
"Aku baru saja menikah,"
"Lalu tujuanmu mengatakan itu apa? kau pikir aku peduli?! huh?!"
Devan kembali menarik kerah sahabatnya. Ia berdecih mendengar pengakuan itu. Apa tujuannya datang ke sini hanya untuk berbagi kabar bahagia itu?
"Aku ucapkan selamat. Dan kenapa kamu ke sini? seharusnya pengantin baru menghabiskan waktunya di rumah,"
Deni tidak peduli mendengar itu. Ia memilih untuk pergi. Bukan untuk meninggalkan Vanilla melainkan memperbaiki kekacauan yang baru saja dibuat Devan terhadap dirinya sebelum bertemu dengan Vanilla.
Walaupun rasanya percuma. Karena Vanilla Tidak bisa melihat apapun saat ini.
"Kau lebih baik pulang ke rumah. Istirahat sebentar lalu kembali lagi ke sini,"
Devan memutar matanya tidak ingin menuruti apa yang diminta sang Papa. Lelaki itu kembali masuk ke ruangan Vanilla. Pulang ke rumah, lalu istirahat. Semudah itu Raihan mengatakannya. Devan tidak akan bisa tenang bila adiknya masih perlu perawatan khusus yang pertanda ia belum baik-baik saja.
*****
"Mom, tadi malam Andrean mimpi Aunty Vanilla jatuh dari tangga,"
Andrean yang biasanya irit berbicara pagi ini mengutarakan bunga tidur yang menghampiri lelapnya semalam.
Mereka menikmati sarapan hanya berenam. Ada Netta, Serry, dan Senata yang menemani suasana makan siang hari ini.
Senata terdiam begitupun dengan Lovi. Senata yang sudah tahu kabar mengenai Vanilla merasa bahwa mimpi yang dialami cucunya sangat mewakilkan kondisi Vanilla saat ini.
"Hanya mimpi, Sayang."
"Nanti kita ke mansion, Mom. Adrian mau main di sana,"
Lovi langsung duduk setelah meletakkan macaroni soup di depan kedua anaknya. Ia menggeleng sebelum akhirnya bersuara.
__ADS_1
"Grandma dan Grandpa sedang pergi,"
"Kemana? tapi Aunty Vanilla ada di mansion bukan?"
"Aunty Vanilla juga ikut,"
Adrian menghela napas pelan begitupun dengan Andrean. Mereka berharap bisa menggantikan waktu berlibur dengan berkunjung ke mansion tapi tidak disetujui oleh Lovi. Mereka sedih karena sudah terlalu rindu dengan gadis itu.
****
"Vanilla, maaf aku baru datang sekarang. Bagaimana keadaanmu saat ini? sudah lebih baik?"
Aroma yang selalu Ia hidu ketika bersamanya, suara tegas yang selalu menampilkan eksistensinya ketika Vanilla berbuat ulah di kelab, kini ada di dekat Vanilla. Menggenggam tangannya lalu memberi usapan lembut di kepala yang terdapat perban itu.
"Maaf aku gagal menjagamu,"
Deni masih berusaha membuat mulut Vanilla terbuka mengeluarkan suara. Karena sedari tadi gadis itu hanya menatap langit-langit dengan pandangan kosong. Sementara Ia sangat menginginkan Vanilla mengatakan 'baik-baik saja' agar rasa khawatirnya menguap.
"Hanya buta," tambah Vanilla yang membuat Deni langsung menahan napasnya sendiri. Telinganya berdenging, lidahnya mendadak kelu. Sekali lagi Ia menatap kedua orangtua Vanilla juga kakaknya untuk meminta penjelasan.
Dua kabar menyedihkan itu baru sampai ditelinganya sekarang. Kalau Ia tidak berinisiatif mencari tahu sendiri, maka sampai kapan mereka menutupinya?
"Tidak perlu menangis, Vanilla sayang. Aku yakin semuanya akan kembali baik-baik saja,"
"Aku mencarimu yang beberapa hari ini menghilang dari kelab,"
Vanilla terkekeh masih dengan pipi yang basah. Deni mengusap lembut di sana. Bibir yang melengkung itu juga menulari Deni. Ia tidak bisa menyembunyikan senyumnya.
"Jadi benar kalau kamu adalah seorang mata-mata? selama ini kamu tidak mengakuinya,"
"Tidak juga. Aku di sana karena butuh hiburan sama seperti kamu,"
__ADS_1
Devan berdecak malas. Geli melihat lelaki itu yang masih saja gengsi. Padahal jelas-jelas wajahnya memerah. Oh Tuhan kenapa jadi laki-laki yang merona? seharusnya perempuan!
Devan membanting tubuhnya di sofa yang sama dengan Rena. Ia mengeluarkan ponselnya untuk bertanya kabar pada Lovi yang sejak Ia berada di sini tidak pernah di pedulikannya. Devan terlalu fokus dengan adiknya.
Lovi : Kamu sudah sampai rumah sakit? Vanilla baik-baik saja bukan?
Lovi : Devan, tadi sempat ada bercak darah. Aku akan memeriksanya ke dokter. Aku izin ya?
Lovi : Devan, kamu masih marah? kenapa tidak dijawab?
Lovi : Oh masih menjaga Vanilla ya? bagaimana kondisinya sekarang?
Dari sekian banyak pesan dan panggilan yang diterimanya dari Lovi, satu yang berhasil mencuri perhatian Devan. Bercak darah yang dimaksud Lovi mengarah pada kandungannya kah?
Devan bangkit dari sofa dan berjalan keluar dari ruangan untuk menghubungi Lovi. Tidak sampai deringan kedua, Perempuan itu langsung mengangkatnya. Ia bahagia saat Devan menelponnya.
"Apa yang terjadi dengan dia?"
Lovi terkejut saat Devan berseru. Wajar, mungkin Devan terlalu khawatir sekarang. Apa lagi beban pikirannya bukan hanya Lovi.
"Aku akan datang untuk periksa. Kamu mengizinkannya?"
"Tentu, Sayang. Cepat pastikan keadaannya. Kenapa kamu masih bertanya? aku tidak mungkin melarang kamu melakukan sesuatu yang terbaik untuk anak kita,"
Lovi mengerjap dengan senyum tipisnya. Ia hanya bertindak sesuai apa yang diperintahkan Devan selama ini. Tidak boleh pergi kemanapun bila belum diberi izin oleh Devan. Dan bila Devan tidak mengizinkan Ia pergi ke rumah sakit, Lovi tetap akan periksa kandungan dengan memanggil dokter ke rumah. Lovi pikir kandungannya juga baik-baik saja. Karena sedari tadi aktif bergerak.
Namun berhubung Devan sudah memberinya izin maka Lovi akan datang langsung sekaligus melihat kondisi Vanilla. Itu adalah tujuan keduanya.
----
HELAAW PERMISAH. PA KABS HR INI? DAH MAEM LOM? KL LOM, MAEM YAK. SUPAYA KUAT CEM SI VANILLA YG BR AJA DITINGGAL KAWIN🤣🤣
__ADS_1