My Cruel Husband

My Cruel Husband
Bajingan sejati versi Deni


__ADS_3

Devan memasuki rumah megahnya yang beberapa hari lalu Ia tinggalkan.


Keadaan di sana benar-benar tenang. Tidak ada gelak tawa yang menghampiri telinga. Suara perbincangan khas anak kecil pun tidak ada sama sekali.


"Dimana anak-anakku?"


Hal pertama yang wajib Ia pertanyakan adalah keberadaan Andrean dan Adrian. Karena itu yang paling mengganggu pikirannya saat ini. Dan lagipula dimana ada mereka, disitulah Istrinya berada.


"Nona dan Tuan kecil sedang ada di rumah sakit, Tuan."


"Apa?! Aku bertanya serius!"


Ingin rasanya pelayan itu mengutuk Devan, namun sayangnya nyawa yang dimiliki hanya satu.


"Tuan kecil Andrean dan Adrian dirawat di Rumah sakit sejak beberapa hari lalu,"


"KENAPA KAU BARU MEMBERI TAUKU SEKARANG?!"


Pelayan berusia paruh baya itu menunduk ketakutan. Ia membiarkan saja Devan melangkah dengan cepat , menaiki undakan seperti orang gila.


Ternyata perasaan tidak tenang yang selama ini menghantuinya terjadi karena ada alasan. Kedua anaknya sakit, dan Ia tidak tau sama sekali mengenai kabar penting tersebut.


Devan meninju dinding kamarnya. Ia kira semua ucapan pelayan hanyalah mimpi buruknya. Ternyata benar, di kamar itu keadaannya benar-benar sepi.


Bahkan ketika memasuki kamar si kembar, Ia tak bisa lagi untuk tidak bergeming, menatap ranjang mereka dengan pandangan kosong.


Biasanya tempat itu akan menjadi sangat berantakan karena aktifnya kegiatan mereka. Sekarang, situasi kamar Andrean dan juga adiknya benar-benar membuat Devan yakin kalau anak-anaknya sudah meninggalkan rumah cukup lama.


Devan yang mengatakan akan menenangkan diri selama dua hari pun tidak benar-benar menepati ucapannya.


Hampir seminggu dia tidak bertatap muka dengan Istri dan kedua anak kembarnya. Brengs*k? Memang begitulah kenyataannya.


Bermain dengan wanita bayaran, walaupun tidak sampai ditahap yang membahayakan, Sudah memperjelas bagaimana sosok Devan yang sebenarnya. Ia tidak mengetahui kondisi anaknya dan malah sibuk memuaskan diri.


Selama seminggu, Devan benar-benar merasa bebas. Dimana dia bisa berkumpul bersama teman-temannya, bisa menikmati minuman sial*n yang selama ini Lovi benci, bisa menyulut api lagi pada tembakau dibibirnya. Semua hal yang Ia tinggalkan sejak rumah tangganya baik-baik saja, seminggu kemarin bia Ia rasalan lagi tanpa perlu memikirkan perasaan Lovi yang tidak akan nyaman ketika mengetahui kalau suaminya kembali pada kebiasaan buruknya dulu.

__ADS_1


Namun sikap angkuhnya tetap tidak mau mengalah. Layaknya bajing*n, Devan menghubungi Deni untuk membantunya dalam mengawasi ketiga orang yang sangat penting dalam hidupnya.


"Deni, kau bisa tolong aku?"


Deni yang baru saja menenggak lima botol alkohol pun hanya bergumam.


Ia merutuki Devan yang menghubungi di waktu yang tidak tepat.


"Kau bisa datang ke rumah sakit untuk melihat keadaan Istri dan anak-anakku?"


"APA?! BAGAIMANA-BAGAIMANA?! AKU TIDAK MENGERTI!"


Devan menjauhkan ponselnya dari telinga. Deni sedang menjahilinya atau memang benar-benar tidak mendengar?


Dengan Ia mengulangi kalimat tadi, maka rasa malunya semakin bertambah.


"Kau harus datang ke rumah sakit untuk melihat keadaan Lovi, Andrean dan Adrian!"


Lelaki itu memerintah untuk sedikit menyembunyikan perasaan berharapnya supaya Deni menuruti keinginannya.


"Diam kau! Lakukan saja apa yang aku katakan!"


"HEYY KAU PIKIR AKU INI PESURUHMU?! DIMANA NYALIMU?!"


Rahang Devan mengeras. Matanya merah, ingin sekali membunuh Deni saat ini juga.


"Kau bajing*n sejati memang,"


Devan menghela napas kasar. Ia harus tenang karena sekarang peran Deni sangat dibutuhkan. Kalau Ia memberontak, maka rasa penasaran akan keadaan Istri dan anak-anaknya tidak bisa terjawab.


"Baiklah, berhubung kau baru saja memberi sebuah mobil untuk hadiah ulang tahunku, maka aku akan memenuhi permintaanmu itu,"


Ah sial*n ! Kenapa Devan baru mengingat hal itu? Seharusnya hadiah tersebut bisa dijadikan ancaman. Mengingat Deni begitu menyukai mobil keluaran terbaru pemberiannya.


'Kenapa tidak dari tadi saja aku mengingatnya?! Tidak ada drama seperti tadi seharusnya,'

__ADS_1


"Itu bukan permintaan! Tapi perintah dariku,"


Deni hanya bisa mendengus. Sahabatnya yang arogan memang tidak akan pernah mati eksistensinya.


"Kalau aku sudah tidak mabuk lagi, aku akan segera datangi Lovi."


Deni akan menutup panggilannya. Namun seruan Devan berhasil menahannya.


"Kenapa harus menunggu kau sadar dulu?! Aku sangat mengkhawatirkan mereka, Deni!"


"Ya kalau kau khawatir, datang saja sendiri! Masih untung aku mau menurutimu."


Kurang baik apa lagi dirinya? Dia sudah menjadi sahabat yang begitu pengertian. Deni tentu tau masalah apa yang sedang dihadapi oleh Devan tanpa lelaki itu jujur padanya.


"Aku tidak mau tau, tiga puluh menit dari sekarang, kau sudah harus berada di rumah sakit dan melaporkan padaku bagaimana keadaan mereka di sana,"


Deni menggeram marah. Terbuat dari apa kepala lelaki ini? Apakah kalau Ia lempar dengan batu bisa menghancurkan kerasnya kepala Devan?


Apa sulitnya datang langsung ke rumah sakit, lalu memeluk Lovi. Kenapa Devan begitu pintar dalam melakoni drama? Deni sendiri tidak tau penyebab keberadaan Lovi di rumah sakit. Tapi kalau Devan, pastilah dia tau, mengingat betapa paniknya Devan tadi ketika Deni menolak untuk ke rumah sakit.


"Deni, jangan main-main denganku! Akan aku bunuh kau!"


Lihat! Sekarang dia mengancam.


"MATI SAJA KAU DEVAN! KAU SELALU MEMBUAT AKU SUSAH!!"


tut


tut


Devan tersenyum miring memandangi ponselnya. Devan memang selalu menjadi penguasa. Siapapun akan takluk ditangannya.


************


Kenapa judul babnya '******** sejati versi Deni' ? karena bagi aku Devan enggak begitu🤣 ada saatnya manusia berada di tahap jenuh. Secara jelas aku jg bilang di narasinya kalau Devan ga sampai pd thp yg HIYAHIYA pas main sm cewek. Tenaaaang yg begini bakalan dapet karma kok dr Lovi si wonder woman😋

__ADS_1


__ADS_2