My Cruel Husband

My Cruel Husband
Jawaban yang dinanti


__ADS_3

"Aku--aku ingin kembali bersamamu,"


Detik itu juga Devan merasa hidupnya kembali berwarna. Bayangan abu-abu masa depan yang selama ini Ia pikirkan berubah menjadi penuh warna. Rongga dada Devan terasa diberikan ribuan volume oksigen. Debaran yang sejak tadi memporak porandakan hatinya berganti menjadi irama yang mengalun indah. Ia bahagia seperti halnya lelaki yang baru saja diterima pernyataan cintanya oleh perempuan yang ingin dimiliki.


Devan merangkum wajah Lovi. Bibirnya Ia gigit sekuat mungkin agar tak berteriak sebagai bentuk sorak kebahagiaannya.


"Lov, kamu mengatakan ini dengan serius bukan? Tidak sedang--"


Lovi tersenyum, Ia mengusap kelopak Devan yang langsung menyelimuti kornea berkacanya.


"Tidak sedang bergurau?"


Lovi mengangguk yakin. Ia serius, Ia mengatakan itu dengan benar, dan dalam kesadaran penuh. Ia siap menjadi bagian dari tulang rusuk Devan untuk yang kedua kalinya.


"Aku ingin menikah denganmu," satu pernyataan penuh keyakinan dan ketegasan Lovi utarakan sekali lagi. Dan itu membuat Devan tak mampu lagi menahan rasa harunya.


Secepat mungkin Devan memeluk perempuan itu. Kedua tangannya bergerak menyusuri punggung dan kepala Lovi. Bibirnya tak henti mengatakan,


"Terima kasih, Lov."


Devan memberi sedikit jarak diantara mereka. Ia selalu tersenyum sampai kedua matanya menyipit.


Ia mengecup bibir Lovi dan mereka tertawa. Di kamar ini mereka kembali saling memeluk. Bertekad untuk menjadi satu bagian lagi dengan keseragaman visi dan misi. Detak jarum jam pagi ini menjadi saksi kebahagiaan dua anak manusia yang sudah siap untuk diikat kembali oleh janji atas nama Tuhan dan negara.


"Aku tidak akan menyakitimu lagi. Aku mohon, tetap di sampingku sampai kapanpun. Aku mencintaimu, dan Aku membutuhkanmu untuk melengkapi hidupku,"


***


Senja mulai datang bersiap untuk menjemput malam. Lovi sedang menikmati suasana di taman yang sudah lama Ia tinggalkan.

__ADS_1


Devan langsung izin padanya untuk pergi usai menerima jawaban Lovi. Lelaki itu akan mempersiapkan pernikahan mereka agar berlangsung semakin cepat. Baik Devan maupun Lovi, keduanya tak pernah merasa sebahagia ini. Mengingat pernikahan mereka sebelumnya bukan karena perasaan cinta, melainkan saling membutuhkan. Devan butuh Lovi sebagai pengganti Elea, sementara Lovi butuh uang untuk menunjang finansialnya. Kali ini pernikahan itu benar-benar berbeda.


"Mama senang kamu memilih jalan yang tepat. Devan memang tempat untukmu kembali, Lovi."


Lovi tersenyum dan membuka matanya yang sejak tadi terpejam. Ia bergeser agar Senata bisa duduk lebih dekat dengannya.


"Mama bahagia?"


Karena ketika itu terjadi lagi, semua orang-orang dalam hidup Lovi harus merasakan kebahagiaan sama seperti dirinya.


"Sama seperti kamu. Mama bahagia kalau kamu pun merasakannya,"


****


Devan bertemu dengan Deni malam itu. Devan akan menjadikan Deni sebagai pihak paling sibuk dalam penyelenggaraan pernikahannya nanti.


"Seperti mimpi rasanya kembali bertemu denganmu,"


Devan berdecak, memutar bola matanya. Menganggap perkataan Deni terlalu berlebihan.


"Kau saja yang tak punya hati. Teman kesulitan, tak pernah datang memberi semangat,"


Deni memilih untuk menghindari Devan setelah lelaki itu bercerai. Sebagai lelaki Ia justru berpihak pada Lovi. Karena biar bagaimanapun, Devan tetap bersalah. Deni berusaha untuk tidak peduli pada Devan. Dan Devan pun tak pernah meminta bantuannya. Ia rasa Devan tahu kalau kemarin itu adalah waktunya untuk berjuang seorang diri.


"Akhir pekan, semuanya harus sempurna,"


"Kau gila?! hanya empat hari lagi waktu untukku? bagaimana bisa, bodoh?"


"Kau tidak bisa menolak apapun. Ini untuk pertama kalinya aku meminta bantuanmu setelah berbulan-bulan kau hilang seperti dijemput kematian,"

__ADS_1


Deni meraih Americano hot yang ada di depan mereka berniat untuk membuat Devan kotor malam ini. Namun melihat sorot tajam temannya itu, Ia bergidik. Dan dengan payah kembali meletakkan minumannya itu.


"Setelah itu apa lagi yang akan kau bicarakan?"


"Tidak ada. Hanya tentang pernikahanku,"


"Aku harap kau tidak menyakitinya lagi,"


"Kau sudah mengatakan itu ribuan kali sejak tadi. Aku bosan mendengarnya,"


"Aku serius, Devan. Kalau kau menyakitinya lagi, aku siap menjadi penggantimu,"


BYURR


Berbeda dengan Deni, Devan justru benar-benar membuang minumannya dan menjadikan Deni sebagai tempat sampah.


Makian tak terelakkan lagi. Deni terus mengumpati sahabat kurang ajarnya.


"Kalau tau seperti ini, harusnya aku tidak perlu mengurungkan niatku tadi,"


Devan tersenyum miring. Ia bangkit dan memasukkan ponsel serta kunci mobilnya ke dalam saku. Ia menepuk bahu sahabatnya sekilas yang langsung dihempas oleh Deni.


Devan terkekeh mengejek. Sebelum pergi, Ia mengucapkan kalimat yang semakin membuat Deni kebakaran. Minuman yang disiram Devan masih terasa panas di tubuhnya. Dan mulut Devan semakin membuatnya ingin berteriak.


"Cepat punya Istri agar kamu tak menyedihkan seperti ini,"


-------


Shombonk bgt si pan-pan😑timpukin pake apa enaknya?

__ADS_1


__ADS_2