My Cruel Husband

My Cruel Husband
Selamat ulang tahun 1


__ADS_3

Hari ulang tahun si kembar telah tiba. Namun kedua orangtuanya tidak ada yang menyadari juga. Lovi dan Devan sibuk bekerja. Rena juga Senata membawa cucu mereka ke sebuah restoran ternama untuk merayakan. Setelah sebelumnya menjemput mereka dan mengganti seragam sekolah mereka dengan pakaian pesta yang sudah dibawa Senata.


Selama di perjalanan kedua anak kembar itu tidak tahu akan dibawa kemana. Ketika ditanya,


"Kalian ingat hari apa sekarang?"


"Kamis," jawab mereka dengan kompak . Rupanya Andrean dan Adrian sendiri lupa akan hari lahir mereka. Biasanya, keduanya sangat antusias mendekati hari ulang tahun. Jauh-jauh bulan sudah meminta hadiah pada kedua orangtuanya.


Mungkin mereka sudah bisa merasakan sendiri perbedaan yang terjadi di tengah Lovi dan Devan. Terlalu sibuk mencari perhatian yang berangsur hilang, mereka sampai lupa dengan tanggal dimana mereka keluar dari rahim Lovi.


"Wow bagus sekali ini,"


Begitu memasuki pintu restoran, mereka sudah disambut dengan dekorasi berwarna biru khas kereta thomas, salah satu kartun favorit mereka.


Andrean dan Adrian berlari ke arah Raihan yang tersenyum pada mereka.


"Grandpa, kenapa tidak pernah datang ke rumahku?"


"Maaf--"


"Pasti alasannya sibuk lagi," Andrean menyahuti kakeknya yang kini terkekeh.


Kedua anak itu kini berada di tengah keluarga besar Raihan dan Rena namun tanpa kedua orangtuanya.


Vanilla yang berdiri di dekat Raihan menarik Andrean dalam pelukan. Ia mencium gemas wajah si sulung itu. Kemudian beralih pada adiknya Andrean.


"Hei, teman nyalon Aunty!" Vanilla berseru dan mengangkat Adrian dalam gendongannya. Ia menggigit pipi Adrian hingga pemiliknya mengerang kesal.


"Aunty jahat! Adrian tidak mau lagi menemani Aunty ke salon,"

__ADS_1


"Oh ya? Artinya tidak mau diajak bermain dan beli coklat lagi dong?"


Vanilla mengerling pada si bungsu yang kini menekuk wajahnya. Benar-benar lucu saat Ia besedekap dada.


"Hallo Aunty Jane! Masih sebal sama Adrian ya?"


Adrian meronta ingin diturunkan dari gendongan Vanilla untuk menyapa Jane.


Hati Jane berdenyut kala Adrian bertanya demikian. Rupanya rasa benci itu sudah dapat dilihat mereka?


Jane memeluk keduanya dengan perasaan bersalah. Tidak ada gunanya lagi Ia membenci kedua anak tidak bersalah itu. Ibu mereka telah melepaskan diri dari Devan.


"Tidak, sekarang Aunty berteman dengan kalian,"


Andrean dan adiknya bersorak dan melompat-lompat bahagia. Senang karena Auntynya yang satu lagi sudah bersedia jadi teman.


"Kita ulang tahun ya?"


"Wah terima kasih, Grandma." Mereka mengecup wajah tua Rena dan Senata.


Raihan ikut merendahkan tubuhnya lalu menunjuk wajahnya sendiri.


"Grandpa tidak dapat ciuman?"


"GRANDPA, ADRIAN SAYANG GRANDPA"


"Andrean juga!"


Keduanya menyerang Raihan dengan kecupan bertubi-tubi. Walaupun merayakan hari bahagia tanpa orangtua, nyatanya masih banyak yang bersedia untuk melengkapi kebahagia mereka.

__ADS_1


Mata terpejam ketika meniup lilin angka empat di atas kue tart yang sangat besar. Mereka yang dianggap kecil dan tidak mengerti apapun ternyata sudah tahu kalimat apa yang menjadi harapan.


"Semoga kita bisa tidur bersama lagi, Dad, Mom."


***


"Lovi, kamu mau kemana? Kenapa terburu-buru begitu?"


Lovi sudah menyelesaikan tugasnya dengan cepat. Kini Ia memasukkan barang-barangnya ke dalam tas.


"Ada rapat orangtua di sekolah anakku. Aku lupa," suara Lovi memelan. Rasa bersalah menghujam batinnya yang mengaku sebagai Ibu. Ia sudah berjanji untuk mencurahkan semua perhatiannya pada Andrean dan Adrian namun apa yang terjadi? Hal sekecil ini saja Ia bisa melupakannya dengan mudah.


"Kenapa bisa lupa? Mereka pasti sedih,"


Lovi membayangkan apa yang diucapkan temannya. Matanya mengerjap pedih.


"Aku pergi dulu ya,"


***


Lovi keluar dari taxi. Usai membayar, Ia keluar dan berjalan dengan cepat memasuki sekolah kedua anaknya yang tampak sepi.


Suasana sekolah yang biasanya dipenuhi anak-anak berlarian kini tampak menampilkan yang sebaliknya. Arena bermain pun kosong. Lovi merasa jantungnya ingin merosot. Sekuat mungkin Ia meyakini kalau anaknya masih berada di kelasnya.


"Miss, Andrean dan Adrian masih belajar?"


Lovi mengejar Acha yang melangkah menuju perpustakaan. Sebelum memeriksa kelas, ada baiknya Ia memastikan dulu. Setidaknya Ia berharap jawaban Acha mampu membawa angin segar untuknya.


-------

__ADS_1


Lnjt lg nnti yaa. Doakeun bs up 4 ep lg kyk kemarin heheh. Draftku udh mayan buanyakkk tinggl up stlh di edit. JANGAN LUPA VOTE (POIN&KOIN), KOMEN, DAN RATTING YAAA. TENCUUU


__ADS_2