My Cruel Husband

My Cruel Husband
Berbohong tapi ketahuan


__ADS_3

Lovi berulang kali menatap jam yang melekat di dinding. Ia duduk karena mulai bosan menunggu Devan.


"Katanya sebentar. Ternyata tidak. Ah lebih baik aku pulang saja. Pasti Auris sudah bangun,"


Lovi bersiap untuk kembali ke mansion. Ia merapikan bajunya sebelum keluar dari ruangan Devan.


"Dashinta, aku pulang ya."


"Tidak menunggu Boss saja, Nona?"


"Tidak, dia lama. Aku sudah bosan di dalam,"


"Baiklah, hati-hati, Nona."


"Ya, terima kasih."


********


Saat Lovi berada di perjalanan pulang, Senata menghubungi Lovi. Dan ternyata yang bicara di telepon bukan Senata melainkan anak keduanya yang minta dibelikan celana pendek untuk berenang.


"Celana pendek milikmu banyak, Adrian."


"Aku mau yang baru, Mom. Belikan aku satu saja. Boleh ya?"


"Ya sudah, Mommy singgah dulu untuk membelinya,"


"Beli nya satu tapi yang mahal ya,"


"Hih sudah paham sekali dengan uang kamu ya,"


"Heheheh..." dia terkekeh dan membuat Senata yang setia duduk di sampingnya menggeleng.


"Baju kalian memang mahal-mahal. Tidak usah bicara begitu pada Mommy, pasti dicarikan yang terbaik." ucap Senata yang terdengar juga di telinga Lovi.


"Mommy tutup teleponnya. Baik-baik dengan Auris, jangan bertengkar!"


"Okay, siap."


"Jangan siap-siap saja kamu. Lakukan apa yang Mommy katakan,"


"Ya, Mom."


Lovi menyelesaikan panggilannya. Kemudian Ia berkata pada driver nya untuk singgah dulu di pusat perbelanjaan.


Lovi langsung menuju butik dimana Ia biasa membeli baju untuk anak-anaknya. Butik branded yang sudah menjadi langganan keluarga Devan.


Seperti biasa, Lovi tidak pernah membeli barang hanya untuk satu anak. Bila satu dibelikan, maka dua anaknya yang lain juga harus dibelikan. Jumlah pun sama meskipun hanya Adrian yang merasa butuh.


Untuk kedua putranya, Lovi membeli tiga celana pendek untuk masing-masing. Sementara Auristella dua stel baju rumah dan satu baju untuk renang. Ia hanya berenang sesekali. Berbeda dengan kedua kakaknya yang mulai rutin berenang tiap sore karena sekarang guru mereka memberikan tugas untuk olahraga setiap hari dan renang sudah membuat keduanya nyaman. Lari pagi hanya sesekali, biasanya di hari Minggu karena Daddy mereka libur. Yang bisa dilakukan setiap hari adalah renang karena mereka memiliki fasilitas nya yaitu kolam renang sendiri di mansion.


"Angel mau beli apa lagi?"


"Sudah, Uncle. Ini sudah cukup untukku,"


Suara itu membuat Lovi menoleh. Lovi yang tadinya akan menuju tempat pembayaran, langsung menghentikan langkah tatkala melihat Devan sedang menggendong seorang anak kecil dan mereka juga sedang belanja pakaian.

__ADS_1


Alis Lovi bertaut. "Jadi ini urusan nya? pantas saja lama," gumam Lovi pelan. Ia menghembuskan napas pelan kemudian melanjutkan langkah. Ia memilih untuk tidak menyapa Devan. Ia juga tidak butuh penjelasan apapun untuk saat ini meskipun Ia penasaran dengan anak yang ada dalam gendongan Devan itu. Mereka terlihat sangat akrab. Lovi berusaha berpikir positif walaupun tak bisa dipungkiri berbagai tuduhan buruk untuk Devan sudah memenuhi kepala Lovi. Namun Ia pikir, rasanya kurang pas kalau Ia bertanya sekarang pada Devan. Biarkan saja lelaki itu yang jujur tanpa perlu Ia bertanya terlebih dahulu. Devan akan jujur padanya, Ia yakin.


Setelah selesai membayar, Lovi pulang dengan pikiran yang carut marut. Ia berusaha untuk tenang tapi tetap saja sulit dilakukan.


"Kita bisa pulang sekarang, Nona?"


"Ya,"


******


Mobil Devan sudah tiba di rumah neneknya Angel. Anak itu akan tinggal bersama Ibunya Lianne, nenek dari Angel setelah Lianne meninggal.


Setelah melakukan prosesi pemakaman, Devan segera membawa Angel bermain di Playground yang terletak di sebuah pusat perbelanjaan, mengajaknya makan di sebuah restoran, kemudian belanja pakaian. Angel dibuat bahagia hari ini.


"Terima kasih, Uncle untuk semuanya."


"Ya, sama-sama. Angel jadi anak baik ya. Jangan nakal, sayangi Nenek mu."


"Iya, Nenek akan menjadi temanku mulai sekarang. Karena Mama sudah tidak ada lagi," kalimat terakhir yang diucapkan Angel meluncur dari bibirnya dengan nada yang sangat pelan. Devan yang melihat kesedihan Angel lagi, langsung memeluk Angel kemudian mengusap kepalanya dengan sayang.


"Uncle harus pulang sekarang."


Angel mengangguk dan membiarkan Devan masuk ke dalam mobilnya. Ia melambai saat mobil Devan meninggalkan pekarangan rumah neneknya.


Nenek Angel sudah menunggu di depan rumah masih dengan wajahnya yang suntuk habis menangis, sama seperti Angel.


"Nek, aku datang."


"Ya, Sayang. Ayo, makan. Nenek sudah buatkan telur goreng kesukaan Angel,"


Wanita tua itu memeluk cucunya seraya menahan tangis antara haru dan tidak tega. Ia terharu karena Angel sangat baik padanya dan Ia tidak tega karena anak yang seharusnya masih mendapat kasih sayang utuh dari orangtua, kini harus merasa kehilangan itu semua.


*****


Saat memasuki ruangannya, Devan merasa sunyi, seperti biasa. Dan Ia segera melangkah ke kamar dimana Lovi berada tadi. Ternyata kamar itu kosong, Ia tidak menemukan keberadaan Lovi. Ia membuka pintu toilet, tidak ada juga.


Akhirnya Ia keluar dari ruangannya untuk bertemu dengan Dashinta yang tengah berkutat dengan pekerjaan nya.


"Dashinta, dimana istriku?"


"Astaga, Boss membuatku kaget saja," Dashinta yang tidak sadar ada Devan tentu saja terkejut saat mendengar suara berat lelaki yang menjadi atasannya itu.


"Dimana Lovi?"


"Sudah pulang,"


"Sudah lama?"


"Iya, katanya menunggu Boss lama, Nona sudah bosan. Jadi Nona pulang,"


Penjelasan singkat sekretarisnya membuat Devan mengangguk paham. Ia kembali masuk ke dalam untuk menyelesaikan pekerjaan nya.


*****


"Auris di belikan baju, aku tidak, Mom?"

__ADS_1


"Tidak baik iri seperti itu, Adrian. Semua jumlah nya sama. Masing-masing tiga. Kamu minta dibelikan celana pendek, ya sudah Mommy belikan celana pendek saja. Kalau Auris belum sering berenang seperti kamu. Dia lebih membutuhkan baju-baju santai yang bisa dipakai saat bermain di dalam rumah. Baju santai kamu dan Andrean sudah jauh lebih banyak. Bahkan ada yang belum dipakai,"


Saat mereka ulang tahun banyak sekali tamu undangan yang menjadikan baju sebagai hadiah untuk mereka. Ada yang ukurannya masih terlalu besar sehingga di simpan, ada juga yang belum sempat dipakai.


Lovi memperingati Adrian dengan tegas. Lovi sudah berusaha adil. Ia membelikan sesuai kebutuhan. Dan Adrian bicara seperti itu seolah Lovi membeda-bedakan Ia dan Auristella.


"Iya, masih kecil saja sudah iri begitu sama adik. Bagaimana besar nanti? tidak boleh begitu ya, Sayang." Senata memberi pengertian pada Adrian bahwa yang Ia ucapkan tadi merupakan perbuatan yang kurang terpuji.


Auristella membongkar baju barunya dengan perasaan senang. Setiap dibelikan apapun, Ia pasti antusias menerima nya.


"Lagipula biarpun hanya celana harganya pasti mahal, Adrian. Coba lihat price tag nya, kamu bisa baca 'kan?"


"Ssstt," Lovi memberi isyarat pada Andrean untuk tidak menyudutkan sang adik yang sudah diam.


"Mana price tag nya? pasti sudah dibuang Mommy," sahut Adrian.


"Anak tidak perlu tahu harga barang yang diberikan orangtuanya. Cukup terima dengan senang hati, gunakan sebaik mungkin, dan jangan lupa berucap 'terima kasih'," pungkas Lovi tidak ingin memperpanjang pembahasan. Adrian segera memeluk Mommy nya.


"Thank you, Mom."


"You're welcome,"


*******


Lovi menemani anaknya berenang seraya memangku Auristella dan berbincang dengan kedua Ibu nya.


Lovi sudah menyiapkan camilan untuk yang sedang berenang dan juga mereka yang hanya duduk-duduk santai di tepi kolam renang pada sore hari ini.


Sementara Devan yang baru datang mencari-cari anak bungsunya yang biasa bermain di playground, Auristella tidak ada. Lovi tidak Ia temukan juga.


Devan mengganti baju kerjanya lalu beralih ke lantai bawah lagi. Pikirnya mungkin mereka yang dicari Devan sedang berada di kolam renang. Rupanya benar. Ia tersenyum melihat anak-anaknya yang selalu bisa mengembalikan semangatnya setelah lelah seharian bekerja.


"DADDY, BERENANG AYO!" Adrian berseru memanggil Devan dari kolam renang. Devan mendekat kemudian mengangguk. Setelah Ia melepas baju nya yang baru diganti, Ia menghampiri Lovi untuk mengecup sebentar kening perempuan itu. Ia juga melakukan hal yang sama terhadap Auristella.


"Sibuk hari ini?"


"Hmm lumayan. Kamu kenapa pulang lebih dulu tadi? aku kembali ke kantor, kamu sudah tidak ada,"


"Iya, kamu lama. Katanya hanya sebentar,"


"Maaf, urusannya tidak bisa selesai dalam waktu singkat ternyata,"


Bibir Lovi terangkat sedikit. Devan tidak jujur padanya. "Yang benar? kamu tidak mau jujur padaku?" ucapan Lovi membuat kening Devan mengerinyit, begitupun dengan Rena dan Senata.


Sepertinya Devan sudah salah mengambil langkah. Seharusnya Ia jujur saja. Devan berpikir, sepertinya Lovi sudah tahu sesuatu tentang kepergiannya yang memakan waktu lama tadi.


"Nanti, akan aku jelaskan. Sekarang aku menemani mereka berenang dulu,"


 


Hai hai hai selamat pageee pembacaku semuaa. Semoga hari kalian menyenangkan. Tetap jaga kesehatan yaaa. Terima kasih untuk dukungan yg kalian berikan di setiap karyaku. Wufyu❤️🤗


NILLAKU DAN ADDICTED UDH UP JG


__ADS_1



__ADS_2