
Siang ini Adrian merajuk karena susunya habis dan Lovi belum bisa membelinya karena Andrean yang sakit.
Sementara Senata masih bekerja menjadi salah satu buruh di sebuah pabrik. Lovi tidak mungkin menghubungi Ibunya.
"Adrian, tolong mengerti. Kakakmu sakit..."
"Tapi Adrian mau susu! Adrian haus, Mommy,"
Lovi menghela napas pelan. Ia mencoba untuk menghiraukan Adrian. Ia pikir nanti anak itu akan lelah sendiri marah-marah.
Sekarang Andrean lah yang menjadi prioritasnya. Lovi semakin takut bila anaknya sakit sejak malam dimana Andrean dan adrian mengalami kejang.
Lovi mengusap rambut hitam Andrean. Ia baru saja mengganti kompres hangat di dahi si sulung itu.
"MOMMY, CEPAT BUATKAN SUSU!" Adrian teriak seraya menggulingkan tubuhnya di lantai. Ia semakin panas ketika Lovi memilih diam.
"Adrian, susunya habis, Sayang. Nanti Mommy beli susunya kalau Grandma Sena sudah datang. Siapa yang akan menjaga kalian kalau Mommy pergi membeli susu?"
Lovi menatap anaknya dengan pandangan sayu. Ia minta untuk dimengerti oleh anaknya sendiri. Tapi Adrian seolah tidak peduli. Padahal Ia sendiri bisa menyaksikan bagaimana pucatnya Andrean.
"Tapi Adrian mau minum susunya sekarang! Mommy jahat!"
Lovi mengangguk pasrah. Biarkan saja anaknya mengatakan Ia jahat atau kejam. Setidaknya Lovi melakukan itu untuk salah satu anaknya yang sedang dalam kondisi tidak sehat.
Lovi akan semakin terlihat jahat ketika Ia memilih untuk pergi meninggalkan kedua anaknya hanya dengan tujuan membeli susu. Kalau sampai terjadi sesuatu pada mereka ketika Ia pergi, maka apa yang harus dipertahankan lagi dalam hidupnya? Ia tidak akan sanggup melihat anaknya terpuruk.
Bunyi gesekan besi dan decit nyaring ketika gerbang dibuka berhasil membuat Lovi menoleh. Ia memindahkan kepala Andrean yang ada dipangkuannya ke atas bantal.
Melihat Lovi pergi, Adrian semakin kesal. Ia berteriak dan menendang-nendang udara. Tidak peduli kakaknya sedang tertidur di kamar itu.
Lovi keluar dari kamar dan langsung berjalan menuju pintu rumah. Di sana Ia melihat mobil mewah berwarna silver tengah memasuki pekarangan rumah Senata.
Lovi mengerinyit sebentar, sebelum akhirnya Ia dikejutkan dengan suara klakson.
"MOMMY! ADRIAN SEBAL! MOMMY JAHAT!"
Lovi menggeleng pelan mendengar suara teriakan anaknya yang begitu nyaring terdengar dari dalam kamar.
Lovi membulatkan matanya begitu melihat Devan keluar dari mobil itu bersama dengan Vanilla.
Lovi jadi bingung sendiri. Apa yang harus dilakukannya setelah ini. Akan lebih baik kalau Adrian yang menyambut kedatangan Devan.
Kenapa lelaki itu tiba-tiba datang? bukankah ketika Adrian memintanya untuk datang, Devan menolak secara halus? Itu yang bisa Lovi tangkap dari percakapan Devan dengan kedua anaknya tempo hari.
Lovi kembali memasuki kamar untuk memanggil Anak bungsunya. Adrian pasti senang dengan kehadiran Ayahnya yang tanpa diduga ini.
"Daddy datang, Adrian."
Sedetik
Dua detik
Tiga detik
Lovi tidak melihat reaksi apapun dari anaknya yang masih sibuk meluapkan kesalnya itu. Lovi mengulangi ucapannya barangkali Adrian tidak mendengar dengan jelas karena Ia masih sibuk berteriak.
"Adrian, Daddy datang. Kamu tidak menyambutnya?"
Adrian malah semakin bertingkah. Ia melempar pakaian yang telah disiapkan Lovi untuk Ia pakai setelah mandi sore nanti.
Lovi menatap cemas ke belakang. Ia takut Devan dan Vanilla menunggu lama untuk dibukakan pintu. Lovi merasa canggung bila Ia yang harus menyambut kedatangan mereka.
Suara ketukan pintu semakin membuat Lovi panik sendiri. Kenapa anaknya itu tidak ingin membantunya? setidaknya bukan wajah Lovi lah yang harus Devan lihat jika saja Adrian mau menyambut Devan.
"Andrea, Adrian, Daddy datang." suara seruan itu berasal dari luar. Suara Devan terdengar antusias. Dan seharusnya Adrianpun demikian.
Lovi menatap Andrean yang terlelap. Sepertinya tidak mungkin kalau Lovi membangunkannya hanya untuk membuka pintu.
Lovi menghela napas berusaha meyakinkan dirinya dan membuang sedikit rasa angkuhnya yang sudah berjanji untuk tidak lagi menatap Devan.
Lovi kembali berjalan ke arah pintu. Ia memutar kunci dengan tangan gemetar. Entah apa yang mengundang reaksi berlebihan dari tubuhnya.
Netra mereka langsung bertemu ketika pintu terbuka. Sejenak keduanya saling memaku. Seolah suasana diantara mereka mengharuskan untuk saling menatap. Vanilla yang berada di tengah mereka hanya menatap datar.
Vanilla berdehem keras hingga sepasang suami istri itu terkesiap.
__ADS_1
"Dimana keponakanku? kenapa bukan mereka yang menyambut kami?"
Ucapan itu entah kenapa terdengar menohok bagi Lovi. Apakah drajatnya sudah kembali rendah lagi dimata keluarga Devan? sampai-sampai Vanilla yang dulu mulai hangat kini berubah menjadi dingin lagi.
"Silahkan masuk ke dalam,"
Tanpa menjawab apapun Kedua kakak beradik itu masuk ke dalam rumah. Lovi pun menyingkir dari depan pintu, menghindari Devan yang gelagatnya terlihat aneh.
Sebenarnya Devan dan Vanilla sudah mendengar suara Adrian sejak di luar tadi. Mereka sudah mengira kalau cucu bungsu Raihan dan Rena itu sedang membuat masalah.
Devan hanya bisa menggeleng pelan ketika melihat anaknya yang terkapar di lantai dengan segala tingkah anehnya. Berguling tak tentu arah sampai-sampai terbentur dengan meja rias.
Devan yang melihat anaknya seperti itu langsung berjalan panik mendekati Adrian. Devan berharap Ia tidak terluka. Walau Devan tidak yakin. Karena Ia melihat sendiri betapa kencangnya benturan yang terjadi disusul rengekannya.
"Sayang, Daddy datang dan kau malah merajuk?"
Sama seperti Lovi, Adrian mengacuhkan Devan. Devan berusaha membuat anaknya duduk. Ia menarik lembut tangan si bungsu itu. Terlalu sibuk menenangkan anaknya yang bungsu, Devan sampai lupa menyapa anak sulungnya yang masih terpejam.
"Ayolah, kenapa menangis begini?"
Vanilla berdiri di depan kamar melihat betapa hangatnya Devan terhadap kedua anaknya. Ia menoleh pada Lovi di sampingnya.
"Aku tahu kalau kamu adalah perempuan keras kepala. Tapi tidak bisakah kamu berpikir lebih jauh? Kamu tidak lihat interaksi mereka?"
Vanilla menunjuk dengan dagu ke arah Devan yang sedang memeluk Adrian.
"Devan selalu merusak surat perceraian itu seperti orang gila. Kamu terlalu buta untuk melihat kebahagiaan suami dan anakmu sendiri,"
Lovi terhenyak beberapa saat. Buta akan kebahagiaan? Bagaimana dengan Devan? Lelaki itu bertindak terlalu jauh hingga menyakiti dirinya dan kedua anak mereka. Devan menghancurkan kebahagiaan keluarga kecilnya.
"Mommy jahat, Daddy. Aku minta susu saja, Mommy menolak untuk membuatkannya,"
Adrian menyampaikan keluh kesahnya pada sang ayah yang masih memeluknya dengan erat. Devan meluapkan semua rasa rindu yang membuncah dihatinya.
"Jangan bicara begitu," bisik Devan di telinga Adrian. Ia terluka begitu Lovi dikatakan jahat oleh anaknya. Adrian harus tahu kalau tidak ada orangtua jahat di dunia ini. Kalau Lovi jahat, maka mereka tidak akan dipertahankan oleh Lovi ketika masih di dalam kandungan padahal Lovi sendiri banyak merasakan kesakitan karena pernikahannya dengan Devan.
"Bukan tidak ingin, Adrian. Mommy tidak bisa membelikan susu kalian yang habis. Kakakmu sedang sakit,"
Mendengar kalimat yang keluar dari bibir Lovi, Devan pun menoleh dan menatapnya, Penuh rindu. Devan tidak menyangka kalau perempuan itu akan mengeluarkan suaranya.
"Andrean sakit?"
Lovi hanya menjawabnya dengan gumaman dingin. Lovi berusaha membangun kembali benteng pertahanannya. Ia harus meyakinkan hatinya sendiri kalau perceraian akan tetap dilanjutkan walau sudah berkali-kali pengajuannya ditolak oleh Devan. Dan lelaki itu pintar sekali memposisikan dirinya dipihak yang salah.
Vanilla menatap sinis pada Lovi. Gadis itu merasa Lovi belum pantas menjadi seorang Istri dan juga Ibu begitu melihat betapa kekanakannya sikap Istri kakaknya itu.
Devan langsung menggendong Adrian yang wajahnya masih merajuk dengan hidung dan mata memerah. Lelaki itu berjalan ke arah ranjang, menghampiri anak sulungnya.
"Adrian mau susu, Daddy!"
Lovi memutar bola matanya. Dadanya merasa panas kali ini. Adrian benar-benar membuat kesabarannya hampir luntur. Sikap manjanya membuat Lovi kesal bukan main. Masalahnya Adrian tidak pandai membaca situasi. Ia sudah cukup mengerti hal apa yang seharusnya dilakukan ketika saudaranya sakit. Cukup dengan tidak merajuk, apakah sulit untuk dilakukan anak itu?
"Ya, nanti kita beli. Daddy ingin melihat kakakmu dulu,"
Kaki kecilnya bergoyang dengan suara tangis yang kembali terdengar. Devan menghela napasnya, berusaha sabar.
"Sekarang! Adrian mau susunya sekarang, bukan nanti!"
Devan duduk di tepi ranjang. Ia memperhatikan Andrean yang tenang dalam tidur. Tangan kokohnya mengusap kening Andrean. Saat itu Ia terkejut begitu merasakan suhu tubuh anaknya yang sangat panas.
Devan ingin menurunkan Adrian ke ranjang agar Ia bisa mengecup anak sulungnya. Karena Adrian yang ada di pahanya cukup membatasi gerak tubuhnya.
Adrian menolak tegas. Ia malah semakin masuk ke dalam dekapan Ayahnya. Merengek di sana dengan isakan kecil.
"Andrean, Daddy datang sayang,"
Devan menyentuh pelan lengan anaknya. Ia ingin melihat mata kecil itu terbuka. Ketika beberapa waktu lalu mereka sakit, Devan tidak bisa berada di samping mereka. Dan sekarang Devan bersyukur karena kedatangannya sangat bertepatan dengan kondisi anaknya yang sedang tumbang.
Andrean mulai mengerjap. Begitu matanya terbuka sempurna, Ia langsung tersenyum melihat kehadiran ayah yang disayanginya.
"Daddy benar ada di sini? aku tidak mimpi?"
Semua yang ada di sana merasakan denyutan sakit ketika mendengar ucapan polos Andrean. Apakah Andrean begitu mengharapkan kedatangan Devan sampai-sampai Ia merasa kalau ini semua hanya bunga tidur?
Bahkan Vanilla merasa begitu sakit mendengar ucapan keponakannya. Apakah Lovi tidak merasakan hal yang sama?
__ADS_1
"Kamu bodoh, Lovi. Kamu berhasil membuat mereka terluka,"
Vanilla mengatakannya dengan begitu mudah. Ia tidak perlu berbicara keras, karena Lovi masih berdiri di sampingnya. Sejak tadi keduanya memang menjadi pendengar yang baik.
Vanilla menatap Adrian yang sudah sedikit tenang. Ia berdehem sebentar sebelum akhirnya memanggil anak itu.
"Adrian, Ikut Aunty jalan-jalan mau? kita beli susu, coklat, dan apapun yang kamu inginkan," gadis itu tersenyum seraya menggerakkan tangannya agar Adrian segera bangkit dari pangkuan Devan, dan membiarkan ayahnya itu memanjakan si sulung.
"Mainan juga ya, Aunty?" suaranya masih terdengar serak karena terlalu lama menangis.
Vanilla tersenyum mengangguk. Ia senang karena tanggapan Adrian yang antusias atas tawarannya.
"Tentu, sayang. Ayo kita pergi,"
Adrian menatap ayahnya yang masih terpaku pada Andrean. Ia menggerakkan tubuhnya agar tangan Devan yang melingkupi tubuhnya terlepas.
Gerakannya terlalu keras sampai membuat Devan mengerang kesakitan. Tidak tahukah Ia kalau Devan telah mengurung bukit gairahnya cukup lama.
"Jelas anakmu tidak tahu, Bodoh. Dia hanya anak kecil yang hanya bisa merengek meminta susu dan juga permen,"
Batin Devan memaki.
Devan langsung melepaskan anaknya yang menyebalkan itu. Vanilla mendengus, Ia paham apa yang dirasakan kakaknya sekarang.
"Devan gila! anakmu hanya memberontak sedikit, dan kamu sudah mengerang? apakah kamu begitu mendambakan..."
"Diam! itu bukan urusanmu,"
Devan menatap adiknya tajam. Sial*n! Vanilla tidak seharusnya membahas itu di hadapan Lovi walaupun jika dilihat, Lovi sama sekali tidak mengerti kemana arah pembicaraan mereka.
Vanilla memaku Lovi dengan tatapannya tak peduli Adrian yang sudah menarik lengannya untuk segera pergi.
"Bebaskan hewan liar itu dari kandangnya. Hanya kamu yang bisa melakukannya,"
Lovi mengeringit bingung.
"Gadis ini kenapa?"
Lovi terlalu bodoh untuk memahami kalimat adik iparnya. Ia sampai mengusap tengkuknya bingung.
Devan yang melihatnya pun langsung menggeram semakin marah pada sang adik.
"Lov, berhenti untuk mendengarkan gadis gila itu,"
Vanilla melenggang pergi seraya menggenggam tangan keponakannya. Ia masih saja menggoda Devan walaupun sudah menjauh.
"Lakukan tugasmu dengan baik, Lovi!"serunya sebelum keluar dari rumah itu bersama Adrian yang tampak lebih berseri.
Lovi menatap punggung Vanilla sampai akhirnya lenyap dimakan oleh jarak.
"Kamu sudah memberinya obat?"
Devan mengalihkan pembicaraan agar suasana tidak begitu kaku. Dan kegilaan Vanilla berhasil membuat Lovi terlihat seperti orang bodoh. Lovi semakin menggemaskan dimata Devan. Dan sial! Devan merasa gairahnya kian terbakar.
Lovi terkejut ketika suara Devan kembali menghampiri telinganya. Ia menggeleng dengan canggung.
"Tunggu apa lagi? anakmu sakit dan kamu belum memberinya obat?"
Lovi merasa sudah sangat lama Ia tidak mendengar suara menusuk dari lelaki itu.
"Andrean menolaknya tadi. Ia muntah, jadi aku tidak bisa memaksanya,"
Devan baru ingat kebiasaan anaknya yang satu ini. Andrean memang paling membenci obat. Sama sepertinya. Beruntung Devan sudah berusaha untuk memperbaiki diri agar Ia cepat sembuh dari penyakit mentalnya.
Dan sekarang usaha Devan untuk lebih disiplin dalam hal mengonsumsi obat sudah mulai menunjukkan hasil yang positif. Oleh karena itu Ia bisa mengunjungi anak dan istrinya.
Walaupun belum signifikan, tapi Devan tetap bersyukur. Tak bisa dipungkiri kalau halusinasi itu masih suka menghantui pikirannya. Tapi setidaknya kondisi Devan sudah menunjukkan progres yang baik.
Devan menatap Andrean yang sejak tadi diam. Anak sulungnya itu menatap langit-langit kamar.
"Setelah ini, Daddy pasti akan kembali meninggalkan aku dan Adrian. Tidak bisakah kita seperti dulu, Daddy, Mommy?"
----------------
1.900 word lebih ep ini. Sebagai permintaan maaf aku sm klean krn dua hr gk up. Br dua hr kn ya? belom sebulan😂😂akutu mulai magerr ngetik krn kleaan jg mager komen :(
__ADS_1