
Devan muak. Muak melihat interaksi menjijikan antara Elea dengan lelaki bernama Kevin itu. Bukan karena cemburu atau sakit hati. Melainkan karena mereka sudah berhasil membuat waktu Devan terbuang sia-sia.
"Selamat atas hubungan kalian. Kami pergi dulu,"
Kalian pikir siapa yang dengan ringan mampu mengatakan itu? Tentu saja Devan. Lovi tersenyum dalam diam. Ia bangkit begitupun Devan.
Lovi mengangguk singkat sebagai salam perpisahan pada sepasang kekasih itu. Elea masih bisa melihat betapa eratnya Devan menggenggam tangan Lovi. Bahkan tanpa ragu memeluk bahu Lovi dari samping.
"Aku penasaran dengan hubungan kalian,"
Elea menoleh pada kekasihnya. Ia mengecup bibir Kevin. Ia berharap dengan itu Kevin paham kalau Elea tidak ingin menjawab pertanyaanya. Cukup melihat lalu dicerna sendiri. Itu tidak sulit bukan?
***
Devan mendorong tubuh Lovi ke dalam mobil dengan cepat. Posisi mobilnya saat ini sangat aman. Berada di dalam area parkir yang sangat sepi.
Oleh sebab itu Devan bebas melakukan apapun. Setelah Lovi masuk ke dalam kursi penumpang, Devan pun mengikutinya. Hal selanjutnya yang dilakukan lelaki sinting itu adalah mengunci pintu mobil secepat mungkin tanpa mendengar teriakan bermakna protes dari mantan istrinya.
"Kamu berhasil membuatku emosi, Lovi." desisnya dengan tubuh yang mulai maju mendekati Lovi. Mulutnya mulai bergerilya di belakang telinga Lovi.
__ADS_1
"Aku tidak peduli,"
"Benarkah? Kamu terlihat kepanasan tadi,"
Lovi tertawa ringan. Tangannya berusaha untuk mengusir kepala Devan yang ada dibahunya.
"Guyonan macam apa itu? Kamu yang merasa kepanasan. Bukan aku!"
"Perempuan yang mengelak dengan terang-terangan biasanya tengah menyembunyikan kejujuran,"
"Devan! Berhenti untuk bermain-main denganku!"
"Kamu yang bermain-main denganku. Kamu pikir aku akan diam saja setelah kamu membuat aku marah sejak tadi?"
"Aku melakukan hal yang benar. Kamu masih mencintanya bukan? Nah, aku hanya mempertemukan kalian. Dimana salahnya?"
"Shit! Berhenti untuk mengatakan omong kosong! Aku benci mendengarnya,"
Lovi merangkum wajah Devan. Lalu menepuknya pelan. Berusaha menyadarkan lelaki itu kalau Ia baru saja mengatakan hal yang salah.
__ADS_1
"Kalian masih mencintai. Jangan mengatakan benci, Elea akan sedih mendengarnya,"
Lovi mengabaikan setitik rasa asing yang sedari tadi menyergah hatinya. Lovi perlu membuktikan kalau Devan tidak akan menyetujui ucapannya.
"Oh kamu menginginkan aku dan dia kembali? Begitu? Kamu yakin bisa hidup tanpa aku? hm? Karena, sayang, aku bisa melihat dengan jelas bagaimana reaksimu tadi. Kamu mati-matian menahan rasa gerah dihatimu. Benar begitu?"
Devan menggoda Lovi. Bibirnya baru saja mengecup bibir Lovi yang bersiap untuk mengeluarkan kalimat sanggahan.
Sesungguhnya Andrean dan Adrian akan pulang sekitar empat puluh menit lagi. Tapi orangtuanya yang memang sama-sama gila menggunakan alasan itu agar pertemuan dengan masa lalu cepat berakhir.
Lovi diam, berusaha memahami kalimat Devan tadi. Hidup tanpa Devan? Melihat lelaki itu kembali pada mantan kekasihnya? Jelas saja tidak bisa. Lovi akan hancur. Devan bagaikan salah satu organ penting dalam dirinya. Kalau hilang, maka kehidupan Lovi sudah dapat dipastikan akan terganggu.
Kehilangan status pernikahan saja sudah membuat Ia lemah. Apalagi kalau lelaki itu lebih memilih wanita lain? Lovi tidak bisa membayangkan hal apa yang akan terjadi pada dirinya.
Devan memejamkan matanya. Punggung kokoh itu bersandar pada jok mobil yang begitu nyaman. Devan meyakinkan dirinya sendiri kalau setelah ini, semuanya akan baik-baik saja. Ia menginterupsi otaknya agar menganggap pertemuan tadi tidak lagi berarti untuknya. Ada perempuan di sampingnya yang harus Ia jaga. Devan tidak ingin mengorbankan berlian hanya untuk memungut sampah.
"Aku tidak suka dengan kamu yang membohongi diri sendiri, Lov. Berhenti untuk menyakitiku dan juga hatimu. Cukup mudah untuk dilakukan bukan?"
----
__ADS_1
UP LAGEEEE PAGI INI. Jgn lupa vote&komen yaa. Komen blm 60 tp aku udh ga sabar mau Up hehehe.