
Jane baru saja pulang dari kampusnya. Ia duduk di ruang makan dengan gerak tidak santai. Melihat makan malam sudah siap, matanya menatap liar.
"Woaah sepertinya enak sekali,"
"Masakanku memang pernah tidak enak? pasti selalu enak,"
"Iya, Lovi, iya."
Lovi terkekeh lalu kembali ke dapur untuk mengambil makanan yang belum disajikan. Sementara Jane mengambil air minum.
Baby monitor kembali memberi tahu Lovi bahwa anaknya itu menangis. Lovi langsung menghentikan kegiatannya lalu cepat-cepat masuk ke kamar dimana Auristella berada.
"Kenapa, Lovi?"
"Auris menangis," jawab Lovi pada Jane yang baru saja bertanya. Mungkin bingung dengan Ia yang berjalan terburu-buru.
Auristella hanya memberi Lovi waktu lima belas menit saja untuk memasak kembali. Pekerjaan Lovi belum benar-benar selesai, Ia sudah bangun lagi.
"Kenapa, Sayang?"
Lovi membawanya untuk turun ke lantai bawah. Sepertinya Auristella tidak akan tertidur lagi. Lebih baik Ia menunggu kedatangan Daddy dan kedua kakaknya yang tidak biasanya belum sampai di rumah.
"Dengan aku saja. Sini, Auris." Jane mengulurkan tangan untuk menggendong anak itu. Beruntungnya Ia mau. Jadi Lovi bisa menyajikan makanan lagi.
"Biar kami saja, Nona. Tadi Nona Auris sudah menangis, kasihan dia."
"Tidak apa, sepertinya Auris hanya mimpi buruk."
Lovi membiarkan pelayannya mengerjakan hal lain. Lovi juga sangat merindukan kegiatan memasak seperti saat ini. Beberapa hari di London Ia benar-benar seperti ratu, semuanya dilayani oleh pihak hotel. Dan Lovi benar-benar bosan kalau tidak mengerjakan apapun.
*******
Devan dan kedua anaknya membeli kue tart cukup besar untuk merayakan kemenangan mereka di mansion nanti. Oleh sebab itu ketiganya harus pulang terlambat. Karena sulit sekali membuat kedua anaknya sepakat. Andrean dan adiknya berbeda pilihan sehingga mereka sempat bertengkar tadi. Adrian ingin yang full cokelat sementara Andrean ingin yang keju.
Akhirnya Devan membeli keduanya. Agar tidak berdebat lagi karena masalah kue tart. Setelah itu mereka pulang dan sudah disambut oleh Auristella dan Jane yang duduk di dekat pekarangan menikmati sore hari.
Devan mengisyaratkan pekerjanya untuk membawa masuk kue tersebut. Jane sampai bingung dibuatnya. "Ada apa ini? memang siapa yang ulang tahun?"
"Nanti kamu juga tahu," jawab Devan lalu masuk bersama kedua anaknya.
Auristella berteriak hingga membuat Devan menoleh. Rupanya Ia memanggil Devan yang entah sengaja atau tidak malah meninggalkannya.
"Oh iya, Daddy lupa ada anak Daddy di sana," kekeh Devan yang rupanya niat untuk menjahili Auristella.
Mereka semua akhirnya masuk ke dalam. "Lov, aku pulang,"
__ADS_1
"Terlambat sekali pulangnya? ada apa?"
"Beli kue,"
Devan menunjuk Kedua kotak besar yang baru saja diletakkan pelayan di atas meja makan. Mata Lovi mengerjap bingung.
"Siapa yang ulang tahun?" pertanyaan yang sama dengan Jane.
"Beri tahu Mommy," titahnya pada kedua anak kembar itu. Mereka sama-sama mengeluarkan sertifikat kemenangan pada Lovi. Mommy mereka menerima dengan bingung sekaligus hati berdebar. Ia khawatir itu adalah surat peringatan dari sekolah karena perilaku mereka yang mungkin kurang baik. Tetapi kenapa Devan malah merayakannya dengan membeli kue-kue itu?
"Ini benar? kalian menang? kapan lombanya? Mommy tidak tahu," rangkaian pertanyaan yang cukup panjang. Jane yang penasaran ikut membaca sertifikat yang ada di tangan Lovi.
"Tadi," jawab Andrean singkat.
"Sengaja tidak memberi tahu siapapun. Kalau tidak menang, nanti kalian kecewa,"
"Aduh aku terharu mendengarnya," Jane berseru dengan wajah sedihnya. Auristella menatap Aunty-nya dengan pandangan bingung. Seperti sedang bicara 'Ada apa denganmu Aunty?'
"Terima kasih sudah mempersembahkan kemenangan ini. Biarpun tidak menang Mommy dan Daddy tidak akan kecewa. Semua sudah diatur oleh Tuhan. Kalau belum menjadi pemenang, tidak masalah. Jadi lain kali, kalau ada perlombaan apapun itu, beri tahu Mommy dan Daddy ya? biar Kami bisa ikut mendoakan kalian juga,"
"Setiap berdoa, Mommy dan Daddy sudah membawa nama aku, Adrian, dan Auris. Jadi kita tidak takut saat berlomba. Karena yakin Mommy, Daddy selalu mendoakan,"
Lovi memeluk kedua anaknya dengan perasaan bahagia. Kemudian Ia mengecup kepala mereka satu persatu.
"Kalian mandi dulu, setelah itu kita makan malam bersama,"
"Jangan tidur dulu, Sayang. Kita belum lihat-lihat buah tangan dari London," bujuk Lovi pada Auristella yang sedari tadi sudah diam dengan mata sayu.
Tapi setelah ini pasti semangat lagi. Karena ketiga anak Lovi dan Devan begitu menyukai saat-saat dimana mereka membongkar sesuatu yang dibeli.
"OH IYA, AKU BARU INGAT. YANG MANA PUNYA AKU?"
Adrian turun dari kursi makan. Lalu berlari ke arah yang ditunjuk Devan. Tak jauh dari televisi di ruang keluarga, ada beberapa koper yang berisi buah tangan Lovi dan Devan dari London kemarin.
Sesuai rencana Devan, setelah makan malam bersama, mereka akan membongkar koper-koper tersebut. Semuanya akan mendapat bagian. Seluruh penghuni mansion, tak ketinggalan Vanilla dan Jhico.
Mereka semua berkumpul di depan televisi, duduk di atas permadani. Adrian dan Andrean selalu menjadi petugas yang siap untuk membuka koper satu persatu ditemani oleh Auristella yang sebenarnya bukan membantu melainkan mengganggu.
"Baju semua, Dad?"
"Tidak, lihat yang lain-lain,"
Andrean menuruti. Ia memeriksa semuanya. Dan ketika melihat banyaknya mainan di dalam koper paling besar, mata Andrean membulat.
"Banyak sekali, Dad."
__ADS_1
"Itu untuk kalian bertiga, jangan lupakan sahabat kalian di sekolah. Siapa saja namanya? Daddy lupa,"
"Tapi yang di koper itu hanya milik Andrean, Adrian, dan Auris. Sementara isi dari koper yang itu, untuk teman-teman kalian," Lovi menerangkan. Kedua anaknya mengangguk paham. Mereka tidak lagi melirik baju, celana, tas dan segala macamnya. Karena ada yang lebih menarik dari itu semua.
"Besok jangan lupa dibawa ke sekolah punya Revin dan Adrina,"
"Thalia tidak ada, Mom?"
"Huh? teman barumu?"
"Iya, dia juga baik sekali," jelas Adrian yang membuat Lovi mengangguk. Beruntung Lovi membeli mainan lebih dari perhitungannya. Sehingga itu bisa diberikan untuk Thalia.
Perempuan beranak tiga itu mengeluarkan semua mainan milik sahabat-sahabat anaknya yang sudah diberi nama satu persatu. Hanya satu paper bag yang tidak ada nama dan itu akan menjadi milik Thalia.
Tentunya semua mainan itu disesuaikan dengan jenis kelamin mereka dan juga adil, baik dari harga maupun jumlahnya.
"Wow punya mereka juga banyak ya?"
"Iya, harus sama seperti kalian."
Adrian ingin melihat-lihat punya temannya. Saat akan membuka paper bag milik Revin, tangannya ditepuk pelan oleh Devan.
"Jangan dibuka, itu milik orang lain. Biasakan fokus pada milik sendiri,"
Adrian melipat wajahnya tapi tidak bisa membantah. Semua paper bag sudah ditutup dengan rapat dan diberi nama jadi kalau dibuka kurang bagus untuk dilihat.
"Semua sudah diberi nama penerimanya ya, Lovi?" Rena menunjuk seluruh isi dalam koper. Entah itu baju, tas, accessories dan lain-lain.
"Iya, Ma. Seraya menunggu Devan bekerja, daripada aku hanya diam di hotel, lebih baik memberikan nama-nama di setiap buah tangan agar sampai di sini tidak bingung lagi dengan pembagiannya,"
Rena terkekeh merasa kegiatan menantunya itu sama dengan dirinya bila sedang berlibur tetapi sang suami juga sibuk bekerja. Mau tidak mau Ia harus mencari kegiatan yang menyenangkan tetapi tidak menguras tenaga. Salah satunya adalah mengurus buah tangan untuk sanak keluarga.
"Itu untuk satu tahun ya. Tidak boleh beli mainan lagi sampai tahun depan,"
"Daddy! kenapa begitu?"
"Itu sudah banyak. Masih kurang?"
"Kalau sudah bosan dengan semua ini bagaimana?"
"Ya buang, tapi tidak beli lagi. Mudah bukan?"
Auristella ikut protes. Ia menarik hidung Devan tiba-tiba seraya menggeram lucu. Perilakunya itu membuat Lovi terkekeh.
"Memang kamu mengerti dengan apa yang dibicarakan Daddy?"
__ADS_1
Auristella tidak menjawab tetapi Ia bersedekap dada dan membuang arah pandangnya.
---------