
Jane dan Vanilla tampak sibuk menyiapkan perlengkapan liburan mereka di musim dingin ini. Jane sangat senang ketika Ia kembali ke mansion, Raihan mengajak seluruh keluarganya untuk berlibur di salah satu resort yang terletak di suatu wilayah yang mempesona.
Vanilla memasuki kamar sepupunya ketika Ia tidak menemukan parfum kesayangannya di atas meja rias.
"Dimana parfumku? kemarin kamu memakainya bukan?" tanya Vanilla langsung tanpa basa-basi ketika Ia sampai di kamar Jane yang sangat berantakan. Padahal mereka berlibur hanya untuk tujuh hari. Namun perlengkapan yang di bawa benar-benar gila.
"Sudah aku kembalikan," jawab Jane dengan tangan yang sibuk menata pakaian di dalam koper.
Vanilla berdecak seraya bertolak pinggang.
"Tidak ada, Jane. Kalau ada di sana, aku tidak akan bertanya padamu. Atau jangan-jangan, kamu menghabiskan parfumku ya?"
Jane menarik napas panjang karena cukup sulit menutup koper yang penuh itu. Ia menatap Vanilla.
"Awas saja kalau aku menemukannya. Aku akan melakukan sesuatu padamu," ancamnya seraya bangkit. Ia akan mencari parfum milik si bungsu keluarga Vidyatmaka itu.
Jane mencari barang mahal itu dengan tergesa karena pakaiannya belum ditata secara sempurna. Berbeda dengan Vanilla yang persiapannya hampir seratus persen. Vanilla hanya tinggal memasukkan peralatan kecantikannya ke dalam pouch make up.
"Ini yang kamu cari?" tanya Jane ketika Ia berhasil meraih botol parfum yang terjatuh di kolong meja rias Vanilla dan tertutupi oleh bangkunya.
Senyum bahagia langsung terpancar dari wajah Vanilla. Ia langsung meraih parfum kesayangannya yang akan selalu Ia bawa kemanapun itu.
"Thankyou, sist,"
Ia berkata dengan kedipan matanya yang mengundang gedikan geli dari Jane. Ia mengusir Jane dari kamarnya menggunakan isyarat tangan.
*********
Berbeda dari Vanilla dan Jane yang sangat Excited, Lovi justru sebaliknya. Ia tidak begitu menginginkan liburan itu. Tapi karena ucapan tegas Devan semalam, mau tidak mau Ia mengikutinya.
"Kedua anakku perlu liburan. Kalian harus ikut!"
Perkataan Devan yang sampai saat ini masih membuat Lovi kesal. Mereka sedang terlibat perang dingin, akan terasa canggung bila harus menghabiskan waktu bersama saat liburan.
Lovi mempersiapkan semua perlengkapan untuk keluarga kecilnya. Sementara Lovi sibuk dengan kegiatannya, Devan yang sudah pulang dari kantor malam itu, tampak sibuk bermain dengan kedua putranya di atas ranjang.
"Kenapa melihat Daddy seperti itu? hm?"
Devan mengecup pipi Adrian ketika lelaki kecil itu menatapnya dengan senyuman lebar. Hingga air liurnya menetes. Devan tertawa dibuatnya.
"Kamu lelaki, sayang. Bagaimana perempuan akan jatuh cinta padamu kalau kamu seperti ini?" ledek Devan seraya mengusap air liur anaknya dengan lembut.
Melihat interaksi manis yang terjadi di antara orang-orang yang disayanginya, Lovi menoleh. Ia bahagia melihatnya walaupun saat ini masa depan pernikahannya belum jelas.
Melihat adiknya tertawa, Andrean pun melakukannya. Devan sangat bahagia melihat tawa mereka yang mampu membuat Devan lupa akan segala rasa lelahnya setelah seharian menghabiskan waktu di kantor ditemani setumpuk pekerjaan. Ia merasa hidupnya saat ini sangatlah sempurna. Ia bersyukur, seorang brengsek sepertinya masih diberikan kebahagiaan yang luar biasa oleh Tuhan.
__ADS_1
"Kalian senang akan berlibur?" tanya Devan menatap lamat-lamat mata kedua putranya.
Mereka berkedip-kedip lalu tersenyum manis. Devan dibuat sangat gemas. Lelaki itu tak akan pernah puas mengecup Adrian dan Andrean, buah hatinya. Aroma bayi yang menguar membuat Devan tenang berada di tengah mereka.
Devan serius dengan ucapannya. Ia menjaga jaraknya dengan Lovi yang sedang membutuhkan waktu untuk menerimanya.
Lagipula mereka masih berada di bawah satu atap yang sama. Devan tetap bisa memantau ketiganya. Devan pikir, mungkin dengan cara itu pernikahannya akan menjadi lebih baik. Namun di lain sisi, Lovi merasa Devan kembali menyakitinya. Lelaki itu mengacuhkannya. Tidak ada interaksi yang terjalin di antara mereka. Devan terlihat hanya peduli pada kedua putranya.
Lovi tidak tahu apa yang dilakukan Devan setiap hari. Lelaki itu selalu memantau Lovi melalui para pengawal yang bertugas. Devan tidak pernah ketinggalan informasi mengenai kegiatan Istri dan juga kedua putranya. Devan hanya bisa melakukan itu disaat sikap egois menguasai Lovi untuk sekarang.
Lama mereka berbincang, akhirnya kedua lelaki kecil itu tertidur di atas ranjang Devan dan Lovi. Bibir mungil mereka terbuka dengan napas teratur. Gaya tidur Adrian dan Andrean mengingatkan Devan akan Lovi. Perempuan itu akan melakukan hal yang sama saat tidur bila menghabiskan hari terlalu lelah.
Devan kini beralih pada Istrinya yang sedang meletakkan koper di pojok kamarnya yang luas itu. Lovi telah menyelesaikan kegiatannya.
"Aku ingin makan, Lov," ucap Devan yang langsung di pahami oleh Lovi. Perempuan itu mengangguk lalu keluar dari kamar menyiapkan makan malam Suaminya.
Devan meletakkan Adrian dan Andrean di box mereka. Baik Devan maupun Lovi belum ingin meletakkan keduanya di kamar terpisah yang telah di siapkan Devan. Usia mereka terlalu kecil bila harus tidur sendiri. Mereka masih memerlukan pengawasan ekstra dari kedua orangtuanya. Lagipula Adrian dan Andrean selalu terbangun karena lapar. Oleh sebab itu, Lovi harus terus disamping mereka.
Setelah memastikan kedua anaknya dalam situasi yang nyaman, Devan menutup pintu kamar sangat pelan.
Devan akan turun untuk makan malam. Devan melewati kamar Vanilla dan Jane. Ia melihat kedua gadis itu sedang berdebat dengan pintu kamar Vanilla yang terbuka.
"Apa lagi yang kalian ributkan?"
"Apa yang kamu lakukan di sini?"
"Aku mendengar keributan,"
Vanilla dan Jane mendengus begitu mendengar jawaban Devan yang tidak berkaitan dengan pertanyaan Vanilla tadi.
"Pergi!"
Mata Devan menyipit ketika Adiknya mengusir. Sebenarnya apa yang terjadi?
"Apa yang kalian perdebatkan?"
"Bukan urusanmu, Devan!" seru Vanilla dan Jane secara bersamaan. Devan masih dengan wajah datarnya.
"Awas saja kalau sampai kedua anakku bangun. Kalian aku habisi,"
Mata tegas itu melotot tajam. Membuat kedua lawan bicaranya sempat merinding.
"Mana mungkin mereka bangun? mansion ini sangat besar. Dan kamarmu jauh di lantai atas,"
Devan mengusap kepalanya sejenak. Benar juga perkataan Vanilla. Kamarnya berada di lantai atas. Sementara kamar yang penuh keributan ini di lantai bawah.
__ADS_1
"Aku tidak ingin mendengar keributan,"
"Devan, ini...."
"Dan jangan membantah!" sela Devan dengan cepat begitu melihat mulut Jane yang terbuka ingin membalasnya.
"Kamu harus ganti parfumku yang sudah hampir habis ini. Aku yakin kamu memakainya dengan cara disiram,"
"Enak saja! Memangnya aku gila menyiram tubuhku dengan parfum?"
"Kamu memang mantan orang gila, Jane!"
"Vanilla, Sialan kamu!!"
Ketika Devan meninggalkan mereka, suara keributan masih dapat di dengar oleh Devan. Lelaki itu hanya mampu menggeleng pelan seraya menghela napas panjang.
Devan memasuki ruang makan. Ia melihat Rena dan Raihan yang baru menyelesaikan makan malamnya juga.
"Tumben sekali kamu tidak makan bersama kami?"
Devan menghela bahunya acuh. Ia duduk di samping Lovi yang sedang mengambilkan lauk pauk untuknya.
"Mereka tidak mengizinkanku untuk jauh," jawab Devan dengan senyum miringnya. Rena terkekeh setelah mengerti maksud ucapan putranya.
Rena tahu seberapa besar antusias yang ditunjukkan kedua cucunya bila ayah mereka telah tiba di mansion.
"Ya, kamu terlalu sibuk dengan pekerjaan," ucap Rena.
Raihan yang sedari tadi diam pun mengeluarkan suaranya.
"Bagaimana persiapan kalian untuk liburan besok?"
"Semuanya sudah dipersiapkan. Kami sangat senang. Terimakasih, Pa," jawab Devan dengan suara tenangnya.
Raihan tersenyum hangat mendengar ucapan Devan. Tumben sekali lelaki itu menjawab dengan santun. Biasanya, Devan hanya bisa berujar kasar.
"Kamu pun merasakan hal yang sama, Lovi?"
Lovi dibuat terbangun dari lamunannya. Ia tampak gelagapan sebelum menjawab,
"Ya, aku sangat tidak sabar merasakan liburan pertamaku bersama keluarga ini,"
*************
Dah ah sampe sini dulu ya gengs. Jgn lupa dukungannyaaaa!!!! tencuuu
__ADS_1