
Devan menarik tangan Lovi ke mobil lalu Ia melempar kantung belanja miliknya di jok tengah. Saat akan mengangkat tubuh Lovi ke dalam mobil, Lovi langsung menghindar namun Devan lebih sigap.
"Apa?! Aku masih harus bekerja,"
Lovi menghempas tangan Devan yang menahan lengannya. Ia menatap kesal laki-laki itu.
"Dimana tempat kerjamu? Di rumah sakit? Ayo aku antar,"
Lovi mendorong dada Devan yang kini memeluknya tidak tahu malu. Ini masih di area parkir supermarket. Walaupun tidak banyak orang tapi tetap saja ini memalukan. Masih ada Desira juga di sana yang setia menjadi penonton drama mereka.
"Kamu tahu tempat kerjaku?! Iya?!"
Dengan santai Devan mengangguk. Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana kerja yang dikenakannya.
"Apapun tentangmu pasti aku tahu," dengan lugas dia menjawab.
****
"Grandma, Aku lelah. Grandma saja lah yang belanja. Sakit kepalaku melihat baju-baju itu. Grandma tidak selesai-selesai memilihnya," keluh Andrean dengan wajah bosannya. Bukan lelah sebenarnya. Ia hanya tidak ingin lagi ditarik kesana kemari oleh Rena untuk mencoba pakaian.
Sementara Adrian lebih menganggap yang dilakukan neneknya itu menyenangkan. Ia hanya perlu mencoba setelah itu berlari sesuka hati di antara manekin-manekin yang dipajang.
"Ayo kejar aku!" seru Adrian menyemangati kakaknya agar ingin bermain lagi bersamanya. Orang yang ada di sana hanya bisa terkekeh. Para pekerja distro pakaian itu pun hanya bisa menghela napas pelan melihat kelakuan Adrian. Tidak ada yang bisa protes apa lagi mengusir. Dan lagi Adrian tidak merugikan siapapun. Walau Ia bermain dengan bebas tapi Adrian adalah anak yang pintar. Ia bisa menempatkan dirinya. Ia tahu batasan karena ini adalah tempat umum.
__ADS_1
Devan akan menunjukkan taring kalau sampai mereka mengusik kebahagiaan kedua anak itu.
"Andrean, cepat kejar! haish kamu payah,"
Ia menyerah tak bisa mengajak kakanya bermain lagi. Ia akan mendekati Andrean yang kini duduk menunggu Rena dan Senata memilah baju untuk kedua cucunya itu.
Adrian berlari dengan kencang ke arah Andrean. Ia akan menemburkan kepalanya ke tubuh Andrean bagaikan banteng mengamuk yang pernah dilihatnya di dalam iklan.
"ADUH! ANAK SIALAN!"
Salah sasaran. Belum sampai Ia menyerang Andrean, Adrian malah menabrak seorang perempuan berpenampilan seksi dan elegan.
Adrian langsung mundur ketakutan saat dibentak. Matanya mulai berkaca, siap untuk menumpahkan bulir dari manik matanya. Rena dan Senata menoleh dan mereka terkejut begitu melihat Adrian yang sudah menangis.
"Adrian, jangan menangis Sayang,"
Senata meraih kepala Adrian. Anak itu langsung menenggelamkan kepalanya di perut sang nenek. Rena menggenggam tangan Andrean lalu menghampiri Adrian.
"Elea?"
Gadis bermulut jahat itu membeku saat melihat Rena menatapnya datar. Setelah berdiri di depan Elea, raut marah tak bisa lagi ditutupi Rena. Ia ingin menampar. Namun wibawanya harus tetap terjaga. 'Menyelesaikan masalah dengan kekerasan bukan orang hebat'. Ia sendiri yang mengatakan itu pada cucunya tadi.
"Dia cucuku, kamu harus bisa menghargai perasaannya," Ia menggeram pelan. Dagu Rena terangkat dengan angkuh. Bersiap untuk menyerang gadis itu kalau saja Ia membela dirinya sendiri.
__ADS_1
"Dia menabrak tubuhku. Wajar kalau aku marah,"
Saat mulut Rena terbuka untuk menampar gadis itu secara tak kasat mata,
"Grandma, sudah. Adrian yang salah," suara pelan Adrian membuat hati Rena tercabik. Ia gagal menjaga cucunya. Mata Rena melirik Adrian yang masih bersembunyi di perut Senata. Kepalanya masih diusap lembut oleh Senata agar Ia sedikit tenang. Karena sungguh, isak tangisnya begitu menyesakkan kedua neneknya.
"Lihat, dia sendiri saja mengaku salah."
Emosi Rena semakin bergejolak. Kalau mencakar wajah manusia tidak berdosa dan tidak memalukan, sejak tadi Ia sudah melakukannya.
"Yang kamu maki tadi adalah anak Devan,"
Rena menatap remeh Elea. Alisnya terangkat seolah menatap sesuatu yang jijik.
"Beruntung Devan tidak menikah dengan kamu. Sekarang aku bisa menilai, kalau binatang lebih baik daripada kamu,"
Rahang Elea mengeras. Rena dengan lantang lebih memuji binatang daripada dirinya. Kedua tangan gadis itu mengepal di sisi tubuhnya.
Binatang saja bisa menyayangi sesamanya apa lagi kalau masih kecil. Tetapi Elea? tanpa pikir panjang dia memaki Adrian. Padahal tidak ada apapun yang dirusak Adrian. Bahkan beberapa pakaian yang ada di tangannya masih baik-baik saja.
"Anak kecil berlarian adalah hal yang wajar. Apa lagi tempat ini milik Daddy mereka. Apa yang salah? dia tidak merugikan siapapun sejak tadi,"
-----
__ADS_1
Aku kuker (kurang kerjaan) dn insom jd mending up lg deh. Moga bs menghibur kalian. Hehe