My Cruel Husband

My Cruel Husband
Ingin tinggal bersama Grandpa


__ADS_3

Berbincang sebelum tidur adalah kebiasaan yang sering dilakukan oleh keluarga kecil Devan.


Terutama bila kedua anak laki-laki Devan dan Lovi tidak tidur di kamar mereka sendiri. Banyak waktu untuk berbicara sampai akhirnya mata terpejam.


"Dua hari yang lalu kita bertemu Grandpa Lucas, Mom."


Lovi yang matanya mulai sayu kembali terbuka sempurna. Ia menopang kepala agar bisa menatap kedua anaknya.


"Mereka sudah kenal dengan ayah?" tanya Lovi dalam hati.


"Grandpa baru sembuh, Mom. Kasihan sekali Adrian melihatnya,"


Otaknya menolak untuk penasaran akan sakit yang diderita Lucas tetapi hatinya berkata lain. Dulu, Lucas tidak pernah memikirkan Lovi yang akan hancur bila di masukkan ke dalam rumah bordil. Lovi sedang melakukan hal yang sama, mencoba untuk tidak peduli.


"Sebentar lagi kita kembali ke rumah, Mom?"


"Tidak tahu, bagaimana Daddy saja."


"Jangan tanya aku, Lov. Aku mengikuti keinginan kalian,"


"Setelah kita kembali ke rumah lagi, boleh ajak Grandpa Lucas tinggal bersama kita, Mom? Grandpa tinggal sendirian di rumahnya," Andrean menyampaikan keinginannya seraya menggenggam tangan Lovi walaupun ada Auristella yang menghalangi. Ia juga menatap Lovi yang kepalanya masih terangkat. Dari tatapan itu Ia berharap kebaikan hati Lovi untuk Lucas.


"Grandpa punya rumah sendiri,"


"Iya, aku tahu. Aku dan Adrian sudah ke rumah Grandpa. Maaf, rumah Grandpa kecil sekali, Mom, walaupun memang nyaman. Grandpa tinggal sendiri dan sering sakit, jadi Aku tidak bisa bayangkan ketika Ia sakit dan tidak ada temannya di rumah itu,"


"Ini sudah malam. Lebih baik kita tidur,"


Terlihat sekali Mommy-nya menghindari pembahasan ini. Andrean tidak mengerti dengan apa yang dipikirkan oleh Lovi sekarang. Bukankah seharusnya Lovi senang bila tinggal bersama orangtua sendiri?

__ADS_1


Devan menepuk-nepuk punggung Adrian yang tidur di sampingnya. Dan Lovi melakukan hal yang sama pada Auristella yang melenguh dalam tidurnya. Anak perempuannya itu sudah tidur lebih dulu.


Andrean sebagai anak paling besar harus mengalah tidak mendapat belaian sebelum tidur dari kedua orangtuanya seperti Adrian dan Auristella. Ia tidur di tengah kedua adiknya yang masing-masing didampingi oleh Devan dan Lovi.


********


"Devan, bangun. Sudah pagi, waktunya bekerja."


"Iya, Lov."


"Ayo, jangan lama-lama. Aku harus kembali memasak di bawah, kamu bangun ya?"


"Iya,"


"Devan, yang benar!"


"Iya, Lov. Astaga, aku masih mengantuk,"


Devan mengangguk lalu menggeleng. Terlihat sekali nyawanya masih berada di dalam mimpi. Lovi berdecak lalu menepuk pelan wajah suaminya lagi.


"Devan, aku harus lanjut memasak. Kamu bangun!"


"Kamu masak saja. Nanti aku bangun,"


"Benar ya? awas saja kalau aku masuk ke sini lagi, kamu belum bangun."


Karena biasanya seperti itu. Ketika Lovi meninggalkannya ke dapur untuk masak, Devan yang selalu mengatakan 'akan bangun' nyatanya masih terpejam saat Lovi kembali lagi ke kamar. Terkadang kalau sudah terlalu kesal, Lovi menjepit hidung suaminya agar Ia segera bangun. Cara itu terbukti ampuh. Kalau disiram terlalu ekstrem dan jahat pada suami.


*******

__ADS_1


Setelah menyiapkan pakaian kerja suami dan seragam sekolah anak-anaknya, Lovi akan turun ke bawah untuk menyiapkan sarapan dibantu oleh para pelayan di mansion.


Kerja tangannya sangat cepat karena sudah terbiasa. Bila sudah berada di dalam dapur untuk membuat sarapan, Lovi tidak bisa lirik kanan dan kiri. Ia harus segera menyelesaikan kegiatannya tersebut karena suami dan anak-anaknya sudah Ia biasakan untuk pergi beraktifitas dalam keadaan perut kenyang.


Senata tampak memasuki dapur untuk melihat kesibukan putrinya pagi ini. Ia juga mengambil minum di sana.


"Ada apa, Ma?" merasa diperhatikan, Lovi bertanya pada Mamanya.


"Tidak, hanya salut saja pada kamu."


"Mama bisa saja,"


"Berbeda sekali dengan Mama dulu. Sangat jarang memikirkan pekerjaan rumah, terlalu sibuk belanja, perawatan, dan lain-lain,"


Lovi tidak mau mengatakan apa-apa. Itu masa lalu Mamanya. Walaupun demikian, Lovi tidak pernah mengeluh. Setidaknya Senata masih punya waktu untuk dirinya walaupun itu hanya sore hari sampai pagi-pagi buta. Rasanya wajar bila Senata sibuk dengan semua itu karena Ia adalah orang terpandang. Jadi penampilan adalah nomor satu. Yang Lovi perhatikan, Senata tidak berbeda jauh dengan Rena. Tetapi Rena lebih pandai dalam membagi waktu.


"Ma, Dua hari lalu Andrean dan Adrian ke rumah ayah. Mama tahu?"


"Huh? tidak, mereka tidak bercerita apapun pada Mama,"


"Devan juga tidak mengatakan sesuatu pada Mama?"


"Tidak, memang kenapa?


"Sepertinya mereka ke sana karena dibawa Devan,"


"Kamu tidak tanya langsung pada Devan?"


"Tidak, aku malas. Dia sulit diberi tahu. Aku sudah katakan jangan pernah temui Ayah lagi. Sepertinya tidak didengarkan,"

__ADS_1


"Belum tentu Devan yang---"


"Lalu siapa, Ma? aku yakin dia yang mempertemukan anak-anakku dengan Ayah,"


__ADS_2