My Cruel Husband

My Cruel Husband
Keberangkatan Lovi


__ADS_3

Devan dikejutkan dengan ucapan Raihan yang menurutnya sangat tidak masuk akal. Lelaki tua itu menginginkan Devan yang menggantikannya untuk hadir di Rapat besar bersama para Relasi yang akan berlangsung di Santorini, Yunani.


Raihan terpaksa menyerahkan undangannya pada Devan mengingat Ia juga mempunyai jadwal yang sangat padat. Banyak pekerjaannya yang tidak bisa di tunda. Devan adalah penerusnya kelak, Oleh sebab itu mulai saat ini Raihan akan membiasakan putranya itu untuk berdaptasi. Walaupun jam terbang Devan pun tidak kalah menakjubkan dalam mengepakkan sayap kemampuan bisnisnya. Raihan yakin Devan bisa menjadi lebih baik darinya.


"Kamu tidak mungkin membawa serta Elea,"


Raihan bersikeras dengan keinginannya. Lovi yang harus menemani Devan. Ia tidak setuju bila Elea yang ada di samping putranya ketika bertemu dengan semua kerabat kerjanya. Bukan hanya tentang kondisi Elea saat ini. Namun status Lovi yang seharusnya lebih berhak mendampingi Devan kemanapun Ia pergi.


"Lebih tidak mungkin bila aku harus bersama Jalang itu, Pa," Devan beragurmen. Menatap lurus pada sorot manik yang sama dengan miliknya itu.


"Dia akan menyulitkanmu, Devan!" Raihan berusaha meyakinkan putranya dengan kenyataan yang kemungkinan bisa membuat Devan berpikir ulang sekaligus dibakar emosi.


"Tidak sama sekali. Gadisku tidak akan menyulitkanku. Lain hal dengan Perempuan itu,"


"Papa berharap kamu menuruti papa kali ini, Devan. Setidaknya untuk mencegah jatuhnya harga dirimu,"


"Pa!" Devan membentak Raihan dan maju menantang Papa nya itu.


Devan tidak suka mendengar kalimat Raihan sejak tadi. Raihan selalu merendahkan Elea di depannya dan itu semua akan membuatnya ikut merasakan sakit. Raihan menghina Kekasihnya, Pujaan hatinya. Devan tidak bisa berdiam diri ketika Elea dijatuhkan. Karena Ia sangat mencintai perempuan itu sampai kapanpun.


"Papa mengatakan hal yang sebenarnya,"


"Ada apa ini?" Kehadiran Rena menginterupsi keduanya yang sedang berdebat. Rena menatap kedua lelaki yang disayanginya itu secara bergantian.


"Apa yang kalian bicarakan?"

__ADS_1


Melihat tatapan keduanya, Rena yakin ada sesuatu yang mengundang suasana saat ini menjadi tegang.


"Bukan Elea yang akan menemanimu di sana. Tapi Lovi," Raihan menutup pembicaraannya dengan penuh ketegasan tak ingin dibantah.


Saat mulut Devan akan menjawab, Raihan membunuh Devan melalui sorot matanya seraya berucap dengan penuh ancaman, "Kamu harus melakukan itu, Devan! Hanya dua hari kalian di sana,"


*********


Lovi dan Devan memasuki pesawat pribadi milik Devan. Devan berjalan di depan mendahului Lovi. Begitu sampai di dalam Pesawat, Lovi dibuat takjub dengan keadaan di dalamnya. Benar-benar jauh lebih sempurna dari apa yang dibayangkan oleh Lovi. Kenyaman yang dipersembahkan sangatlah menawan.


Pramugari cantik dengan tinggi semampainya itu mempersilakan Lovi untuk duduk. Sementara Devan masuk ke dalam sebuah ruangan meninggalkan Lovi yang sudah tidak sabar ingin melihat pemandangan dari jendela pesawat. Rasanya sudah lama Lovi tidak menaiki pesawat terbang. Dulu, Menatap indahnya langit dari kaca jendela pesawat adalah bagian Favorit Lovi bila sedang bepergian menggunakan transportasi udara tersebut.


"Siap untuk menimati perjalan romantis ini?"


"Jangan mengejekku seperti itu! Lakukan saja tugasmu dengan baik,"


Devan berjalan menuju pantry nya dan memilih untuk menyesap kopi hangat di sana. Sementara Yeno masuk ke dalam kokpit beserta satu orang temannya yang bertugas sebagai Co pilot.


Devan memilih untuk bergelut dengan Gadget nya seraya menghabiskan Kopinya di pantry daripada bergabung dengan Lovi yang saat ini sibuk dengan apa yang dilihatnya. Perempuan itu sedang merekam baik potret indahnya langit dalam memori kepalanya. Barangkali Lovi tidak bisa lagi menikmati hal seperti ini dikemudian hari.


"Kenapa saat aku tidur kamu sudah tidak ada di sampingku lagi, Devan?"


Devan tersenyum pada kekasihnya yang sedang memasang raut cemberut di hadapannya. Saat ini, sepasang sejoli itu sedang berada dalam mode panggilan video.


"Maafkan aku, Baby. Aku harus segera sampai di sana. Aku harap kamu bisa mengerti,"

__ADS_1


Elea semakin dirundung kesedihan. Saat matanya terbuka ia tidak menemukan keberadaan Devan didekatnya. Begitu mendapat jawaban dari pekerja Mansion, Ia tidak menyangka kepergian Devan akan secepat itu.


"Hanya dua hari? Janji?"


Devan tersenyum meyakinkan gadisnya yang terlihat sangat menggemaskan dengan sikap manjanya itu.


"Ya, Sayang. Aku berjanji," Jawab Devan seraya mengangguk pasti.


"Mengapa Papamu tidak mengizinkan aku untuk ikut denganmu? apa karena aku cacat, Devan?"


Devan melihat kesedihan di manik mata itu. Elea pasti merasa kecewa dengan keputusan Raihan yang lebih memilih Lovi daripada dirinya untuk pergi bersama Devan.


"Haruskah Lovi yang ikut denganmu? Walaupun aku tahu kalau dia istrimu,"


"Aku tidak bisa berbuat apapun, Elea. Aku mohon kamu jangan bersedih di sana. Aku akan merasa tidak tenang, Sayang," Ujar Devan sangat lembut membuat siapa saja yang mendengarnya akan terbuai. Devan hanya bisa menghibur Elea. Adanya jarak membuat mereka tidak bisa melalukan hal lebih selain bertemu sapa melalui Telepon.


"Kamu tidak akan melakukan apapun dengan Lovi di sana? Maksudku..."


Devan membeku. Elea tidak tahu apa yang ia lakukan selama ini. Saat ini Devan di serang perasaan bersalah.


"Tidak akan. Aku bisa menjaga hatiku,"


***********


Heleh preddd si Devan ngomong paansi😒gk sesuai sm kenyataan kyknya wkwkwkw. Oiya aku mo bilang mksh byk bwt yg aktif coment, like, vote, fav sampe skrg. jgn prnh bosen bikin aku semangat yaa para readerskuuuu heheehe.

__ADS_1


__ADS_2