
"Devan, lusa hari apa?"
Saat Devan menjejakkan kakinya di mansion usai bekerja, membersihkan diri, Ia langsung menghampiri meja makan. Devan tidak makan siang, jadi saat ini Ia sangat lapar.
"Hari Minggu, ada apa?"
"Bukan itu yang aku maksud. Lusa ada apa?"
"Tidak ada apa-apa, Lov."
"Oh, begitu ya?"
"Iya, pertanyaanmu aneh,"
"Ya, sudah. Ayo makan,"
"Kamu tidak makan?"
Terdengar suara tangis Auristella yang kencang dari taman. "Anakmu merajuk," katanya sebelum meninggalkan Devan. Akhirnya Devan makan sendiri. Kalau menunggu Lovi, entah sampai kapan dia akan datang. Anaknya bila merajuk tidak ada batas waktu.
"Kenapa, Auris?"
Lovi meraih Auristella dari gendongan perawatnya. Ia menimang putrinya itu dengan lembut.
"Ingin naik sepeda bersama kakak-kakaknya, Nona." Jelas Serry menunjuk Andrean dan Adrian yang saling berkejaran dengan sepeda masing-masing.
"Ini sudah hampir malam. Masuk sekarang!" titah Lovi dengan tegas.
Mereka berdua langsung mendekati Lovi dan memaksa Mommy-nya untuk menunduk, mereka mencium Lovi bersamaan.
"Auris menangis terus!"
"Kita tidak boleh mencium Mommy? kenapa memangnya?"
Tangis Auristella semakin menjadi saat kakak-kakaknya mencium Lovi. Sampai Lovi kebingungan.
"Dia mau main bersama kalian tadi,"
"Sekarang masih menangis. Padahal kita sudah berhenti bermain. Diam, Auris!"
"Biar saja, tidak usah ditunjuk-tunjuk begitu adiknya. Dia takut, Adrian."
Lovi membawa ketiga anaknya masuk ke dalam. "Daddy dimana? belum selesai mandi?"
"Makan, kalian mau makan juga?"
"Tidak, nanti malam saja, Mom." Jawab Andrean seraya beranjak ke ruang makan untuk menghampiri Devan.
"Dad, belum makan siang?"
__ADS_1
Devan mengangguk dengan mulut bergerak, memperhalus makanan. "Iya, Sayang."
"Pantas, seperti tidak makan setahun," sahut Adrian yang ditanggapi gelengan tidak acuh dari Devan. Biar saja anaknya mau berkata apa. Yang terpenting saat ini adalah mengisi perutnya. Devan tidak punya waktu untuk sekedar makan siang karena hari ini Ia benar-benar sibuk.
Dibawa duduk tidak mau, di tawari makan tidak mau juga. Entah apa yang membuat Auristella menangis seperti ini. Lovi jadi serba salah.
"Auris, Mommy mau makan juga. Jangan menangis lagi. Haishh!" Adrian bersiap untuk melakukan sesuatu pada kaki adiknya yang tergelantung ketika di gendong Lovi.
"Hey, memang boleh menyakiti adik seperti itu? berani sekali kamu," Mata Devan menatap Adrian dengan tajam.
"Mommy makannya nanti,"
"Menangis terus. Sakit telingaku mendengarnya,"
"Jangan didengar! tutup telingamu!" gerutu Andrean yang tidak suka dengan sikap adik keduanya itu. Bila Auristella menangis pasti ada yang membuatnya tidak nyaman atau memang Ia sedang ingin dimanja secara berlebihan saja.
"Jangan bertengkar di depan makanan, tidak baik,"
Lovi seolah tahu sebentar lagi kedua anak laki-lakinya akan berdebat karena Auristella yang menangis. Andrean cenderung membela Auristella, dan Adrian justru sebaliknya.
"Kalian temani Daddy makan saja. Ayo!" ujar Devan menengahi.
"Tidak mau, aku masih kenyang," Adrian menolehkan kepalanya enggan. Bibirnya mengerucut kesal.
********
Adrian sedang bermain perang-perangan bersama Andrean menggunakan revolver mainannya yang baru dibelikan Devan dan Lovi.
"Aku kejar kamu!"
Auristella memperhatikan keduanya dan sesekali terkekeh saat melihat kakak-kakaknya berhasil saling tangkap. Mood baik Auristella sudah kembali lagi setelah sore tadi banyak menangis.
Saat sudah lelah, Adrian mendekati adiknya. Auristella langsung mengulurkan tangan, meminta revolver mainan di tangan kakak keduanya. Namun Adrian menyembunyikan itu di balik punggungnya.
"Tidak boleh, ini mainan anak laki-laki,"
"Adiknya pinjam sebentar," Jane menasihati Adrian. Paling mainan itu akan bertahan di tangan Auristella selama lima menit, selebihnya Ia akan memainkan yang lain. Auristella adalah tipe anak yang mudah bosan akan sesuatu.
"Tidak mau, ini punya aku! Auris punya mainan sendiri. Kalau main revolver nanti menjadi anak laki-laki, Auris. Bahaya!"
Jane menggeleng seraya menahan tawa. Adrian dengan segala tingkah konyolnya tidak pernah hilang di segala kondisi. Dia tahu saja bagaimana membuat adiknya menyerah.
Andrean datang lalu memberikan apa yang diinginkan adiknya. Adrian yang melihat itu berdecak, "Kalau itu dipegang Auris, lalu aku berperang dengan siapa?"
"Perang sendiri,"
Jane terbahak juga akhirnya. Ia tidak bisa menahan tawa ketika melihat raut kesal Adrian karena kalimat kakaknya. Bagaimana caranya perang sendiri? Ia harus menembak apa?
"Revolver bukan hanya satu. Kita masih punya beberapa. Kamu saja yang jahat, tidak mau meminjamkan Auris. Padahal dia hanya ingin pegang, Tidak tahu cara bermainnya. Sebentar lagi juga dia tinggalkan---"
__ADS_1
Takk
Auristella membanting revolver mainan milik kakaknya ke lantai. Benar saja, kurang lebih hanya dua menit Ia menyentuhnya. Sekarang sudah diletakkan sembarang.
"See? hanya sebentar dia meminjam. Jadi lain kali jangan seperti itu," ujarnya tegas pada sang adik. Andrean kembali meraih benda tersebut lalu mencium kening adiknya.
"Aunty sudah katakan tadi. Kamu tidak dengar sih! bagaimana rasanya dimarahi Andrean?"
"Tidak dimarahi!" bantah Adrian tidak terima.
"Ya, ya, tidak dimarahi. Tapi wajahmu sudah ketakutan, By the way,"
"AUNTY!" Adrian akan memberi pelajaran untuk Jane tetapi gadis itu langsung berlari menghindar. Pasti Adrian akan memukulnya secara membabi buta, anak itu belum juga jera padahal sudah dinasihati oleh kedua orangtuanya berkali-kali bahwa tidak boleh garang pada siapapun.
Pukulannya memang tidak sakit karena yang melakukannya adalah anak seusia Adrian. Namun tetap saja rasanya ingin berlari kalau Adrian sudah kesal.
Tubuh Adrian berbenturan dengan Devan yang ingin menghampiri sumber keributan. Jane menghela napas lega.
"Akhirnya sang pawang datang. Terima kasih, Ya, Tuhan." ujarnya penuh syukur dengan kedua tangan menyatu dan kepala terangkat.
"Ada apa lagi? Daddy benar-benar akan pingsan kalau gaduh seperti ini terus,"
"Aunty mengejek aku, Daddy." Ia mengadu dengan rengekannya. Bila sudah seperti ini sangat menggemaskan, berbeda dengan tadi yang cukup menyeramkan.
"Siapa yang mengejekmu? aku hanya bertanya,"
"Tidak! Aunty--"
"Sudah! mau Daddy tutup mulutnya dengan perekat?"
"Dia tidak mau meminjamkan mainannya pada Auris. Malah Andrean yang--"
"Memang harus?! itu mainan milik aku, jadi terserah padaku mau meminjamkannya atau tidak,"
"Jane, sudah! jangan diladeni,"
Jane menyingkir dari sana. Ia membawa Auristella dalam gendongan, memilih untuk menghampiri Lovi, Rena, dan Senata yang sepertinya sedang membuat sesuatu di dapur.
"Kalau sampai Daddy dengar ada ribut-ribut lagi, Daddy ambil semua itu. Tidak boleh disentuh lagi,"
Bila ancamannya sudah berkaitan dengan mainan, Adrian tidak bisa berkutik lagi. Bisa gawat kalau Ia tidak boleh menyentuh hal kesukaannya itu.
"Andrean..."
"Iya, Dad?"
"Jangan bertengkar lagi ya?"
"Iya, aku tidak pernah mau bertengkar. Daddy tenang saja,"
__ADS_1
Devan tahu fakta itu tetapi Ia sedang berpesan secara tidak langsung pada Andrean agar tidak membiarkan adiknya berbuat kegaduhan untuk yang kedua kalinya. Semoga Auristella Tidak bergabung lagi bersama mereka. Kalau tidak, pasti yang tadi akan terulang lagi.