My Cruel Husband

My Cruel Husband
Mereka membutuhkanmu


__ADS_3

"Lovi, tidak perlu! biar aku saja,"


Lovi menggeleng tegas. Dan berusaha mempertahankan alat pel di tangannya. Agar Fifdy tidak bisa mengambil alih tugasnya.


"Belum apa-apa bajumu sudah basah, Lovi."


Lovi pun melirik pakaiannya sendiri. Bahaya jika Ia berlama-lama dalam kondisi seperti ini. Bisa-bisa dia sakit.


"Biarkan aku menyelesaikan ini dulu,"


Fifdy tak bisa lagi menghalangi keinginan perempuan beranak dua itu. Dengan cekatan Lovi membersihkan kekacauan yang telah diperbuatnya.


Lovi mengerjakan semuanya dalam diam. Ia tidak sadar kalau Fifdy memperhatikannya sejak tadi. Lelaki itu tak henti memuji Lovi yang tidak kaku sama sekali menyentuh alat pel lantai. Padahal jika dilihat dari penampilan dan kehadirannya di Rumah sakit megah ini, Fifdy yakin Lovi bukanlah orang sembarangan. Sahabatnya telah menjadi orang berpengaruh di dunia. Bukan lagi upik abu, seperti kata teman-temannya setelah mengetahui fakta kalau Ayah Lovi bangkrut sehingga melakukan tindak kejahatan korupsi dan menjualnya.


Fifdy yakin kalau peran serta lelaki yang tempo hari mengusirnya ketika sedang asik berbincang dengan Lovi adalah salah satu penyebab berubahnya sosok Lovi dimata semua orang.


"Sudah selesai!" seru Lovi lega setelah semua lantai yang tadi dikotorinya telah bersih seperti semula.


"Sekali lagi maafkan aku, Fifdy."


Fifdy tersenyum maklum. Melihat bagaimana usahanya dalam bertanggung jawab, sampai bajunya basah seperti itu saja sudah membuat Fifdy luluh, tidak jadi kesal. Kalau bukan Lovi yang melakukannya mungkin Ia sudah dongkol setengah mati. Mengingat jam kerjanya sudah habis dan seharusnya Ia sudah pulang sekarang.


"Tidak perlu minta maaf lagi. Sekarang lantainya sudah bersih,"


"Bajumu benar-benar basah," sambungnya seraya melirik lengan kaus yang dikenakan oleh Lovi.


"Kamu kenapa datang ke sini?"


"Anakku-- OH ASTAGA!"


Lovi baru ingat kesalahan yang lebih fatal daripada membuat lantai Rumah sakit kembali kotor.


"Anakku sakit, dan aku harus ke ruangannya sekarang. Sampai jumpa lagi, Fifdy!"


Lovi melambaikan tangannya dan berlari secepat mungkin. Ia tidak punya banyak waktu lagi. Memikirkan nasib anaknya sekarang saja sudah membuat Lovi tidak tenang.

__ADS_1


"Kenapa dengan anaknya?"


Fifdy bertanya pada angin malam yang menerpanya. Ia belum mendapat jawaban tapi Lovi sudah meninggalkannya.


************


Belum sampai di depan ruangan anaknya, Lovi melihat Dokter keluar dari dalam. Ia langsung menghampiri dokter dengan langkah cepat.


"Dokter?"


"Si sulung menangis mencari anda. Jangan terlalu jauh jika keluar dari ruangan, Nyonya. Mereka membutuhkanmu,"


Walaupun dokter bernama Lastiko itu mengatakannya dengan sangat lembut, namun Lovi merasa sedikit tersentil. Lagi-lagi Ia melakukan kesalahan.


"Maaf, Dokter."


Hanya itu yang bisa Ia jadikan sebagai jawaban. Memangnya apa lagi yang harus Ia katakan setelah membuat anaknya menangis? Lovi terlalu bodoh. Tidak heran, Devan begitu membencinya. Tidak ada yang bisa dibanggakan dari Lovi.


"Mereka sudah aku anggap sebagai cucuku sendiri. Kau tau, Raihan pun menganggap cucuku sebagai miliknya. Aku sangat menyayangi mereka," ucap Lastiko yang terdengar sangat tulus. Mendengar nama Raihan, Lovi tersenyum getir. Ia sudah membuat Raihan malu karena memiliki menantu seceroboh dirinya.


Setelah pamit pada dokter yang menangani anaknya sekaligus menjadi sahabat baik dari Raihan, Lovi langsung masuk ke dalam ruangan khusus yang penuh dengan segala fasilitas mewah tersebut.


Lovi tersenyum begitu melihat anak-anaknya yang menatap riang ke arahnya. Mereka terlihat ingin berteriak senang, namun mulut mereka terasa sakit. Sehingga Adrian hanya bisa memajukan bibirnya, kecewa tidak bisa bersorak gembira seperti biasa saat melihat Lovi berada di sisinya.


"Kalian mencari Mommy?" tanya Lovi setelah menyematkan sebuah kecupan di dahi kedua anaknya.


Mereka mengangguk kemudian menunjukkan raut manja yang begitu menggemaskan.


"Maafkan, Mommy ya. Mommy janji tidak mengulanginya lagi,"


' kalau sampai ini terjadi lagi, sepertinya menghukum diriku sendiri adalah pilihan yang tepat, '


"Nona sudah makan? ada apa dengan baju Nona? segera berganti baju, Nona. Nona bisa sakit,"


Ah, Lovi masih mempunyai orang yang memperhatikannya. Ia tersenyum seraya mengucap syukur di dalam hati. Serry benar-benar menjadi keluarganya sekarang, begitupun Netta yang rutin menghubungi Serry guna menanyakan keadaan mereka di Rumah Sakit.

__ADS_1


Lovi mengusap hidung Andrean. Sementara Adrian sudah mulai terpejam. Si Bungsu itu hanya bisa terpejam kalau di temani oleh orang-orang yang dekatnya dengannya. Terutama Lovi dan Devan. Ketika orangtuanya tidak ada dikarenakan beberapa alasan penting, maka membutuhkan waktu cukup lama untuk Serry menidurkannya.


Oleh karena itu setiap Devan mengajak Istrinya untuk perjalanan bisnis, Lovi selalu mempertimbangkan dengan matang. Kalau kehadirannya memang tidak benar-benar diperlukan, maka Lovi memilih untuk tetap tinggal bersama anak-anaknya.


"Mommy ganti baju dulu,"


ucapannya itu membuat Adrian kembali membuka mata. Melihat anaknya yang menatap tidak percaya, Lovi terkekeh.


"Hanya sebentar, Sayang. Mommy benar-benar ingin berganti baju di toilet itu,"


agar mereka tenang, Lovi menunjuk toilet yang letaknya di ujung ruangan.


"Boleh Mommy ganti baju?"


dengan kompak mereka mengangguk. Mereka memang sangat pengertian sebenarnya. Hanya diwaktu-waktu tertentu saja mereka manja. Lagipula untuk seusia Andrean dan Adrian, itu semua masih wajar.


Lovi bergegas mengambil pakaian tidurnya setelah itu masuk ke dalam toilet. Lovi hanya membersihkan tubuhnya secara singkat tanpa ingin berlama-lama meninggalkan kedua anaknya itu.


Tadi Ia izin untuk mengganti pakaian. Khawatir mereka kembali merengek saat mengetahui kalau Ia juga mandi.


"Ayo tidur," Serry mengajak kedua anak yang dirawatnya sejak bayi itu agar menutup mata. Ia menarik selimut agar menutupi sebagian tubuh mereka yang sebenarnya sangat kebal terhadap rasa dingin. Sama seperti Devan, anak-anak itu lebih tahan dingin daripada Mommy mereka. Dan ketika dihadapkan pada situasi yang panas, mereka tidak segan untuk rewel membuat Mommynya sakit kepala. Sampai-sampai saat salah satu pendingin ruangan di kamar mereka tidak berfungsi, kedua anak kembar itu tidak bisa tidur siang. Padahal masih ada beberapa pendingin udara yang berfungsi dengan baik.


"Oh menunggu Mommy ya?"


telunjuk Serry mengarah pada keduanya. Tebakan Serry benar, oleh karena itu mereka tersenyum.


Tak lama mereka mulai merengek. Entah apa yang membuat keduanya tidak nyaman. Mungkin karena kondisi tubuh mereka yang sedang tidak sehat, hingga sedikit-sedikit mereka ingin menangis. Menunggu Lovi berganti baju saja, mereka tidak sabaran.


Di dalam kamar mandi, Lovi sedang mengenakan pakaiannya. Ia menghela napas pelan saat suara Adrian yang merajuk mulai terdengar.


"Kenapa anakmu cengeng sekali, Devan? pingsan aku lama-lama,"


*************


Bsk aku up nya 1 ep aj yaaa. Krn kl double up, aku perhatiin vote+coment nya sedikit :(

__ADS_1


kelean kok tegaaa :') wkwkwk


__ADS_2