My Cruel Husband

My Cruel Husband
Kedatangan teman bermain


__ADS_3

Devan membiarkan Lovi, Jane, dan Adrian ke kasir. Ia akan menunggu di luar. Lelaki yang menjadi kasir melihat Lovi sangat intens, terlihat sekali kalau Ia mengagumi Lovi.


Devan yang melihat itu, langsung berdehem keras. Akhirnya niat untuk keluar dari tempat membeli buah tidak jadi terlaksana karena ada lelaki yang mata nya liar menatap sang istri.


"Jaga matamu!"


Lelaki itu terkesiap. Tadi Ia tidak fokus bekerja dan malah sibuk memandang Lovi yang sedang mengeluarkan semua belanjaan dari troli untuk ditotal dibantu juga dengan Jane.


Jane dan Lovi memandang Devan bingung. Mereka terlalu sibuk dengan kegiatannya, tidak tahu kalau Devan sedang menegur lelaki itu karena sebab apa.


Adrian menatap lelaki itu. Karena Ia juga tahu bahwa Mommy nya baru saja diperhatikan. "Jangan menatap wanita yang sudah tua, Uncle. Mommy ku ini sudah tua, Uncle masih muda. Cari yang lain untuk ditatap sepuasnya," ujar Adrian yang membuat mereka semua terkejut dan tidak menyangka kalau anak seusia Adrian sudah bisa menegur tegas seperti itu.


Lovi menatap anaknya protes. Ia dikatakan tua, sembarangan saja anaknya ini. Ia pernah mengatakan Devan tua dan Devan merajuk. Ternyata seperti ini rasanya dikatakan tua.


Tapi ia bersyukur karena anaknya sedang melakukan perannya sebagai anak yang begitu protektif dalam menjaga dirinya.


"Dia memiliki tiga penjaga yang kejam. Jangan berani bertindak lebih!" ancam Devan. Ia, Andrean, dan Adrian akan menjaga Lovi dan Auristella sampai kapanpun. Karena mereka berdua adalah wanita yang sangat berarti dalam hidup ketiganya.


Lelaki itu cepat-cepat melaksanakan tugasnya dengan baik karena tubuhnya sudah gemetar. Tatapan Devan sangat menusuk. Devan bahkan tetap berdiri di samping sang istri, tidak jadi keluar.


Kejamnya mulai keluar saat miliknya diusik. Devan akan selamanya seperti itu. Sekalipun hanya memperhatikan, tanpa menyentuh. Hanya Ia yang boleh menikmati pesona Lovi.


Adrian mengusir Jane dari sisi sang Ibu agar Ia bisa berdiri di samping Lovi. Ia dan Devan sudah seperti algojo yang siap memberi pelajaran bila lelaki itu mengulangi kesalahannya.


"Kamu masuk mobil lebih dulu sana,"


"Adrian juga," tambah Lovi karena Ia merasa seperti narapidana bila Devan dan Adrian berdiri di sisi tubuhnya.


Jane menahan tawa saat melihat Lovi kaku seperti itu. Ia menggeleng pelan. "Anak dan Ayah sama saja. Posesif sekali," cibirnya.


Setelah selesai ditotal, Devan segera memanggil anak buahnya untuk membawa semua barang belanjaan ke dalam mobil yang sengaja dibawa untuk mengangkut.


Mereka keluar dari pusat penjualan buah, kasir yang parasnya tampan itu masih memperhatikan. Kebetulan yang belanja hanya sedikit dan dibagiannya tidak ada lagi yang mengantre. Kecuali di bagian teman-temannya yang juga sedang bertugas menjadi kasir.


Keluar dari pusat perbelanjaan, Jane sibuk tertawa dan itu membuat Devan mendengus.


"Perutku sakit tertawa terus,"


"Siapa yang menyuruhmu tertawa? dasar gila!" maki Devan pada sepupunya yang tertawa geli dari tadi.


Adrian juga kesal karena Ia tahu Jane sedang menertawakannya dan juga Devan. Ia mendorong Jane dan Jane semakin terbahak.


"Kalian seperti algojo tadi,"


"Aku juga berpikir begitu," sahut Lovi yang tak bisa menahan tawanya juga.


"Kalian sangat posesif," tambah Jane.


"Tugas aku dan Daddy memang menjaga Mommy! dan kami bukan algojo!"


"Tapi---"


"Sekali lagi kamu mengejek, aku tinggal kamu, Jane. Dan aku pastikan tidak akan ada yang menjemputmu," ancaman Devan berhasil membuat Jane bungkam. Kali ini Adrian yang tertawa. Bahkan Ia menjulurkan lidah ke arah Jane, bergantian mengejeknya.


"Rasakan akibatnya,"


******


"Kamu mau pindah atau bagaimana, Kayla?"


"Kita akan menginap di mansion Adrian 'kan?"


"Ya, tapi harus sebanyak ini membawa mainan? kita ini mau naik mobil, bukan pesawat,"


"Kembalikan semuanya, Kayla!" titah Jo, Mamanya. Jhon akan mengembalikan semua boneka, mainan ala-ala koki dan lainnya agar sang anak tidak membawanya ke mansion Adrian. Mereka memang akan menginap menjelang hari bahagia Jane esok tapi bukan berarti semaunya membawa mainan.


Kayla melompat-lompat seraya merengek tidak mengizinkan sang ayah untuk mengembalikan mainannya ke playground.


"Aku mau main di sana, Mama."


"Jangan semuanya kamu bawa, Kayla. Kita tidak mau pindah ke sana, hanya menginap,"


"Mobil kita 'kan besar. Lagipula yang aku bawa ini hanya sedikit---"


"Sedikit? kamu yakin hanya sedikit? Mama yakin mobil akan penuh dengan semua mainan itu,"


"Ada mainan nya Auris juga di sana, Kay. Untuk apa bawa banyak-banyak?" ujar kakaknya, Genta. Keyla tetap menggeleng dan menyusul Jhon ke playground.


"Papa, tidak boleh begitu ya. Papa harus dukung aku! aku mau semua mainan yang sudah aku siapkan tadi dibawa semuanya,"


"Tidak boleh! kamu harus dengarkan Papa! Meskipun kita menginap hanya satu malam, tapi pakaian yang dibawa oleh Mama mu itu bukan main jumlahnya. Gaun untuk acara, baju tidur, baju untukmu bermain, baj--"


"Ayo cepat, Jhon. Kita harus segera berangkat,"


Jo juga membantu suaminya mengangkut kembali mainan sang anak yang entah sejak kapan sudah berada di depan pintu rumah, siap untuk dibawa ke dalam mobil. Anak itu menyiapkannya tanpa bicara dulu.


"Mama, Papa jahat! aku mau bawa mainan masa dilarang?!"


"Boleh bawa, tapi tidak banyak. Mengerti tidak?!" nada bicara Jo sudah mulai tegas dari sebelumnya. Nyali Kayla menciut. Akhirnya Ia berlari keluar dari rumah dan memasuki mobil.


"Jadi mainan apa yang mau dia bawa?" tanya Jhon pada sang istri.


"Aku tidak tahu,"


"Ya sudah lah, tidak usah bawa sekalian,"


"Nanti dia semakin merajuk, Sayang." ucap Jhon pada istrinya. Jo menggeleng yakin. Kalau sudah tiba di mansion, rajukan Kayla pasti akan hilang. Karena Ia akan bertemu dengan para sepupunya dan mereka akan bermain bersama.


"Genta tidak usah membawa mainan ya?"


"Tidak usah, kalau aku mau main, aku pakai mainan Andrean atau Adrian saja,"


"Okay, pintar."


Genta memastikan semua barang bawaan sudah masuk ke dalam bagasi mobilnya. Beginilah sulitnya menginap di suatu tempat bila membawa anak. Barang yang dibawa tidak sedikit. Apalagi bila ingin menghadiri suatu acara besar, pasti pakaian yang dibawa juga lebih banyak. Mereka bahkan membawa satu koper besar untuk pakaian pesta dan juga satu koper yang ukurannya lebih kecil untuk baju-baju non formal yang akan digunakan oleh mereka selama bersantai.


*****


"Sandra, pinjamkan Auris sebentar. Mengalah pada adik!"


"Tidak mau, ini 'kan punya aku, Bunda."


"Ya sudah, kita pulang saja kalau begitu."


"Ck! ya sudah, ini aku pinjamkan. Jangan dirusak ya!" Ia memperingati Auristella yang langsung mengangguk patuh.


Auristella memeluk squishy besar yang bentuknya kepala kartun kucing kesukaan Sandra, Hello Kitty.

__ADS_1


Auristella gemas hingga mainan itu dicubit-cubitnya. Sandra belum menyadari itu karena Ia tengah disuapi puding buatan Lovi oleh sang bunda.


"Errghh," Auristella menggeram gemas sambil menarik squishy itu. Sandra yang mendengarnya langsung menoleh.


"AAAAA AURIS JANGAN DITARIK NANTI RUSAK!" Sandra berteriak histeris saat telinga hello kitty ditarik oleh adik sepupunya itu.


Auristella segera menyerahkan mainan itu pada pemiliknya. "Giliran sudah begini diberikan padaku. Ah kamu bisanya merusak saja!"


"Tidak usah marah-marah begitu. Yang terpenting tidak koyak 'kan?"


"Tapi tetap saja aku tidak tega melihat telinga si Kitty memanjang dan kisut,"


"Itu bisa kembali lagi,"


"Tidak bisa, Bunda."


"Bisa, ini 'kan squishy." sahut Nindya dan Ia segera memperbaiki squishy anaknya. Ia kembang-kembangkan dan memang tidak bagus seperti di awal.


"Huh! pokoknya aku harus minta ayah belikan lagi. Hey Auris! tahu tidak, squishy ini harganya mahal, belinya juga di luar negeri, bukan di negara kita ini..."


"Ayah membelikan squishy ini saat bekerja dimana, Bunda?" tanya Sandra pada Nindya. Bunda nya itu menghela bahu. "Bunda lupa,"


"Ah Bunda..."


"Bunda lupa. Tanya saja pada ayah," kata Nindya seraya menunjuk sang suami yang sedang berbincang dengan Devan, Zio, Yohanes yang baru tiba dari negeri kincir angin bersama istrinya, Caitlin dan anaknya yang berusia satu tahun bernama Monica.


"Aku harus minta ganti rugi juga pada Daddy mu, Auris."


Auristella mengangguk cepat. Ia melihat Sandra berteriak tadi, jadi takut. Dan raut wajahnya benar-benar terlihat menggemaskan.


Sandra berjalan cepat menghampiri Devan dan ayahnya. Ia akan meminta ganti rugi sekarang.


"Uncle, Auris membuat squishy ku buruk rupa. Uncle harus mengganti nya dengan yang sama persis,"


Devan terkejut saat keponakannya datang-datang langsung menengadahkan tangan padanya.


Sandra juga melakukan hal yang sama dengan sang ayah. "Ayah juga belikan squishy untuk aku. Supaya aku punya dua,"


"Memang siapa yang merusak?"


"Auris, anak uncle yang paling kecil itu,"


"Dimana belinya?"


"Dimana saja, pokoknya harus sama bentuknya, hello kitty. Sebentar, aku ambil dulu."


Sandra pergi ke tempatnya tadi untuk mengambil squishy yang bentuknya sudah tidak bagus seperti sebelumnya.


Devan menggeleng pada Akra. "Ternyata anakmu ceriwis juga ya,"


"Kau baru tahu?"


"Tetap saja tidak seceriwis Adrian,"


Sandra menunjukkan squishy itu pada Devan dan ayahnya. "Lihat, sudah buruk rupa 'kan? tadi cantik sekali. Sekarang malah kisut seperti kulit nenek-nenek karena ditarik-tarik oleh Auris. Uncle, harus tanggung jawab ya."


"Minta belikan pada ayahmu saja. Nanti uncle yang bayar, bagaimana?"


"Tidak boleh! harus Uncle yang beli. Nanti sore kita ke toys store ya,"


"Pada akhirnya kamu akan meminta yang lain pasti," tebak Akra yang sudah hafal betul kebiasaan sang putri kalau sudah dibawa ke toko mainan.


"Tidak apa, uang Uncle tidak akan habis kalau aku dan Adrian membeli banyak mainan,"


"Tidak boleh begitu, Sandra. Kamu---"


"Baiklah, sebelum barbeque party, kita pergi."


"Tidak usah, Devan. Nanti aku yang akan membelinya,"


"Tidak masalah. Anakku sudah merusaknya,"


"Kita sudah jauh-jauh ke toys store masa hanya beli satu mainan? makanya aku akan meminta yang lain nanti. Boleh 'kan, Uncle?"


Devan tersenyum mengangguk. Mereka jarang bertemu dan kalau keponakannya sudah meminta seperti ini, Devan tidak kuasa menolak.


"Kamu akan kena sembur Adrian karena memalak Daddy nya,"


"Aku tidak takut. Adiknya berbuat kesalahan, jadi harus bertanggung jawab,"


"Kayla datang itu,"


Sandra menoleh saat Bunda nya berseru dengan maksud memberi tahunya bahwa sepupu sekaligus teman ributnya sudah datang.


Ia cepat-cepat menyambut. "Kenapa baru datang?"


"Kamu menunggu aku?"


"Hih, terlalu percaya diri."


Genta mengalihkan matanya ke seluruh penjuru mansion. Ia mencari-cari Adrian, Andrean, dan Kenith-kakaknya Sandra.


"Yang lain ada dimana?"


"Adrian tidur. Andrean dan Kenith sepertinya di Playground,"


Jo mendekati Nindya lalu mereka saling memeluk. "Akhirnya kita bertemu lagi ya. Lovi dimana?"


"Dapur, bersama Mamanya."


"Memasak apa dia? kamu kenapa tidak bantu? tujuan kita datang ke sini 'kan untuk saling membantu,"


Nindya mendengus saat ditegur seperti itu. Tanpa diberi tahu, Ia juga mengerti apa yang harus dilakukan. Tapi Lovi menolak kehadirannya di dapur tadi. Lovi meminta Nindya untuk istirahat saja karena baru tiba juga.


Saat Jo memasuki dapur, Lovi tengah sibuk membuat pancake setelah sebelumnya membuat puding.


"Lovi, aku datang."


"Hey, aku menunggumu sejak tadi. Kenapa baru sampai?"


Lovi dan Jo berpelukan. Jo melakukan hal yang sama dengan Senata. Ia juga menyapa maid yang saat ini tengah memasak untuk makan siang.


"Iya, sedikit ada perdebatan sebelum berangkat. Tentang mainan Kayla..."


"Sedang masak untuk makan siang?" lanjutnya.


"Sudah selesai, tinggal menunggu satu menu lagi yang belum matang dan juga pancake ini,"

__ADS_1


"Makan dulu, Jo."


"Aku sudah makan, Lovi. Terima kasih, aku mau memba--"


"Tidak usah, Jo. Ini sudah hampir selesai,"


Usai menaburkan coklat di atas pancake, Ia mengajak Jo untuk keluar dari dapur. Sebelumnya, Ia sudah meminta tolong pada maid agar semua masakan disajikan.


****


Genta memasuki kamar sepupunya. Adrian sedang terlelap di atas ranjang dengan posisi yang begitu nyaman.


Ia membangunkan Adrian dari yang lembut sampai yang terbilang kasar. Telinga Adrian ditarik agar Adrian bangun. Sebenarnya Adrian sudah bangun, tapi Ia sedang mengerjai Genta. Adrian tidak sulit untuk dibangunkan, berbeda dengan Andrean.


"DORR!"


"Astaga,"


Niat hati ingin menjahili Adrian, malah Genta yang dikerjai. Ia terkejut sampai mengusap dadanya. Adrian tertawa puas melihat Genta yang kaget.


"Makanya jangan ganggu aku. Apa kabar dengan jantungmu?"


"Adrian sint---"


"Tidak boleh mengumpat, anak baik. Kamu akan berdosa,"


"Bangun! masa ada tamu malah tidur?!"


Genta turun dari ranjang seraya mencibir. Ia bertolak pinggang menatap kamar Adrian yang sudah lama tidak Ia lihat suasananya.


"Kamu masih satu kamar dengan Andrean?"


"Iya, tapi di rumah ku sendiri, kamarku sedang dibuat."


"Kenapa di mansion tidak dibuat sendiri-sendiri juga?"


"Ngapain? tinggal di sini hanya sementara,"


"Sampai kapan?"


"Entahlah, Daddy tidak pernah menjawab kalau aku tanya seperti itu,"


"Cepat bangun!"


"Aku masih mengantuk,"


"Tidur terus,"


"Cepat bangun, Adrian!"


"Errrgh!" Adrian menggeram seraya bangun. Genta sudah keluar dari kamar sepupunya dan menutup pintu dengan cara dibanting.


"HEYY INI KAMARKU!" Marah Adrian pada sepupunya yang Ia yakin masih bisa mendengarnya.


Genta mendatangi Playground untuk bergabung bersama Andrean dan Kenith yang tengah bermain hockey.


"Aku juga ingin main, boleh tidak?"


"Boleh,"


"Jadi dua lawan satu?" tanya Andrean saat melihat Kenith dan Genta yang sudah siap melawannya.


"Okay aku----"


"Tidak apa, biar lebih seru." Andrean menahan Kenith agar tetap bermain.


"Ngapain kamu membangun kan aku kalau pada akhirnya sibuk bermain?!"


Adrian datang ke playground untuk memarahi Genta yang sudah membuatnya terbangun dari tidur lelapnya.


"Ayo, kita dua lawan dua,"


"Okay, siapa takut?!"


Mereka bermain hockey dan berusaha menjaga pertahanan masing-masing. Terlalu seru bermain sampai terkadang Adrian berteriak riuh karena hampir saja Ia kalah.


"Yang kalah, kita jauhi, tidak boleh bermain bersama."


"Tidak boleh begitu hukumannya," ujar Andrean yang tidak setuju dengan ucapan Adrian.


"Aku tidak mau lanjut bermain kalau seperti itu hukumannya,"


Genta segera keluar dari playground. Ia tidak akan pernah bisa dijauhi oleh para sepupunya. Karena bermain bersama mereka adalah hal yang paling menyenangkan.


Kenith, Andrean, dan Adrian akhirnya menghentikan permainan mereka. Ketiganya mengejar Genta.


Mereka menuruni tangga dengan langkah cepat. Dan hampir saja Kenith terjatuh tapi Andrean dengan sigap menahannya.


Bunda nya di lantai bawah kebetulan melihat Kenith yang hampir celaka. Ia bahkan sudah berteriak khawatir.


Genta sudah tiba di anak tangga terakhir sementara ketiga sepupunya belum.


Adrian mengejek Kenith, "Hadeh kamu seperti orang tua saja pakai acara mau jatuh dari tangga segala. Aku saja---"


GEDEBUG


Belum sempat Adrian melanjutkan ucapannya Ia sudah keburu jatuh dan merosot di tangga.


"ASTAGA ADRIAN," Nindya berteriak lagi tapi kali ini bukan karena anaknya, melainkan keponakannya.


Beruntung kepala Adrian tidak membentur anak tangga. Dan Ia terjatuh dari lima anak tangga hingga sampai ke bawah.


Kenith menahan tawa. Adrian mengatakannya seperti orang tua karena hampir terjatuh dari tangga, sekarang malah dia yang jatuh merosot.


"Ada apa?" tanya Lovi langsung menghampiri Nindya yang berteriak memanggil anaknya.


Adrian menggeleng dan berusaha terlihat santai.


"Tidak apa-apa, I'm okay. Jangan panik begitu, Aunty." ujar Adrian seraya menyembunyikan ringis kesakitan nya. Ada rasa nyeri di lututnya.


"Anakmu jatuh, Lovi. Cepat periksa, barangkali ada yang terluka."


"Errghh makanya jangan---"


"Aku tidak apa, Mommy. Santai dan tarik napas dengan pelan,"


---------

__ADS_1


Aku nulis adegan Adrian jatuh sambil ngebayangin dan tawa sendiri pdhl gk lucu yakk? wkwkwk. Receh bgt aku :(


__ADS_2