My Cruel Husband

My Cruel Husband
Kehilangan yang tidak diduga


__ADS_3

Devan memeluk Lovi yang menangis tersedu setelah tahu bahwa anak dalam kandungannya sudah tidak ada lagi.


Lovi mengalami pendarahan dan keguguran setelah terjatuh saat berada di dalam kamar mandi.


Kronologi kejadian nya adalah, Lovi pergi ke kamar mandi lalu Auristella yang tadinya tidur, tiba-tiba saja terbangun dan menangis, mungkin karena tidak melihat siapapun di sampingnya.


Lovi panik, Ia mengira sudah terjadi sesuatu pada anak perempuannya. Akhirnya Ia keluar cepat-cepat tanpa berpikir bahwa lantai kamar mandi yang basah bisa menyebabkan Ia terjatuh.


Dan benar saja. Lovi terjatuh sebelum kakinya melangkah keluar. Senata mendatangi kamar Lovi untuk melihat keadaan cucunya, Auristella.


Lovi di dalam kamar mandi meringis. Matanya membulat saat melihat darah mengalir dari sela pahanya. Ia memanggil Senata dengan suara lemah. Dua kali, baru Senata mendengarnya.


Senata membuka pintu yang beruntungnya tidak dikunci oleh Lovi. Ia terkejut melihat putrinya terduduk di lantai.


Ia panik. Cucunya belum berhenti menangis, dan kondisi Lovi sudah mengkhawatirkan. Ia menyerahkan cucunya kepada Serry, pengasuhnya. Kemudian Ia segera menghubungi Devan. Sayangnya tidak ada jawaban. Sebelum Ia menelpon, Ia sudah meminta bantuan pada anak buah Devan untuk mengangkat Lovi. Karena tidak kunjung dijawab oleh Devan, akhirnya Ia menghubungi sekertaris Devan yaitu Dashinta. Setelah panggilannya dijawab, dengan cepat Ia menjelaskan secara singkat tujuannya menelpon Dashinta.


"Sudah, Lov. Dia sudah bahagia di sana. Kamu tidak salah,"


"Aku tidak hati-hati, Devan. Aku----"


Devan menggeleng dengan perasaan yang sesak luar biasa. Lovi kehilangan, begitupun dengan dirinya. Ia tidak menyangka bahwa hari ini akan kehilangan anaknya. Pagi tadi, seperti biasa, Ia masih menyapa dengan hangat, mengusap perut Lovi untuk mengajaknya berkomunikasi. Ternyata itu adalah yang terakhir kalinya.


Rena dan Raihan sudah berada di rumah sakit saat ini. Senata baru saja pulang untuk menjaga kedua cucunya di rumah, atas permintaan Devan.


Hati Rena teriris. Ia tahu betul bagaimana perasaan Lovi sekarang. Ia juga seorang Ibu. Kejadian tadi pasti dianggap Lovi adalah kesalahannya padahal itu sudah jalan dari Tuhan.


"Jangan terpuruk dalam kesedihan terus. Ada ketiga anak kita yang akan sedih melihatmu seperti ini,"


Devan mengusap kepala istrinya, menenangkan perempuan yang selalu berada di sampingnya itu. Saat-saat seperti inilah perannya sebagai suami sangat di perlukan.


Raihan mengusap bahu istrinya yang juga menangis dalam diam memperhatikan Lovi. Padahal kabar kehamilan Lovi membuat mereka semua bahagia dan juga tidak sabar untuk menantikan kehadirannya di dunia. Ternyata usia janin itu hanya sampai hari ini. Ia tidak jadi bertemu dengan semua orang yang menantikannya.


******


"Bagaimana keadaan Mommy, Grandma?" tanya Andrean pada Senata yang baru saja selesai menghubungi Devan.


"Sudah membaik,"


"Belum bisa pulang sekarang?"


Senata menggeleng. Adrian dan Andrean juga terlihat kepikiran. Mereka sudah tahu bahwa adik mereka yang ada di dalam perut Lovi tidak ada lagi. Kabar tersebut membuat mereka terkejut sekaligus sedih.


"Semoga Mommy kuat. Kalau tidak, nanti adik bayi yang di surga sedih melihatnya,"

__ADS_1


Senata memeluk Adrian yang baru saja bergumam, mengharapkan agar Lovi bisa menerima kepergian anaknya dengan hati yang lapang.


"Tetap doakan adik kalian. Dia akan senang melihatnya dari atas sana,"


"Pasti, Grandma."


Auristella menjadi rewel sejak Lovi dilarikan ke rumah sakit seolah Ia juga merasakan kesedihan Lovi.


Bila Senata sedang berkomunikasi dengan Devan melalui telepon, Auristella tidak lepas memandang Senata. Terlihat sekali bahwa Ia ingin bicara dengan Lovi dan juga Devan.


*****


"Bagaimana kabarmu? sudah lama kita tidak bertemu,"


"Aku baik,"


"Kenapa suaramu terdengar lesu?"


"Lovi mengalami keguguran,"


"Astaga..."


Devan sedang berbicara dengan Deni di luar ruang perawatan Lovi. Temannya itu menghubunginya. Memang sudah lama mereka tidak berkomunikasi.


"Aku turut berduka mendengarnya. Sekarang kondisi Lovi bagaimana?"


"Kau harus bisa menguatkannya, Devan."


"Ya, doakan kami, Deni. Agar bisa melupakan kesedihan ini,"


Kabar yang diterima Deni langsung Ia sampaikan pada istrinya, Keynie. Rasanya ada yang kurang kalau mereka tidak datang langsung ke rumah sakit melihat kondisi Lovi. Mereka harus menghibur Lovi yang pasti sangat kacau saat ini.


Deni dan Keynie datang ke ruang perawatan Lovi. Devan terkejut mendapati kehadiran temannya bersama sang istri. Padahal belum lama mereka berbicara di telepon.


Keynie banyak mengajak Lovi berbincang agar Lovi melupakan kesedihannya. Begitupun dengan Deni. Terlihat sekali kesedihan di mata Devan dan Lovi. Mereka yang juga calon orangtua bisa merasakan betapa sakit nya kehilangan anak yang sudah dinantikan.


"Terima kasih Keynie, Deni sudah datang ke sini." ujar Rena yang baru saja datang usai membeli makan untuk Devan.


Sesaat Rena masuk ke dalam ruangan Lovi, anak buah Devan masuk seraya membawa pakaian ganti untuk Lovi dan juga Devan, serta beberapa keperluan mereka. Seperti selimut untuk Devan, juga peralatan mandi.


Kepulangan Lovi belum bisa dipastikan karena kondisinya masih sangat lemah. Mungkin karena sebelumnya mengalami pendarahan yang cukup hebat.


"Iya, sama-sama. Semoga kalian semua selalu kuat,"

__ADS_1


*****


Senata dan Rena akan menemani ketiga anak Lovi dan Devan malam ini. Sementara Raihan bersama dengan Devan di rumah sakit untuk menjaga Lovi.


Karena Rena baru datang dari rumah sakit, Adrian banyak bertanya mengenai kondisi Mommy nya pada Rena.


"Mommy masih menangis?"


"Ya, terkadang."


"Kasihan sekali Mommy. Aku saja sedih, apalagi Mommy yang punya anak,"


"Sesedih itulah orangtua kalau terjadi sesuatu pada anaknya. Karena mereka begitu menyayangi anak nya. Oleh sebab itu sayangi mereka juga,"


"Mungkin Auris memang ditakdirkan untuk menjadi anak bungsu ya, Grandma?" tanya Adrian pada Senata. Auristella yang merasa namanya dipanggil pun menoleh.


Auristella masih bermain bersama Andrean dan juga pengasuhnya. Ia terlihat belum mengantuk sama sekali.


"Auris, kenapa belum tidur?"


"Pasti dia sulit tidur. Karena tidak ada Mommy," ucap Adrian ya g sudah hafal betul dengan kebiasaan adiknya yang tidak pernah bisa berjauhan dari Lovi.


"Kali ini tidur bersama Grandma dulu ya. Doakan Mommy biar cepat sembuh agar kalian bisa berkumpul lagi,"


"Grandpa Rai tidak ke sini?"


"Tidak, Grandpa bersama Daddy mu di rumah sakit,"


"Oh menemani Daddy menjaga Mommy ya? hah, aku lega mendengarnya,"


"Ayo, tidur."


Adrian mengangguk. Ia segera bergegas menuju kamarnya, begitu pun dengan Andrean. Sementara Auristella digendong oleh Senata.


"Bye dulu dengan Serry," Senata menyuruh Auristella untuk melambai pada Serry, pengasuhnya.


Auristella melakukan apa yang dikatakan Senata. Serry tersenyum membalas lambaian tangan Auristella. Ia dan Auristella sangat dekat mungkin karena sejak dalam kandungan Ia lah yang menjadi teman Lovi kemanapun. Dan begitu Auristella lahir, Ia juga yang membantu Lovi dalam mengurus Auristella.


---------


Haloha met pagi menjelang siang. Gimana hari kalian? semoga menyenangkan. Sehat selalu ya semuanyaaa. Terima kasih atas dukungan kalian🙏


Mampir ya shayyy👇

__ADS_1




__ADS_2