
Hari ini mansion keluarga Devan disulap menjadi studio untuk foto. Keluarga kecil Devan akan menjalani photoshoot. Terakhir kali mereka melakukannya saat Auristella baru lahir. Sekarang, Auristella sudah mendekati usia satu tahun sehingga Devan ingin ada foto terbaru disetiap masa pertumbuhan anak-anaknya.
Konsep yang digunakan beragam. Mulai dari klasik, monochrome, full colour, sampai cosplay menjadi karakter di dalam game yang saat ini sedang digemari oleh Adrian dan Andrean.
Yang paling sulit untuk diajak berpose tentu saja anak Lovi dan Devan yang paling bungsu. Butuh perjuangan esktra agar Ia mau menatap kamera. Auristella sibuk dengan dunianya sendiri padahal fotografer sudah siap dengan kameranya.
Dan seperti biasa, Adrian paling tidak sabar menghadapi adiknya itu. Ia lelah menunggu Auristella siap. Mulutnya terasa kebas karena terlalu lama berekspresi, tetapi Auristella benar-benar tidak pengertian.
"Ayo, Auristella. Lihat sini, Sayang!"
Kedua neneknya berada di balik fotografer, berusaha menarik perhatian Auristella yang sedari tadi menatap ke arah lain.
"Aku paling malas kalau sudah ada pemotretan seperti ini," cibirnya. Devan mendengar itu. Ia memeluk Adrian agar lebih pintar lagi dalam menahan kesabaran.
"Okay, bagus. Tetap ke arah sini, Auris."
Lovi membantu mengarahkan dagu anak dalam pangkuannya itu untuk menatap lensa yang sudah siap membidik mereka.
"Berhasil!" seru fotografer mereka dengan senang. Ia lega, keluarga kecil Devan pun lega. Akhirnya selesai juga membujuk Auristella untuk melihat ke arah kamera. Ini tantangan paling berat kalau melibatkan anak kecil dalam pemotretan. Saat Adrian dan Andrean masih seusia Auristella pun tidak berbeda jauh perilakunya. Bahkan sampai sekarang juga masih sulit untuk diatur. Tadi saja mereka sudah berkali-kali meminta pada Devan untuk mengakhiri sesi foto-foto itu. Alasannya sudah lelah tersenyum padahal sedari awal, semua pihak membebaskan Andrean dan Adrian untuk berekspresi. Tidak disuruh untuk selalu tersenyum, sesuai dengan keinginan mereka saja.
Tetapi Devan dan Lovi senang melakukannya. Karena ini akan menjadi kenangan ketika mereka sudah besar nanti. Di dalam potret itu semua momen tidak akan pernah terulang lagi.
"Lihat hasilnya, Devan. Bagus semua,"
Devan menghampiri Lovi yang sedang melihat satu persatu potretan mereka tadi. Ia tersenyum sendiri ketika melihatnya.
******
Adrina baru saja mencuci tangannya sebelum menikmati bekal yang di bawa. Keempat temannya sedang mengambil bekal masing-masing di loker mereka.
Saat menyantap tom yam yang menjadi bekal makan siangnya dari sang Mommy, Sheva, lidah Adrina langsung terasa panas terbakar. Rasanya benar-benar pedas. Tidak biasanya Sheva lalai seperti ini. Ia tahu bahwa Adrina tidak begitu menyukai pedas. Tidak mungkin Mommy-nya lupa.
Adrina bangkit dan karena rasa pedas itu terlalu menyiksanya, Adrina sampai memukul meja. Cepat-cepat Ia meraih air minum. Tak lama, semua sahabatnya datang dan kebingungan melihat tingkah Adrina yang wajahnya sudah merah, tidak berhenti mendesis dan minum.
"Adrina kamu kenapa?" tanya Thalia.
"Pedas, Ini terlalu pedas. Ya Tuhan, aku tidak kuat," Adrina mengibaskan tangannya di depan mulut. Adrian yang melihat itu menjadi tidak tega. Ia segera meraih air minumnya lalu menyerahkan itu pada Adrina. Air minum Adrina sudah habis.
"Cepat minum!"
"Tidak, itu punyamu,"
"Tidak apa. Minum saja, cepat!"
Revin, Andrean, dan Thalia kalah cepat dalam membantu Adrina. Mereka ikut meringis melihat Adrina seperti ini. Adrian mengambil buku tulis yang ada di meja Adrina lalu menjadikannya sebagai pemberi rasa sejuk untuk Adrina yang sudah mengeluarkan keringat padahal kelas mereka terdapat pendingin udara yang berfungsi dengan baik.
"Mommy kamu terlalu banyak memberi sambal ya?"
"Tidak, Mommy tidak pernah lupa kalau aku kurang menyukai pedas. Tadi pagi aku sempat mencicipi makanan ini juga dan rasanya tidak pedas sama sekali," Adrina menjelaskan dengan bibirnya yang mulai merah.
"Sepertinya ada yang mengerjai kamu lagi, Adrina."
"Sstt! jangan bicara sembarangan. Ingat kata Ms. Acha kemarin?" Thalia menegur Revin yang baru saja beropini.
__ADS_1
"Kita lapor saja pada Ms. Acha. Entah kenapa aku juga yakin ada yang sengaja mengganggu kamu sejak kemarin,"
"Jangan, aku harus memastikan dulu pada Mommy. Kalau ternyata Mommy yang salah---"
"Kalau kamu sudah sempat mencicipi makanan ini tadi pagi dan rasanya tidak sama seperti saat ini, artinya itu bukan kesalahan Mommy kamu. Ada yang jahat pada kamu, Adrina."
*******
Adrina harus masuk unit kesehatan di sekolahnya karena perutnya langsung sakit setelah sempat mengonsumsi tom yam pedas yang menjadi bekalnya tadi.
Dan Adrian menjelaskan semuanya pada guru mereka, Acha, yang menjadi perwalian kelas Adrian dan Adrina.
Tanpa ada yang dikurangi dan ditambahi, Adrian kembali menceritakan apa yang disampaikan Adrina sebelum Ia jatuh sakit.
Acha lebih concern lagi mencari dalang dari dua kejadian yang dialami Adrina. Setelah menyaksikan rekaman dari cctv di kelas Adrian, Acha langsung bisa mengambil kesimpulan.
Benar, ada yang jahat terhadap Adrina. Ia sampai tega membuat Adrina jatuh sakit. Adrina belum mengetahui pelakunya, Acha sengaja menutupi sebelum pengakuan diucapkan oleh sosok itu.
"Iya, memang aku yang melakukannya, Ms."
"Masalah apa yang terjadi diantara kamu dan Adrina?"
Acha sengaja berbicara hanya empat mata dengan anak perempuan itu. Agar Ia lebih terbuka padanya.
"Hanga ingin, tidak ada masalah apapun dengan dia,"
"Tidak mungkin, pasti ada sesuatu yang membuat kamu seperti itu pada Adrina. Kamu tahu bahwa tindakanmu itu sudah mengganggu kenyamanan Adrina. Sekarang dia sakit. Orangtuanya belum tahu, Ms. sengaja belum berbicara apapun pada mereka sampai kamu mengatakan masalah yang sesungguhnya,"
"Baiklah aku jujur,"
"Di perlombaan kemarin, kelas Adrina menang. Dan aku masih tidak terima,"
"Astaga, hanya karena masalah itu?"
"Dia juga selalu menjadi primadona. Dan aku iri. Aku rasa semua siswi di sini Merasakan hal yang sama. Bedanya, mereka tidak seberani aku dalam bertindak,"
"Ada yang tidak beres dengan kamu, Sheilla."
Rupanya, anak kelas lain yang membuat Adrina merasa diteror selama dua hari ini. Namanya Sheilla, siswi cantik yang juga terkenal dengan kepintarannya, sama seperti Adrina.
Tapi sayang, perilakunya sangat menyalahi aturan dan benar-benar tidak disangka. Anak yang selama ini dianggap manis, malah berbuat jahat karena kalah dalam pertandingan cheerleader tempo hari. Dimana kelas Adrina dan Adrian kompak menjadi pemenang dalam pertandingan sepak bola untuk siswanya dan cheerleader untuk siswinya.
"Aku baik-baik saja, Ms. Aku hanya melampiaskan rasa kesal,"
"Tapi tidak seharusnya kamu seperti itu. Semua siswa di sini berhak untuk mendapat perlindungan. Jadi rasanya sangat wajar bila sekolah mengambil tindakan tegas dengan mengeluarkan kamu dari sekolah,"
"Ms, aku berjanji tidak mengulangi perbuatan itu lagi,"
Acha menghembuskan napas, untuk menahan perasaan marahnya. Adrina adalah anak perwaliannya, Sheilla pun anak didiknya. Tidak bisakah mereka saling melindungi karena biar bagaimana pun keduanya berada di bawah naungan yang sama.
"Ms. akan konsultasikan ini pada psikolog kalian. Kamu harus dipastikan baik-baik saja. Bukan apa-apa, Ms. hanya takut kamu membuat siswa lainnya mengalami hal yang sama seperti Adrina,"
Di sekolah itu bukan hanya fokus pada pelajaran. Mental dan psikis siswanya juga sangat diperhatikan. Setiap ada siswa yang melakukan kesalahan dan mengalami suatu masalah, pasti akan menjalani treatment dari psikolog sekolah lebih rutin daripada siswa lainnya yang dianggap 'baik-baik saja'. Itu untuk menjamin mereka agar bisa kembali menjalani masa kanak-kanak seperti biasanya.
__ADS_1
********
Adrian dan Andrean kebetulan belum dijemput oleh Devan. Adrina pun demikian. Mereka menunggu jemputan masing-masing di ruangan khusus.
"Perutmu tidak sakit lagi?"
"Tidak,"
"Tidak, tapi meringis begitu," Adrian memperhatikan temannya yang bersandar pada kursi seraya memejamkan mata. Sesekali Ia mengusap perutnya sendiri.
"Adrina, sudah dijemput, Sayang."
Ada yang membawa kabar tersebut. Sehingga Adrina langsung bangkit dan dibantu oleh Adrian.
"Aku tunggu di sini ya?" tanya Andrean yang diangguki oleh Adrian. Salah satu guru membantu Adrina berjalan, tak lain adalah Acha, bersama Adrian juga.
"Bisa aku bicara sebentar?"
Acha meminta waktu pada Jino yang kebingungan melihat anaknya dipapah seperti itu. Setelah Adrina masuk ke dalam mobil bersama Adrian, Jino mengikuti Acha untuk berbincang di kursi yang posisinya tak jauh dari mereka saat ini.
"Ada apa dengan Adrina? kenapa dia terlihat kesakitan?"
"Sebelumnya mohon maaf, Tuan. Adrina baru saja diperlakukan kurang baik oleh temannya,"
"Lagi?" Jino terperangah kaget. Kemarin Ia dan Sheva dibuat terkejut dengan laporan Acha yang mengatakan bahwa tas Adrina dimasuki sampah-sampah.
"Bekal Adrina dibuat menjadi sangat pedas dan perut Adrina langsung sakit,"
"Astaga, siapa yang melakukan itu?"
"Sheilla, siswa kelas lain, Tuan."
"Sekolah sudah bertindak tegas belum? ini sudah membahayakan anakku. Aku harap sekolah bisa lebih bijaksana,"
"Sudah bicara empat mata tadi. Dia berjanji untuk tidak mengulanginya lagi. Dan akan ada treatment khusus dari psikolog sekolah untuk memastikan kondisi Sheilla dan juga Adrina sendiri. Sekolah sepakat bila memang dia mengulanginya lagi, maka terpaksa harus dikeluarkan,"
Jino masih tampak geram dengan berita yang baru saja didengarnya. Anak tunggalnya dibuat sakit. Dia membentak saja hampir tidak pernah. Dan Sheilla berani membuat Adrina sakit? Benar-benar sulit untuk dimaafkan.
"Mohon kepercayaannya, sekolah akan melakukan yang terbaik untuk semua siswa,"
Jino bangkit lalu mengatur napas. Ia mengangguk sebelum akhirnya undur diri dari hadapan Acha.
"Terima kasih atas perhatiannya. Semoga kejadian ini tidak terulang lagi,"
Adrian menemani Adrina di dalam mobil. Adrian menjelaskan pada Adrina bahwa Jino sedang bicara dengan guru mereka oleh sebab itu Jino belum bisa membawanya pulang, Adrina harus sabar.
"Sakit sekali perutku. Daddy lama,"
"Itu Daddy-mu. Okay, aku keluar ya. Cepat sembuh, Adrina." seru Adrian yang bisa melihat dari jendela mobil ketika Jino sudah mendekat.
Adrian keluar dari mobil bertepatan dengan Jino yang akan masuk ke dalam mobil. Anak itu tersenyum menyapa. "Hai, Uncle."
"Hai, terima kasih sudah menjaga Adrina ya. Uncle pulang dulu,"
__ADS_1
"Iya, Uncle. Segera pulang. Adrina sudah kesakitan lagi,"