My Cruel Husband

My Cruel Husband
Setelah menikah


__ADS_3

"Kenapa tidak tinggal dengan kami dulu?"


"Tidak, Ma. Aku akan membawa Key ke rumah yang sudah aku siapkan,"


Keputusan Deni sudah bulat. Usai pernikahan digelar, Deni berencana untuk memboyong istrinya ke rumah yang sudah Ia siapkan.


Pernikahannya belum normal. Sehingga untuk hidup bersama dengan orangtua rasanya sangat tidak nyaman. Deni belum bisa menghilangkan jati dirinya sebagai 'brengsek'. Sudah menikah bukan berarti hidupnya hanya tentang Keynie. Sudah jelas bukan kalau Deni masih berusaha untuk mengembalikan perasaannya. Karena yang dulu sudah hilang entah kemana.


Setelah membersihkan tubuhnya, Deni keluar dari kamar mandi. Dilihatnya Keynie yang tengah mengeluarkan pakaian tidur dari dalam koper.


Keynie masih sibuk dengan kegiatannya tidak menyadari kalau Deni memperhatikannya dari depan pintu kamar mandi.


"Key..." Panggil lelaki itu yang membuat Keynie menoleh. Ia terpana untuk beberapa saat. Deni tidak hanya menggunakan handuk di pinggang tapi entah kenapa membuat Keynie sangat ingin berdecak kagum.


Pandangan Deni jatuh pada koper Keynie dan gadis itu menyadarinya dengan cepat.


"Kita tidak tidur terpisah bukan? Aku tidur di sini, benar?"


Deni tidak langsung menjawab. Ia berpikir sebelum menyetujuinya. Sejujurnya berada dalam satu ruangan dengan gadis itu akan membuat Deni yang sedang bertarung dengan perasaannya sendiri kurang nyaman.


"Deniele, Pernikahan kita tidak akan seperti drama di luar sana bukan?"


Keynie masih menunggu mulut lelaki itu terbuka mengeluarkan suara. Perasaan Keynie tidak menentu sekarang. Ia takut jawaban Deni tidak sesuai harapannya.


"Kamu boleh tidur di sini. Tapi jangan mencampuri urusanku sedikitpun,"


Deni keluar dari kamar setelah Ia mengambil kunci mobil. Bahu Keynie turun seketika. Matanya berkaca menatap punggung kokoh itu menjauhi kamar mereka. Di malam pertama pernikahan mereka, Deni meninggalkannya entah karena alasan apa.


Keynie menunduk saat bulir di matanya memaksa ingin menyeruak keluar. Kemarin Deni lebih hangat dari pada tadi. Apakah lelaki itu sedang ada masalah sehingga sambutan yang diberikan untuk Keynie yang baru menjadi Istrinya menjadi seperti ini?


Keynie menghela napas kasar. Ia mengusap air mata yang ada di wajahnya. Ia meyakinkan dirinya sendiri kalau pernikahan ini akan berjalan sesuai keinginan dan harapannya. Keynie tahu kalau Deni butuh waktu untuk kembali menerimanya dalam lingkup kehidupan lelaki itu.


****


Deni melajukan mobilnya ke rumah Devan. Ketidak hadiran mereka di acara penting dalam hidupnya membuat Deni berpikir keras sepanjang waktu.


Setelah sampai di carport, Deni segera menekan bel. Dan beberapa detik kemudian Netta keluar dengan senyum hangatnya.


"Tuan Deni, tumben sekali datang ke sini?"


"Dimana Devan? Apakah Ia belum pulang dari liburannya?"


Deni sempat melupakan fakta bahwa sahabatnya itu tengah berlibur bersama keluarga kecilnya. Pernikahan ini dipercepat dan mungkin saja itulah alasan Devan tidak datang. Kalau memang benar begitu, maka Deni hanya tinggal mencari tahu alasan Vanilla yang tidak Sudi datang ke pesta pernikahannya.

__ADS_1


"Sudah, Tuan."


Alis Deni terangkat. Ia masuk setelah Netta membuka lebar pintu utama dan mempersilahkannya untuk masuk.


Begitu masuk ke dalam rumah megah itu, suara Adrian yang terdengar berada di ruang tengah langsung membuat Deni yakin kalau Netta memang tidak berbohong.


"Dimana Devan? Aku ingin bertemu dengannya!" Kali ini perkataannya lebih tegas. Ia tidak bisa berlama-lama di sini. Karena perasaannya tiba-tiba saja tidak enak.


"Tuan Devan..."


"Hai, Deni! Bagaimana kabarmu?" Belum sempat Netta menjawab suara Lovi yang menyapa Deni dengan hangat terdengar memasuki ruang tamu.


Lovi mendengar bel berbunyi sehingga Ia memutuskan untuk membuka pintu. Namun rupanya Ia kalah tangkas dengan Netta.


"Devan tidak ada,"


"Kemana dia? Tidak mungkin langsung bekerja bukan? Kalian baru saja pulang dari liburan?"


Pertanyaan itu datang bertubi-tubi. Sampai Lovi bingung harus menjawabnya mulai dari mana.


"Devan ada di rumah sakit,"


Deni menatap Lovi penuh tuntutan bertepatan Dengan perempuan itu duduk di hadapannya.


"Ya, kami baru saja pulang dari berlibur,"


Lovi menggeleng pelan. Rautnya yang tadi riang berubah menjadi keruh. Deni sangat menyadari itu dan rasa penasarannya kian meningkat.


"Vanilla kecelakaan,"


Dua kata yang membuat Deni terdiam kaku. Tubuhnya terasa sangat lemas. Tumpukan beban besar terasa sangat menyesakkan rongga dadanya.


"Apa yang kamu katakan, Lovi? Siapa yang kecelakaan?! TOLONG BERI TAHU AKU SIAPA YANG KECELAKAAN?!"


"Vanilla. Vanilla, Deni."


Detik itu juga Deni mengerjap. Ia terlihat seperti orang bodoh sekarang. Sempat terkekeh tidak percaya namun kemudian Ia segera bangkit. Karena sekeras apapun Ia menampik kalimat Lovi, kenyataannya Ia bisa melihat kejujuran di mata perempuan itu.


Deni segera keluar dari rumah itu tanpa mengatakan apapun. Netta menatap Lovi bingung. Ada apa dengan lelaki itu? Netta tidak mengerti. Sementara Lovi sangat tahu bagaimana perasaan Deni sekarang. Hubungan Deni dan Vanilla bukan lagi apa yang selama ini mereka katakan, melainkan lebih dari itu.


****


Deni melihat Devan sedang duduk di depan sebuah ruangan yang Ia yakini adalah tempat Vanilla dirawat.

__ADS_1


Deni menghampiri dengan tergesa. Matanya menatap keadaan di dalam. Ia bisa melihat Vanilla yang sedang diperiksa oleh dokter. Kemudian Deni beralih pada Devan.


Satu bogem mentah Ia hadiahkan untuk Devan yang langsung tersungkur karena ulahnya. Devan menyeka sudut bibirnya. Ia mengangkat kepala dan menatap Deni dengan bingung.


"Apa yang kau lakukan?!"


"Kau tidak memberi tahuku kalau Vanilla baru saja mengalami ini,"


Devan bangkit lalu meraih kerah kaus yang dikenakan sahabatnya itu. Begitu wajah mereka dekat, Devan melihat sorot tidak berdaya di mata Deni.


Namun itu tidak menyurutkan gairahnya untuk membalas telak apa yang Deni lakukan tadi. Ini bukan kesalahannya.


Satu pukulan tidak membuat Deni lumpuh. Ia seolah menantang Devan untuk terus menyakitinya agar sekalian saja kondisinya sama seperti Vanilla.


Raihan keluar dari ruangan putrinya bersamaan dengan dokter laki-laki yang tadi memeriksa kondisi Vanilla.


Dokter tersebut menggeleng tidak mengerti saat mendapati kedua lelaki yang saling melempar tatapan tajam.


"Jangan membuat keributan di sini, Para Tuan muda!" Pesan dokter itu sebelum pergi.


Raihan mendekati keduanya. Lalu memberi tamparan kecil untuk kedua lelaki bodoh itu. Bodoh, karena sempat-sempatnya bertengkar padahal gadis yang sama-sama mereka sayangi sedang terluka di dalam sana.


"Apa tujuan kalian menutupi ini semua dariku?!"


"Aku baru saja mengetahuinya. Seharusnya pertanyaan itu kau berikan untuk Tua Bangka ini,"


Sejujurnya Devan masih kesal karena keputusan orangtuanya yang tidak memberi tahu kabar menyedihkan ini padanya. Kalau saja Ia tidak meminta orang lain mencari tahunya, maka dapat dipastikan sampai saat ini Devan masih menikmati liburannya. Dan Devan akan sangat menyesal bila hal itu benar-benar terjadi. Ia merasa tidak berguna sebagai kakak. Tidak bisa menjadi petunjuk untuk Vanilla ketika gadis itu kehilangan arah.


"Papa tidak ingin kamu khawatir, Devan. Dan Papa pikir kamu perlu waktu untuk berlibur,"


Raihan beralih pada Deni dan memberi jawaban yang membuat Deni menggeram marah.


"Memberi tahumu untuk apa?"


"Aku perlu tahu!" Tangkas Deni lalu berniat untuk masuk ke dalam ruangan Vanilla namun secepat kilat Raihan menahan lengannya.


Deni menatap Raihan dengan pandangan protes. Ia harus mengetahui keadaan gadis itu sekarang, memastikan kondisinya baik-baik saja.


"Kamu menghilang beberapa hari ini. Jadi untuk apa kamu tahu tentang Vanilla?"


Itu karena pernikahan sialan yang harus dijalaninya bersama Keynie. Biar bagaimana pun Deni harus turut serta mempersiapkan pernikahannya. Walaupun ada orangtuanya dan Keynie yang melakukan itu. Namun perlu diingat, sebagai pemilik acara, peran serta Deni dan Keynie Masih sangat diperlukan. Tidak akan berjalan sukses seperti tadi kalau saja semuanya hanya berdasarkan keputusan orangtua mereka. Deni dan Keynie yang bisa menentukan akan dilaksanakan seperti apa konsep pernikahan mereka.


"Aku baru saja menikah,"

__ADS_1


-------


Si Panil blm tau nich kl di Deden udh nikah. Reaksinya gmn yak kira² ? biasa aj lh pasti org cuma kakak adek 😝😂


__ADS_2