My Cruel Husband

My Cruel Husband
Tanggung jawab kakak sulung


__ADS_3

"ADRIAN!"


Devan memanggil putranya agar mendekat. Adrian yang sedang mengikuti apa yang dilakukan Adrina pun menoleh.


Devan menggunakan tangannya juga untuk memanggil. Adrian segera berlari, setelah sebelumnya menghela napas lega. Akhirnya Ia bisa lolos dari pelajaran tambahan yang super aneh dari Adrina.


"Siapa yang menyuruhmu seperti itu?"


Devan salah paham, Ia menatap anaknya dengan tajam. Devan tidak suka Adrian menari seperti Adrina dan sepupunya. Sudah bagus dia menyukai sepak bola, kenapa jadi berbelok arah?


"Adrina mau aku belajar balet, Dad. Dia aneh ya?"


"Tidak mungkin! kamu sendiri yang mau belajar 'kan? untuk apa sih?! buat Daddy malu saja,"


Adrian berdecak kesal lalu berteriak memanggil Adrina agar sahabatnya saja yang menjelaskan. Karena percuma juga bicara panjang lebar kalau pada dasarnya Devan sudah curiga terus padanya. Sampai kapanpun Adrian tetap manly. Astaga, Daddy-nya ada-ada saja.


Sheva dan Jino dibuat bingung dengan sikap Devan. Anak-anak mereka sedang asik bermain, lalu tiba-tiba Devan marah.


"Aku menari balet karena kamu yang meminta aku untuk belajar 'kan?"


"Tidak, kamu mau sendiri,"


"Apa sih?! jawab yang benar. Sesuai kenyataan, jangan diputar balik ya!"


Adrina menggeleng polos dan menatap Devan dengan serius. "Adrian sendiri yang mau belajar balet, Uncle."


Sheva dan Jino menahan tawa. Sepertinya Adrina sedang menjadikan Adrian sebagai korban jahilnya.


"Katanya selain mau jadi pemain bola, dia juga mau jadi penari balet, Uncle."


Adrian menggeram kesal. Ia menatap Adrina dengan tajam. Ia mulai menyadari kalau Adrina sedang bermain-main padanya.


"Adrina, awas kamu--"


Adrina segera berlari menghindar dari kejaran Adrian yang wajahnya sudah seperti predator karena terlalu geram dengan sikap Adrina yang menjadikannya sebagai kambing hitam di depan Devan.


"HEY JANGAN LARI-LARI!" Si Daddy yang dingin dan keras kepala tapi cerewet itu mulai lagi mengeluarkan tegurannya berupa seruan untuk memperingati Adrian yang mengejar Adrina dengan semangat.


Bahkan sepupu Adrina yang lain pun turut berlarian entah apa yang mereka kejar, Devan, Sheva, dan Jino juga bingung.


Dukk


"AWWSH SAKIT, ADRIAN!"


"ADRIAN, ASTAGA! DADDY BILANG APA TADI?!"


Adrina terjatuh dan bagian belakang tubuhnya terbentur dengan banyaknya batuan kecil di taman itu. Ia terjatuh dengan posisi duduk, dan beruntungnya taman ini ditumbuhi rumput yang cukup lebat. Sehingga tidak begitu membuat Adrina merasa sakit. Tapi karena Ia anak perempuan yang manja, jadi sedikit saja jatuh pasti teriak kesakitan.


Devan dan kedua orangtua Adrina menghampiri anak-anak itu. Wajah Sheva sudah khawatir sekali karena melihat anaknya terjatuh.


Devan menarik tangan Adrian lalu mencubit pipinya yang bulat itu hingga Adrian meringis. "Diberi tahu orangtua tidak pernah mau dengar,"


"Sakit pipi Adrian, Daddy."


"Baru pipi yang Daddy cubit, kamu sudah seperti ini. Padahal tidak kencang juga,"


Adrian tidak tahu saja kalau Devan sudah buat perhitungan untuk orang lain. Leherpun bisa Ia tebas dalam waktu hitungan detik, bahkan membakar mayat orang yang begitu kejam karena pernah membuat Lovi hampir mati tak ada kesulitan sama sekali untuk Ia lakukan. Mencubit ini adalah level terendah bagi Devan dan ditujukan untuk anak-anaknya saja.


"Pulang saja lah kalau seperti ini caranya. Daddy bawa kamu agar bisa bermain dan jangan ganggu adik yang sedang rewel di mansion. Di sini malah buat ulah. Sudah belajar balet lah, sekarang buat Adrina jatuh,"


"Bukan salah Adrian,"


"Iya, Adrina yang berlari lebih dulu. Kalau dia tidak lari, Adrian tidak mungkin mengejar,"


"Itu dengar, Dad. Aunty dan Uncle saja bela Adrian. Daddy malah menyalahkan," Ia menggerutu tidak terima. Dan itu membuat Devan semakin gemas. Saat Devan ingin menarik kulit pipinya lagi, Adrian segera menghindar.


"Daddy kejam sekali sih. 'My cruel Daddy' sepertinya tepat menjadi sebutan untuk Daddy,"


"Kita pulang sekarang, Adrian."


Hari ini Devan sepertinya terlalu penat. Inginnya marah-marah terus dengan Adrian yang memang suka memancing rasa kesal tanpa lihat kondisi.

__ADS_1


"Tidak mau! Adrian belum--"


"Pulang sekarang! besok sekolah, harus istirahat,"


"Dev, serius ini bukan salah Adrian. " Jino jadi tak enak hati. Devan marah pada anaknya karena Adrina terjatuh padahal jelas-jelas ini bukan sepenuhnya salah Adrian.


"Tidak, memang sudah waktunya kami pulang. Terima kasih atas jamuannya. Sekali lagi, selamat ulang tahun untukmu Sheva,"


"Hati-hati, Adrian. Semoga lain kali kita bisa bermain lagi ya,"


"Sampai jumpa, Adrian." semua sepupu Adrina pun terkejut dengan keputusan Devan. Di tengah keseruan mereka, Adrian malah harus pulang. Mereka kekurangan teman untuk lanjut bermain.


"Kamu kalau jahil jangan keterlaluan juga,"


Adrina ditegur oleh Mommy-nya. Adrina akan protes tapi kalah cepat dengan sanggahan Jino, "Mengarang cerita pada Uncle Devan kalau Adrian yang mau belajar balet padahal kamu yang suruh. Iya 'kan? Daddy tahu, Adrina."


"Daddy, aku tidak mengarang. Memang Adrian yang mau belajar balet. Tanya saja pada Raskal,"


"Kamu yang suruh kami," sahut Stefan yang rupanya masih menyimpan kesal saat Ia juga menjadi korban Adrina dalam pemaksaan tadi.


Jino menatap anaknya dengan alis terangkat, "Ketahuan berbohong. Biar saja hidungnya panjang nanti,"


********


Sampai di mansion, Devan dan Adrian disambut oleh Raihan yang menunggu mereka sejak tadi seraya menyaksikan siaran televisi.


"Ini lama menghadiri acaranya atau lama bermain?"


"Bermain, Grandpa. Sampai-sampai buat anak orang jatuh,"


"Daddy tidak mengerti ya? Adrina jatuh sendiri. Di mobil sudah aku jelaskan berkali-kali,"


Devan mengangkat bahunya tak acuh. Lalu Ia beranjak ingin ke kamarnya, "Bersihkan tubuhmu dulu, baru istirahat." titah lelaki beranak tiga itu pada putra keduanya.


Raihan menatap bingung punggung putranya dan juga mata sang cucu yang tampak tidak terima dengan ucapan Devan di awal.


"Daddy mu sudah kelewat lelah itu. Makanya jangan cari masalah,"


Raihan terperangah ketika ditinggal pergi oleh Adrian. Cucunya itu berlari ke kamarnya lalu membanting pintu sampai Devan dan Lovi yang kamarnya begitu dekat dengan kamar anak itu terperanjat.


"Paling Adrian yang banting pintu. Andrean sudah tidur,"


"Pasti dia. Karena tadi aku memarahinya,"


"Marah kenapa lagi?"


"Adrina jatuh karena Adrian,"


"Bagaimana bisa? Adrian berbuat ulah lagi di acara tadi?"


"Iya, belajar balet pula. Sudah bagus memiliki cita-cita menjadi atlet, tadi malah belajar balet bersama Adrina,"


Lovi sontak saja tertawa. Tak bisa dibayangkan selucu apa mereka ketika menari. "Kamu terlalu lelah hari ini ya? jangan marah-marah seperti itu,"


Karena nada bicara Devan tidak santai, Lovi jadi tahu suasana hati suaminya. Menceritakan sikap Adrian selama di acara juga menggunakan sedikit emosi.


Seperti kata Lovi tadi, Andrean sudah tertidur di kamarnya bersama Adrian. Ia yang biasanya sulit bangun, kali ini malah langsung terbangun karena Adrian membanting pintu. Lalu setelahnya Adrian juga memainkan robot besar dan sengaja mengeraskan suara robot, entah apa tujuannya.


"Adrian, aku sedang tidur. Kenapa mengganggu?!"


"Biar, ini kamar aku,"


"KAMAR KITA. Dengar ya baik-baik, ini kamar milik aku dan kamu. Jadi jangan seenaknya,"


Sepertinya keputusan untuk memisahkan tempat mereka tidur sangat tepat. Karena kondisinya sudah tidak memungkinkan lagi. Mungkin karena mereka sudah beranjak besar, jadi semakin sulit untuk dibuat rukun. Selalu ada perdebatan yang didominasi oleh Adrian sebagai pembuat masalah.


"Kamu tidur saja lah! tidak usah berisik. Aku mau bermain dengan robot,"


"Bagaimana aku bisa tidur kalau kamu berisik, huh?!"


Pintu penghubung atau sliding door yang menyekat ruang kamar Lovi dan Devan dengan kamar mereka berdua terbuka secara tiba-tiba. Devan menimbulkan kepalanya di sela pintu.

__ADS_1


"Tidur di luar kalau mau bertengkar! Auris sedang tidur kalian malah ribut,"


Saat Devan akan menutup pintu penghubung yang jarang sekali dibuka itu, suara tangis Auristella terdengar nyaring.


Devan mengerang gemas. Ia baru mau istirahat, gara-gara kedua anaknya, Ia harus menemani Lovi sampai anak bungsunya tertidur.


Devan menghampiri Lovi yang tengah menenangkan Auristella. Lelaki itu meraih Auristella dalam gendongan lalu dibawanya anak perempuan itu ke kamar kedua kakaknya melalui sliding door yang belum Ia tutup tadi.


Ia menyerahkan Auristella pada Andrean dan Adrian lalu berujar tegas, "Berhubung kalian sudah membuat Auris menangis dan terbangun, silahkan jaga Auris sampai dia tidur lagi,"


Andrean dan Adrian terperangah. Terutama Andrean yang ikut disalahkan padahal Ia sendiri juga terbangun karena Adrian.


Usia menutup sliding door, Lovi menatap Devan yang tengah kesulitan mengendalikan rasa kesalnya. Lovi terkekeh pelan lalu bertanya, "Masih kuat?"


"Sekarang mau menyerah dulu, Lov."


Tawa Lovi meledak juga pada akhirnya. Ia memperhatikan Devan yang kini berdiri di dekat ranjang seraya bertolak pinggang. Ekspresinya memang terlihat sekali kalau Devan sudah berada di level kesabaran paling akhir.


"Kenapa Auris diserahkan ke mereka? nanti semakin menangis,"


"Dengar baik-baik! dia menangis tidak?"


Lovi dan Devan mendengar dalam diam untuk mengetahui apakah anak bungsu mereka masih menangis di kamar kedua kakaknya.


Ternyata sudah tidak. Malah kini ada tawa kecil. Secepat itu rasa kantuk Auristella hilang. Lovi menghembuskan napas pelan, "Sepertinya Auris akan tidur besok pagi, Devan."


"Tidak apa, ada kakaknya yang menjaga. Kamu mau tidur, silahkan."


"Tidak mungkin lah!"


Lovi tidak mungkin bisa tidur kalau anaknya belum tidur. Ia akan menjaga walaupun di kamar yang berbeda, memantau kegiatan ketiga anaknya dari kamera cctv yang terhubung melalui ponselnya dan Devan.


"Besok mereka harus sekolah. Kasihan kalau harus menemani Auris sampai bisa tidur lagi,"


"Mereka bisa menidurkan Auris, Lov. Kamu tenang saja, sebentar lagi juga dia tidur,"


"Kalau tidak, bagaimana?"


Devan memperhatikan Andrean yang tengah menimang Auristella. Usai dibuat tertawa sebentar agar berhenti menangis, Andrean berusaha keras agar adiknya kembali tertidur. Sementara pelaku dari semua masalah malam ini malah pergi ke kamar mandi untuk berganti baju lalu merebahkan diri di ranjang.


Melihat hal itu, Andrean kesal. Ia menarik ibu jari kaki adiknya hingga Adrian yang tadinya ingin terlelap berdecak.


"Apa?!" malah Adrian yang galak, Aneh.


"Bantu aku! enak sekali jadi kamu ya. Habis buat masalah malah tidur,"


"Enak lah, anak boss memang begini hidupnya,"


"Aku juga anak boss tapi tidak seperti kamu kelakuannya!"


Lovi berbicara pelan seraya menunjuk layar ponselnya yang sedang menampilkan kegiatan ketiga anaknya itu, "Mereka malah ribut. Devan, lihat Auris kebingungan dalam gendongan Andrean,"


Tentu saja Ia bingung ketika menyaksikan kedua kakaknya berdebat. Ia mengantuk dan mereka sibuk adu mulut.


Auristella ingin Andrean mengubah posisi menggendongnya. Ketika Andrean menyandarkan wajahnya ke pundak dan matanya melihat robot Adrian yang ditakutinya, otomatis Ia berteriak dan menunjuk ranjang kakaknya.


Andrean segera merebahkan tubuh kecil sang adik. Karena Ia tahu kalau Auristella tidak ingin lama-lama melihat robot itu, Andrean memeluk Auristella, Ia menenggelamkan kepala Auristella ke dadanya agar pandangan Auristella teralihkan dari robot.


"Ssttt, tidur ya." bisik Andrean menenangkan. Tangan anak sulung Devan dan Lovi itu mengusap punggung adiknya. Dan Adrian hanya menjadi pemerhati. Tidak melakukan apapun, karena Ia tidak pandai dalam membuat anak kecil tenang. Yang Ia tahu hanya membuat Auristella menangis dan kesal.


Hanya perlu sepuluh menit untuk Andrean membuat adiknya terlelap dengan nyaman dalam pelukannya yang penuh dengan kehangatan.


Mereka bertiga masih menjadi pusat perhatian Lovi dan Devan yang belum tidur, melihat ketiganya dari kamera cctv.


Devan menoleh pada Lovi yang berbaring di sampingnya. "Benar 'kan apa kataku? Auris akan tidur dengan cepat,"


Lovi mengangguk dan tersenyum senang. Rupanya Andrean bisa menjadi kakak yang mengayomi walaupun selama ini Ia dikenal sebagai sosok yang dingin dan tak acuh. Nyatanya jika bersama sang adik, Ia begitu peduli.


"Anak kita sudah bisa menjaga adiknya ya?"


Mendengar kalimat sang istri, Devan mengangguk setuju.

__ADS_1


"Iya, terutama Andrean. Kalau Adrian hanya sekali-sekali saja dia berbuat baik pada Auris. Aku juga heran dengan anak itu,"


__ADS_2