
"Tidak-tidak. Kita harus bangun. Ada jadwal berlatih sepak bola hari ini. Kau ingat bukan?"
Mendengar kata 'sepak bola' Andrean langsung bangkit dari posisi ternyamannya. Ia duduk seraya mengusap matanya untuk mengusir rasa kantuk yang masih menggerayangi mata bulat itu. Semalam Ia membutuhkan waktu cukup lama untuk tertidur sampai Devan yang menyanyikan lagu untuknya hampir menyerah.
Andrean berdiri lalu meraih handuknya. Ia akan mandi dengan cepat ketika melihat waktu yang semakin beranjak siang.
Sementara Adrian mandi di kamar mandi berbeda yang masih terletak di kamar itu juga. Lagi-lagi Devan mengutamakan kenyamanan untuk anaknya. Masing-masing dari mereka memperoleh keadilan dari ayahnya.
***
"Daddy antar kalian berangkat sekolah,"
Kedua anak kembar itu menatap ayahnya dengan pandangan bingung. Begitupun Lovi.
"Daddy, hari ini libur. Daddy memangnya lupa?"
Lovi mengulum senyummya menatap Devan yang baru saja menepuk dahi. Perempuan itu membersihkan meja makan. Sarapan telah usai dan saatnya kedua anak kembar itu berangkat latihan sepak bola.
"Hari ini kita latihan sepak bola. Daddy yang antar ya? Sama Mommy juga," ucap Andrean dengan senyun antusiasnya. Ia terlihat sangat berharap sekarang.
Lovi buru-buru menyahuti dari dapur.
__ADS_1
"Kalau Daddy bisa antar, tidak perlu Mommy lagi yang antar,"
Lovi kembali ke ruang makan untuk mengambil piring dan gelas kotor. Serry dan Netta tengah membersihkan rumah. Sementara Senata yang tidak tega dengan suka rela membantu anaknya. Bagian wanita paruh baya itu adalah mencuci alat-alat makan yang kotor.
"Memangnya kenapa? Kita bisa mengantar mereka bersama,"
Itu suara Devan. Oleh sebab itu Lovi menjawabnya dengan sedikit kesal. Apa yang dibicarakan lelaki itu? aneh sekali kalau mereka harus berada dalam satu radar lagi. Lalu melewati kecanggungan yang ada nantinya. Lovi tidak ingin hal itu terjadi.
"Aku akan menggantikan temanku bekerja karena Ibunya sakit,"
Lovi pikir lebih baik mengambil tawaran temannya daripada harus bersama dengan Devan.
"Kamu harus mempunyai waktu untuk mereka. Apa yang kamu harapkan dari pekerjaan itu? Hm? Anak-anak kita lebih penting dari segalanya," desisnya dengan sorot tidak suka. Devan tidak terima ketika Lovi lebih mementingkan pekerjaan daripada kebersamaan dengan kedua anak mereka. Devan saja sudah berusaha untuk meluangkan waktunya.
"Memangnya apa sih yang kamu kerjakan di sana? Kamu menjadi pemilik sebuah perusahaan juga? Sibuk sekali kamu ya,"
Lovi mendengus kala menyadari kalau mantan suaminya itu tengah menyindirnya.
"Yang jelas pekerjaan aku tidak sehebat kamu, Devan."
"Lalu apa? Katakan, supaya aku--"
__ADS_1
"Bukan urusan kamu. Ingat, kita bukan---"
"Aku bosan mendengar kalimat itu. Berhenti mengatakannya! sampai kapanpun kamu milikku!"
Mereka tidak menyadari kalau perdebatan itu tengah disaksikan oleh Andrean dan juga Adrian. Keduanya diam memperhatikan orangtua mereka yang sama-sama mengeluarkan suara pelan dengan mata yang sarat akan permusuhan.
Lucu saja ketika dilihat-lihat. Oleh sebab itu, lama-lama Andrean tertawa hingga mencairkan suasana tegang yang tengah terjadi diantara Devan dan Lovi.
Lovi yang tadi ditarik secara sepihak untuk duduk di samping Devan pun menoleh dengan lipatan didahinya menatap Andrean.
"Daddy dan Mommy seperti Tom&Jerry ya. Lucu sekali,"ucapnya entah untuk menyindir atau memang sekedar menyampaikan kalimat yang ada di otaknya.
Adrian di sampingnya pun mengangguk cepat. Ia menatap kedua orangtuanya dengan senyum jahil.
"Kalau kata Revin, teman Adrian, Orangtuanya juga sering bertengkar kecil seperti Daddy dan Mommy. Itu namanya so sweet,"
Devan dan Lovi kompak mendelik pada anaknya. Sejak kapan Adrian tahu kata itu. Dan Devan mengutuk mulut teman Adrian yang telah memberi tahu anaknya hal-hal seperti itu.
-------
Maaf kmrn gk up. Mdh"an hr ini bs lbh dr 2 ep deh. Spy aku makin semangat, jgn lupa dukungannya yaa.
__ADS_1