
Devan menghela napas pelan. Kalau Lovi sudah membahas kesalahan di masa lalunya, maka Devan tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Devan merapatkan tubuhnya pada Lovi lalu merangkum wajah perempuan itu.
"Aku minta maaf untuk semua yang aku lakukan dulu. Bisakah kamu tidak membahas itu lagi? aku tahu, aku salah, Lov."
Lovi menyentuh tangan kekar suaminya. Ia tersenyum tipis kemudian mengecup bibir Devan yang sedari tadi mencuri perhatiannya.
"Maaf, aku tidak berniat untuk mengungkit hal itu lagi. Tapi aku kesal kalau bunga-bunga itu kamu singkirkan. Aku ingin merawatnya,"
Rahang Devan mengeras. Ia menghela napas kasar. Bahkan luka ditangannya saja Devan yakin masih terasa nyeri, tapi kenapa Lovi mementingkan bunga mawar itu?
"Aku ganti dengan bunga yang lain!"
Lovi menjauhi tubuh suaminya. Memilih untuk sibuk sendiri melihat-lihat bunga yang lain. Devan menyadari kalau Ia sudah menyulut emosi Lovi.
Devan kembali mendekat, dan menarik pinggang istrinya. Memeluk perempuan itu dari belakang adalah hal kesukaan Devan. Di saat seperti itu Ia merasa sangat melindungi Lovi dengan tubuh tegapnya. Devan meletakkan dagunya di bahu Lovi.
"Sayang, bunga mawar bahaya buat kedua anak kita juga. Mereka bisa saja terluka ketika menyentuhnya,"
Devan memberi pengertian selembut mungkin.
"Aku menyesal tidak memikirkan ini dari awal," gumam Devan. Tatapannya menuju bunga mawar sialan yang sudah membuat jemari istrinya terluka. Ia menyipit tajam seolah menghakimi makhluk hidup itu.
"Ya sudah, akan diganti bunga apa?"
Lovi berbalik sehingga tangan Devan terlepas dari pinggangnya. Ia mengangkat sebelah alisnya menunggu jawaban.
"Aku tidak tahu akan diganti bunga jenis apa. Nanti aku tanyakan pada seseorang yang mengerti tentang ini,"
"Jangan kamu tanam bunga bangkai di sini! aku tidak mau!"
Devan tak mampu lagi menahan tawanya. Wajahnya memerah, bahkan sudut matanya sampai berair.
Lovi diam dengan wajah bingung.
apa yang lucu ?
"Sayang, bagaimana mungkin aku menanam sesuatu yang bau?"
"Kenapa tawamu begitu menggelikan?"
"Aish! tidak senang kalau suamimu bahagia?"
Lovi terkekeh dan melompat untuk naik ke atas tubuh suaminya. Devan terkejut namun secepat mungkin Ia meraih tubuh kecil istrinya. Kini, Ia menggendong Lovi seperti koala. Perempuan itu tampak bahagia ketika Devan memperlakukannya seperti ini.
"Jangan tiba-tiba seperti tadi ya, Lov. Aku takut tanganku tidak siap, lalu kamu jatuh,"
Tidak ada bentakan hanya nasihat halus yang diberikan lelaki itu. Lovi sangat bahagia mendapat perlakuan manis seperti ini. Dimana Devan sangat mengayominya dengan sepenuh hati.
Devan membawa istrinya masuk ke dalam rumah. Ia menurunkan Lovi di atas pantry. Dengan posisi ini Lovi lebih tinggi dari suaminya. Sehingga Ia bebas memainkan rambut lebat Devan.
"Sebelum kita pergi ke bungalow, kamu masak dulu ya? aku lapar,"
Tangan kecil Lovi bergenti bergerak, Ia menatap Devan.
"Memangnya sudah ada bahan makanan di sana?"
tunjuknya pada lemari pendingin super besar yang ada di sudut dapur.
"Sudah, tapi belum banyak. Kita akan menambahnya nanti,"
__ADS_1
"Siap! kamu mau makan apa? jangan yang terlalu sulit ya. Aku takut mereka bangun,"
Yang dimaksud Lovi adalah kedua anaknya. Mereka akan tidak sabaran kalau Lovi terlalu lama menghampiri mereka yang baru bangun tidur. Mereka akan menangis ketika Lovi tidak terlihat oleh mata mereka.
"Ya, sayang. Masaklah sesuatu yang mudah menurutmu. Untuk makanan mereka? masih ada?"
"Aku khawatir makanan yang di bawa dari mansion tadi tidak segar lagi. Aku harus masak untuk makan sore Andrean dan Adrian,"
Lovi turun dan menepuk lembut wajah suaminya yang tampak tidak rela mereka melepas keintiman.
Lovi mulai menelusuri dapur barunya. Mencari bahan-bahan untuk dibuat nasi goreng.
Ia menoleh sebentar pada Devan yang berdiri di belakangnya.
"Kalau aku masak nasi goreng, mau?"
Devan tentu saja mengangguk antusias. Ia sudah merindukan nasi goreng perempuan itu. Bila Lovi memasak nasi goreng, maka ingatan Devan kembali terlempar pada kejadian sebelum hubungan mereka membaik.
Ia datang menghampiri kamar Lovi yang saat itu belum Ia akui sebagai istri. Lantas meminta Lovi untuk memasak karena Ia sangat lapar.
Di malam itu, mereka semakin dekat. Bahkan setelah menikmati hidangan yang disajikan Lovi, Ia langsung membawa Lovi ke kamar untuk menikmati hidangan berbeda dari istrinya.
Ah! ketika mengingat momen itu, Devan selalu saja tersenyum sendiri. Lovi yang akan berbalik untuk mencari tempat diletakkannya piring dan sendok, mengerinyit ketika melihat Devan yang seperti orang gila.
"Devan? kamu kenapa masih diam di sana? senyum-senyum pula. Kamu tidak sakit bukan?"
"SAYANG! AKU MENCINTAIMU!"
Tanpa diduga oleh Lovi, Lelaki itu berjalan cepat mendekatinya lalu meraih tubuh Lovi dalam pelukan hangatnya.
Lovi masih bingung. Sepertinya Devan memang sakit.
"Tidak mau," rengek lelaki itu yang malah mengundang decakan Lovi.
"Kamu lapar, aku harus masak. Jangan ganggu aku!"
Lovi menepuk lengan suaminya yang masih nyaman melingkari pinggangnya.
"Tunggu di sana saja!!" titah Lovi seraya menunjuk ruang makan.
Dengan bersungut-sungut, lelaki itu berjalan ke meja makan. Devan bosan menunggu. Ia melihat Lovi yang sedang menumis nasi di atas penggorengan.
Devan memutuskan pergi ke kamarnya yang sudah siap ditempati. Ia mengisyaratkan Serry untuk pergi. Setelah menutup pintu, Ia beranjak ke atas ranjang. Devan bergabung dengan anaknya yang masih lelap dalam tidur.
Ia berbaring di tengah mereka. Devan tengkurap memperhatikan kedua malaikat kecilnya. Tangannya bergerak untuk mengusap wajah mungil anak sulungnya. Setelah mengecup bibir Andrean, Ia beralih pada Adrian dan melakukan hal yang serupa.
"Kenapa kalian tidur terus?" gumamnya.
Tangan Devan mengusap kepala anaknya. Rambut mereka yang lembut mampu membuat Devan terbuai sampai akhirnya jatuh tertidur. Ia tidak tahu kalau di bawah sana Lovi bingung mencarinya.
"Serry? kamu meninggalkan anakku?"
Serry tersenyum melihat kepanikan Nonanya. Tentu saja Ia tidak setega itu.
"Tuan Devan yang menemani mereka,"
mendengar penjelasan Serry, Lovi menggeleng. Pantas saja Devan tidak ada lagi di ruang makan.
"Tolong masukkan hidangannya ke dalam piring ya. Aku akan memanggil Devan untuk makan,"
"Ya, Nona."
__ADS_1
Serry mulai melaksanakan perintah Lovi. Ia memindahkan nasi goreng yang masih panas itu ke dalam piring. Dan menyajikan makanan cucu Raihan dan Rena itu.
*********
Lovi membuka pintu dengan pelan. Matanya langsung menangkap ketiga sosok yang paling disayanginya.
Ia mengeleng begitu menyadari kesalahan Devan. Bagaimana bisa lelaki itu tidur di tengah sementara kedua anaknya berada di tepi ranjang. Beruntung Ia cepat datang.
Ia memindahkan Andrean di samping Adiknya. Kini mereka berada ditengah orang tuanya.
"Devan, bangun lalu makan!"
Lovi menyentuh lengan suaminya. Tak ada respon sama sekali. Sepertinya Devan terlampau mengantuk.
"Devan, cepat bangun!"
Devan mengerang lalu membelakangi Lovi dan kedua anaknya. Lovi menggeram gemas. Memang seperti itulah sikap Devan kalau tidurnya merasa diusik. Ia akan mencari tempat ternyaman dan tenang.
Lovi meletakkan lututnya di atas ranjang lalu menarik kulit lengan lelaki itu hingga si pemilik berteriak kesakitan.
Devan berbalik dengan tiba-tiba dan punggungnya hampir membentur kedua anaknya. Tapi Lovi dengan sigap menepuk punggung suaminya agar bergeser. Lovi akan berubah menjadi garang kalau anaknya kesakitan.
"Kamu ingin menindih mereka?!"
Devan meringis seraya bangun. Ia mengusap lengannya yang masih terasa perih.
"Sakit, Sayang."
"Sulit sekali membangunkanmu!"
"Aku mengantuk dan...."
Lovi mengangkat sebelah alisnya menunggu kelanjutan ucapan suaminya.
"lapar," cicit lelaki itu sangat pelan seperti anak kecil yang tertangkap basah berbohong. Tidak ada lagi kata malu untuknya bertingkah seperti ini. Toh, Lovi juga tidak masalah dengan Ia yang manja.
"Sebelum kamu makan, aku mau mengatakan sesuatu,"
Sepertinya pembicaraan ini akan berjalan serius. Oleh karena itu Devan memaku fokusnya pada sang Istri.
"Kamu jangan meletakkan mereka di pinggir ranjang. Kalau mereka jatuh dan kenapa-napa, aku bisa mati, Devan!"
Oh Astaga! Devan kira Lovi ingin membicarakan sesuatu yang mengerikan untuk didengarnya.
Devan menghela napas lega.
"Maaf, Sayang. Aku lupa,"
"Kamu nyaman tidur di tengah ranjang. Lalu anak kamu di letakkan di pinggir. Untung pas aku datang, mereka tidak apa-apa," gerutu perempuan beranak dua itu. Ia harus memperingati Devan agar Ia tidak seperti itu lagi pada anak mereka. Lovi tidak ingin anak-anaknya berada dalam bahaya.
"Aku akan pasang pembatas kalau begitu. Untuk berjaga-jaga kalau aku buat kesalahan seperti ini lagi,"
"Jadi kamu niat untuk mengulangi kesalahan yang sama?"
"Tidak, Lov. Kalau seandainya mereka main di atas sini, maka kita tidak perlu khawatir lagi mereka akan terjatuh,"
"Oh, benar juga ya,"
*************
Jgn lupa vomment :) maaciw semuaaa
__ADS_1