My Cruel Husband

My Cruel Husband
Usai pesta


__ADS_3

Pertama kali melihat rumah Lucas, Lovi dibuat tidak menyangka ayahnya bisa bertahan seorang diri di rumah yang sederhana seperti itu.


Lucas menoleh pada putrinya yang kini menatap rumahnya dalam diam. "Terima kasih, Lovi." ujarnya sebelum keluar dari mobil. Disusul oleh Devan dan kedua anak lelakinya yang dibangunkan oleh Devan untuk berpamitan dengan kakek mereka.


"Lain kali datang lagi ke sini ya?"


Lovi memperhatikan mereka dari jendela mobil seraya mengusap kepala Auristella yang berbaring di atas pangkuannya.


"Grandpa yang harus sering datang ke rumah aku. Kita main di sana. Aku tunggu kedatangan Grandpa ya,"


Lucas tersenyum lalu Ia merendahkan tubuhnya untuk memeluk tubuh kedua cucunya yang kokoh dengan balutan tuxedo kecil itu.


"Grandpa hati-hati di rumah ya." pesan Andrean.


"Kalian jadilah anak yang baik. Harus menjaga adik juga,"


"Siap, Grandpa. Aku bisa diandalkan kalau masalah itu," sahut Adrian dengan gaya tengilnya seperti biasa. Ia menepuk dadanya dengan arogan sehingga mengundang tawa Devan.


Kini Lucas beralih memeluk Devan. "Kami pulang dulu, Ayah."


"Iya, hati-hati. Terima kasih sudah mengikut sertakan ayah untuk turut merasakan kebahagiaan malam ini,"


*********


"Hey, hey, cuci tangan dan kaki dulu,"


Devan memanggil kedua anaknya yang langsung membanting tubuh di ranjang masih lengkap dengan pakaian formal mereka.


"Aduh, mendadak kaki sulit diajak jalan, Dad."


Devan berdecak mendengar Adrian yang mulai mengeluarkan seribu satu alasan untuk membantah ucapannya.


Sementara Andrean sudah bangkit dan melakukan apa yang disuruh Daddy-nya. "Tidak perlu mandi ya, Andrean. Sudah malam," pesan Lovi sebelum anaknya masuk ke kamar mandi.


"Iya, Mom. Ini sudah malam tidak mungkin aku mandi,"


"Okay, boy."


Mengingat Andrean adalah anak yang rajin sekali mandi. Terkadang kalau kondisi tubuhnya benar-bebar penat, terutama bila ada ekstrakurikuler di sekolah bisa tiga atau empat kali Ia mandi. Kebiasaannya yang seperti itu terkadang membuat Lovi marah. Karena menurut Lovi sudah berlebihan untuk anak seusianya. Tahu-tahu rambutnya sudah basah, mandi tanpa sepengetahuan Lovi. Selalu mengatakan "Panas, Mom" padahal di mansion suasana sangat sejuk kecuali kalau di luar memang sedang musim panas.


"Adrian, jangan tidur."

__ADS_1


"Daddy tinggal untuk mengambil minum malah tidur anak ini,"


Devan menatap Lovi yang sedang menggantikan dress Auristella dengan pakaian tidur. Auristella benar-benar kelelahan sepertinya. Setelah diberi susu oleh Lovi di dalam mobil, Ia kembali terlelap.


Devan menyentuh lengan anak keduanya agar membuka mata. Lalu mencubit gemas wajah bulat Adrian.


"Adrian, Daddy marah nanti kalau tidak mau mendengar ucapan Daddy. Untuk kenyamanan kamu saat tidur, ganti pakaian dulu,"


"Engghh, Iya, Dad. Masih ada Andrean di kamar mandi,"


"Kamar mandi bukan hanya satu. Di luar masih ada. Ayo, Daddy temani."


"Daddy saja belum berganti baju," gerutu Adrian melihat Devan yang masih menggunakan tuxedo.


"Kita ke kamar mandi sekarang. Habis kamu, Daddy masuk."


"Ya, sudah. Ayo cepat, Aku sudah mengantuk sekali,"


"Tidur di kamar sendiri ya?"


"Huh? tidak mau. Di kamar Mommy dan Daddy saja, di sini."


"Ck! sudah terbiasa lagi tidur di sini,"


Adrian segera memasuki kamar mandi di luar kamar kedua orangtuanya. Sementara Devan menunggunya di sebuah sofa yang tak jauh dari kamar mandi.


Andrean sudah selesai dengan kegiatannya. Sekarang saatnya Lovi yang bersih-bersih. Ia sudah tidak sabar tenggelam dalam ranjang. Tubuhnya sangat penat tapi yang lebih mendominasi adalah rasa bahagianya.


Adrian keluar dari kamar mandi lalu Ia melihat Devan sudah terlelap dalam posisi duduk. Ia membulatkan mata. Secepat itu Devan terlelap? Astaga, Daddy-nya sangat lelah atau bagaimana?"


"Mom, Daddy tidur di sofa." Adrian cepat-cepat masuk ke kamar Lovi dan Devan. Ia menghalangi Lovi yang akan melangkah ke kamar mandi.


Anak itu terkekeh sendiri. Alis Lovi terangkat. "Kenapa tidak dibangunkan? kasihan kalau tidur di sofa,"


"Mommy saja yang bangunkan Daddy. Adrian sudah mengantuk, tapi mau ganti baju dulu," Anak yang mengenakan bathrobe itu beranjak ke kamarnya untuk mengambil pakaian tidur. Di sana sudah ada kakaknya yang bersiap naik ke atas ranjang.


"Andrean tidak tidur dengan Mommy dan Daddy?"


"Tidak, aku sudah rindu tidur di sini. Mau belajar mandiri lagi, karena akhir-akhir ini sudah terbiasa tidur bersama Mommy dan Daddy,"


"Ya sudah, aku juga tidur di sini."

__ADS_1


"Kenapa mengikuti aku?"


"Alasannya sama seperti kamu,"


Lovi tidak jadi masuk ke kamar mandi karena harus menghampiri Devan yang rupanya benar tertidur di sofa dengan posisi duduk.


"Devan, jangan tidur di sini. Nanti sakit semua badanmu,"


Devan melenguh seraya mengerjapkan mata. Rasanya sudah lelap sekali Ia tidur di sofa padahal sepertinya belum lama Ia berada di sana.


"Adrian dimana?"


"Ambil baju di kamarnya. Kamu cuci tangan dan kaki dulu. Setelah itu tidur di kamar,"


Lovi menarik tangan suaminya agar bangkit. "Aku di sini saja," mata Devan melirik kamar mandi yang tadi digunakan Adrian. Lovi mengangguk, Devan membersihkan diri di kamar mandi luar sementara Lovi di kamar mandi yang ada di dalam kamarnya. Devan selesai lebih dulu. Ketika masuk ke dalam kamar, Ia tidak menemukan kedua anak lelakinya.


Selang beberapa saat Lovi pun keluar dari kamar mandi. "Dimana mereka? tidak jadi tidur di sini atau bagaimana?" tanya Devan.


"Mungkin, tadi mengambil baju. Tapi belum kembali juga,"


"Coba, aku lihat dulu,"


Devan membuka pintu kamar kedua pangeran kecilnya dengan pelan lalu mencuri pandang sedikit ke dalam. Dilihatnya mereka sudah terlelap di ranjang masing-masing, Devan membuka pintu lebih lebar.


Devan tersenyum melihat wajah mereka yang membawa ketenangan tersendiri di hatinya. Devan mendekati keduanya yang sudah lelap dalam tidur dengan napas teratur. Ia menyematkan sebuah kecupan di kening Andrean dan Adrian sebelum keluar dari kamar mereka dan menutup pintunya dengan sangat pelan.


"Sedang apa mereka? lama sekali mengambil baju,"


"Tidur,"


"Huh? tidak jadi tidur di sini?"


"Iya, mereka sudah tidur di sana. Mereka sudah tidur, hanya kita saja yang belum. Jadi---"


"Kita berdua sama-sama lelah. Lebih baik tidur,"


Devan terkekeh saat kalimatnya disanggah. Padahal Devan hanya menggoda istrinya saja, ingin tahu reaksi Lovi seperti apa. Rupanya Lovi mengerti tanpa dijelaskan.


"Dengarkan dulu sampai akhir. Jadi--- sekarang waktunya kita yang tidur,"


Lovi memilih untuk tidak menanggapi suaminya lagi. Ia segera naik ke atas ranjang lalu menarik selimut agar membalut tubuhnya.

__ADS_1


Devan mengikuti istrinya. Ia berbaring di samping Auristella sehingga anak bungsunya itu berada di tengah antara Ia dan Lovi. Mereka merajut mimpi di bawah selimut yang sama. Saling memeluk untuk berbagi kenyamanan.


__ADS_2