
Devan tertawa tapi terdapat luka di sana. Bahkan di sela tawanya Ia mengeluarkan bulir bening membuat Lovi membeku seketika.
"Untuk itu, aku tidak akan memenuhinya," ucap devan dengan tegas. Ia mengalihkan perhatiannya pada kedua putranya yang sudah tertidur setelah diberi susu oleh Lovi.
Ia bahkan belum dua puluh empat jam merasakan kebersamaan dengan anaknya, sekarang Lovi sudah mengatakan ingin berpisah darinya.
"Kenapa? kamu mengatakan akan memenuhi semuanya,"
"Tidak, Lovi!!" bentakan Devan membuat anak mereka sempat tersentak dalam tidur namun itu tidak membangunkan mereka. Devan dibuat bersalah seketika karena berteriak tidak tahu tempat. Untung saja anaknya sedang dilanda kantuk yang hebat sehingga mereka tidak terlalu memikirkan gangguan yang ada.
"Aku tahu kalau kamu akan memutuskan berpisah dariku setelah kedua bayi ini lahir. Dan sekarang adalah waktu yang tepat,"
Lovi mengucapkannya dengan kepala menunduk. Ia tak ingin menunjukkan perasaan sedih dan terlukanya pada Devan. Lelaki itu yang menginginkannya.
"Aku tidak pernah menginginkan hal itu, Lov," jawab Devan dengan nada putus asa.
Lovi menggeleng dengan tawa sinisnya. Apa lagi yang di inginkan Lelaki ini sebenarnya?
"Apa yang kamu harapkan dari pernikahan ini, Devan? Bukankah kita tidak saling mencintai? untuk apa dipertahankan?"
Lovi menelan ludahnya pahit. Batinnya seolah mengejek apa yang baru saja dikatakannya.
'Bodoh! benarkah kamu tidak mencintainya?'
"Pernikahan ini sudah lebih baik. Tolong jangan kamu buat segalanya menjadi sulit!" Devan mengakhiri pembicaraan itu. Ia tidak ingin lagi mendengar Kata perpisahan.
Devan memilih untuk menjauhi Lovi. Ia keluar dari ruang perawatan Lovi meninggalkan perempuan itu yang sudah tergugu dalam tangisnya.
Devan sampai di taman Rumah sakit yang teduh. Matanya menatap hamparan rumput yang luas. Pikirannya berkelana pada masalah yang baru saja menerpa hubungannya dengan Lovi. Ia tidak mengerti mengapa Lovi menginginkan perpisahan diantara mereka. Padahal Devan sudah berusaha memperbaiki dirinya agar perempuan itu menerimanya. Devan kira diamnya perempuan itu menandakan kalau Ia nyaman berada di samping Devan. Tapi sepertinya itu tidak terjadi. Lovi lebih memilih untuk meninggalkan Devan yang sudah mencintai perempuan itu.
Mereka sama-sama mempertahankan pendirian. Lovi dan Devan tidak ada yang ingin jujur mengenai perasaan mereka. Alasan Lovi mengakhiri pernikahan karena tidak adanya perasaan cinta diantara mereka berdua. Padahal, baik Devan maupun Lovi sudah mengakui perasaan masing-masing pada diri mereka sendiri.
"Kenapa menyakitkan seperti ini, Lov? Aku tidak bisa kehilanganmu,"
**************
"Dimana suamimu?"
Rena datang kembali untuk melihat keadaan cucunya. Ia tersenyum begitu melihat Lovi yang tengah menghibur mereka.
Tak lama, salah satunya sudah merengek pertanda lapar. Lovi meletakkan kepala bayinya di depan dada kemudian memberikan asupan untuk kedua putranya.
__ADS_1
"Lapar sekali sepertinya," ucap Rena saat melihat mulut-mulut kecil itu menyesap dengan rakus.
"Mama tidak melihat Devan, Lovi?"
"Dimana sebenarnya?"
Lovi mengangkat bahunya kemudian menjawab,
"Dia mengatakan ingin mencari udara sebentar di luar,"
Walaupun Devan tidak mengatakan apapun, setidaknya Lovi tahu bahwa itulah tujuan Devan menghindarinya. Mungkin lelaki itu membutuhkan waktu sejenak untuk memikirkan permintaannya.
***************
"Mama tidak perlu menghubungiku. Aku tahu kapan harus kembali," gerutu Devan dengan kesal begitu memasuki ruang perawatan Lovi.
Ia tidak menatap Lovi yang sedang minum di atas bangsalnya. Devan melangkah pada kedua anaknya yang tertidur.
Rena terus menyuruhnya untuk kembali ke ruang rawat Lovi. Padahal Devan sedang makan di kantin Rumah sakit.
"Makananku belum habis,"
Lagi, Devan belum selesai meluapkan rasa kesalnya.
"Memangnya aku melakukan apa?"
Ia menatap tajam Rena. Tak terima di marahi oleh Mamanya.
"Jangan pergi semaumu lagi! kamu sudah memiliki Istri,"
"Lebih baik aku di luar. Aku sakit kepala bila ada di dalam sini,"
Lovi tahu kalau suaminya itu menyindirnya. Namun Lovi hanya diam. Ia berbaring kembali setelah bosan untuk duduk. Posisinya membelakangi Devan yang ada di sofa bersama Rena.
"Karena tangisan mereka?" dengan kernyitan di dahinya, Rena bertanya. Pasalnya Devan tidak terlihat terganggu dengan kedua anaknya. Raut bahagianya bisa dirasakan oleh Rena.
"Tentu saja bukan,"
Devan mengisyaratkan Rena untuk bangkit ketika Raihan memasuki ruangan untuk menjemputnya. Lelaki paru baya itu menghampir cucunya tanpa menyentuh. Karena Ia baru saja pulang dari kantor. Tubuhnya belum dibersihkan.
"Kenapa bayi selalu tidur?" gumam Raihan dengan senyum tipisnya. Rena yang mendengar ucapan suaminya itu berdecak,
__ADS_1
"Kalau bayi yang baru lahir langsung bisa bermain bola, itu yang patut dipertanyakan."
Setelah mendengus, Raihan menjawab Rena,
"Aku tidak butuh jawabanmu,"
"Kamu bertanya, Ya aku hanya menjawabnya. Karena tidak mungkin cucuku itu yang menjawab kamu,"
"Sudahlah jangan berdebat di sini! makin berputar kepalaku,"
Raihan menatap Anaknya yang tampak lelah. Padahal tugasnya sudah diambil alih oleh Ferro untuk sementara waktu.
"Ada masalah denganmu?"
Raihan menarik salah satu bangku untuk duduk berhadapan dengan Devan.
"Lovi ingin berpisah dariku,"
Devan kira Lovi sudah tidur. Namun kenyataannya perempuan itu tergugu dalam diam. Ia berusaha mendengarkan dengan baik pembicaraan selanjutnya dari anak dan ayah itu.
"Kamu menginginkannya juga?"
Barang kali Devan ingin kebebasan seperti dulu. Tidak salah bukan bila Raihan bertanya?
"Aku tidak bisa memenuhi keingiannya,"
"Jadi itu yang membuatmu terlihat menghindari Lovi?" tanya Rena yang tiba-tiba saja ikut dalam pembicaraan.
"Aku benci Dia yang egois. Mereka milikku," ucap Devan penuh penekanan.
"Bukan egois, Devan!" bela Rena.
"Apa keuntungan yang bisa diambil setelah kami berpisah? Anakku akan kehilangan kasih sayang yang utuh,"
"Mungkin kamu bukan yang terbaik untuknya,"
Devan tertawa dengan pandangan kosong. Memang siapa yang mengatakan kalau Ia terbaik untuk Lovi? Devan mengaku kalau Ia brengsek. Namun salahkah Ia yang ingin menjadi bagian dari hidup perempuan itu?
"Aku bukan yang terbaik. Oleh karena itu, tidak aku izinkan lelaki lain menjadi yang terbaik untuknya,"
****************
__ADS_1
Mon map teladh update awokawok. Ttp mau baca khaaann?? makasi bwt yg sllu aktif ksh like, coment & vote.