
Pulang sekolah, Adrian dan Andrean dijemput oleh Devan tapi setelahnya Devan kembali lagi bekerja.
Sampai di rumah, Adrian langsung berganti baju dan makan siang. Jino dan Sheva semalam datang ke mansion untuk menyerahkan buah tangan mereka dari Paris berupa cokelat. Siang ini Adrian menikmati cokelat tersebut setelah makan.
"Serry, ini warna apa?"
Ia bertanya pada perawat yang sedang menyuapi Auristella. Ia menunjukkan sebuah buku berisi gambar-gambar binatang dan tumbuhan yang dipenuhi beragam warna.
"Hijau," Serry terkekeh setelah sengaja mengucapkan jawaban yang salah. Ia ingin tahu sampai dimana kemampuan Adrian. Biarkan Adrian yang menjawab.
"Salah, ini warna cokelat. Sama dengan yang aku makan ini warnanya," Ia memperlihatkan cokelat besar yang sedang dinikmatinya.
Auristella merengek dan menjulurkan tangannya ke arah Adrian.
"Sejak kapan ranting pohon warnanya hijau," gumamnya yang mengundang tawa Serry. Kali ini Ia yang mengajukan pertanyaan seraya menunjuk gambar bunga.
"Ini warna apa?"
"Merah,"
"Nama bunganya apa?"
"Hmmm..." Adrian tampak berpikir seraya mengetuk dagunya pelan.
"Seingatku namanya Mawar. Tapi entahlah. Aku baru belajar sedikit tentang nama-nama tanaman, Serry. Tanaman dan hewan sangat banyak,"
"Benar, namanya bunga mawar,"
"Huh! Yan," Auris sudah bisa memanggil dengan artikulasi yang sedikit jelas. Yang Ia sebut hanya penggilan di akhir saja.
"Apa, Auris?"
Auristella menunjuk makanan yang sedang digigit oleh kakaknya. Mulut anak perempuan itu maju sangat berharap Adrian menyuapinya cokelat.
"Tidak boleh, Auris makan bubur saja. Ini punya Adrian,"
"Adrian, kalau mau makan cokelat jangan di dekat Auris,"
"Tidak, Serry. Ini jauh. Auris matanya terlalu tajam sampai melihat ke arah aku,"
Ia masih bisa menyalahkan adiknya. Padahal jelas-jelas jarak mereka tidaklah jauh, hanya sekitar lima meter. Jelas saja Auristella bisa melihat kakaknya yang jahil itu.
"Adrian, makan apa itu? cokelat?"
"Iya, Mom." Adrian menyambut Mommynya yang baru selesai masak dengan senyum lebar.
__ADS_1
"Mom, Auris mau cokelat."
"Tidak boleh,"
"Auris, kata Mommy tidak boleh makan cokelat,"
"Kamu juga tidak boleh makan banyak-banyak,"
Adrian langsung mengeluarkan raut merajuknya. Walaupun sebenarnya sudah terlambat Lovi mengatakan itu. Karena sudah lebih dari setengah cokelat dimakan oleh Adrian hanya dalam waktu hitungan menit.
"Auris, bonekamu saja yang boleh makan cokelat. Jadi dia yang mewakilkan kamu ya?"
Adrian melihat boneka berwarna merah muda sedang duduk di sampingnya tepatnya di ujung sofa. Ia segera mengambil boneka tersebut lalu disuapinya cokelat itu ke mulut boneka.
Auristella berteriak marah karena dua hal. Yang pertama, kenapa harus bonekanya yang diberikan cokelat sementara Ia tidak? yang kedua, bonekanya jadi kotor karena Adrian!
"Adrian, bisa berhenti menggoda adikmu?"
"Tidak, Mom. Adrian sedang melakukan kebaikan. Kita sebagai manusia harus selalu berbagi tapi berhubung Auris tidak boleh makan cokelat, jadi aku beri bonekanya saja,"
"Ck! anak ini benar-benar," Lovi sampai mengusap dadanya berusaha sabar. Ia akan meraih cokelat Adrian namun secepat kilat anak itu memyembunyikan di balik punggungnya.
"Mom, ini cokelat Adrian."
"Katanya harus berbagi? kenapa kamu tidak mau memberi cokelat itu untuk Mommy?"
"Mommy, tidak boleh makan punya anak, Nanti dosa. Lagipula orang tua tidak boleh makan cokelat nanti giginya sakit,"
"Hey, kata siapa dosa?"
Dan apa katanya tadi? Ia tua?
"Kata Adrian. Mommy tidak dengar Adrian mengatakannya tadi?"
"HAAAAAA!" teriakan Auristella memutus perdebatan Mommy dan anak keduanya itu. Lovi menoleh pada anaknya yang sudah menatap sendu ke arahnya dengan wajah memerah.
Ia menggeleng pada Serry, mengisyaratkan untuk berhenti menyuapi Auristella. Anak itu tengah merajuk karena tidak diberi cokelat dan Lovi malah sibuk berdebat dengan Adrian, bukannya cepat-cepat memberi Ia cokelat.
"Kalau sakit gigi, jangan merengek pada Mommy,"
"Tidak akan sakit gigi. Ini makanan kesukaan Adrian,"
Lovi menghela bahunya seraya mengatakan, "Ya, semoga cokelatnya tidak jahat padamu yang pelit itu,"
"Tidak, Adrian baik jadi tidak ada yang akan menyakiti,"
__ADS_1
"Cuci boneka Auris sampai bersih. Itu hukuman untukmu,"
"NO, MOMMY! ADRIAN TIDAK MAU,"
Lovi meraup wajahnya anaknya dengan gemas lalu berbalik tidak memedulikan Adrian yang sedang merengek menolak hukumannya.
Lovi mendekati Auristella untuk digantikan bajunya, lalu dibawa tidur siang agar melupakan perkara cokelat. Mata anak perempuannya juga terlihat sudah berat.
"Berani berbuat maka harus berani juga bertanggung jawab apa lagi kamu laki-laki. Cuci boneka Auris sampai bersih!"
"Momm--"
Lovi meletakkan satu telunjuknya di depan bibir, "Sstt! tidak ada penolakan. Lakukan saja."
Adrian melonjak-lonjak kesal dan tidak terima saat Lovi meninggalkannya bersama Auristella dalam gendongan usai memberi hukuman itu.
Serry menahan tawa saat melihat Adrian. Benar-benar aneh tingkahnya. Ia sudah menjahili Auristella bertubi-tubi tapi ketika diberi pelajaran oleh Mommy-nya malah tidak terima seperti ini.
"Serry, caranya mencuci bagaimana?"Serry menepuk dahinya, "Astaga." ujarnya keheranan.
"Aku tidak pernah melihat orang mencuci,"
Serry mengusap daun telinganya yang tidak gatal. Ia bergumam untuk berpikir. "Nanti dibantu mau?"
"Mau-mau,"
Sebenarnya wajar karena selama ini Adrian memang tidak pernah melihat pekerja atau Lovi mencuci pakaian yang kotor. Paling yang biasa Ia lihat adalah orang yang sedang mencuci piring. Dan Lovi juga sudah mengajarkan kedua anaknya untuk melakukan itu agar tidak terlalu manja ketika usianya sudah beranjak dewasa. Mereka belum setiap saat melakukan itu, tapi paling tidak sudah belajar. Terkadang setelah makan, Adrian dan Andrean akan meminta Lovi untuk menggendong mereka ke atas sink kitchen yang jauh lebih tinggi dari mereka untuk mencuci piring yang keduanya gunakan ketika makan.
"Sebenarnya caranya tidak jauh berbeda dengan mencuci piring. Kamu hanya perlu menyikatnya,"
"Dengan sikat cuci piring?"
"Bukan,"
"Nanti aku masukkan saja lah ke dalam mesin cuci biar aku tidak lelah,"
Tawa Serry pecah sesaat. Lucu melihat ekspresi Adrian yang belum apa-apa sudah terlihat hampir menyerah.
"Tidak boleh. Nanti Serry katakan pada Mommy,"
"Errggh Serry. Kamu bukan temanku lagi!"
---------
Haluuu selamat malam para hadirin yg berbahagia. Eh gk bahagia bgt deng bsk senin mulai beraktifitas lg wkwk. TETAP SEMANGAT DAN SEHAT SELALU PEMBACAKU🤗
__ADS_1
NILLAKU UP. SELAMAT MEMBACA. JGN LUPA RAMAIKAN JG LAPAKNYA. TINGGAL CEK PROFIL AKU YAAA. MAACIWđź’™