
"Grandpa ikan ku sudah besar karena aku rajin memberinya makan,"
Sore ini Adrian mengajak kakeknya untuk melipir ke sayap kanan rumah dimana hewan-hewan peliharaannya tinggal.
Beberapa hari tinggal di sini, Lucas memang belum tahu kalau cucunya memiliki piaraan. Matanya terkejut melihat kelinci, ikan, dan burung.
"Ini punyamu semua?"
"Tidak, ada punya Andrean dan Auris juga, Grandpa."
"Oh pantas banyak sekali,"
"Sudah lumayan besar ikannya ya, Grandpa?" tanya Adrian pada sang kakek seraya menunjuk akuarium cukup besar padahal ikannya hanya sedikit.
"Kamu yang rajin memberi makan?"
"Hmm ya. Tapi terkadang bukan aku. Semua hewan di sini ada pengurusnya, Grandpa. Jefrey, dia yang disuruh Daddy untuk membantu aku dan Andrean merawat semua ini,"
"Kenapa kamu dan Andrean merawatnya juga?"
"Karena kata Daddy kalau punya hewan piaraan itu, harus bertanggung jawab. Diurus, jangan dibiarkan saja. Mereka juga makhluk hidup. Disaat aku dan Andrean tidak bisa mengurusnya, ada Jefrey yang menggantikan,"
Adrian sedang menjadi tour guide untuk Grandpa nya melihat-lihat tempat dimana hewan peliharaan nya tinggal, Andrean sibuk membaca buku cerita dan Auristella sibuk bermain. Andrean dan Serry menjaga Auristella di ruang keluarga karena Lovi sedang makan sebentar.
Auristella sebentar-sebentar mengganti mainan yang ada di tangannya. Ia melempar mainan kalau sudah bosan. "Jangan begitu, Auris. Letakkan dengan benar dan cari yang baru. Jangan dilempar, memang belinya tidak pakai uang?" ujar anak sulung Devan itu panjang lebar, guna memberi tahu adiknya agar tidak seenaknya terhadap mainan.
Auristella tersenyum memperlihatkan gigi - giginya yang sudah tumbuh semakin banyak. Ia sengaja melempar-lempar untuk menarik perhatian kakaknya yang sangat fokus dengan buku kecil di tangannya. Ia ingin bermain bersama.
"DADDY PULANG,"
"Dyyyy..." Auristella memanggil Devan yang suaranya sudah terdengar menyapa anak-anaknya ketika melangkah memasuki rumah.
Begitu Devan tiba di ruang keluarga. Ia terkejut melihat di sana sangat berantakan. Banyak mainan Auristella yang tergeletak. Biasanya ketiga anaknya bermain di playground indoor yang sengaja di desain sedemikian rupa oleh Lovi hingga suasananya tidak membosankan.
Devan mencium kening anak sulungnya seraya mengusap rambut lebat Andrean. Lalu Ia bertanya pada Auristella,
"Main nya kenapa di sini?" tanya Devan seraya menggendong anak perempuannya. Devan mencium pipi Auristella bertubi-tubi.
"Jadi berantakan. Nanti dibereskan sendiri ya?"
Auristella menggeleng. Ia tidak bisa membereskan nya sendiri. Kalau Adrian dan Andrean bisa saja.
"Nanti aku yang bereskan,"
Devan tersenyum menatap Andrean yang mau bertanggung jawab padahal bukan mainan miliknya yang berantakan di ruang keluarga.
Devan dan Lovi memang semakin gencar mengajarkan anak mereka untuk bertanggung jawab. Dari kecil sudah dibiasakan, dan semakin besar tidak boleh hilang kebiasaan itu.
"Mommy dimana?" tanya Devan pada Auristella. Anaknya itu mengangkat bahu tidak tahu tapi telunjuknya mengarah ke ruang makan.
"Di sana?"
__ADS_1
"Ya,"
"Ndak,"
Jawabannya ada dua, membuat Devan bingung. Ia terkekeh geli melihat anaknya ini. Setiap pulang bekerja, lalu melihat anak-anaknya, rasa lelah Devan langsung hilang.
"Adrian dimana?"
"Sedang melihat piaraan bersama Grandpa Lucas, Dad."
"Serry, mereka sudah makan?" tanya Devan pada Serry yang sejak tadi memperhatikan interaksi hangat Devan dengan kedua anaknya.
"Sudah, Tuan."
Devan mengangguk kemudian membawa Auristella ke ruang makan dimana Lovi berada.
"My Lov, aku pulang. Kamu tidak dengar? tumben tidak menyambut aku,"
"Kalau aku sedang makan, tidak boleh kemana-mana katamu,"
"Oh iya, aku lupa."
******
Lovi membawa anaknya ke rumah sakit. Saat menunggu hasil observasi mengenai kondisi Auristella, Devan yang sedang bekerja menelponnya dan menanyakan kabar Lovi serta anak-anak mereka, seperti biasa.
Lovi memberi tahu kalau Ia sedang di rumah sakit membawa Auristella yang suhu tubuhnya meningkat dan juga lesu. Pada saat itu juga Devan datang ke rumah sakit.
"Hanya kelelahan,"
"Tidak, Nona. Apa yang dia lakukan seharian ini?"
"Dia sudah mulai berjalan merambat, Dok. Tidak menyerah, saat jatuh berdiri lagi. Begitu terus. Seharian ini juga bermain terus dengan kakak-kakak nya,"
Dokter tertawa mendengar cerita Lovi. Memang hari ini sepertinya sangat melelahkan untuk Auristella yang sudah mulai belajar jalan.
Kaki nya sudah bisa berdiri tegak. Bahkan berjalan meskipun masih membutuhkan pegangan agar tidak terjatuh.
Sekalinya terjatuh, dia tidak menyerah. Sampai Lovi yang melihatnya merasa tidak tega.
Dia menyuruh Auristella untuk diam sejenak, Tapi tetap saja Auristella tidak mendengar ucapannya. Ketika Lovi membawa nya ke kamar agar tidur di siang hari, dia menangis. Auristella terlalu semangat ketika kakinya sudah bisa dibawa berjalan.
"Seperti biasa. Nona harus berusaha keras untuk merayunya agar mau minum obat,"
"Ya, Dok."
Dokter anak yang biasanya menangani ketiga anak Devan, sudah tahu betul kebiasaan Auristella yang sangat sulit dibujuk untuk minum obat. Padahal sewaktu masih bayi dia tidak sesulit sekarang bila dibujuk untuk minum obat.
"Terima kasih, Dok."
Auristella, Devan, dan Lovi baru saja tiba di rumah. Lucas dan Senata sudah menunggu mereka dengan perasaan cemas.
__ADS_1
"Bagaimana kondisi Auris, Lovi?"
"Auris kelelahan, Ayah."
"Dia memang bermain terus hari ini. Tidak tidur siang seperti biasanya, dirayu untuk makan sulit sekali beruntungnya makanan tetap bisa masuk," ucap Senata yang selalu mengawasi Auristella.
"Iya, Ma. Tapi kata dokter, tidak terjadi apa-apa. Sudah diberikan obat juga di rumah sakit tadi. Di perjalanan Auris tidur,"
Sementara Lovi menjelaskan perihal kondisi Auristella, Devan membawa Auristella yang terlelap ke kamar untuk dibaringkan.
Devan dan Lovi sengaja memberikan obat untuk Auristella saat di rumah sakit agar Auristella semakin cepat membaik. Kalau tunggu di rumah, khawatirnya Ia keburu tidur selama di perjalanan dan Lovi tidak tega membangunkan. Benar saja, di perjalanan Auristella terlelap. Beruntung nya obat sudah masuk ke dalam tubuhnya.
"Adrian, keluar dulu, Sayang. Jangan di sini, nanti adikmu terganggu,"
Devan menegur anaknya yang sedang memainkan iPad di tengah ranjang. Tanpa membantah, Adrian menyingkir dari sisi adiknya yang sudah dibaringkan sang ayah di ranjang.
"Auris sakit apa, Dad?"
"Hanya kelelahan,"
"Oh syukurlah,"
*****
Kemarin sulit makan, sekarang justru kebalikannya. Auristella sangat semangat menyantap sarapannya. Kondisi tubuhnya sudah membaik. Dia tidak lesu lagi, nafsu makan sudah kembali.
"Awwuu,"
"Mau apa?"
Auristella menunjuk toast smooked beef yang sedang disantap oleh Daddy nya. Devan sontak menggeleng. "Ini pedas, Sayang. Lihat, ada merah-merah nya," Devan menunjuk saus sambal di toast yang dia makan.
"Awwuu,"
"Itu pedas, Auris. Mommy buatkan yang tidak pedas ya?"
"Ndak,"
Devan melahap toast nya hingga habis. Tadinya masih ada setengah bagian, tapi karena Auristella menginginkan itu, langsung Ia lahap secepat mungkin. Ia tidak ingin anaknya makan itu karena rasanya pedas. Lovi membuat itu sesuai permintaannya.
"Aaaaaa!" Auristella merengek ketika yang dia inginkan malah ditelan habis oleh Devan.
Devan mengangkat kedua tangannya seperti seorang tawanan yang menyerahkan diri, Ia berusaha mengunyah roti bakar yang memenuhi mulutnya. Devan juga menatap Auristella dengan perasaan bersalah.
"Habis, sudah Daddy habiskan. Maaf, Sayang." ucap lelaki itu susah payah karena mulutnya masih terisi penuh hingga Adrian dibuat terbahak.
"HAHAHAHAH,"
---------
Addicted, Nillaku udah up juga yaaa. Kuyy mampir
__ADS_1