
Tiba di mansion, Devan langsung membangunkan istrinya yang tertidur, begitupun ketiga anak mereka.
Devan menyentuh kepala Lovi yang tertidur seraya memangku Auristella yang sangat lelap.
"Lov, bangun. Tidur di kamar,"
Lovi melenguh sebentar lalu mengerjapkan matanya. Ia segera keluar dari mobil sementara Devan mengangkut kedua anaknya. Ia mengatakan akan membangunkan mereka setelah sampai, tapi nyatanya Ia tidak tega. Mereka terlihat kelelahan.
Lovi menggantikan baju Auristella karena pasti Ia merasa tidak nyaman dengan busana pesta nya yang bertema robot perempuan itu.
Lovi menggantikan baju anaknya dengan hati-hati. Devan datang dengan Andrean dalam gendongannya. Ia meletakkan Andrean dengan hati-hati. Kemudian Devan turun lagi untuk membawa Adrian.
Setelah selesai dengan Auristella, saatnya Andrean. Anak sulungnya itu melenguh saat sepatunya dilepas. Tak lama, Andrean terbangun.
"Mommy gantikan bajunya,"
"Aku bisa sendiri, Mom."
"Tidak apa, kamu lanjutkan tidurnya,"
"Aku mau ganti sendiri,"
"Hmm okay. Anak Mommy sudah merasa besar sepertinya," ujar Lovi seraya terkekeh.
"Aku memang sudah besar. Harus melakukan semuanya sendiri,"
"Pintar," Lovi memuji Adrean seraya mengacak pelan kepala sang anak. Lalu Ia membiarkan Andrean pergi ke kamarnya untuk berganti baju.
Devan masuk ke dalam kamar bersama anak keduanya yang merebahkan kepala di bahunya.
"Kamu pasti lelah. Membawa mereka berdua bergantian. Bobot tubuh mereka sudah tidak ringan lagi,"
"Tidak lelah, Lov. Andrean dimana?"
"Ganti baju di kamarnya,"
"Ya ampun, aku sengaja tidak membangunkan dia. Setelah aku bawa ke sini dia malah bangun,"
Usai meletakkan Adrian di ranjang, Devan menghela napas lega. Jujur Ia lelah, tapi Ia senang menunjukkan perhatian-perhatian kecil seperti tadi. Saat anak-anaknya besar nanti, Ia tak bisa lagi menggendong mereka. Ini merupakan momen yang akan hilang ketika mereka besar, justru dirinya lah yang akan mereka gendong ketika tua nanti dan membutuhkan bantuan meskipun hanya sekedar berjalan.
Adrian tidak terbangun saat Lovi menggantikan bajunya. Ia hanya melenguh sebentar lalu terlelap lagi. Sepertinya Adrian sangat kelelahan. Andrean yang biasanya sulit bangun malah terbangun padahal Lovi tidak mengganggunya.
Devan memutuskan untuk membersihkan tubuhnya di kamar mandi dan akan bergantian dengan Lovi yang kini turun ke dapur untuk membuat teh hangat. Karena Ia tiba-tiba menginginkannya.
"Mau apa, Nona?"
"Buat teh,"
"Biar saya buatkan,"
Lovi menangguk seraya tersenyum. "Terima kasih,"
"Ya, Nona."
Lovi menunggu di meja makan. Dan terkejut saat melihat beberapa orang memasuki mansion seraya membawa sesuatu yang besar.
Ia juga melihat Senata, Rena, Raihan, dan Jane yang baru tiba di mansion. "Apa itu, Ma?"
"Ini kado dari Papa untuk Andrean dan Adrian. Dimana mereka?"
"Tidur, Pa."
Raihan memberi instruksi mengenai letak benda tersebut pada orang-orang yang membawa kado untuk cucunya berupa air hockey yang bisa mereka berdua mainkan bersama.
"Papa sudah memberi kado,"
"Iya, ini kado yang lainnya."
"Ya ampun, terima kasih, Pa. Yang sebelumnya saja sudah membuat mereka senang. Apa lagi yang ini,"
Kado sebelumnya yang diberikan oleh Raihan untuk mereka adalah mobil-mobilan tapi seperti mobil sungguhan. Rena memberikan scooter sementara Senata membelikan sepeda yang bisa dilipat hingga bentuknya ringkas untuk dibawa kemanapun. Senata pernah mendengar mereka meminta itu pada Lovi beberapa hari sebelum ulang tahun. Rupanya beberapa koleksi sepeda untuk mereka masih kurang. Ia langsung mengatakan pada Lovi agar Ia saja yang memberikan mereka sepeda yang dimaksud itu.
Teh hangat yang diinginkannya sudah disajikan. Dan Lovi langsung meneguknya. Ia begitu menyukai minuman ini kalau sedang merasa lelah atau penat.
"Lov, Auris haus sepertinya,"
Lovi terkejut saat suaminya turun. "Cepat sekali kamu mandi nya?"
"Iya, mendengar Auris merengek, aku cepat-cepat menyelesaikan mandi,"
"Dia menangis? kenapa kamu tinggal?"
"Tidak, bermain dengan Andrean."
Melihat istrinya disajikan teh hangat, Devan langsung menyeruputnya sebelum tangan Lovi memegang mug yang berisi teh hangat tersebut.
"Hmmm perutku langsung terasa hangat. Selama di acara tadi, yang aku minum dingin-dingin terus,"
"Iya, kamu kalap menikmati es krim. Seperti Adrian saja,"
Devan terkekeh mendengar ucapan Lovi yang memang benar adanya. Devan beberapa kali menikmati es krim sama halnya dengan Adrian yang bebas sekali mengambil es krim karena Lovi sibuk dengan keluarga. Sementara dia sudah bisa mengambil es krim sendiri.
Seraya membawa teh hangat miliknya, Lovi memutuskan untuk naik ke lantai atas. "Kalau mau minum teh hangat, minta tolong buatkan saja ya. Aku mau menghampiri Auris,"
"Okay, Sayangku." jawab Devan dan melemparkan kecup jauh untuk Lovi yang bergidik geli.
"Ingat usia hey,"
"Masih muda," seru Devan pada Lovi yang menjawab dari anak tangga.
Auristella memang bangun dan sempat ingin menangis tapi Andrean dengan cepat menenangkan adiknya. Mengajak Auristella bercanda sampai Auristella lupa dengan rasa hausnya.
Lovi masuk ke dalam kamar dan langsung pura-pura mencari sang putri yang tengah berada di tengah ranjang bersama kedua kakaknya. Adrian masih tidur dan Andrean tengah menggelitiki perut Auristella.
"Siapa anak yang mau minum susu?"
__ADS_1
"Auris, Mom." jawab Andrean seraya mengangkat tangan adiknya. Auristella langsung mengerucutkan bibirnya ke arah Lovi, memasang raut yang manja dan menggemaskan.
"Oh ini. Pintar ya tidak menangis,"
Lovi memangku anaknya dan beralih menatap Andrean. "Daddy dan Grandpa di bawah. Ada hadiah juga dari Grandpa,"
"Grandpa sudah memberikan hadiah tadi,"
"Iya, ada lagi."
"Astaga, banyak sekali. Satu saja aku sudah senang,"
mendengar gumam dari mulut anaknya, Lovi terkekeh seraya menggeleng pelan. Reaksi Andrean sama seperti dirinya tadi.
Andrean menghampiri Devan yang tengah menikmati cookies bersama teh hangat. Ia juga sedang berbincang dengan Raihan.
"Tadi kamu dan Adrian kemana? tiba-tiba tidak ada di kursi. Padahal sebelumnya sedang bicara dengan Jino 'kan?"
"Adrian minta diantar ke toilet, Pa."
"Papa bersyukur tidak ada gangguan selama acara tadi,"
Devan mengangguk sementara dalam batinnya berkata, "Papa tidak tahu saja kalau tadi aku menemukan orang yang berniat jahat pada Adrian."
"Grandpa, ada hadiah lagi untukku?"
"Hey, Sayang."
Andrean mendekati Raihan dan kakeknya itu segera membawa Ia ke atas pangkuan. "Iya, dimana Adrian?"
"Masih tidur,"
"Ya sudah, buka hadiahnya tunggu dia bangun saja ya. Biar bersama-sama,"
"Okay, Grandpa."
"Aku tidak bisa bayangkan akan seperti apa ulang tahun Auris nanti," ucap Devan.
"Lebih banyak lagi hadiahnya," sahut Andrean.
"Tentu saja, karena itu akan menjadi ulang tahun pertama untuknya," Raihan menyahuti.
"Sama seperti kamu dan Adrian dulu," ujar Devan kembali mengingat momen ketika kedua anak kembarnya ulang tahun untuk pertama kalinya. Setiap mereka ulang tahun Devan berusaha membuat perayaan semeriah mungkin. Tapi menurut kedua anaknya yang paling meriah adalah ulang tahun kali ini, sementara menurut Devan saat ulang tahun pertama mereka.
"Mommy sedang menyusui adikmu?"
"Iya,"
"Andrean temani Grandpa bekerja saja, ayo."
"Ayo, di ruang kerja 'kan?"
"Tentu saja, Sayang."
Andrean beranjak dengan semangat. Ia selalu senang bila diajak menemani kakeknya bekerja. Walaupun Ia tidak membantu menyelesaikan pekerjaan sama sekali, tapi Ia bisa mencuri pandang sesekali untuk mencari tahu apa yang dikerjakan oleh kakeknya. Ia selalu penasaran dengan hal-hal yang berhubungan dengan pekerjaan.
"Di hari ulang tahun nya, berikan waktu luang untuk Andrean. Setiap hari sudah belajar," Raihan membela cucunya yang dilarang ikut ke ruang kerjanya padahal ia sudah semangat sekali.
Devan menatap anak sulungnya kemudian mengangguk. Andrean tersenyum tipis kemudian segera berjalan mengikuti sang kakek.
Devan bingung dengan perasaannya saat ini. Entah Ia harus senang atau sebaliknya. Melihat sang anak begitu penasaran dengan pekerjaan yang digeluti Raihan, Ia senang karena sepertinya akan ada penerus, tapi di sisi lain Ia ingin anaknya sukses dengan jalan yang berbeda dari dirinya.
Sudah tidak ada lagi teman berbincang, Devan memutuskan untuk masuk ke dalam kamar.
"Andrean dimana?"
"Di ruang kerja bersama Papa,"
"Ngapain? kamu biarkan? dia bisa mengganggu nanti,"
"Malah Papa yang mengajak dia,"
Devan bergabung bersama anak bungsu dan anak keduanya. Ia berbaring di samping Adrian lalu menepuk pelan punggungnya. Lovi yang melihat itu, memberi isyarat agar Devan tidak mengganggu.
"Aku tidak ingin ganggu. Hanya--"
"Nanti dia bangun,"
"Hmm okay, aku diam."
Auristella naik ke atas dada Devan lalu menepuk-nepuk bibir Devan. "Mengajak Daddy bermain ya? jarang-jarang 'kan Daddy ada di sini siang hari?"
"Ya,"
Devan sepertinya baru pertama kali mendengar Auristella menjawab ucapan dirinya.
"Dia sudah bisa diajak bicara ya, Lov?"
"Hanya 'Iya' dan 'ndak' saja,"
Devan tersenyum senang mendengarnya. Ia mengecup pipi Auristella bertubi-tubi. "Pintar sekali kamu, Sayang."
"Sepertinya aku tertinggal beberapa perkembangan Auris," lanjut Devan.
"Tidak apa, kamu bekerja. Yang terpenting aku tidak melewatkan perkembangannya sama sekali,"
***
Setelah memperhatikan sang kakek bekerja dari dekat, Andrean beralih duduk di sofa lalu menunduk untuk meraih album foto yang disimpan di laci meja paling bawah.
"Aku belum pernah lihat yang ini," gumamnya seraya meraih salah satu album yang belum pernah dibukanya.
"Apa, Sayang?"
"Aku boleh lihat ini, Grandpa?" tanya Andrean seraya menunjukkan album foto tersebut. Raihan mengangguk.
"Itu foto-foto Grandpa saat masih muda,"
__ADS_1
Andrean mulai membukanya. "Tidak jauh beda wajahnya,"
"Tetap tampan ya?" mendengar kalimat itu, Andrean hanya melirik masih dengan wajahnya yang tanpa ekspresi. Kalau Adrian, pasti dia sudah riuh. Bahkan mungkin tidak segan menggoda kakeknya.
"Grandpa saat masih muda suka latihan menembak?"
"Iya,"
Di baliknya, Andrean menemukan foto kakeknya yang sedang berlatih panah dengan wajah sangat serius.
"Memanah juga?"
"Iya, lain kali Grandpa ajak kamu berlatih keduanya,"
"Sekarang masih bisa?"
"Hmm menembak masih bisa. Tapi kalau memanah, Grandpa tidak yakin."
"Menembak masih bisa? kapan Grandpa menembak? aku tidak pernah lihat,"
"Andrean tidak ikut kemanapun Grandpa pergi. Jadi tidak tahu kalau sebenarnya Grandpa masih suka berlatih,"
Menembak orang-orang pengganggu masih suka ia lakukan, walaupun tidak sesering dulu yang dalam seminggu selalu menghabisi banyak korban. Buat salah sedikit maka mati lah hukumannya.
Berlatih dalam artian yang sesungguhnya juga masih kerap Ia lakukan. Biasanya tiga minggu sekali Ia akan datang ke tempat latihan.
"Aku mau coba, Grandpa."
"Harus, supaya ada kemampuan lain, tidak hanya di bidang akademik saja,"
"Daddy belum lahir ya, Grandpa?"
"Di album itu bahkan Grandpa belum bertemu dengan Grandma,"
"Grandpa di sini penampilan nya masih lugu ya,"
"Sekarang memang tidak lugu lagi?"
"Tidak, penampilannya seperti seorang kutu buku walaupun tidak memakai kacamata. Kalau dilihat dari penampilan, orang tidak menyangka kalau Grandpa suka menembak bahkan sangat pintar melakukannya,"
"Itu setahun sebelum kuliah, kalau tidak salah. Pada saat itu, teman Grandpa yang benar-benar tulus hanya sedikit. Selebihnya hanya ingin memanfaatkan kecerdasan yang Grandpa miliki. Dan memang tidak ada yang tahu kalau Grandpa bisa menembak dan memanah,"
"Grandpa pintar dalam segala hal ternyata,"
Andrean melihat-lihat isi album seraya mendengar cerita masa lalu Kakeknya. "Setelah kuliah, Grandpa mulai nakal. Prestasi terkadang menurun,"
Andrean kini fokus menatap Raihan yang berkutat dengan laptop. "Karena apa, Grandpa?"
"Keluarga suka mengatur Grandpa. Jadi berontak satu-satunya cara supaya bisa hidup tanpa aturan. Dulu orangtua Grandpa maunya anak mereka menjadi pilot."
"Tapi Grandpa juga memaksa Daddy mu agar menjadi pengusaha. Grandpa jahat ya?" Tanya Raihan seraya tertawa kecil.
"Daddy berontak juga?"
"Iya, tapi dia tidak bisa mengelak. Kalau Grandpa bisa,"
Andrean menggeleng pelan. Ternyata kehidupan orang dewasa serumit itu. Rupanya ada beberapa orang yang tidak bebas menentukan masa depannya. Salah satunya adalah Devan, Daddy nya.
"Grandpa suka berfoto ya,"
"Iya, seperti kamu atau Adrian?"
"Adrian. aku tidak hobi foto,"
Raihan terkekeh geli disela fokusnya dengan pekerjaan. "Karena tampan jadi percaya diri sekali untuk foto,"
"Grandpa mengaku tampan terus," Andrean mencibir pelan agar tak didengar oleh Raihan.
"Kamu juga boleh mengatakan dirimu sendiri tampan. Kenyataannya memang seperti itu," jawab Raihan yang ternyata mendengar ucapan cucunya itu.
Pantas saja salah satu cucunya begitu percaya diri. Rupanya sifat itu diwariskan dari kakeknya, yang senang sekali memuji diri sendiri. Padahal tanpa melakukan itu, orang lain sudah memberikan pujian.
***
Devan dan Lovi baru saja selesai memadu kasih sementara kedua anaknya masih terlelap. Lovi dan Devan melakukannya di kamar mandi atas permintaan Devan sendiri. Selain tempat itu aman, Ia juga ingin segera mandi setelah melakukannya.
Devan tidak henti tersenyum. Akhirnya Ia bisa memuaskan hasrat yang sebenarnya Ia rasakan setiap saat berdekatan dengan Lovi. Ia dan Lovi melakukannya di sela kesempatan yang ada serta kekhawatiran akan terbangunnya Adrian dan Auristella.
Pintu kamar mandi diketuk diikuti dengan suara Andrean. Devan dan Lovi cepat-cepat mengenakan bathrobe. Agar tidak menimbulkan kecurigaan, Lovi akan keluar terlebih dahulu.
"Tapi kita sama-sama memakai ini. Pasti Andrean tetap curiga,"
"Semoga tidak. Cepat, kamu keluar lebih dulu,"
Lovi keluar dari kamar mandi terlebih dahulu. Devan langsung mengunci pintu kamar mandi lagi.
"Mommy sedang apa di kamar mandi? di dalam ada Daddy juga?"
"Hmm iy--iya. Daddy sedang mandi,"
"Mandi lagi? Lalu Mommy ngapain di dalam?"
"Tadi tidak tahan buang air kecil,"
"Tapi Mommy seperti habis mandi juga,"
"Aduh, anak ini kenapa sangat penasaran sekali? tidak biasanya. kalau begini sama saja seperti Adrian," batin Lovi mengerang. Ia bingung harus menjawab seperti apa lagi.
Devan keluar dengan niat membantu istrinya. Ia mendengar pertanyaan Andrean di kamar mandi. Andrean menatap kedua orangtuanya satu persatu.
"Setelah Mommy mandi, Daddy mandi lagi karena sebelumnya masih kurang bersih. Saat Daddy sedang mandi, Mommy yang akan pakai baju tiba-tiba saja mau buang air kecil. Jadi Mommy terpaksa masuk ke kamar mandi sebentar,"
Andrean mengangguk polos. Ia keluar dari kamar. Melihat itu, Devan dan Lovi terperangah.
"Astaga, dia datang ke sini hanya untuk mengetuk pintu kamar mandi saja, Lov. Mengganggu sekali anak itu ya. Beruntung kita sudah bersih-bersih tadi. Kalau tidak, rasa curiganya akan semakin besar karena terlalu lama keluar dari kamar mandi,"
-------------
__ADS_1