My Cruel Husband

My Cruel Husband
Mandiri di rumah Grandpa


__ADS_3

"Iya, Grandpa."


"Sudah sarapan?"


"Sudah, aku minta oatmeal tadi,"


"Seharusnya makan yang ada, jangan minta-minta begitu," Devan sudah mengatakan sejak mereka belum pergi ke rumah Lucas agar makan apapun yang disediakan jangan banyak menuntut. Ia tidak tega bila Lucas berusaha memenuhi keinginan kedua anaknya. Namun yang namanya anak kecil, waktu diajarkan mereka mengatakan 'Iya' tapi giliran tiba saatnya malah melakukan hal sebaliknya. Contohnya semalam. Adrian sudah makan, malah minta makan lagi. Akhirnya Lucas terpaksa meninggalkan tempat tidur padahal sudah waktunya dia istirahat.


"Oatmeal ada, Devan. Ayah disarankan oleh dokter makan itu kalau pagi, tapi jarang sekali. Ternyata mereka suka, jadi Ayah berikan."


"Terima kasih, Ayah sudah mengizinkan mereka menginap di sini. Maaf kalau membuat Ayah sulit,"


"Ah kamu ini. Mereka cucu ayah. Tidak ada kesulitan sama sekali tinggal bersama mereka. Malah banyak membantu,"


"Membantu apa, Ayah?"


"Melipat baju setelah kering. Ternyata mereka bisa, ayah tidak menyangka,"


Devan tertawa mengetahui itu. Ternyata anaknya pandai membawa diri juga. Kalau di mansion mana pernah berurusan dengan hal-hal semacam itu. Paling hanya mencuci piring sendiri setelah makan. Tinggal di sini mereka jadi belajar mandiri.


Usai Devan pulang setelah mengantar kedua anaknya ke rumah Lucas, Lucas mengangkat pakaian yang dijemur di teras samping rumahnya.


Pakaian yang dijemur adalah pakaian kerja milik Lucas yaitu seragam cleaning service dan juga supir pengangkut kopi.


Mereka yang melihat Lucas membawa pakaian kering dari luar langsung menghampiri Lucas. "Grandpa, aku mau coba lipat bajunya."


"Jangan, Grandpa saja."


Lucas tahu betul seperti apa kedua cucunya diperlakukan di dalam mansion. Melipat baju pasti tidak pernah dilakukan.


"Kami bisa, mencuci piring saja bisa."


"Benarkah?"


"Benar, nanti setelah makan malam, Grandpa lihat sendiri ya,"


Akhirnya Lucas membiarkan mereka melipat seragam kerja miliknya. Dan setelah makan malam, mereka benar-benar membuktikan kalau mereka bisa mencuci piring sendiri.


"Kami berangkat dulu, Ayah."


"Iya, kalian hati-hati,"


"Ayah juga,"


Mereka melangkah menuju mobil. Adrian tidak henti melambai pada sang kakek. Bahkan saat mobil pergi dari sana, Ia sempat mengeluarkan kepala dari dalam jendela hanya untuk memberi kiss jauh.


"Daddy takut kita terjebak macet,"


"Semoga saja tidak. Ini masih sangat pagi, Dad.


"Ini sudah siang. Daddy terlambat bangun lagi tadi. Makanya sampai tidak sarapan. Tapi beruntung nya Mommy punya ide untuk membawakan kalian seragam. Kalau harus pulang dulu, dapat dipastikan kita akan berangkat semakin siang,"


Devan memukul stirnya saat jalan mulai padat, dan laju mobil mereka mulai tersendat karena kepadatan itu.


"Yahh sudah mulai macet, Dad."


Devan menatap jam yang melingkar di tangannya. "Kalau nanti terlambat, lalu tidak dibolehkan masuk, Andrean dan Adrian ke kantor Daddy saja ya?" ujar Adrian tiba-tiba.


"Tidak boleh! Harus sekolah!" Tegas Devan yang membuat Adrian langsung melipat wajahnya seketika.


Andrean menatap adiknya tajam. "Harus belajar. Mau jadi apa kamu kalau membolos?"


"Kalau tidak diizinkan masuk. Tadi dengar ucapanku tidak?" Sungut Adrian. Dia juga tidak mau bolos sekolah. Tapi kalau tidak boleh masuk karena terlambat, lebih baik ke kantor Devan daripada hanya di mansion.


"Setelah dari kantor Daddy, kita kembali lagi ke rumah Grandpa Lucas,"


"Tadi kata Grandpa apa? Izin dulu dengan Mommy 'kan?"


"Oh iya, lupa." Ia tersenyum lebar memperlihatkan gigi-gigi putih kecilnya.


"Nanti Daddy yang memohon agar kalian diberikan izin masuk,"


Setegas itu peraturan di sekolah kedua anaknya. Jadi mau tidak mau bila terlambat, Devan yang harus mohon izin. Kalau alasan dirasa masuk akal, maka diizinkan. Tetapi kalau tidak, maka disuruh pulang. Jadi banyak anak yang jera dan tidak mau terlambat. Selama bersekolah di sana hampir dua tahun sepertinya kedua anak kembar itu jarang sekali terlambat. Karena pernah disuruh pulang, jadi keesokan harinya mereka bangun di pukul empat dini hari. Mereka terlalu takut untuk terlambat lagi.


Lovi yang menemukan kedua anaknya sudah bangun pagi-pagi buta pun terkejut.


"Kenapa sudah bangun? Ini masih terlalu pagi,"


Dengan polosnya mereka menjawab, "Takut terlambat lagi seperti kemarin,"


Lovi langsung tersenyum seraya memberikan pengertian.


"Tidak perlu sepagi ini juga bangunnya. Yang terpenting, kalau sudah Mommy bangunkan langsung bangun, mandi jangan lama, begitu pun sarapan."


Lovi mendorong lembut tubuh kedua putranya agar kembali berbaring. "Tidur lagi. Nanti Mommy bangunkan kalau sudah waktunya,"


"Benar boleh tidur lagi? Nanti tidak terlambat, Mom?" Tanya Andrean dengan tatapan serius.


"Boleh, sebenarnya kalian harus tiba di sekolah jam setengah delapan. Tapi diberi dispensasi untuk keterlambatan sampai lima belas menit. Kalau bangun tidak sulit, tidak banyak tingkah pagi-pagi, pasti tidak akan terlambat,"


Tingkah Adrian yang biasanya membuat terlambat. Ia mandi begitu lama. Belum lagi kalau Andrean sulit bangun sama halnya seperti Devan. Maka penyebab keterlambatan semakin lengkap.


Ternyata kemacetan yang dialami tidaklah lama. Sehingga mereka bisa tiba di sekolah tidak terlambat. Hanya saja setelah menginjakkan kaki di sekolah, peringatan bahwa waktunya untuk masuk kelas telah berbunyi. Akhirnya setelah Adrian dan Andrean diberikan kecupan oleh Devan dan mereka juga mengecup pipi Devan, tanpa menunggu waktu lama mereka berlari dan Devan yang melihatnya terseyum geli.


*******


"Biar Mama saja yang jaga Auris di rumah. Kamu pergi bersama Mama Rena,"


"Aku tanya Mama Rena dulu. Apakah akan ke restorannya hari ini atau tidak, karena semalam Lovi dengar Mama Rena mau ke sana,"


Lovi menghampiri Rena di kamarnya yang ternyata sedang bersiap-siap untuk pergi.


"Ma, jadi ke restoran hari ini?"


"Jadi, Lovi. Kenapa?"


"Tadinya aku mau minta ditemani Mama belanja, karena Auris tidak dibolehkan Devan untuk ikut,"


"Jangan sendiri, nanti sama Mama. Tapi setelah kita ke restoran Mama ya. Mama juga tidak akan lama,"


"Okay, Ma."


"Sebentar ya. Mama belum selesai dandan,"


Lovi terkekeh dan mengangguk. Ia segera menutup pintu kamar mertuanya yang sedang merias diri di depan cermin.


Senata setia menemani cucu perempuannya bermain bersama susternya. Ketika sedang sibuk dengan boneka beruang miliknya, mata Auristella sudah mulai tidak fokus dan kepalanya mulai lemah. Senata segera membawanya dalam gendongan.


Ketika akan keluar dari playground, Ia bertemu dengan Lovi yang tengah membawa satu piring berisi buah untuk Auristella.


"Auris sepertinya mengantuk,"


Senata menatap buah untuk cucunya. "Nanti Mama berikan itu. Simpan saja dulu," ujarnya.


"Mama menemani Auris tidur dulu,"


"Iya, Ma. Biar dia tidak melihat aku pergi juga. Kalau menangis, gawat,"


******


Lovi jarang sekali datang ke restoran Rena. Selama menikah dengan Devan hanya beberapa kali saja karena memang Rena sendiri juga jarang melakukan pemantauan secara langsung.


Lovi mengikuti Rena masuk ke dalam dapur sebentar. Setelah itu Ia memilih untuk duduk di salah satu kursi menunggu Rena berbincang dengan koki yang bekerja di sana.


Aku sudah sampai, Lov.

__ADS_1


Ia tersenyum membaca pesan dari Devan beberapa waktu lalu. Kemudian Ia mengetik balasan.


Sudah sarapan 'kan?


"Lovi, kita coba menu baru restoran ini ya,"


"Tapi aku sudah sarapan, Ma." Lovi terseyum lebar seraya mengusap perutnya singkat.


"Ah pokoknya harus coba."


Rena memaksa dan akhirnya Lovi diam tak bisa menolak lagi. Ia memanggil waitress untuk menyajikan dua porsi menu terbaru dari salah satu restoran miliknya itu.


Tak lama ada balasan yang masuk dari suaminya. Pesan berupa gambar tempat bekal yang sudah terbuka dan dimakan setengahnya.


"Kenapa senyum-senyum? Kalau dilihat Adrian, habis kamu,"ujar Rena terkekeh geli mengingat kebiasaan cucunya yang begitu posesif terhadap sang menantu.


Lovi menunjukkan ponselnya pada Rena agar Rena bisa melihat hal apa yang membuatnya tersenyum.


"Oh, karena suami sudah sarapan," jahil sekali Rena ini. Ia tersenyum menggoda seraya menjawil dagu Lovi.


"Iya, Ma. Aku tenang kalau Devan sudah makan,


"Iya, memang begitulah seorang istri Kalau anak dan suami sudah makan, pasti ada rasa senang sekaligus lega. Apa lagi kalau masakan kita yang dimakan mereka,"


"Iya, benar sekali, Ma."


********


Dashinta masuk ke dalam ruangan atasannya dimana Devan tengah menghabiskan suapan terakhir sarapannyan pagi ini.


Perempuan itu akan mengambil beberapa dokumen dari sebuah lemari kaca khusus di ruangan Devan.


"Enaknya yang dibekali istri,"


"Kamu kapan membekali suami sarapan?"


Alis Dashinta terangkat sebelah. "Kenapa jadi saya?"


"Iya lah, masa suami yang membawakan kamu bekal?"


Dashinta terkekeh seraya menggaruk pelipisnya, "Iya juga sih. Tapi belum ada jodohnya, Boss."


"Ada, tapi kamu terlalu pemilih,"


"Harus lah, Boss. Make up saya sebulan saja membutuhkan uang yang tidak sedikit. Jadi saya harus cari yang bisa memenuhi kebutuhan saya, Boss. Bukan saya yang memenuhi kebutuhan dia,"


Dashinta ini memang sekretaris yang paling berani interaksi santai dengan Devan. Kalau sebelumnya sekretaris Devan tidak pernah ada yang bisa bicara santai dengan Devan, bawaannya takut dan segan terus. Sementara Dashinta adalah tipe sekretaris yang pembawaannya santai namun tetap sopan pada atasan bahkan pada Lovi pun demikian. Awal mula Ia menjadi sekretaris Devan, Lovi sempat khawatir karena dia sangat akrab dengan suaminya. Jujur, ada rasa cemburu dan takut Dashinta merebut hati Devan seperti di novel-novel yang pernah dibacanya.


Devan beberapa kali berganti sekretaris karena mereka yang pendiam, kaku, dan terlihat sangat sopan pada Devan nyatanya memiliki niat untuk merebut Devan dari genggaman Lovi. Jadi lebih baik Dashinta yang orangnya easy going dan tahu diri.


"Ah kamu mata duitan juga ternyata,"


Dashinta terbahak tak memungkiri. Memang begitulah dia. Menjadi sekretaris seorang pengusaha yang merajai dunia property tentunya membuat Ia harus berpenampilan menawan sekalipun Devan tak pernah menuntut karyawannya seperti itu. Yang terpenting penampilan mereka layak dan rapi. Itu sudah cukup.


"Ya begitulah, Boss. Kadang saya mau seperti Nona Lovi yang sederhana. Tapi tidak bisa, Boss. Sudah terbiasa memakai barang-barang branded soalnya,"


"Istri saya juga terbiasa pakai barang branded tapi dia tidak pernah membicarakannya pada orang lain," cibir Devan melirik Dashinta dengan sinis.


Dashinta terkekeh sesaat seraya menggeleng pelan. Tak lama, Ia kembali memulai pembicaraan.


"Saya harus mendapatkan laki-laki yang standarnya seperti Boss lah kira-kira,"


"Saya standar menurut kamu?" Tana Devan melotot. Sial dia dibilang standar. Segitu kaya, pintar, dan tampannya dia, tapi masih ada yang berani mengatakan dia standar? Hanya Dashinta yang melakukan penghinaan seperti ini.


"Kalau bisa mendapatkan yang lebih baik dari Boss, kenapa tidak? Saya harus pasang standar juga yang tinggi, Boss. Artinya Boss itu masih masuk kedalam kriteria yang tinggi," jelasnya yang membuat Devan mendengkus. Devan sudah selesai mengisi perut. Saatnya Ia bekerja.


"Kamu mengambil apa sih di sana? Tidak selesai-selesai,"


"Mencari dokumen dari investor jepang waktu itu. Aduh, dimana ya,"


"Aduh ngeri juga si Boss ini," gumam Dashinta masih sibuk membongkar lemari kaca di ruangan Devan yang memiliki pengamanan super ketat itu karena isinya banyak dokumen penting.


Sudah keringat dingin, ternyata dokumennya terselip. Bayangan gaji dipotong membuat Dashinta merinding.


"Akhirnya gaji saya aman,"


"Ya sudah, keluar cepat! Jangan lama-lama di sini. Saya tidak mau dikira terlibat affair dengan sekretaris,"


Dashinta memasang wajah geli mendengar ucapan Devan. "Hih siapa yang mau affair sama bapak-bapak beranak tiga? Mending saya cari yang masih pujangga, belum pernah merasakan malam pertama,"


Dashinta keluar saat dilihatnya hidung sang atasan mulai mengeluarkan asap. Pertanda sebentar lagi Ia akan mengamuk.


"Saya keluar dulu, Boss. Jangan marah-marah, ingat istri di rumah."


********


Lovi dan Rena masih menikmati makanan yang merupakan menu baru dari restoran Rena itu.


"Bagaimana? Enak tidak?"


"Enak sekali, Ma."


"Ingin tambah tidak?"


Lovi menggeleng. Ia sudah sarapan sereal sebelum berangkat, dan tadi makan lagi. Perutnya terasa ingin meledak.


"Kamu kalau makan sedikit terus. Bagaimana mau gemuk? mungkin orang mengira kamu tidak hidup bahagia dengan Devan karena melihat badanmu yang kurus itu,"


"Sejak dulu badanku memang tidak berubah, Ma. Lagipula ini tidak kurus,"


"Kurus lah. Tulang saja yang terlihat. Padahal sudah melahirkan tiga kali, tapi tidak melar sama sekali,"


"Melar?" Lovi terkekeh mendengar kata itu. Ia jadi membayangkan benda-benda yang bisa melar seperti karet dipinggang celana.


"Devan mau memeluk kamu dengan erat mungkin takut ya, Lov?"


"Takut bagaimana?"


"Ya, takut kamu remuk,"


"Mama..." Lovi merengek dengan sisa tawanya. Tubuhnya tidak seringkih itu. Tapi apakah benar Devan merasa takut meremukkan tubuhnya yang kurang berisi itu? Ah nanti harus Lovi tanyakan.


******


Devan baru saja selesai meeting siang ini. Entah kenapa Ia begitu menginginkan kopi hangat. Akhirnya setelah duduk, Ia meminta bantuan pada Dashinta agar dibuatkan kopi.


Tak membutuhkan waktu lama, Dashinta datang membawa satu mug kopi. Ia melirik kopi yang tadi pagi tidak diminum oleh Devan. "Boss, tumben yang tadi pagi tidak diminum,"


"Ya, sudah terlanjur sarapan dan setelahnya langsung rapat. Jadi lupa belum diminum sampai sekarang,"


"Terima kasih," imbuh Devan sebelum Dashinta keluar dari ruangannya.


Saat sedang mengamati kurva perusahaan, ponsel di samping tangannya bergetar. Ternyata Lovi menelponnya.


Ingat bahwa saat ini Lovi tengah belanja, Devan tiba-tiba khawatir. Takut Lovi menghubunginya karena terjadi sesuatu.


Cepat-cepat Ia mengangkatnya. "Hallo, Lov. Apa yang terjadi? tidak terjadi sesuatu padamu kan?"


"Aku baru mau pergi belanja. Tadi ikut Mama ke restorannya dulu. Dan kemungkinan baru selesai nanti sore. Jadi setelah belanja, aku akan menjemput Andrean dan adiknya. Kamu tidak perlu lagi ke sekolah mereka ya,"


"Oh ya sudah. Kalian hati-hati ya,"


"Iya, bye."


*****

__ADS_1


Bangun dari tidurnya, seperti biasa Auristella akan mencari Lovi yang biasanya selalu di sampingnya. Mata bulat itu berkeliling menatap seluruh sudut kamar sementara Senata masih terlelap di sampingnya.


Auristella nampak mengusap-usap matanya menggemaskan seraya merengek hingga Senata bangun.


"Mommy sedang pergi sebentar,"


"Kamu makan siang dulu ya,"


Saat akan digendong turun dari ranjang Senata, Ia malah kembali berbaring dan berguling-guling, hampir saja terjatuh kalau Senata tidak cepat-cepat menahannya. Nenek tiga cucuu itu berseru panik dan bergerak cepat menghalangi tubuh kecil cucunya.


"Kamu buat Grandma panik. Aduh bahaya kalau sampai jatuh. Kebetulan di bawah tidak ada kasur,"


Auristella berguling ke dinding. Dan Senata segera menarik kasur di bawah ranjangnya, jika sewaktu-waktu Auristella mengerjainya lagi, sudah ada pelindung.


"Ayo, makan siang. Sudah disiapkan Mommy. Buah untuk mu juga belum dimakan,"


Senata menjulurkan tangan dan Auristella malah terlungkup dengan bagian bawah tubuhnya naik ke atas persis seperti kelinci posisinya. Melihat itu Senata terkekeh. Auristella merajuk hingga tidak mau menatap wajahnya dan malah sibuk sendiri.


"Merajuk nya dengan Mommy. Kesal ya karena tidak diajak?"


Senata mendekati Auristella lalu menepuk-nepuk punggung Auristella dan tak lama badannya yang tadi sedikit terangkat menjadi turun kembali. Ditolehkannya kepala ke arah Senata, dan ternyata dia tertidur lagi.


Senata yang melihatnya takjub. Memang pada dasarnya masih mengantuk tapi bangun hanya untuk mencari Mommy-nya. Jadi ditepuk-tepuk sebentar punggungnya dia langsung terlelap.


******


"Itu aku yang mencetak goal,"


"Aku!"


"Aku, coba tanya teman-teman yang lain,"


Adrian dan Revin tengah ribut masalah siapa yang baru saja mencetak goal di permainan futsal mereka kali ini. Karena mereka berdua menendangnya bersama dan bola langsung masuk. Bingung juga bagaimana cara mengetahui siapa yang berhasil mencetak goal.


Penjaga gawang mengatakan, "Kalian berdua yang memasukkan bola ke gawang ku,"


"Kenapa bisa begitu ya?"


"Kompak sekali kalian,"


"Pantas saja bersahabat baik. Ternyata sangat kompak,"


"Pokoknya aku!" Adrian yang keras kepala dan egois mulai kembali lagi.


"Aku! hanya aku!"


"Kalau begini terus, kapan kita lanjut bermain lagi?"


Revin menendang udara karena kesal. Ia kesal karena Adrian seperti itu perangainya.


"Adrian, tidak boleh seperti itu pada teman. Kamu egois karena tidak mau mengakui bahwa Revin juga turut serta mencetak goal,"


Andrea menegur adiknya dengan wajah datar, pertanda kesal sekali dengan Adrian yang tidak menghargai usaha temannya.


"Mana ada ceritanya dua orang memasukkan bola ke gawang. Dimana-mana hanya satu orang,"


"Adrian keluar saja dari permainan," kata Andrean yang langsung ditolak tegas oleh Adrian dengan gelengan kepala.


"Tidak mau!"


"Ya sudah---" saat Revin akan mengalah, Adrian menyanggahnya.


"Kita berdua yang memasukkan bola ke gawang. Bukan hanya aku," akhirnya Ia mengusir ego-nya.


"Sekarang kita lanjut bermain lagi,"


********


Kedua anaknya ribut masalah bola, sementara Devan berkutat menghilangkan rasa sakit diperutnya. Ia sudah meminta disiapkan obat oleh Ferro yang tahu betul setiap obat yang biasa dikonsumsi Devan bila sakit ini dan itu.


Devan sudah beberapa kali bolak balik ke kamar mandi hanya untuk buang air besar dan muntah-muntah. Ferro sampai dibuat bingung karena tidak biasanya obat itu belum bereaksi padahal sudah diminum sejak tadi.


"Kita ke dokter saja, Tuan."


Devan yang biasaya jarang sekali tidur di kamar yang berada di ruangannya, kali ini terpaksa berbaring.


"Aku tidak kuat untuk berjalan, Ferro."


"Kita bisa panggil ambulance,"


Cepat-cepat Ferro menghubungi rumah sakit terdekat agar segera mengirimkan perawat dan ambulance nya.


"Jangan beri tahu Lovi,"


"Baik, Tuan."


Di tengah rasa sakitnya, Ia masih memikirkan perasaan istrinya yang pasti akan panik luar biasa bila mengetahui kondisinya saat ini.


Tak perlu tunggu waktu lama, yang ditunggu pun tiba. Seketika kantor Devan jadi ramai dengan desas-desus tentang Devan yang tiba-tiba saja jatuh sakit di kantor. Setelah Devan diangkut ke dalam ambulance bersama Ferro, barulah seseorang yang sedari tadi memperhatikan dalam diam menyunggingkan senyum sinisnya.


*******


"Sebanyak itu, Lov?" Rena menatap banyaknya telur yang dibeli Lovi. Lovi mengangguk dan kembali fokus menatap satu persatu bahan makanan.


"Adrian lagi gemar-gemarnya makan telur,"


Rena tertawa dan mengingat kembali kejadian beberapa hari lalu dimana Adrian dan Auristella rebutan telur yang direbus oleh Lovi. Sampai akhirnya Adrian harus mengalah karena adiknya mengeluarkan senjata yaitu tangisnya.


"Itu telur punya aku. Kenapa kalian yang rebutan sih?" ujar Andrean dengan geram.


"Ini buat aku, Auris!" Adrian tak mendengarkan ucapan kakaknya dan sibuk berebut dengan adiknya.


"Dimana telur yang lain, Lov? memang stok sudah habis?"


Lovi mengangguk pelan. "Aku baru menghabiskan telur untuk buat kue,"


"Tidak ada cadangan?"


"Tidak, yang cadangan pun sudah aku habiskan karena kue yang sebelumnya gagal alias tidak jadi kue malah jadi bubur,"


Devan berdecak mengetahui sikap istrinya itu. Terlalu memaksakan diri sampai membuat kue beberapa kali. Padahal bisa beli kalau memang sedang menginginkan kue.


"Minta tolong belikan,"


"Ah sudahlah. Semua maid sedang makan juga, memang kita saja yang mau makan? jangan ganggu mereka. Adrian mengalah pada adikmu. Nanti Mommy belikan telur yang banyak kalau perlu segudang,"


Adrian mendengkus kesal. Tapi pada akhirnya membiarkan Auristella yang menikmati telur rebus itu. Andrean yang menginginkan telur tersebut sudah mengalah sejak tadi. Begitulah risiko memiliki adik. Padahal dia yang minta telur tapi yang makan adiknya.


"Soalnya Devan juga terlihat kesal padaku, Ma karena menghabiskan telur,"


Lovi tertawa mengingat wajah masam Devan. "Lagipula kamu kan bisa beli kue. Kenapa harus buat sendiri?"


"Aku ingin mencoba buat, Ma. Tapi malah gagal,"


"Sudah habis banyak telur, gagal lagi,"


Lovi tertawa puas mendengar ucapan Rena yang tepat sekali. Biasanya stok telur tiap bulan selalu ada sisa. Bulan kemarin malah habis sebelum waktunya dan maid harus membeli lagi karena esok harinya usai berdebat, Adrian kembali meminta makan telur. Anak-anak Lovi memang seperti itu. Kalau sedang mengidolakan suatu makanan, maka hampir setiap saat ditanyai. Tapi kalau sudah bosan, beda lagi ceritanya.


"Sayuran dibanyaki, Lovi."


"Iya, Ma."


"Auris sepertinya lebih suka sayur daripada kedua kakaknya,"


"Iya, Adrian jarang suka makanan yang sehat-sehat. Tapi kalau cokelat, permen, dan semua yang bisa membuat dia sakit pasti suka sekali,"

__ADS_1


"Persis Devan dulu. Sampai butuh waktu satu jam agar dia mau menghabiskan sayuran, tapi kalau permen kapas bisa habis dalam waktu satu menit,"


__ADS_2