
Seluruh keluarga besar juga membawa Andrean dan Adrian untuk naik ke lantai atas restoran. Di sana mereka bisa melihat pemandangan kota yang begitu memukau.
Matahari mulai meredup bersiap kembali ke peraduannya. Kendaraan masih tampak memenuhi jalan raya dengan kecepatan menggebu dari setiap pemiliknya. Ini adalah waktu untuk mereka pulang bekerja. Tak heran, semuanya berlomba untuk segera sampai di rumah.
Andrean, Adrian dan para sepupunya berlarian di atas lantai transparan yang menjadi pijakan mereka saat ini. Sementara para orang dewasa memilih untuk saling bertukar cerita seraya menikmati angin sore.
Hanya ada keluarga besar di sana. Sementara tamu undangan sudah meninggalkan restoran lantai dasar.
"Mereka benar-benar panik," Rena terkekeh memperhatikan ponselnya yang baru diaktifkan kembali. Begitu banyak panggilan juga pesan dari Devan dan Lovi.
"Tah henti menghubungi sejak tadi," Senata menambahkan.
"Itu yang aku inginkan," cetus Raihan berapi-api dengan seringai miringnya.
"Kita terlalu berlebihan kah?" Rena menatap suaminya dengan pandangan kosong. Jujur, Ia merasa bersalah. Rena dan Senata juga seorang Ibu. Tahu betul betapa kacaunya pikiran mereka saat tak bisa mengetahui keberadaan anak sendiri.
Namun Raihan selalu berhasil meyakinkan kalau ini merupakan pelajaran terbaik untuk Devan dan mantan Istrinya.
"Tentu tidak, Sayangku. Mereka harus belajar, dan tentunya kembali bersatu,"
Rena menggeleng tidak yakin mengingat betapa kerasnya kedua orangtua Andrean dan adiknya itu. Senata pun tak yakin sama sekali karena Ia kerap menjadi saksi. Setiap mereka bertemu, selalu ada saja yang diperdebatkan.
Rena memperhatikan kedua cucunya yang sedang sibuk menatap ke bawah tepatnya salah satu jalan raya yang tampak lebih berisik dari pada yang lain.
"Grandma, ada yang kecelakaan itu," tak lama Adrian berseru kencang. Telunjuknya mengarah pada mobil yang sudah rusak. Entah kapan kejadiannya. Adrian paling senang memperhatikan hal-hal seperti itu bukan takut seperti kebanyakan orang.
__ADS_1
"Kasihan ya, pasti rusak tangan dan kakinya," ujarnya konyol seraya meringis membayangkan.
Rena meraup wajah cucu bungsunya dengan erangan kesal.
"Jangan dilihat! Kamu tidak takut?"
"Bukan rusak, memangnya barang," Raihan membenarkan kalimat cucunya. Mereka duduk karena kelelahan setelah saling mengejar masih lengkap dengan stelan yang dikenakan saat pesta. Keduanya tampak menggemaskan dengan rompi berwarna navy yang senada dengan celana sementara di dalamnya ada kaus berwarna putih yang melekat begitu sempurna. Bahkan saat berlaku sesuka hati seperti ini, Andrean dan Adrian tak kehilangan kharismanya sama sekali.
"Diam! Lihat itu ada mobil polisi," Adrian berseru pada sepupunya yang kembali mengajak bermain. Tangannya yang ditarik oleh Jemmy, anak Joanna dan Jhon, dihempasnya kesal.
Mata Adrian masih fokus pada kecelakaan itu.Tampak mobil polisi sudah tiba di lokasi kejadian. Mobil yang ringsek itu pun sudah siap untuk diderek.
"Sayang sekali mobilnya," komentar anak itu.
Adrian meringis saat melihat korban dikeluarkan dari dalam mobil. Mereka dibawa oleh petugas medis.
Secepat kilat mulut orang-orang di sekitar Adrian terbungkam saat Adrian melanjutkan kalimatnya.
"Kalau Adrian seperti itu juga, Mommy dan Daddy kira-kira datang tidak ya untuk melihat keadaan Adrian,"
***
Devan harap-harap cemas menantikan kesadaran Lovi. Devan terus mengoleskan minyak aroma terapy di sekitar hidung Lovi, tangan, dan kakinya.
Kemudian Ia menggenggam tangan dingin perempuan itu. Sesekali menghapus jejak keringat hasil dari kekhawatiran yang membekapnya sejak tadi.
__ADS_1
Pelayan di sana paham betul apa yang sedang dirasakan Devan. Lelaki itu terlihat hilang arah. Pembawaan Devan yang biasa tenang kini hilang entah kemana.
Lovi pingsan dan Devan langsung membawanya berbaring di sofa ruang keluarga. Setelah hampir dua puluh menit, perempuan itu akhirnya membuka mata.
Ia meringis seraya menyentuh kepalanya yang terasa pening. Ia seperti berada di sebuah pusara yang berputar tiada henti.
"Akhirnya kamu sadar, Lov. Bagaimana kondisimu sekarang? Sudah lebih baik?"
Lovi bangkit dari posisinya dan Devan dengan sigap membantu. Tangan mereka masih terpaut, saling menyalurkan kekuatan.
"Kita harus cari mereka, Devan."
Devan menggeleng tegas. Bagaimana mungkin Lovi ikut dalam pencarian? Suaranya saja terdengar sangat pelan pertanda kondisinya belum membaik.
"Aku saja yang mencari anak-anak kita. Kamu tidak perlu, istirahat saja ya,"
Jemari Lovi mencengkram tangan Devan yang mengangkat selimut pemberian Serry agar menutupi tubuh lemah perempuan itu. Ada makna dari tindakan mantan suaminya. Devan benar-benar meminta Lovi untuk istirahat.
"Devan, aku mohon. Kamu harus mengerti perasaanku!"
Devan meradang saat Lovi membentaknya. Lelaki itu menatap Lovi tajam kemudian meraih dagu mantan istrinya untuk Ia cengkram kuat-kuat.
----
Msh tahan? tahan yaaa bentar lg iniππ lanjut lg malem ini atau bsk aj? krn hr ini 4 ep LAGEEEE. Lanjooottt? Vote dulu dong :p
__ADS_1