My Cruel Husband

My Cruel Husband
Semakin dekat dengan ulangtahun Auris


__ADS_3

"Istirahat ya, Lov. Aku ke ruang kerja sebentar,"


"Kamu di sini, temani aku mengobrol. Aku tidak ingin tidur,"


"Tidak harus tidur. Tapi kamu berbaring saja, sambil bermain ponsel juga boleh. Kalau sudah lelah matanya, tidur."


Adrian dan Andrean memasuki kamar orangtuanya. Mereka berdua naik ke atas tempat tidur bergabung dengan Lovi.


"Dengan anak-anak sebentar ya?" bujuk Devan pada istrinya. Pekerjaannya menumpuk setelah empat hari di rumah sakit. Saat ini Ia ingin menyelesaikan sedikit pekerjaannya. Karena biar bagaimanapun Lovi masih butuh dirinya, jadi Ia tak bisa lama-lama.


Lovi memasang wajah sedih. Matanya sayu menatap Devan. Ia tidak ingin ditinggal. Kalau ada mereka bertiga di dekatnya pasti Ia tidak akan mengingat kejadian kemarin. Kalau sepi, Ia akan otomatis teringat.


"Okay, aku bawa pekerjaan ku ke sini."


Lovi mengangguk antusias. Devan tersenyum, Ia mengusap surai lembut sang istri sebelum pergi sebentar ke ruang kerja mengambil laporan-laporan pekerjaan yang harus Ia dahulukan untuk segera di selesaikan.


"Mommy, apa yang masih sakit?"


"Tidak ada, Mommy baik-baik saja,"


"Aku tidak menyangka Mommy pulang sekarang," ujar Andrean setelah adiknya bicara. Mereka berdua menatap Lovi penuh kasih sayang dan cinta.


"Senang Mommy pulang?"


"Tentu saja. Aku sudah rindu dengan Mommy, dengan cerewet nya Mommy juga," jawab Adrian seraya terkekeh kecil. Salah satu yang dirindukan bila tidak ada Lovi di sampingnya adalah perhatian Mommy nya dan juga cerewet nya Lovi bila Ia berbuat kesalahan dan tidak ingin memperbaiki.


Devan kembali ke kamarnya seraya membawa berkas dan laptop nya. Ia duduk di sofa dengan bersandar.


Tiga orang lainnya saling menatap. Devan kalau sudah bekerja pasti fokus sekali dan tidak ingin diganggu.


"Kita di luar saja, Mom. Di sini Daddy sedang bekerja. Nanti kalau kita mengobrol dan berisik, Daddy marah."


Padahal Adrian mengucapkannya pelan tapi Devan bisa mendengarnya samar-samar. Ia berdecak kesal. "Aku kerja di sini supaya bisa menemani kamu, Lov."


"Iya, aku tahu. Aku juga tidak keluar seperti apa kata Adrian 'kan?"


Lovi memilih untuk tetap di sini. Ia mengajak kedua anaknya untuk berbaring di sampingnya.


Kemudian Lovi meraih iPad nya di nakas yang beberapa hari tidak Ia aktifkan. "Kita bermain game saja di sini,"


"Ah paling Mommy mainnya desain baju atau masak-masak,"


Adrian duduk, enggan untuk ikut serta. Ia mengajak Andrean untuk keluar kamar. "Andrean, main di luar saja, ayo."


Andrean mengangguk dan menyusul adiknya yang sudah keluar. Lovi mendengkus karena ditinggalkan oleh kedua anaknya.


Devan tersenyum tipis dibalik layar laptopnya. Ia bisa melihat Lovi yang kini merengut tapi tangannya bergulir di layar iPad.

__ADS_1


"Sabar ya, My Lov. Aku selesaikan ini sebentar," ujarnya lembut meminta pengertian pada sang istri.


******


Selain membuat dekorasi di tempat acara ulang tahun Auristella, Lovi juga meminta dibuatkan dekorasi di rumahnya. Kalau rumah ada dekorasi yang menarik, ketiga anaknya pasti senang.


Dekorasi dipasang saat Lovi tidur siang. Menunggu suaminya bekerja membuat Lovi bosan. Akhirnya Ia terlelap. Setelah bekerja, rencananya Devan ingin tidur juga di samping Lovi. Tapi Devan tidak bisa tidur. Akhirnya Ia hanya menemani Lovi saja hingga sore tiba barulah Lovi bangun.


"Aku bisa jalan sendiri, Devan. Jangan dipapah terus,"


"Perutmu sempat kram, Lov. Aku masih khawatir,"


"Tidak, sekarang sudah baik-baik saja," ucap Lovi seraya melepas lingkaran tangan Devan dari pinggangnya.


Mereka turun ke lantai bawah dan melihat dekorasi sudah hampir jadi. Auristella antusias sekali. Karena semua nya serba merah muda, Andrean dan Adrian kurang suka. Jadi mereka hanya sibuk dengan balon-balon saja. Tidak seperti Auristella yang memainkan boneka-boneka kecil yang akan digantung bersama balon dan lampion.


Devan dan Lovi memperhatikan vendor yang mengurus dekorasi sedang sibuk melaksanakan tugas mereka. Auristella bermain dengan Serry karena Senata masih istirahat. Sementara Rena dan Raihan sudah pulang ke mansion.


Satu balon pecah oleh Adrian. Ia mencoba untuk meniupnya sendiri tanpa alat. Lalu pecah begitu saja. Semua orang terkejut termasuk Lovi yang langsung menutup telinga nya. Sementara Auristella mengusap dada nya.


Lovi mendekati Auristella yang menatap kakak keduanya dengan tajam.


"Adrian, ini sudah ke tiga kalinya kamu memecahkan balon," ujar Andrean yang diangguki Auristella.


"Iya," sahut anak perempuan Lovi.


"Lagipula untuk apa ditiup sendiri? ada alatnya, ngapain kamu susah-susah meniup balon?"


"Dia sengaja, Dad. Biar orang kaget,"


Adrian terbahak mendengar kakak nya menggerutu. Memang begitu niatnya, tapi dia melakukan tidak sekaligus. Ia memecahkan tiga balon dengan jarak yang tidak berdekatan. Pikirnya bila seperti itu, kaget nya lebih terasa.


"Yan," Auristella memanggil Adrian. Ia menatap Adrian dengan tajam, keningnya mengerinyit, dan Ia menggeram.


"Apa sih? kamu seperti banteng kalau begitu,"


"Hey sembarangan saja kalau bicara. Anak Mommy ini, bukan banteng."


Lovi memeluk anak perempuannya. Sementara Devan meraup wajah anaknya yang masih sibuk tertawa.


"Lama-lama balon habis nanti,"


Tidak ada yang berani menegur Adrian sejak tadi. Vendor dekorasi membiarkan anak klien mereka berulah. Maka Devan lah yang memberi tahu anaknya. Agar tidak membuang-buang balon.


"Hanya tiga yang aku rusak,"


"Jangan lagi!"

__ADS_1


"Iya, Dad."


Adrian menjauh dari kumpulan balon dan alat untuk meniup balon tersebut. Devan matanya sudah tajam memperingatkan, maka Adrian tidak akan mengulangi. Lagipula sudah cukup Ia membuat semua orang yang di sana terkejut.


"Ihh warna nya merah muda. Aku tidak suka,"


Semua sudah jadi, tinggal pemasangan balon lagi. Adrian menatap dekorasi dengan kening mengerinyit.


"Memang bukan buat kamu. Ini ulang tahun Auris, jadi sesuai dengan warna yang dia suka,"


******


Devan memandikan Auristella. Setelah itu Auristella menunjuk baju yang diberikan oleh Vanilla yang sudah dicuci terlebih dahulu oleh maid nya. Baju itu sudah diletakkan di tempat pakaian Auristella.


Kemarin rupanya Auristella lupa dengan baju nya yang baru itu. Dan sekarang Ia mengingatnya karena ada di depan mata.


Ia ingin memakai itu, Devan mengerti. Auristella menggunakan baju rumahan yang modelnya seperti hanbok. Dia nampak cantik mengenakan itu.


"Woah pakai baju baru dari siapa itu? sepertinya Mommy tidak pernah membelikan itu untukmu,"


"Dari Vanilla," jawab Senata.


"Oh..."


"Kan masih banyak baju baru di almari mu. Kenapa pakai itu, Sayang?" tanya Senata pada cucunya. Senata mengulurkan tangan ingin menggendong. Tapi anak itu menggeleng. Ia semakin memperat lingkaran tangannya di leher sang ayah.


"Ditanya Grandma. Jawab, Auris."


Auristella hanya memegang-megang baju yang dia pakai. Tidak tahu harus jawab apa. Adrian juga baru mandi tapi tidak pakai baju dari Vanilla karena ukurannya masih sedikit kebesaran.


"Woahh Auris pakai baju dari Aunty. Tidak main-main adikku ini,"


"HAHAHAHA,"


"Hih?"


Senata menoleh pada Devan. "Anakmu kenapa, Devan?"


Mereka bingung saat Adrian menggoda adiknya yang pakai baju dari Vanilla. Apa yang salah? padahal dia sendiri juga sering langsung pakai barang baru. Adiknya itu sama seperti dirinya.


"Kalau baju yang diberikan Aunty tidak kebesaran, Grandma yakin kamu akan memakainya juga bahkan dari kemarin sesaat setelah diberikan,"


 --------


Hay Hay makasih udh baca, ikut berhalu sama aku wkwk. Makasih jg buat yg udh kasih like, vote, dan komen. Wufyuu bwt kalian💙


ADDICTED UP!!

__ADS_1



__ADS_2