My Cruel Husband

My Cruel Husband
Ingin dipeluk


__ADS_3

Dini hari Lovi mengerjap. Devan baru saja pulas dalam tidurnya. Lovi menyingkirkan tangan Devan dari perutnya lalu mengosongkan kantung kemihnya.


Setelah itu Lovi meneguk air putih yang sudah disiapkan Devan tadi. Mata Lovi menatap ciptaan Tuhan yang kini menjadi miliknya lagi. Devan benar-benar tampan. Ketika tidur seperti ini, kejam dan dingin yang melekat dalam dirinya hilang sempurna. Lovi meletakkan gelasnya di nakas.


Lovi berbaring kembali dan masuk ke dalam pelukan Devan lagi karena itu adalah tempat ternyaman untuknya yang pernah hilang beberapa waktu lalu.


Merasa ada pergerakan di sampingnya, Devan mengerjap. Ia melenguh pelan lalu mengeratkan pelukannya pada Lovi. Kepala perempuan itu ditenggelamkannya dalam dada bidang yang masih saja memukau walau sudah lama tidak berolahraga.


"Kenapa bangun, Lov?"


Kepala Lovi terangkat. Ia menatap Devan dari bawah. Dagu dan bibir lelaki itu membuat Lovi hilang fokus. Ia membasahkan bibirnya yang terasa kering. Sial! Lovi ingin menggigit dagu dan bibir tebal lelakinya. Namun itu tidak mungkin. Lovi tidak mau menjadi agresif.


"Habis minum dan buang air kecil,"


Devan bergumam dan mengangguk pelan. Ia kira Lovi sedang merasa tak nyaman. Lovi yang sedang mengandung seperti ini membuat Devan jauh lebih perhatian dari kehamilan Lovi yang pertama dan kedua kemarin. Ia jera mengacuhkan Istrinya yang sedang mengandung dulu hingga pada akhirnya kandungan itu harus berakhir dengan tragis. Mereka kehilangan calon anak yang bersemayam dalam rahim Lovi.


"Kamu menginginkan sesuatu?"


"Hmmm..."

__ADS_1


Lovi tampak menimang. Sebenarnya saat ini Ia ingin dibuatkan roti panggang. Padahal perutnya tidak lapar, Ia hanya ingin.


Tetapi melihat wajah lelah sang suami, Lovi jadi tidak tega. Mungkin besok pagi Ia bisa membuat sendiri. Tangan Lovi terangkat untuk mengelus perutnya meminta pengertian anaknya.


"Aku ingin tidur saja,"


"Tidak menginginkan apapun? Biasanya kata Mama, Ibu hamil itu jadi sering membangunkan suaminya ditengah malam karena menginginkan sesuatu,"


Lovi menggeleng dan kembali menenggelamkan kepalanya dalam pelukan Devan. Ia menggeleng pelan.


"Aku hanya ingin dipeluk kamu sekarang,"


***


Devan keluar dari kamar mandi dengan penampilan segar. Lovi yang tengah membereskan ranjang menoleh dan Ia langsung terpana melihat suaminya yang sangat tampan dalam balutan busana santai. Tidak ada adegan Devan yang bertelanjang dada dengan handuk di pinggang. Sehingga Lovi bersyukur karena kalau sampai itu terjadi, jantungnya bisa merosot.


"Kamu sudah bangun?"


"Iya,"

__ADS_1


Devan berjalan ke arah meja rias Lovi untuk menyisir rambutnya di sana. Lalu menyemprotkan parfum ke seluruh tubuhnya. Walaupun hanya di rumah, Devan harus tetap tampil dengan memesona dan tentunya wangi karena Ia bukan lagi single, sehingga harus kembali mengutamakan penampilan agar Lovi nyaman bersamanya. Sesekali Lovi menatap kesibukan lelaki itu.


"Sarapan dulu, Lov."


"Kamu sarapan lebih dulu saja. Aku belum mandi,"


"Oh ya sudah. Aku turun ya?"


"Ya, si kembar juga sudah menanyakanmu tadi,"


***


"Yeayy Daddy turun juga akhirnya,"


Adrian menyapa ayahnya yang baru saja duduk di depan meja makan, menatap hidangan satu persatu. Semalam Devan tidak makan lagi. Sehingga pagi ini Ia begitu liar ketika mendapati meja makan yang penuh.


-------


Cut dl gengss ntr lnjt lageee. Maap telat up. LIKE, KOMEN, VOTE, BINTANG5 JGN LUPAAAA. BABAAYYY🙌

__ADS_1


__ADS_2