My Cruel Husband

My Cruel Husband
Trik Auris supaya diajak ke kantor


__ADS_3

"Nanti hilang sendiri, Mom. Tidak perlu khawatir,"


Kayla ancang-ancang ingin melempari Adrian dengan dayung, tapi tak jadi karena Zio berseru agar mereka tak saling menyakiti. Kalau tidak, maka Zio tak segan menurunkan mereka di tengah danau, lebih tepatnya bukan diturunkan tapi ditenggelamkan.


Adrian, Genta, dan Kenith akhirnya diam dan duduk tenang. Sementara Kayla dan Sandra sudah bisa menghela napas lega. Tak bisa dibayangkan kalau Auristella sudah sedikit besar dan mereka berlibur bersama seperti ini lagi. Entah dia akan berada di pihak mana. Yang menjahili atau dijahili.


*******


"Dimana Vanilla dan Jhico? Biasanya mereka bergabung dengan kalian. Lovi juga tidak ada, Devan?"


"Lovi sudah tidur bersama Auris, Ma. Vanilla sepertinya juga begitu,"


"Ah kalau Vanilla dan Jhico paling sedang skidipam-pam. Suasana sejak kemarin sangat mendukung tapi karena selalu kita ajak untuk menonton di sini, mereka jadi tak punya waktu untuk melakukan itu," Jane menekan kata terakhirnya seraya tersenyum geli.


"Kau selalu tahu kalau masalah itu ya, Jane." Sahut Devira dengan tawa renyah. Rena dan Raihan baru saja keluar dari kamar dan mereka mengatakan ingin membicarakan sesuatu.


Rena berjalan ke kamar dimana Vanilla dan Jhico tidur. Ia mengetuk sekali, lalu terdengar suara Vanilla yang bertanya.


Tak lama, pintu terbuka, dan Rena segera bersembunyi. Ia menahan senyum saat membayangkan wajah yang membuka pintu sekarang. Pasti kebingungan.


"Tidak ada orang, Nilla."


"Huh? serius?"


"Coba lihat ke sini," interupsi Jhico pada istrinya.


"Aduh, aku takut ini. Siapa sih yang mengerjai kita?" Vanilla mengusap lehernya yang tiba-tiba saja meremang. Mendengar ucapan mereka, Rena menahan tawa dari balik dinding tempat persembunyiannya. Entah mengapa Ia ingin sekali mengerjai mereka berdua.


"Sudahlah, jangan dipikirkan. Kita masuk sekarang," Jhico mengusap kepala istrinya yang sudah cemas. Lalu merangkul bahu Vanilla agar masuk ke dalam kamar lagi.


Rena tak membiarkan pintu ditutup oleh Jhico. Ia segera menahannya seraya berseru, "Hai, anak-anak Mama,"


Vanilla dan Jhico mengatakan dirinya jahil, sama seperti cucu-cucunya. Ia hanya bisa tertawa. "Ayo kita keluar, ada yang mau dibicarakan,"


"Hal apa?"


Tanpa menjawab, hanya seulas senyum yang Ia berikan sebelum meninggalkan sepasang suami istri itu.


*******


"Jane akan menikah, kalian sudah tahu?"


"Uncle, kenapa diberi tahu sekarang? aku kan--"


"Tidak apa, biar mereka tahu lebih cepat dan segera menyiapkan hadiah pernikahanmu," ujar Raihan diselingi canda.


"Tapi aku belum--"


"Uncle tahu kamu sudah bicara serius dengan orangtua Richard. Kenapa dengan keluargamu sendiri belum?"


"Aku menunggu waktu yang tepat,"


"Sekarang waktunya,"


Semuanya diam melirik Jane yang menunduk dengan wajah malu-malu. Hal itu membuat Adrian menepuk pelan sisi kanan wajah Aunty-nya yang tepat berada di samping dirinya.


"Aunty salah tingkah," serunya kemudian terbahak. Ia geli sendiri melihat Jane seperti itu. Dia tidak cocok malu-malu karena biasanya garang.


"Astaga, lagi-lagi aku didahului," decak Devira dengan wajah cemberut.


"Tidak boleh begitu, Dev. Kalau jodoh sudah datang, kita tidak boleh menolak 'kan?" ujar Rena dengan lembut. Ia nampak sedih karena sepupunya yang satu lagi akan melepas masa kesendirian sementara dirinya tak ada kawan seperjuangan lagi. Dulu, mereka berdua sering menjalin hubungan dengan laki-laki dalam waktu yang bersamaan, dan mengakhiri hubungan dalam waktu yang sama juga. Mereka sangat kompak bahkan dalam hal percintaan sekalipun.


"Aku belum pernah bertemu dengan kekasihmu yang sekarang, Jane."


"Iya, waktunya selalu tidak tepat, Dev. Bila dia datang ke mansion hanya sering bertemu dengan Vanilla bila Vanilla kebetulan sedang di mansion juga. Kamu sudah jarang datang sih,"


"Sibuk," jawabnya singkat.


"Sibuk dengan pekerjaan sampai lupa mencari pendamping,"


"Bukan lupa. Tapi memang belum ada yang singgah di hatiku. Mau bagaimana lagi?"


Zio yang duduk di sebelahnya menepuk bahu gadis itu, seolah-olah begitu prihatin. Adrian jadi mengikuti.


"Sabar, Aunty Dev. Jodoh sudah ada yang mengatur. Iya 'kan, Dad?"


"Hmm, iya."


"Kapan, Aunty?" tanya Andrean pada Jane. Ia antusias sekali mendengar kabar ini. Uncle-nya akan bertambah lagi.


"Apa?"


"Menikah,"


"Belum tahu."


"Kamu sudah membahas apa saja dengan orangtuanya? kenapa hari pernikahan belum juga ditetapkan?"


"Aku--"


"Jangan ragu-ragu begitu kalau setiap malam kamu sering tidak bisa tidur karena memikirkan dia," ledek Vanilla dengan senyum miring.


"Itu tandanya kamu sudah yakin," Imbuh istri Jhico itu.


"Aku tidak ragu," bantah Jane lalu menatap Raihan. "Aku sudah katakan padamu 'kan, Uncle, kalau aku tidak ragu sama sekali,"


"Lalu tunggu apa lagi?" Nindya menimpali karena gemas dengan sikap maju mundur yang diambil Jane.


"Jangan-jangan kekasihmu yang masih ragu," Jo menebak dan berhasil ditepis langsung oleh Jane. "Malah dia yang mengajak aku untuk menikah sejak awal hubungan kami. Tapi aku baru yakin akhir-akhir ini. Dia memang ingin serius di hubungannya kali ini. Richard sudah terlalu banyak bermain-main, mantan kekasihnya banyak sama seperti aku. Dan saat dengan aku, dia berharap akulah yang terakhir untuknya,"


"Dia sudah yakin, kamu juga begitu. Ya sudah, tinggal jalankan niat baik itu," Ucap Jhon yang diangguki oleh semuanya.


"Kapanpun mereka datang, keluarga akan menerima dengan tangan terbuka,"


"Ayah dan Ibuku belum tahu,"


"Sudah, Uncle sudah bicarakan semuanya. Uncle tahu kamu berat untuk terbuka pada mereka,"


"Terima kasih, Uncle."


"Jadi, kita hanya membicarakan ini saja? hah! aku kira ada hal penting apa," cibir Vanilla yang sudah terlanjur mengira mereka akan membicarakan sesutu yang terlampau penting.


"Memang kamu kira kita akan membahas apa?"


"Harta warisan untuk aku dan Devan," Jhico melirik istrinya dengan tajam. Sudah Ia katakan tidak tepat membicarakan itu untuk saat ini.


"Kamu menyumpahi Papa cepat mati ya?"


"Tidak, aku--"


"Otakmu masih saja memikirkan harta. Brankas berjalanmu 'kan sudah ada dan setiap saat kamu membutuhkan pasti selalu diberikan," ujar Devan melirik Jhico yang sedari tadi diam. Jhico tengah menikmati rasa bahagianya. Bila terlibat dalam pembicaraan seperti tadi, Ia merasa sangat dihargai. Karena dalam keluarganya sendiri, Ia hampir tidak pernah ikut dalam pembahasan suatu hal.

__ADS_1


"Papa, bagian ku harus lebih banyak ya. Aku anak perempuan Papa satu-satunya,"


"Nilla, perhatikan ucapanmu!" tegur Jhico pelan namun didengar oleh semuanya. Jhico tak suka melihat istrinya arogan seperti itu pada Raihan. Tanpa diajari, Raihan pasti akan memberikan yang terbaik untuk kedua anaknya sesuai porsi yang memang pantas menurutnya.


"Anak sulung itu aku. Ingat, anak bungsu jangan banyak menuntut," Devan tersenyum pongah. Dan Vanilla mendengkus kesal saat diingatkan akan fakta itu.


"Kenapa jadi bahas harta warisan? doakan Papa panjang umur dan sehat selalu. Masalah pembagian, tenanglah. Papa sudah mengatur itu sejak kalian kecil,"


"WOW BENARKAH?" tanya Vanilla terperangah.


"Ya, sebrengsek apapun Papa dulu, Papa masih mengingat kalian. Karena usia tidak ada yang tahu, dan Papa tidak ingin kalian berdua hidup kesulitan di masa depan,"


"Tapi aku sempat hidup sulit. Ya, Devan? kamu ingat tidak, kita pernah menjadi pencuci piring di restoran," kenang Vanila ketika mengingat masa lalunya dimana Raihan, Papanya pernah dibutakan oleh obsesi terhadap seorang ****** sampai akhirnya Ia, Devan, dan Rena sempat terlantar dan hidup kesulitan karena Raihan terlalu fokus pada jalangnya.


Raihan diingatkan lagi akan kebodohannya dulu. Dan Ia tersenyum lirih. Tetapi secepat kilat, Rena mengusap punggung tangannya seolah mengatakan 'jangan memikirkan ucapan Vanilla. Dia tidak sengaja mengingat lukanya yang terdahulu,"


"Daddy pernah seperti itu?" Adrian syok dan langsung menoleh pada Daddy-nya.


"Pernah, tapi Daddy tidak malu,"


"Justru Daddy-mu bekerja lebih giat lagi. Sampai akhirnya bisa memiliki perusahaan sendiri tanpa campur tangan Grandpa," Raihan sengaja mengatakan itu pada kedua cucunya agar mereka bisa mengikuti jejak Devan yang positif. Jangan hal negatif yang mereka ikuti, tetapi kerja keras dan ketekunan lah yang harus mereka lihat dari Devan.


*******


Ini merupakan hari terakhir mereka berlibur. Esok pagi, harus kembali ke aktifitas seperti biasa. Yang bekerja, kembali disibukkan dengan pekerjaan, yang menjadi ibu rumah tangga kembali disibukkan dengan urusan anak, suami, dan juga rumah, sementara yang bersekolah harus kembali menuntut ilmu di sekolah. Tetapi untuk Adrian dan Andrean belum belajar secara langsung di sekolah karena masih waktu berlibur menjelang tes untuk naik ke kelas akhir. Sebelum masuk ke sekolah tingkat dasar.


"Selesai liburan harus belajar lebih giat lagi ya. Kita sudah liburan, jadi jangan kecewakan Daddy dan Mommy,"


"Iya, perbaiki lagi kemampuan membaca dan menghitung, Adrian. Malu kalau sampai masuk ke sekolah baru beberapa bulan lagi kamu masih belum lancar membaca,"


"Aku sudah bisa membaca. Bahkan sangat lancar. Mommy jangan bicara seperti itu," gerutunya tak terima. Jelas-jelas Ia sudah pandai membaca bahkan sangat pandai di usianya yang ke lima tahun.


"Omong-omong Sebentar lagi aku ulang tahun. Jangan lupa ya, Mom, Dad."


"Mana bisa lupa ulang tahun anak," ucap Devan dengan datar. Adrian melonjak senang. "ASSIIKK ARTINYA DADDY TIDAK LUPA MEMBERIKAN KADO UNTUK AKU,"


"Tidak ada kado,"


"Kenapa begitu, Dad?" Andrean protes dan itu membuat Devan tersenyum geli. Rupanya diam-diam Andrean juga mengharapkan kado padahal sejak tadi Ia stay cool dan fokus membaca artikel di ponsel miliknya.


"Andrean memang mau kado apa?" tanya Lovi yang baru saja selesai packing untuk besok perjalanan pulang.


"Seingatku anak Daddy dan Mommy itu bukan hanya Andrean, ulang tahun kita juga sama, tapi kenapa hanya Andrean yang ditanyai 'mau kado apa?' aku tidak ditanya begitu juga?"


"Malas bertanya padamu. Pasti banyak maunya,"


"Tidak, Dad. Aku hanya mau satu macam."


"Satu macam versi kamu itu berbeda dengan satu macam versi orang lain pada umumnya,"


Adrian merajuk, Ia berbaring terlungkup di atas ranjang dan menenggelamkan kepalanya di atas bantal. Devan melirik Andrean dan Lovi. Ia mengendikkan bahunya. "Kalau merajuk tidak akan Daddy turuti. Hanya Andrean saja yang boleh meminta kado,"


Tak disangka punggung Adrian nampak bergetar, pertanda Ia menangis namun tak ada suara.


Lovi berbicara dengan suaminya hanya dengan gerakan bibir, "Dia menangis. Kamu sih,"


"Aku?"


Andrean menarik lengan adiknya agar duduk. Tapi Adrian menepisnya. "Kenapa kamu jadi mellow begini? Daddy pasti adil. Tidak mungkin hanya aku yang diberikan kado sementara kamu tidak,"


"Iya, seperti tidak kenal Daddy saja. Memang pernah Daddy dan Mommy pilih kasih? Daddy kan hanya bercanda,"


********


Devan membiarkan istrinya tidur. Baru lima belas menit Lovi terpejam, Ia kembali membuka matanya.


"Sudah tidur?"


"Sudah," tangan Devan masih bekerja mengusap punggung dan anak yang merebahkan kepala di bahunya.


"Biarkan dia tidur di sini,"


Devan mengangguk dan sangat hati-hati Ia menaiki ranjang. Mungkin bila bersama orangtua dan kakak-kakaknya Ia tidak rewel.


Devan meringis saat melihat anaknya melenguh dalam tidur seraya mengusap matanya. Tapi Ia tak terbangun, Devan menghela napas lega. Ia meletakkan Auristella dengan sangat pelan.


Ia bersyukur karena Auristella tidak terbangun untuk kali ini. "Kamu tidur juga. Jangan menonton lagi di luar,"


"Iya," kata Devan menuruti ucapan istrinya. Lovi seolah tahu niat Devan setelah ini, menghabiskan waktu bersama sepupunya seraya menikmati kopi. Sebelum besok berpisah dan entah kapan bertemu lagi.


"Lov, kamu belum selesai?"


"Belum selesai apa?"


Posisi tidur Devan di atas kepala anak-anaknya agar lebih mudah berbicara dengan Lovi. Ia tak bisa memeluk Lovi karena ada ketiga anak mereka di tengah-tengah mereka.


"Itu..."


"Itu apa?"


Devan berdecak dan akan pindah kembali ke posisinya, tapi Lovi menahan. "Serius, aku tidak mengerti,"


"Datang bulanmu,"


"Oh... eh apa?"


"Kamu masih datang bulan atau sudah selesai?"?" Devan mengulangi pertanyaannya. Kali ini lebih diperjelas.


"Hmm.... sudah selesai sejak kemarin,"


"HAH?!" Devan tak sengaja berteriak dan itu mengundang Lovi untuk mendaratkan tangannya di daun telinga Devan.


"Astaga, kamu apa-apaan sih?" bisik Lovi dengan geram sementara Devan langsung bersungut. "Kamu tidak memberi tahu aku?"


"Memang penting?"


"Penting, Lov. Astaga, Aku sudah menunggu dari awal kita liburan. Kamu tahu itu 'kan?"


"Oh, aku lupa."


Seringan jtu istrinya menjawab. Devan yang gemas pun pada akhirnya turun dari ranjang lalu duduk di lantai, tepat di sebelah Lovi. Lovi menatap bingung ke arah suaminya.


"Kenapa bangun? aku suruh tidur 'kan?"


"Tidak mau,"


"Ya sudah, aku tidur lagi kalau begitu,"


"JANGAN!"


"Ck! apa sih? jangan berisik!" Gigi Lovi bergemelutuk, Ia melirik ketiga anaknya yang Ia khawatirkan akan terbangun.

__ADS_1


"Maaf, aku tidak sengaja,"


"Ayo, kita nikmati malam terakhir di resort ini,"


"Ini aku mau menikmatinya dengan tidur lelap sampai besok pagi,"


"Lov, aku tahu kamu pasti mengerti dengan pa yang aku ucapkan. Haruskah aku perjelas lagi keinginanku saat ini?"


"Harus! aku tidak paham,"


"Bohong! kamu menahan senyum sejak tadi. Kamu pasti mengerti. Tapi kamu sengaja pura-pura bodoh agar aku memohon. Iya 'kan?"


Lovi terkekeh pelan. Dan Ia menekan kedua pipi suaminya hingga bibir penuh milik sang suami mengerucut.


"Ya sudah,"


"Ya sudah apa?"


Lovi mendengus dan menarik hidung Bangir sang suami. "Kali ini kamu yang pura-pura bodoh," katanya seraya mendengkus geli.


"Tanpa menunggu waktu lama, kita mulai sekarang!" Devan mebawa istrinya ke sofa dan mereka melakukannya di sana. Devan punya otak, Ia tidak mungkin melakukan usaha untuk meraih puncak di atas ranjang, dimana anak-anaknya berada.


"Jangan di sini ya. Aku takut mereka bangun,"


"Tidak, kita tidak mengganggu,"


"Nanti suaraku--" Lovi tak mampu melanjutkan kalimatnya karena Ia terlalu malu untuk mengakui bahwa desah dan desis kenikmatan dari bibirnya tak pernah keluar dengan santai. Pasti selalu menimbulkan suara yang berisik dan mengganggu, bukan mengganggu orang lain. Tetapi benda-benda mati di dalam kamar. Namun tetap saja Lovi merasa malu.


Sontak Devan terkekeh geli tapi Ia berusaha menahan agar tawanya tidak kencang. "Apakah kita harus melakukannya di walk in closet?"


"Itu lebih baik,"


"Okay, My love,"


********


"Tidur, Andrean."


"Tidak bisa, Mom. Aku mual dan pusing juga,"


Lovi lagi-lagi mengoleskan oil aromatherapy di perut anak sulungnya. Kemudian Ia merebahkan kepala Andrean di pahanya. Saat ini mereka sedang dalam perjalanan pulang menuju mansion.


Sejak pagi hari, Andrean sudah kurang sehat. Lovi pikir anaknya terlalu kelelahan karena liburan kemarin benar-benar dipenuhi oleh kegiatan yang menyenangkan tapi juga melelahkan. Adrian yang sangat aktif beruntungnya lebih memiliki kondisi fisik yang jauh lebih kuat daripada sang kakak.


Ia menikmati perjalanan dengan senang hati. Sementara kakaknya lebih banyak memejamkan mata tapi bukan tidur. Andrean terlihat sangat lemah sekali.


"Begitu sampai langsung dibawa ke rumah sakit saja ya, Lov?'


"Andrean tidak mau, Dad."


"Jangan takut, dokter tidak akan melakukan sesuatu pada kamu. Hanya diperiksa lalu diberikan obat. Setelah itu kita pulang,"


"Aku tidak takut. Hanya ingin istirahat saja nanti, tidak mau kemanapun,"


"Ya, tapi kalau sampai nanti sore belum membaik juga, lebih baik diperiksa,"


"Makanya jadi anak itu jangan terlalu aktif, Andrean. Seperti aku seharusnya,"


Andrean mengubah posisi kepalanya menjadi ke arah ke jendela mobil, malas menanggapi adiknya.


Walaupun sakit, Andrean tetap menuruti keinginan adik perempuannya yang ingin dipangku. Auristella menatap dalam wajah Andrean. Sepertinya Ia juga khawatir akan kondisi kakaknya yang tak semakin irit bicara itu. Auristella yang melihat wajah Andrean pucat menjadi tidak tega, hingga Ia mengusap wajah Andrean dengan lembut.


*******


"Auris, Daddy mau berangkat kerja. Jangan seperti ini, Sayang."


Lovi membujuk putrinya agar mau berpisah dengan Devan yang sedari tadi menggendongnya. Padahal Devan sudah siap berangkat kerja. Saat Devan mengecup kening Auristella seperti biasa pertanda pamit, Auristella malah meminta digendong. Devan disuruh Lovi tetap saja berjalan menuju mobil, tetapi tangis Auristella semakin kencang hingga membuat Devan tidak tega.


Ia kembali lagi dan langsung membawa Auristella dalam gendongannya seraya dibawa berkeliling di jalan mansion. Lebih baik terlambat bekerja, daripada meninggalkan anaknya yang menangis. Itu akan membuat Devan tidak tenang selama bekutat dengan pekerjaan.


"Kamu sudah sangat terlambat,"


Lovi mengikut kemanapun Devan membawa putrinya. Melihat kelinci peliharaan Andrean dan Adrian, melihat bunga-bunga di taman, sampai menyaksikan pekerja di mansion mencuci mobil yang biasa dipakai Lovi kemanapun Ia pergi.


"Daddy tinggal bekerja, boleh?"


"No!" Auristella menggeleng tegas dan bicara lantang seolah Ia snagat lahan apa yang diucapkan Daddy-nya.


"Beruntung Andrean dan Adrian sudah berangkat sekolah lebih dulu. Kalah bersama aku, sudah pasti mereka akan terlambat juga,"


"Iya, sedang tes lagi. Aduh, aku akan mendapat laporan nanti,"


Setelah berlibur, Devan langsung bekerja dan Auristella tidak manja seperti ini. Entah mengapa sekarang malah sebaliknya.


Andrean dan Adrian memang sudah berangkat lebih dulu karena Devan bangun lebih siang daripada biasanya. Mereka sudah mandi dan sarapan sementara Daddy mereka sedang mandi. Akhirnya Lovi berinisiatif untuk meminta tolong pada supir mereka berdua agar mengantar kedua anaknya, jangan pergi bersama Devan karena akan terlambat.


"Auris, ayolah. Nanti Daddy dimarahi pegawainya, kamu tidak kasihan?"


Auristella kian erat memeluk leher Devan saat Lovi akan meraihnya. "Ada yang berani marahi aku?"


"Ck! biar dia mengerti,"


"Tapi dia tetap saja seperti ini," lirik Devan ke arah tangan anaknya yang memeluk begitu erat.


"Ya sudah, Daddy tidak usah bekerja saja kalau begitu. Biar Auris tidak bisa beli susu. Auris mau seperti itu? iya?"


Auristella bergeming dan menunjuk ke arah tempat tinggal burung-burung kecil milik Adrian dan Andrean yang belakangan hobi sekali mengoleksi hewan. Ikan sudah ada, kelinci juga, burung pun tak ketinggalan. Auristella juga tak mau kalah. Ia punya kucing dan kelinci.


Ia pintar sekali mengajak burung-burung peliharaan kakaknya berinteraksi. Gadis kecil itu menjentikkan jarinya untuk mengalihkan perhatian hewan berparuh itu, Auris mengikuti apa yang sering dilakukan kedua kakaknya ketika menyapa peliharaan mereka tersebut.


"Aku bawa saja lah Auris ke kantor,"


"Huh?"


"Daripada aku tidak bekerja, lebih baik aku bawa Auris. Aku tenang karena tidak meninggalkan dia yang menangis dan dia pun tidak akan membuat kamu sakit kepala. Dia akan menyebalkan kalau sedang manja, Lov."


Lovi mengakui itu juga. Auristella tidak akan tenang kalau orang lain tak menuruti apa katanya dan tak mau mengayomi dia yang sedang ingin dimanja.


"Aku ikut kamu juga,"


"Astaga, aku akan membawa dua bayi besar?"


Lovi mencubit lengan suaminya seraya mencibir, "Aku bukan bayi. Aku ikut kamu supaya bisa mengurus Auris. Kamu harus bekerja, lalu siapa yang akan mendampingi Auris?"


"Ada pengasuhnya nanti. Dia dibawa saja. Kamu gunakan kesempatan yang aku beri untuk istirahat,"


"Tidak, aku harus ikut!"


"Lov, lebih baik kamu istirahat di kamar. Kalau ada anak-anak, kamu jarang sekali bisa bersantai, sekarang gunakanlah kesempatan itu,"


"Mana bisa aku bersantai sementara aku punya kewajiban? aku harus ikut. Tunggu sebentar, aku siapkan semuanya dulu,"

__ADS_1


Lovi masuk ke dalam dengan langkah cepat. Ia akan mempersiapkan semua kebutuhan Auristella seperti makan, minum dan pakaian ganti karena setiap habis makan, Auristella pasti akan berganti baju karena Lovi yang melihatnya tidak nyaman.


Devan menatap punggung istrinya pasrah. Mau bagaimana lagi? Lovi sudah berkata tegas dan tak ingin dibantah. Lovi akan terus bersama anaknya karena itu tanggung jawabnya. Padahal maksud Devan membawa Auristella juga untuk sang istri yang sering kelelahan sampai membuat Ia tidak tega. Setiap Ia pulang bekerja, pasti Lovi terlihat sangat lelah. Walaupun Lovi berusaha menutupinya dengan penampilan yang segar usai mandi, tetap saja letih badannya tak bisa ditutupi dari Devan. Mengurus satu anak saja sulit apalagi mereka memiliki tiga anak yang pasti memiliki keperluan berbeda dan Lovi harus memenuhi semuanya dalam waktu bersamaan. Devan tahu betul sebesar apa rasa lelah seorang Ibu untuk merawat buah hati mereka.


__ADS_2