
"Tidak usah bahas itu dulu. Suamimu sudah bangun belum?"
Lovi menyelesaikan kegiatannya cepat-cepat. Lalu masuk ke kamarnya lagi. Ia menggeram gemas melihat Devan masih bergelung di dalam selimut bersama ketiga anaknya.
Lovi berjalan cepat menghampiri ranjang. Lalu membuka selimut yang membalut tubuh suaminya.
"Devan, kenapa belum bangun? aku sudah selesai masak dan kamu belum juga mandi,"
Devan bergumam saja tidak mengatakan apapun. Lovi menarik helai rambut di kaki suaminya. Ia hanya meringis tetapi tidak bangun.
"Devan!"
"Aarrgh, Lovi!"
"Cepat bangun!"
Devan berteriak karena hidungnya dijepit dan kulit kakinya dipiting. Dari dua arah Ia disakiti, bagaimana tidak teriak?
"Sakit, Lov."
"Kamu sulit sekali dibangunkan. Kebiasaanmu yang buruk itu belum juga hilang,"
"Yang terpenting tidak setiap hari aku seperti ini,"
"Jangan banyak bicara! cepat siap-siap bekerja!"
"Iya, aku mandi sekarang, Nona Lovi."
Selesai dengan urusan suaminya, kini Lovi harus berjuang membangunkan Andrean yang jauh lebih sulit daripada kedua adiknya. Yang dibangunkan oleh Lovi adalah Andrean tetapi yang matanya langsung terbuka malah Auristella dan Adrian.
Devan masuk ke dalam kamar mandi dengan mata yang belum sepenuhnya terbuka. Keningnya harus menyapa pintu kamar mandi pagi ini. Sial! kalau sudah mengantuk parah seperti ini rasanya Devan ingin berhenti bekerja saja, lalu tidur sepuasnya. Tapi itu tidak mungkin dilakukan oleh seorang laki-laki ambisus sepertinya.
"Andrean, kamu harus sekolah, Sayang." Lovi mengecup kening anak sulungnya. Ia menoleh saat Adrian duduk diikuti oleh Auristella.
"Seperti biasa, kalian selalu pintar dalam hal bangun pagi,"
"Kiss!" Adrian menunjuk bibirnya, meminta untuk dicium oleh Lovi. Dengan senang hati Mommy-nya memberikan.
"Ayo, mandi. Setelah itu sarapan. Nanti terlambat datang ke sekolah,"
"Auris sekolah juga hari ini. Tapi jangan mandi sekarang, masih terlalu pagi. Auris sarapan dulu ya?"
Lovi mengangkat anak perempuannya yang sedari tadi mengusap matanya dengan bibir mengerucut.
"Adrian mandi ya,"
Tanpa membantah, anak keduanya itu masuk ke dalam kamar mandi yang ada di kamarnya sendiri. Dan perjuangan Lovi belum usai. Andrean belum juga membuka mata.
__ADS_1
"Coba buat Kakakmu bangun," Lovi kembali meletakkan Auristella di atas ranjang, tepatnya di samping Andrean yang kini terlungkup.
Tanpa disuruh, Auristella naik ke atas punggung Andrean. Lovi yang melihat itu langsung merasa khawatir. Takut Andrean berbalik dan adiknya terjatuh. Oleh sebab itu Lovi memegang perut Auristella.
Auristella merendahkan kepalanya untuk memberi kecupan bertubi-tubi di wajah Andrean.
"Andrean, adikmu sudah membangunkan. Masih mau tidur?"
"Andrean..."
"Iya, Mom."
"Ayo-ayo bangun. Sekolah, semangat mencari ilmu,"
"Auris jangan di sana. Kamu sudah berat," keluhnya mengusir Auristella. Saat Lovi akan mengangkat tubuhnya, Auristella menggeleng.
"Andrean sudah bangun. Jangan diganggu lagi," Lovi segera menggendong putrinya walaupun Ia merengek.
Setelah itu, Andrean segera berbalik. Ia mengerjapkan mata untuk menyesuaikan cahaya yang masuk.
"Rasanya ingin libur saja,"
"Tidak boleh bicara seperti itu. Biasanya selalu semangat,"
"Iya, tapi hari ini aku malas sekali. Kenapa ya, Mom?"
"Mau,"
"Maka cepat bangun, berangkat ke sekolah tidak boleh terlambat, lalu belajar dengan sungguh-sungguh,"
*******
"Aku tidak menyangka bisa mendapatkan ini juga dari kalian,"
Thalia menerima paper bag yang diserahkan Adrian dengan senang hati. Mereka baru dekat akhri-akhir ini tetapi Adrian tidak melupakannya.
"Terima kasih, Andrean, Adrian."
"Iya, kembali kasih. Semoga suka dengan isinya,"
"Pasti suka. Aku tidak sabar untuk membukanya,"
"Jangan, di rumah saja."
"Memang kenapa?"
"Hmm... tidak apa-apa. Kalau dibuka di sini nanti kamu tidak fokus belajar,"
__ADS_1
Thalia terkekeh lalu mengangkat ibu jarinya. "Siap! aku buka di rumah kalau begitu,"
"Kalau aku boleh buka di sini?" tanya Revin yang langsung dijawab Adrian dengan gelengan tegas.
"Thalia saja disuruh buka di rumah. Artinya kita juga, Revin." Adrina mengerang kesal. Dia tidak dengar atau tidak paham sebenarnya?
"Tapi aku penasaran,"
"Simpan rasa penasarannya. Sekarang waktunya kita belajar. Sudah masuk jam pelajaran pertama,"
*********
Devan sedang menilai semua pembangunan hotel-hotel miliknya yang masih dalam tahap awal melalui laporan yang ditampilkan. Bukan hanya di London, Devan sedang mendirikan tempat penginapan itu di beberapa negara.
"Tidak terasa, bisnis real estate milikmu sudah ada dimana-mana,"
Ferro menyanjungnya dan Devan hanya menanggapi dengan tawa kecil. "Semua berkat kerja sama dengan kalian semua," Ia tidak melupakan semua divisi yang berperan. Hasil sebagus apapun tidak akan diperoleh kalau tidak didukung kerja keras bersama orang-orang hebat.
"Semuanya sudah bagus. Semoga hasil akhirnya pun demikian,"
"Kau memiliki wahana bermain tetapi sepertinya Adrian dan Andrean belum pernah dibawa ke sana?"
"Belum, jujur aku malas mengajak mereka untuk pergi ke wahana bermain. Aku akan kelelahan setelah pulang dari sana,"
tawa geli semua orang di ruang rapat terdengar begitu hangat. Mereka memang kerap seperti ini. Selesai membahas sesuatu, terkadang tidak langsung bekerja lagi. Tapi ada perbincangan santai yang bisa membuat otak-otak mereka rileks sebelum kembali melanjutkan pekerjaan.
"Kita sama-sama berdoa agar perusahaan ini semakin maju. Semua akan merasakan hasilnya,"
Devan menatap jam yang melingkari pergelangan tangannya, lalu Ia beranjak. "Sudah waktunya menjemput dua pangeran kecilku. Aku undur diri,"
Mereka semua menatap Devan dengan perasaan kagum. Sebanyak apapun pekerjaannya, Devan akan selalu ingat dengan tanggung jawabnya itu. Setelah ini Devan akan menjalani rapat bersama investornya. Namun Devan tetap menyempatkan waktu untuk memastikan anak-anaknya pulang dengan selamat. Ia akan merasa tenang kalau ketiga anaknya bersama Mommy mereka.
******
"Auris semakin pintar. Ia sudah mulai bisa mengelompokkan warna. Seperti tadi, bunga berwarna kuning Ia satukan dengan balok warna kuning,"
Lovi masih mengingat kalimat guru yang mengajar Auristella tadi. Anaknya diberikan mainan berupa bunga dan balok berbagai warna. Dan tanpa di suruh, Auristella mengelompokkan benda-benda tersebut sesuai dengan warnanya. Ia mulai tertarik untuk mempelajari warna.
Di dalam perjalanan menuju mansion, Lovi memberikan makanan ringan khusus Auristella untuk menemaninya dalam kemacetan saat ini.
"Tidak biasanya seperti ini,"
"Ada kecelakaan, Nona."
"Ya Tuhan..." Lovi merinding mendengarnya. Ia jadi teringat kejadian tempo hari. Lovi menggeleng enggan untuk memikirkan itu lagi.
"Semoga mereka baik-baik saja. Sanak keluarga di rumah sudah menunggu kedatangannya, tetapi di perjalanan, Tuhan memberikan cobaan,"
__ADS_1
"Iya, Nona. Manusia tidak pernah tahu kondisi dirinya sendiri untuk satu detik yang akan datang,"