
"Waktu untuk menjenguk sudah habis. Istrimu akan khawatir kalau kamu tidak pulang juga sekarang,"
Deni buru-buru mengalihkan matanya pada Vanilla. Ingin tahu reaksi gadis itu saat Raihan berkata demikian.
Yang dilihatnya malah membuat Ia kecewa. Vanilla tersenyum, terkesan menggodanya dengan ekspresi jahil.
"Kamu benar-benar menikah?"
"Ya, tujuannya datang ke sini juga sepertinya untuk mengundang kamu, Vanilla."
"Apa sih, Tua Bangka ini?! aku yang ditanya kenapa malah dia yang menjawab?" geramnya dalam hati. Deni melirik Raihan dengan tajam namun Raihan terlihat tidak peduli. Ia dengan santai menikmati makanan ringan seraya duduk di atas sofa.
"Maaf aku tidak bisa hadir. Kapan acaranya berlangsung?"
Deni kecewa dan rasanya tidak ingin menjawab. Karena tidak penting juga. Niat awal memang ingin berbagi kabar bahwa pernikahannya telah berlangsung namun melihat kondisi Vanilla yang seperti ini Ia berencana untuk menyimpannya sementara waktu sampai Vanilla pulih. Sepertinya Deni yang terlalu percaya diri kalau Vanilla akan menangis histeris saat mengetahuinya sudah menikah.
Semenjak dunianya menjadi gelap, Apapun yang mengganggu pikiran dan hatinya, Vanilla berusaha untuk menerimanya dengan lapang dada. Pernikahan Deni awalnya mengusik pikiran Vanilla hingga membuatnya khawatir kekurangan kasih sayang dan perhatian dari Deni. Namun saat ini Ia sudah mencoba untuk mengerti kalau mereka punya kehidupan masing-masing.
"Tadi pagi,"
"Selamat, Deni. Semoga Tuhan memberkati kalian. Cepat-cepat beri aku keponakan!"
__ADS_1
Vanilla bangkit dari pembaringannya dibantu oleh Deni yang dengan tangkas menahan punggung Vanilla dan menggenggam erat tangan yang masih terluka itu.
"Vanilla..."
Vanilla menoleh dan tersenyum sebelum menjawab "Ya?"
"Kamu bahagia?"
"Apa?"
"Dengan pernikahanku,"
"Aku sangat bahagia. Karena itu artinya kamu tidak akan mengganggu aku lagi,"
Vanilla jauh lebih hangat dari biasanya. Ia sesekali melempar canda mungkin untuk mengusir gundah dalam hatinya sendiri.
"Jangan rindu perhatianku nanti ya! Awas kamu!"
Vanilla terbahak walaupun setitik rasa aneh mulai hadir di tengah-tengah rasa bahagianya atas pernikahan Deni. Jadi setelah ini tidak ada lagi Deni yang selalu mengawasi Vanilla dari jauh selama Ia berada di dalam kelab? Tidak ada lagi Deni yang akan menjahilinya bila mereka bertemu.
"Jadi aku bukan lagi prioritas seperti katamu dulu ya?"
__ADS_1
Saat Vanilla tidak sengaja menabrak pejalan kaki yang beruntungnya tidak terluka parah, Deni hadir di sampingnya sebagai sosok yang membela Vanilla dari beberapa orang yang menghakiminya.
Dengan tenang Ia membantu wanita paruh baya yang menjadi korban Vanilla itu untuk berdiri lalu Ia memberinya uang. Karena Vanilla masih saja tidak mau mengaku salah, akhirnya Deni yang melakukan itu semua. Sebenarnya bukan karena Vanilla tidak mampu untuk bertanggung jawab, melainkan hatinya sudah dipenuhi dengan keangkuhan. Sehingga apapun kesalahan yang dilakukannya, akan tertutup dengan sisi buruk gadis itu.
Deni meminta maaf pada orang-orang yang mengerubungi mereka. Setelahnya hanya tinggal Ia dan Vanilla. Gadis itu menatap Deni dengan marah.
"Aku sudah membuatmu tersinggung berulang kali tapi kamu belum jera juga ya?"
"Karena kamu prioritasku. Seburuk apapun perlakuanmu padaku, aku akan tetap menyayangimu,"
"Aku jijik mendengarnya. Sudah berapa banyak perempuan yang mendengar ucapan kamu itu?"
Deni tersenyum miring kemudian menggeleng. "Hanya kamu,"
Sebelum Deni menjawab, Vanilla menggerakkan sebelah tangannya di udara. Tidak ingin mendengar kalimat yang akan keluar dari mulut lelaki tampan itu.
"Vanilla bodoh! untuk apa bertanya lagi?! jelas saja bukan kamu, tapi Istrinya yang Ia nikahi tadi pagi,"
------
HAPPY FRINIGHT SEMUANYAAAA. MAAP UP MALEM YAA. HEHEHE. EH JGN LUPA DUKUNGANNYA YA SHAYY ;) KLIK LIKE, KASI VOTE SEIKHLASNYA, KETIK KOMEN, KLIK BINTANG 7 EH BINTANG 5. FOLLOW DAKU JG BOLE, BOLE BEUDH😂 THANKISS😘💙
__ADS_1