tidak seharusnya Netta yang membawa makanan untukmu. Apakah kamu cacat sehingga tidak bisa turun ke bawah untuk makan?" Hardik Vanilla dengan telunjuknya yang menunjuk Lovi dengan garangnya.
__ADS_1
Dengan isyarat melalui matanya, Vanilla meminta Netta untuk keluar dari kamar sekarang juga meninggalkan Lovi yang sudah menunduk ketakutan.
"Seharusnya tanpa aku beri tahu kamu sudah sadar akan posisi dan tugas mu disini. Kamu dibayar untuk bekerja. Lalu sekarang apa yang kamu kerjakan? Kamu hanya menyendiri di kamar lalu mengasihani dirimu sendiri," Ucapan itu bagai menghancurkan harga diri Lovi.
"Aku ingin tahu apa pekerjaanmu di sini?" Tanya Vanilla dengan menuntut untuk mendapat jawaban.
Lovi diam dengan kristal bening yang mulai menghiasi matanya.
"Jawab aku!" Lovi memejamkan matanya saat suara Vanilla menggema dan semakin membuatnya takut.
"Untuk menjadi pemuas hasrat kakak mu," Jawab Lovi dengan pelan.
Memang tidak ada lagi yang bisa dibanggakan oleh Lovi. Semuanya sudah hancur tak bersisa. Kesucian dan Harga dirinya sudah tidak ada lagi. Semua orang sudah mengganggap Lovi sangat rendah.
Vanilla tertawa kencang begitu mendengar jawaban Lovi. Lalu memasang wajah prihatinnya seolah sangat menyayangkan nasib yang menimpa Lovi.
"Oh Aku baru tahu akan hal itu," Ujar Vanilla.
"Kalau begitu, Kamu harus bekerja dengan baik. Devan membayarmu dengan mahal bukan?"
"Berikan dia pelayanan terbaik, Nona manis. Karena kamu adalah jalangnya yang sangat menyedihkan,"
*********
__ADS_1
Like, Comment nyaa yaa guysss!! Maaciw