My Cruel Husband

My Cruel Husband
Makan malam lagi


__ADS_3

"Mereka berdua sama-sama jahat, hobi marah-marah. Andrean ingat si Aunty jahat itu 'kan?"


"Iya, aku ingat. Tapi tadi dia tidak marah-marah,"


"Tetap saja aku sebal melihat wajahnya. Aku selalu ingat saat dia memarahi aku dulu. Makanya tadi aku memeluk Daddy karena aku tidak mau melihat wajahnya,"


Devan menjadi pendengar yang baik saat anaknya berbicara. Rupanya ingatan tentang kejadian saat Elea marah-marah di mall pada Adrian masih membekas hingga sekarang. Itulah pentingnya memberikan kesan baik di setiap pertemuan. Agar tidak mengalami hal seperti Elea yang langsung diberikan nama panggilan oleh Adrian 'Aunty jahat' dipertemuan pertamanya dengan Adrian dan Andrean.


Karena terlalu menggebu bercerita, Adrian sampai tersedak. Yang dia makan saat ini adalah ayam goreng pedas sehingga saat tersedak rasanya sakit sekali.


"Habisi dulu makanan kalian. Nanti mengobrol lagi," ujar Devan memperingati. Lalu lelaki beranak tiga itu segera mengangsurkan minum pada Adrian yang langsung diteguk oleh anak itu.


"Kalau Aunty jahat tahu kamu sedang membicarakannya lau tersedak, dia tertawa bahagia itu, Adrian."


"Iya, uhugg-uhugg---- kamu benar,"


*******


"Kemana anak-anakmu, Lovi? Aku sengaja menyuruh Richard untuk singgah sebentar, menemui mereka,"


"Mereka akan menginap di rumah ayahku,"


"Yahh, sayang sekali,"


"Richard duduk dulu. Jangan langsung pulang walaupun tidak ada si kembar," Lovi mempersilahkan kekasih Jane untuk duduk.


"Sudah datang ke sini masa langsung mau pulang lagi?"


Richard tersenyum tipis mendengar ucapan Lovi. Ia memperhatikan Auristella yang baru saja diraih oleh Jane dari tangan Lovi.


Saat Jane akan menyerahkan Auristella kepada Richard, anak itu menolak dengan cara menangis.


"Dia belum terlalu akrab denganmu,"


Padahal Richard ingin sekali menggendong dan mengajaknya bermain. Tapi sayang, Auristella tidak seperti kakaknya yang sudah sangat dekat dengannya.


*******


"Dev, untuk apa membeli saham yang dilelang itu?"


"Tidak apa, aku hanya ingin, Pa. Lumayan, untuk menambah koleksi,"


"Papa tahu apa yang sedang kamu lakukan, Devan. Jangan menutupinya lagi."


Di sela-sela Devan makan, Raihan tiba-tiba saja menghubunginya lau mengeluhkan kalau perusahaannya kalah bersaing dengan perusahaan milik sang anak. Kemarin anak perusahaan milik Devan dan Raihan bersaing menawarkan harga tertinggi dalam pelelangan. Tapi yang menang adalah Devan, Ia mengalahkan banyak perusahaan.


"Papa baru tahu kalau aku yang menang? Sebelumnya sudah percaya diri sekali ya?" Devan mengalihkan pembicaraan.


"Iya, Papa baru diberi tahu."


"Harga yang Papa tawarkan kurang tinggi," sahut Devan seraya tertawa geli.


"Lalu akan diapakan setelah kamu berhasil mendapatkannya?"


"Dikoleksi, biar sampai tujuh turunan tidak habis,"


"Astaga...."


Raihan segera mematikan telepon. Tak mau mendengar kelakar anaknya lagi. Lagipula sekretarisnya sudah memanggil untuk segera memasuki ruang meeting.


"Dad, makanan aku sudah habis,"


"Aku juga, Dad."


"Ya sudah, makan dessert-nya,"


"Sudah juga. Kurang, Dad."


"Huh? Memang punyamu sudah habis?"


Adrian sengaja menunjukkan piring datar yang tadi berisi puding pada Devan. Lelaki itu mengerjap seraya bertanya, "Kapan kamu makan itu?"


"Tadi, puding sekecil itu sekali hap juga langsung habis. Beda cerita kalau yang makan Auris. Bisa-bisa dua jam baru habis,"


"Ck! Kenapa jadi Auris yang dibicarakan?"


"Dia kalau makan lama,"


"anak kecil memang begitu, Adrian. Kita waktu kecil juga seperti itu ya, Dad?" Tanya Andrean yang langsung diangguki oleh Devan.


"Masa anak kecil makan puding langsung sekali hap seperti kamu? Bisa-bisa dia tersedak,"


********


"Jujur pada Mama. Apa yang kamu sembunyikan dari kami, Devan?"


"Tidak ada, Ma. Aku serius,"


"Mama tahu kamu sedang berusaha untuk melindungi keluarga kita 'kan? Tapi dari siapa? Mama ingin tahu, Devan."


Rena sengaja menggunakan kesempatan saat Lovi menidurkan Auristella untuk bicara empat mata dengan sang putra.


"Ah Mama suka menduga-duga,"


Devan menjawab dengan tawa kecilnya, Ia berusaha mencairkan suasana.


"Mama bertanya serius, Devan! Kamu jangan tertawa!"


"Astaga galaknya Mamaku ini,"


"Devan---"


Rena mengeram kesal. Belum sempat Ia kembali angkat bicara, Raihan datang. Sedari tadi Ia bersembunyi di balik dinding, ikut mendengarkan pembicaraan anak dan istrinya.


"Mama kenal Arnold?"


"Pa--" Devan terperangah. Ia tidak tahu kalau Papa nya sudah mengetahui pangkal permasalahan.


"Papa tahu semuanya. Dia yang melakukan semua itu kan?"


"Maksud Papa? Arnold? Sahabat Devan itu?"


"Bukan, Ma. Mana ada sahabat yang tega menjebak sahabatnya,"sahut Raihan dengan rahang mengeras.


Devan meneguk air minumnya. Ia bingung bagaimana lagi caranya menyembunyikan masalah ini dari kedua orangtuanya. Tadinya Ia tidak mau membuat mereka semua kepikiran. Biar dia saja yang memberikan Arnold pelajaran sampai dia benar-benar jera.


"Papa mencari tahu juga. Karena Papa curiga padamu. Papa melihat kamu selalu berusaha tenang ditengah teror yang kita dapat. Dan kamu juga bersikap seolah kamu sudah tahu siapa yang menyebabkan ini semua sementara kita yang terlihat paling bodoh,"


"Pa, aku juga baru tahu kalau Arnold yang melakukannya. Sebelumnya aku tidak tahu sama sekali, tapi memang aku sudah menduga karena sebelumnya Deni sudah mengingatkan aku kalau Arnold akan kembali mengganggu hidupku,"


"Darimana Deni mengetahui itu semua? Sementara yang kita tahu Arnold dipenjara,"


"Setelah bebas dari hukuman, Deni pernah bertemu dengan dia. Dan dia mengatakan itu pada Deni,"


"Dia juga lumayan banyak tahu tentang Lovi. Bahkan mengincar Lovi. Aku bingung apa penyebabnya."


"Karena apapun yang kamu cintai, pasti akan dia sakiti, Devan. "


"Aku menilai dari setiap hasil penyelidikan detektif-ku, dia memang mengincar Lovi karena dia tahu Lovi itu istriku. Tapi seperti ada hal lain yang menyebabkan dia begitu menginginkan Lovi, Pa."


Devan mengusap dagunya dengan kernyitan di dahi yang begitu terlihat. "Pergerakannya untuk mencelakai Lovi belum ada. Yang aku lihat malah dia menginginkan Lovi tapi tidak mau Lovi terluka. Karena sejak awal yang disakiti hanya anak-anak dan juga aku,"


"Huh? Kamu pernah dicelakainya?"


"Hampir, kemarin di kantor. Tiba-tiba saja ada yang membuat ban mobilku pecah padahal sebelum berangkat kerja semua sudah dipastikan baik-baik saja,"


"Astaga, keterlaluan sekali dia,"


"Itu belum seberapa, Ma. Aku yakin masih banyak akal busuk Arnold untuk mencelakai aku,"


"Devan, Mama---"


Rena tiba-tiba saja menangis. Devan segera menggenggam tangan Perempuan yang melahirkannya itu.


"Tidak perlu dipikirkan, Ma. Aku akan baik-baik saja selama Mama dan Papa mendoakan Aku,"


Devan bangkit untuk memeluk Rena. Ia mengusap bahu Rena dengan lembut. Devan tahu betul seberapa besar rasa khawatir Rena bila Ia tersakiti, sebesar itu juga kasih sayang Rena untuknya.


"Papa akan membantu kamu,"


"Jangan, Pa. Selagi aku tidak meminta bantuan, artinya aku masih sanggup untuk melawannya,"


******


Walaupun kamar tamu sudah dipasang pendingin udara, tetap saja kedua cucunya mau tidur bersama dirinya.


Andrean dan Adrian benar-benar menginap di rumah ayah dari Mommy mereka.


Devan berat meninggalkan keduanya karena lagi-lagi mereka tidak tidur di mansion. Tapi keduanya justru sebaliknya. Mereka sangat senang karena akhirnya terpenuhi juga keinginan mereka untuk menginap di rumah Lucas walaupun esok pagi mereka sudah harus dijemput oleh Devan karena harus sekolah.


"Tiba-tiba saja aku lapar," bisik Adrian pada kakaknya. Lucas sengaja menyuruh kedua cucunya tidur di dekat dinding sementara dirinya di pinggir agar keduanya aman, tidak jatuh sewaktu-waktu.


"Tadi sudah makan,"

__ADS_1


Mereka mengira Lucas sudah tidur. Padahal kakeknya itu mendengar apa yang tengah mereka bicarakan.


"Adrian lapar, Sayang?"


"Huh?" Adrian mengangkat kepalanya untuk melihat Lucas di ujung ranjang.


"Grandpa belum tidur?"


"Belum. Kamu lapar? Grandpa buatkan makanan ya?"


"Tidak usah, Grandpa. Kita sudah makan tadi. Adrian memang suka banyak mau, Grandpa."


Mereka memang sudah makan malam. Menikmati sajian ayam goreng yang dibeli oleh bodyguard Devan atas suruhan Lucas. Devan menugaskan beberapa bodyguard untuk berjaga bahkan saat anaknya tidak menginap pun, Devan sudah memperlakukan rumah Lucas layaknya mansion yang dikepung oleh penjaga. Karena biar bagaimanapun Lucas adalah ayahnya yang patut juga dijaga.


"Tidak apa, Grandpa goreng telur, mau tidak?"


Lucas khawatir anak-anak itu tidak menyukai makanan yang sederhana seperti telur goreng, mengingat cucunya itu keturunan orang yang sangat kaya raya, bisa saja sangat memilih makanan.


Oleh sebab itu, tadi Lucas menyuruh bodyguard Devan membeli ayam goreng untuk kedua cucunya.


Kalau sekarang menyuruh mereka, Lucas tidak tega. Mereka juga berhak untuk istirahat. Sekalipun di luar sana, mereka tidur bergantian. Pasti ada yang berjaga walaupun sudah malam. Tetap saja Lucas tidak sampai hati membuat mereka mencari makan malam-malam seperti ini. Lebih baik Ia turun ke dapur.


"Grandpa, tidak usah."


Andrean menatap tajam adiknya. Ia menarik daun telinga sang adik hingga anak itu meringis.


"Sudah waktunya istirahat! Kita tidak boleh membuat Grandpa kesulitan. Ingat pesan Daddy?!"


"Andrean, sudah-sudah. Jangan seperti itu pada adikmu. Rasa lapar tidak seharusnya ditahan-tahan,"


Lucas bangkit untuk membuat telur goreng. Kedua cucunya mengikuti. Adrian senang sekali saat rasa laparnya akan segera hilang.


"Grandpa, ponselnya bunyi,"


Sebelum Andrean menutup pintu kamar, Ia mendengar dering ponsel yang tak lain milik Lucas.


"Tolong bawa keluar, Andrean." Suara Lucas sedikit keras karena Ia sudah menjauh dari kamar.


"Iya, Grandpa."


"Sini, aku yang bawa,"


Andrean menyerahkan ponselnya pada sang adik. Adrian nampak membolak balik ponsel itu. Sementara Lucas sudah menanti mereka di meja makan.


"Coba, Grandpa lihat." Ujarnya saat mereka berdua duduk di dekatnya.


"Daddy kalian yang menelpon,"


Adrian langsung merampas tidak sabar benda yang tidak secanggih milik Devan itu.


"Hallo, Daddy."


"Ini Mommy,"


"Oh Mommy? Kenapa telepon? Rindu aku ya?"


"Hmm, iya. Sedang apa kalian?"


Sementara kedua cucunya bicara dengan Lovi, Lucas pergi ke dapur untuk memenuhi keinginan Adrian.


"Mau makan,"


"Kata Daddy, kalian sudah makan,"


"Memang sudah, Mom. Tapi Adrian lapar lagi," Ia mengakuinya.


"Jadi mau makan apa?"


"Grandpa mau buatkan telur goreng untuk Adrian..."


"Rasanya aku mau video call. Tapi sepertinya tidak bisa,"


"Memang kenapa?"


Adrian melirik ke kanan dan kirinya, memastikan Lucas sudah tidak berada di dekatnya.


"Ponsel Grandpa kurang canggih,"


Andrean membekap mulut adiknya yang bicara seperti itu. Sebenarnya Adrian bicara sangat pelan. Tapi Andrean takut kakeknya mendengar.


"Bisa, coba tanya pada Grandpa caranya,"


"Tidak bisa, Mommy."


Lagi-lagi Ia memperhatikan sekitar.


"Astaga.... jangan bicara seperti itu pada ayah nya Mommy ya," Lovi gemas sekali ingin memelintir bibir kecil anak keduanya itu.


Dia tidak tahu saja dulu secanggih apa ponsel Lucas pada zamannya. Sayang, waktu dan nasib sudah berubah. Lucas yang dulu bergelimang harta, memiliki banyak ponsel, karena terlalu rakus dengan harta seolah tidak pernah cukup dengan apa yang dimilikinya, terjatuh juga pada akhirnya.


"Maaf, Mom. Aku sudah bicara pelan,"


"Bisa, minta pada Grandpa untuk video call,"


"Okay, sebentar."


Andrean menggeleng pelan melihat adiknya yang saat ini menyusul sang kakek ke dapur.


"Grandpa, kalau mau video call bagaimana caranya?"


Lucas baru saja mencuci telur. Setelahnya, Ia mengeringkan tangan, lalu mengubah panggilan Lovi yang tadi hanya suara saja menjadi dalam bentuk Video juga.


"Yeaaayy ternyata bisa. Terima kasih, Grandpa."


"Iya, tunggu di meja makan saja. Jangan di sini,"


Adrian keluar dan kamera nampak bergoyang seiring langkahnya. Ia duduk di samping kakaknya agar Andrean juga bisa melihat Mommy mereka.


"Hai, Mom."


"Hai, Andrean. Kamu juga lapar lagi kah?"


"Tentu saja tidak, perutku tidak sebesar Adrian,"


"Sedang apa mereka, Lov?" Suara Devan terdengar dari dalam kamar mandi.


"Mau makan,"


"Makan lagi?"


"Iya, Adrian lapar katanya,"


"Huh alasan dia karena tidak bisa tidur itu,"


Devan keluar usai menggantikan diapers Auristella yang sudah bocor saat duduk di pahanya. Ia merasa hangat saat memangku Auristella.


"Kamu rindu Daddy dan Mommy ya makanya tidak bisa tidur lalu minta makan lagi?"


"Tidak, Mommy dan Daddy yang merindukan aku. Jujur saja, jangan bohong,"


"Hih? terlampau tinggi level percaya dirimu,"


Devan meletakkan anaknya di ranjang sementara Ia yang mengenakan handuk segera menghampiri almari untuk mengambil celana ganti.


Setelah dua telur goreng matang, Lucas mematikan api yang berkobar dari tungku. Lalu Ia membawa dua piring yang masing-masing berisi satu telur goreng.


"Silahkan dinikmati,"


"Grandpa, Andrean 'kan masih kenyang,"


"Makan, biar Grandpa senang." suara Devan terdengar menyuruh anaknya. Akhirnya untuk menghargai, Andrean segera menikmati makanan sederhana buatan kakeknya itu.


Lucas tahu kalau cucunya yang sulung tidak minta. Tapi akan lebih baik kalau mereka berdua makan lagi, dan biar adil juga.


Adrian mengarahkan kamera ke piring. "Aku makan dulu ya, Mom, Dad."


"Jangan dimatikan. Biar saja tetap tersambung,"


"Aku mau makan, Andrean juga. Mommy mau bicara dengan siapa? oh Grandpa ya? ya sudah, ini aku kembalikan ponselnya,"


Setelah ponsel itu pindah tangan, Adrian mulai fokus mengisi perut. Sementara Lovi yang belum terlalu nyaman bicara banyak dengan ayahnya memilih untuk memberikan ponsel ke Devan.


"Bagaimana anak-anakku di sana, Ayah? mereka membuat Ayah kesulitan?"


"Tidak sama sekali, Justru rasanya ayah mau mereka di sini terus, supaya Ayah ada teman,"


"Makanya tinggal di sini, Ayah."


"Kalian setuju tidak?" tanya Devan pda keduanya anaknya. "SETUJU,"


"Daddy, kita tidak jadi pindah ke rumah?"


"Sepertinya jangan dulu. Saling menjaga satu sama lain di tempat yang sama lebih mudah daripada berpencar,"

__ADS_1


"Sebenarnya menjaga dari siapa, Devan?"


"Ayah bingung saat banyak penjaga di luar rumah ayah,"


Belum sempat Devan menjawab, Adrkan sudah buka suara.


"Beberapa hari yang lalu---"


Adrian menelan makanannya dulu sebelum melanjutkan ucapannya, "Ada orang jahat yang mengacaukan mansion, Grandpa."


"Makan dulu, jangan bicara!" tegur Devan dengan tegas. Anaknya itu langsung mengangguk patuh.


"Tidak apa, Ayah. Jangan khawatir,"


Devan selalu berkata seperti itu bila melihat orang di sekitarnya khawatir setelah mendengar ada bahaya yang sedang mengintai. Itulah sebabnya Devan tidak mau mereka tahu, karena tugasnya jadi bertambah. Menjaga sekaligus menenangkan mereka.


"Kalian tidak ada yang kenapa-kenapa 'kan?"


"Syukurnya tidak, Ayah. Hanya saja beberapa dari bodyguard yang kebetulan sedang berjaga malam itu ada yang dibunuh,"


"Ya Tuhan, kejam sekali sampai mereka yang tidak bersalah menjadi korban,


"Makanya aku ingin sekali melakukan hal yang sama. Tapi belum saatnya. Errrgghh," geram Devan lupa kalau ada kedua anaknya yang ikut menjadi pendengar.


Lovi mencubit lengan suaminya. "Bicara yang baik!"


"Melakukan apa, Dad? kejahatan? tidak boleh! Tuhan tidak suka itu," tidak biasanya Andrean langsung menyambut ucapan Devan. Seolah Ia takut sekali lelaki panutan dalam hidupnya akan bersikap buruk.


"Kalau jahat, nanti matinya tidak terpejam, Dad."


"Adrian, Astaga. Hahahah," Devan, Lovi, dan Lucas tertawa tiba-tiba padahal Adrian sedang bicara serius.


"Adrian pernah menonton serial kartun apa ya, Adrian lupa. Ceritanya, dia itu jahat pada temannya. Suka mencuri, lalu menghasut orang lain dengan berbagai cara agar benci pada temannya itu. Nah pada saat dia mati, matanya malah terbuka terus. Pokoknya seram sekali. Adrian saja sampai mematikan televisi. Karena apa? karena Adrian merasa dilihati dia terus. Adrian takut terbawa mimpi,"


Lucas menggeleng pelan dengan sisa tawa yang ada melihat betapa seriusnya Adrian bercerita sementara kedua orangtuanya masih sibuk tertawa.


"Ya, Daddy akan menjadi orang baik kalau begitu,"


"Kalau menjadi orang baik, nanti wajahnya selalu bersinar. Percaya pada Adrian,"


"Itu dari kartun apa lagi?"


"Sama, di serial itu ada dua peran. Yang jahat matinya seperti itu. Kalau yang baik justru sebaliknya,"


"Jadi saat meninggal dia terpejam?"


"Iya, terus tersenyum juga,"


"Woaaah sehebat itu kamu mendapatkan pelajaran ya,"


"Pelajaran? Adrian tidak sedang sekolah, Dad! ini lagi membicarakan serial kartun,"


Adrian tidak sadar kalau dari tontonannya itu, Ia mendapatkan sesuatu yang bisa membuatnya belajar agar menjadi orang yang selalu baik.


"Ya sudah, jangan bicara lagi. Astaga, dari tadi Daddy biarkan kamu mengoceh ya,"


Adrian dengan mulut penuhnya menganggukkan kepala. Andrean makan terlihat tenang, kalau Adrian terkadang seperti tidak bernapas saat makan karena terlalu menggebu. Terkadang hal itulah yang membuat Lovi menegurnya. "Kamu seperti tidak pernah diberi makan. Jangan begitu makan nya. Biasakan kunyah dengan halus, barulah ditelan. Ingat kata dokter kan?"


Adrian memang pernah mengalami gangguan pencernaan dan menurut dokter, itu terjadi karena makanan yang ditelan Adrian kurang halus.


"Memang apa yang membuat kamu mengunyah buru-buru?"


"Takut diambil makanan nya," jawaban polos anak itu yang membuat dokter tertawa sekaligus menahan gemas. "Memang siapa yang mau ambil?"


"Entah, tapi aku hanya takut diambil,"


Andrean mencibir pelan, "Seperti kesetanan kalau makan."


"Apa?! aku juga tidak tiap saat begini. Kalau sedang lapar saja,"


"Ah kamu setiap saat merasa lapar terus,"


"Hih sok tahu!"


"Bertengkar lagi. Mulai ya,"


Daddy melotot pada Adrian karena ponsel sudah diletakkan Lucas di depan Adrian, bersandar di gelas minum miliknya yang baru diambilkan Lucas.


"Terima kasih, Grandpa."


"Iya, setelah itu langsung tidur ya,"


"Oh tentu saja. Berhubung perut sudah kenyang, jadi Aku akan langsung tidur lelap nanti,"


"Mau Mommy nyanyikan tidak?"


"Tidak, ada Grandpa yang bisa melakukannya. Iya 'kan, Grandpa?"


Lucas tentu tidak akan menolak. Karena Ia belum pernah melakukan itu pada cucu-cucunya. Momen seperti itu yang terkadang ingin dilakukannya tapi tidak bisa karena kedua cucunya tidak dekat dengan dirinya, tinggal terpisah.


********


"Mau kemana?" tanya Devan saat Lovi izin untuk pergi jam sepuluh nanti.


Lovi membantu suaminya mengenakan sepatu karena Devan sudah sedikit terlambat hari ini.


"Belanja untuk satu bulan ke depan,"


"Tidak usah, Lov. Biarkan maid saja yang melakukannya,"


"Aku bisa sendiri, Lov." larang Devan saat istrinya akan membantu dirinya memakai sepatu yang sebelah kiri.


"Tidak apa, supaya cepat."


Tak membutuhkan waktu lama, sepatu sudah selesai dipakai. Devan bangkit dan segera meraih bahu istrinya yang tadi menunduk.


"Aku pergi ya,"


"Iya, salah satu bekal yang aku siapkan dimakan sebelum bekerja. Itu untuk sarapan,"


Lovi mengingatkan agar Devan tidak lupa kalau hari ini Lovi membawakannya dua bekal dengan menu berbeda untuk sarapan dan makan siang. Karena Lovi meminimalisir kemungkinan suaminya makan di luar ditengah bahaya yang sedang mengintainya. Devan yang sering tidak mau dibawakan bekal, maunya makan siang di luar langsung mematuhi apa kata istrinya. Ada benarnya juga apa yang dipikirkan Lovi.


"Iya, My love,"


Devan mengecup kening, pipi kanan kiri, dagu, dan terakhir bibir. Khusus yang terahir, Devan melakukannya berkali-kali hingga Lovi terkekeh.


Setelah itu, Devan mendekati sang putri yang masih terpejam nyaman dengan posisi yang sembarangan. Auristella kalau tertidur memang begitu. Posisi tidurnya seperti Adrian, membuat perut semua orang tergelitik.


"Hati-hati, ya."


"Iya, kamu juga. Jangan belanja sendiri. Biar maid saja ya,"


"Tapi aku mau," Lovi merengek disaat Devan sudah mau berangkat. Devan menghembuskan napas, meminta dimengerti oleh Lovi bahwa Ia khawatir bila Lovi keluar dari mansion.


"Ya sudah, jangan sampai luput dari penjagaan bodyguard. Aku tidak mau kamu kenapa-kenapa," Devan merangkum wajah Lovi dengan gemas. Ia melotot tegas dan Lovi mengangguk patuh.


*********


Sebelum berangkat ke kantor, Devan harus menjemput kedua anaknya di rumah kakek mereka. Setelahnya barulah mengantar mereka ke sekolah.


Sampai di rumah Lucas, Ia melihat kedua anaknya tengah duduk di teras kecil yang sangat teduh itu. Keduanya sudah tampil dengan seragam sekolah yang memang dibawakan Lovi kemarin agar mereka tidak perlu lagi pulang ke mansion untuk mandi dan berganti baju. Sehingga tidak akan terlambat datang ke sekolah.


Mobil Devan belum tiba di depan rumah Lucas, mereka sudah bangun dari kursi dan melompat senang. Sebesar itulah antusias anaknya bila bertemu dengannya usai beberapa jam terpisah.


Devan langsung dipeluk oleh kedua anaknya yang berlari menghampiri ketika Ia turun dari kuda besinya yang gagah itu.


"Sudah tampan. Dimandikan Grandpa ya?"


"Tidak, mandi sendiri," jawab mereka yang membuat Devan semakin senang. "Mereka mandiri sekali. Padahal ayah yang mau memandikan mereka, tapi ditolak mentah-mentah. Ayo, kamu duduk dulu," ajak Lucas agar Devan jangan langsung berangkat. Minimal kembalikan dulu napas normal usai berkendara ditengah kepadatan kota pasti melelahkan.


"Mereka memang sudah mandi sendiri terus, Ayah. Tapi saat menginap di sini, aku kira mereka minta dimandikan oleh Ayah. Ternyata tidak, dan itu bagus. Mereka tetap mandiri,"


"Oh sudah bisa mandi sendiri? hebat!"


"Iya, Grandpa. 'Kan sudah lima tahun, sebentar lagi ulang tahun, omong-omong. Grandpa datang ya ke pesta ulang tahun aku dan Andrean,"


"Wow kapan itu,"


Adrian nampak berpikir sebentar sementara Andrean langsug menjawab, "Lima hari lagi, Grandpa."


"Grandpa pasti datang,"


"Tidak usah memikirkan kado. Tenang, masalah kado sudah diatur oleh Mommy dan Daddy. Grandpa cukup datang saja, kami sudah senang,"


"Iya, Grandpa. Yang terpenting kehadiran Grandpa,"


Walaupun sudah diperingatkan seperti itu, tentu saja Lucas akan tetap membawa hadiah untuk mereka. Ini adalah ulang tahun mereka yang pertama setelah kenal dengan dirinya.


"Dad, nanti kita menginap di sini lagi boleh tidak? pulang sekolah langsung ke sini,"


"Tanya pada Mommy dulu ya,"


"Hmm... ya sudah,"

__ADS_1


Melihat Adrian cemberut, Lucas terkekeh mengusap pipi cucunya itu.


"Apa-apa harus dengan izin orangtua. Kalau diberikan izin, silahkan datang lagi. Grandpa sangat senang kalau kalian menginap di sini. Tapi kalau tidak diizinkan Mommy, jangan merajuk ya,"


__ADS_2