My Cruel Husband

My Cruel Husband
Hari bahagia


__ADS_3

Usai pemberkatan, pesta resepsi pun digelar. Sore ini merupakan waktu yang paling ditunggu oleh kedua mempelelai juga seluruh keluarganya.


Devan dan Lovi kembali bersatu setelah sebulan lebih dipisahkan oleh jurang perceraian. Bukan karena bayi yang dikandung Lovi, melainkan karena rasa cinta yang memang tak berujung menjadikan mereka memutuskan untuk kembali menikah.


Devan dan Lovi tak ingin melanjutkan keegoisan mereka. Rumah tangga mereka patut untuk dibangun kembali mengingat masih adanya rasa cinta, kepedulian, dan juga kehadiran anak-anak mereka yang masih dan akan terus membutuhkan kasih sayang sepenuhnya dari kedua orang tua mereka.


"Apa bedanya pernikahan ini dengan yang sebelumnya?"


Cibiran negatif juga kalimat pujian pun mengiringi berlangsungnya acara. Lovi tak memungkiri dan tak bisa menolak berbagai tanggapan para rekan kerja suaminya. Ah suaminya? Kenapa wajah ini masih saja merona? Mengingat mereka telah saling memiliki kembali.


"Pernikahan yang sebelumnya, Lovi hanya berperan sebagai pengantin pengganti,"


"Aku baru mengetahui fakta itu,"


Pesta yang digelar menggunakan tema garden party dimana pengantin dan para tamu undangan mampu berbaur menjadi satu. Devan dan Lovi sengaja mengusung tema tersebut agar lebih santai juga berbeda dari pernikahan mereka yang sebelumnya.


"Lov, kamu kenapa diam di sini?"


Devan menegur istrinya yang terdiam menjadi pendengar beberapa wanita yang sedang mengomentari pernikahan keduanya.


Lovi tersenyum dan menerima chocolate cake dari tangan suaminya. Lovi belum makan apapun sejak awal acara hingga Devan merasa khawatir. Perempuan itu mengatakan kalau Ia terlalu gugup sampai tak bisa memakan apapun.


"Terima kasih, Devan."


Lovi duduk di sebuah kursi setelah Devan menggiring tubuhnya. Sedari tadi Lovi terus berbincang seraya berdiri tanpa peduli kandungannya yang pasti akan merasa kelelahan.

__ADS_1


"Daddy, Mommy!"


Andrean dan Adrian datang bersama sepupu mereka juga Adrina, yang datang bersama kedua orangtua dan kakeknya.


"Jangan berlari seperti itu, Sayang."


Tubuh kecil mereka ditahan Devan ketika ingin menerjang Lovi.


"Ada adik bayi, jangan nakal. Ingat kata Daddy?" Si pelaku mengangguk polos. Adrian kemudian tersenyum lebar hingga memperlihatkan giginya.


"Berapa bulan, Lovi?"


Devan dan Lovi menoleh pada sumber suara. Jino dan Sheva, kedua orangtua Adrina menghampiri mereka. Lalu ikut bergabung di dekat anak-anak itu yang sudah mengambil posisi di dekat pengantin.


"Delapan minggu," jawab mereka dengan kompak.


"Ya tidak muat lah. Kakak ada-ada saja,"


Adrina mendelik pada Adrian yang protes padahal Ia berbicara pada Sheva.


"Muat! Aku kecil,"


"Mommy di sini saja, Sayang."


"Terima kasih sudah datang,"

__ADS_1


Devan meninju pelan bahu sahabat lamanya seraya terkekeh. Ia tidak menyangka kalau Jino akan datang. Walaupun sedikit terlambat dari Sheva karena Ia baru saja pulang dari Australia. Rela menyusul hanya untuk bertemu dengan Devan dan Lovi dan memberi mereka ucapan selamat.


"Tidak bajing*n lagi? Sudah berubah 'kan?"


Devan mendengus saat temannya itu mengejek. Rupanya Ia masih ingat kebiasaan Devan pada saat kuliah dulu yang suka mencampakkan para wanita setelah mereka diberi harapan cinta yang palsu.


****


Devan, Lovi, dan keluarga sudah berada dalam perjalanan pulang. Devan mengendarai mobil pengantin yang sudah didesain dengan elegan dan cantik. Ia hanya membawa Istri dan kedua anaknya. Sementara keluarga besar menggunakan kendaraan masing-masing.


Malam hari pesta baru usai. Banyak orang yang berdatangan untuk turut merasakan kebahagiaan yang dilewati Devan dan Lovi. Banyak harapan dan doa terbaik untuk sepasang suami istri itu.


Ini adalah hadiah terbaik dari Tuhan setelah sekian banyak cobaan dialami oleh Lovi dan Devan. Mereka tidak menyangka kalau bisa mendapatkan cinta sejati setelah lama saling menyakiti.


"Daddy tinggal di sini lagi?"


Begitu sampai di rumah, Adrian langsung bertanya begitu karena Ia melihat Devan yang masuk ke dalam kamar Lovi lalu membanting tubuhnya di atas ranjang yang sebelumnya pernah mereka gunakan untuk merajut kasih pada pernikahan pertama.


"Iya, Adrian senang?"


"YEAAYY BISA TIDUR DENGAN DADDY,"


Devan meneguk ludahnya pahit. Salah kalau mengatakan itu malam ini. Karena rencananya untuk memeluk Lovi semalaman pasti akan gagal.


-------

__ADS_1


LIKE, VOTE, BINTANG 5, KOMEN YG BUANYAAKK YAAA. TENCUUU😚💙


__ADS_2