My Cruel Husband

My Cruel Husband
Adrian menyampaikan pengumuman


__ADS_3

Saat makan malam, Adrian membuat pengumuman kalau Ia sudah memiliki robot besar yang dibelikan oleh Jhico.


Bahkan saat Raihan datang usai lari sore, Ia langsung mengatakannya. Pengumuman resmi diberikan saat berkumpul untuk makan malam.


Sampai semua pelayan pun Ia beri tahu. Devan yang melihatnya hanya bisa menggelengkan kepala, dan sekali lagi Ia bertanya-tanya kenapa bisa memiliki anak seperti Adrian yang tingkahnya benar-benar membuat orang lain sakit kepala.


"Tukar dengan yang lain boleh tidak, Ya Tuhan?" Batin Devan yang langsung dicerca oleh sisi lain Devan. Tidak mungkin bisa ditukar, itu sudah menjadi bagian dari darah dagingnya.


"Tidak boleh ada yang menyentuh ya. Hanya boleh melihat saja,"


Kakek dan Neneknya mengangguk paham. Kesibukan mereka saja sudah segunung, untuk apa mencari kegiatan lain yang tidak bermanfaat yaitu menyentuh robot Adrian?


"Kalau Auris tidak sengaja menyentuhnya bagaimana?"


"Tidak boleh,"


"Ia ingin bermain dengan robot itu juga tidak boleh?"


Yang Devan tahu, robot Adrian bisa dibuat berjalan dan mengangkat tangan juga. Hal itu semakin membuat perutnya terasa geli, ingin tertawa.


"Tidak boleh! karena saat aku ingin membelinya, Auris juga ikut-ikut melarang, sama seperti Andrean."


"Karena kamu aneh. Makanya dilarang. Anak-anak lain takut memiliki mainan sebesar itu. Kamu malah mau memilikinya,"


"Aku bukan mereka. Aku menyukainya jadi tidak ada yang bisa protes," ujarnya penuh ketegasan yang malah terlihat lucu di mata semua orang, bukannya orang lain jadi segan.


"Kalau Grandpa boleh pegang sedikit?"


"Hmm... kalau Grandpa boleh,"


"Okay, boleh ya?"


"Iya,"


"Tapi pakai sapu,"


"Huh?"


"Kalau pakai tangan, Grandpa takut dia marah,"


Adrian berdecak, "Dia tidak mungkin marah. Paling hanya berjalan saja. Nanti Grandpa kaget,"


"Jadi dia akan berjalan kalau disentuh?"

__ADS_1


Adrian terkekeh lalu menggeleng. Ia hanya bercanda tapi kakeknya menganggap serius.


"Tidak, selama tombol untuk Ia bergerak tidak ditekan, maka robot itu tidak akan jalan atau melambai,"


"Seram juga ya kalau tombol itu tidak sengaja tertekan lalu tiba-tiba dia berjalan, apa lagi kalau sudah malam. Hihh tidak bisa dibayangkan," Rena meringis. Beruntungnya Rena jarang sekali masuk ke kamar cucunya malam-malam. Keseringan pagi untuk membangunkan mereka dari tidur kalau Lovi tak sempat karena sibuk mengurusi masakan.


"Tombolnya sulit dijangkau jadi tidak mungkin tersentuh secara tidak sengaja,"


Adrian sudah mewanti-wanti orang di sekitarnya terutama Devan, Lovi, kakak, dan adiknya yang tidak suka sekali dengan robotnya. Mereka pasti akan ketakutan setelah mendengar fakta itu. Harus berpikir berulang kali sebelum melakukan sesuatu terhadap mainan yang menjadi favoritnya itu untuk saat ini.


"Daddy tidak percaya dia bisa berjalan,"


"Coba saja kalau tidak percaya," tantang Adrian. Dilihat dari reaksinya barusan sepertinya Devan memang tengah merencanakan sesuatu terhadap robot tersebut. Saat ini Ia sedang memastikan.


"Daddy datang saja ke kamarku. Nanti kalau Daddy menjahilinya, bisa-bisa tangan Daddy ditarik,"


Semua terperangah. Secanggih itu? Astaga, kalau memang benar, kira-kira berapa uang yang harus dikeluarkan Jhico demi mendapatkan robot sangat canggih itu.


"Misal, Daddy ingin membalurkan cat dinding ke tubuhnya, nanti dia tahu. Baru satu sapuan cat, tangan Daddy bisa-bisa dicubit,"


Kalau bagian itu tentu saja Adrian hanya mengarang. Robotnya memang canggih tetapi tidak sampai mencubit orang. Ia hanya mengeluarkan suara saat dirasa ada ancaman misal tubuhnya disentuh, sama seperti mobil, Ia akan memberi bunyi sirine pelan sebagai peringatan lalu ada tempat sidik jari untuk menghentikan suara sirine itu agar robot percaya bahwa bukan orang asing yang menyentuhnya melainkan pemilik sidik jari yang sudah masuk ke dalam programnya.


"Daddy pasti mau jahil dengan robotku 'kan?" tebaknya yang membuat Devan diam beberapa saat lalu menggeleng cepat.


"Grandpa belum lihat ya? ayo, cepat habiskan makan malamnya biar kita bisa secepatnya melihat robotku,"


"Tidak boleh makan cepat-cepat. Apa lagi Grandpa sudah tua," tegur Devan atas sikap anaknya.


"Oh iya, Aku lupa kalau Grandpa sudah tidak muda lagi. Kalau tersedak, aku tidak tega," ujar Adrian yang tulus menyayangi kakeknya.


"Grandpa Lucas juga harus lihat. Grandpa pasti suka melihatnya,"


Sejak awal kedatangan robot tersebut sampai sekarang belum ada orang yang mengatakan 'suka' dengan robot Adrian. Yang ada hanya kata 'takut' setiap kali Adrian mengundang penghuni mansion untuk masuk ke kamarnya lalu memperhatikan robot itu.


"Kita kembali ke rumah, robot itu harus tinggal. Tidak boleh dibawa ke sana,"


"TIDAK BOLEH!"


"Ssstt, Adrian. Jangan kasar mulutnya," Raihan menasihati cucunya yang berteriak tidak terima atas ucapan Daddy-nya sendiri. Belum juga sehari robot itu menginap di mansion, sudah berhasil membuat Adrian sesayang itu pada robotnya. Tak bisa dibayangkan kalau robot itu rusak. Pasti Adrian akan marah sekaligus sedih.


Malam ini Adrian dan Andrean menikmati ikan panggang. Adrian tidak ingin dibantu Lovi untuk menyingkirkan duri ikan. Lalu karena ingin cepat-cepat mengajak kakeknya melihat robot, Ia sampai lalai dalam hal memastikan daging ikan yang dimakannya bersih dari duri.


Adrian tersedak sampai wajahnya merah. Lovi segera memberi pisang yang ada di atas meja makan. Menyuruh anaknya memakan pisang untuk mendorong duri tersebut. Lalu Lovi juga memberinya minum.

__ADS_1


Ia masih terbatuk. Dan semuanya tentu saja panik. Inilah yang Lovi takutkan bila anaknya makan ikan. Oleh sebab itu Ia tidak pernah membiarkan anak-anaknya menikmati ikan dengan tangan sendiri, harus Ia pastikan dulu bebas dari duri. Tadi Adrian memilih lepas dari pantauannya, ya begitulah pada akhirnya.


Devan menepuk lembut punggung anaknya. "Nakal duri ikan itu ya. Buat anak Daddy seperti ini," ujar Devan. Ia turut merasakan sakitnya ketika melihat Adrian seperti ini.


"Makanya kalau lagi makan jangan pikirkan hal lain dulu. Kamu yang merasakan sakitnya 'kan?" seperti biasa, Andrean akan mengeluarkan kalimat bijaksana ketika adiknya mulai membuat suasana berubah. Yang tadinya tenang menjadi penuh kecemasan.


Adrian dibawa oleh Devan ke atas pangkuannya. Lalu Devan memeluk tubuh kecil anaknya. Ia juga meniup kepala Adrian yang berkeringat mungkin karena terlalu sakit ketika batuk.


"Sudah?" Devan bertanya saat Adrian mulai tenang. Devan merangkum wajah Adrian dan bertanya sekali lagi, "Masih sakit? minum lagi kalau begitu,"


"Sudah, mau pisang saja."


Lovi segera mengambil pisang yang tadi belum habis. Baru dimakan Adrian kurang dari setengah.


Adrian menggeleng dan menunjuk buah pisang yang ukurannya lebih besar, "Mau yang itu biar sekalian kenyang. Adrian tidak mau makan ini lagi," ujarnya seraya menatap kentang dan ikan yang tadi membuatnya tersedak.


"Okay, tapi habiskan ya?"


"Iya,"


Lovi segera menuruti keinginan anaknya. Ia mengupas kulit pisang lalu memberikannya pada Adrian.


"Mau Daddy suapi?"


"Mau,"


Kalau lagi menjadi anak baik seperti ini, Devan bahagia sekali. Tapi kalau sedang menyebalkan, Ia benar-benar ingin mencubit Adrian yang sayangnya hanya sekedar ingin, karena Devan tidak sampai hati melakukannya.


Devan mengacak pelan rambut putra keduanya lalu mengecup keningnya. "Karena robot, tenggorokanmu jadi sakit. Apa Daddy hukum saja robot itu?"


"Jangan, dia tidak salah apa-apa,"


"Karena kamu terlalu semangat mau memperlihatkan robot pada Grandpa, jadi kamu menelan duri ikan,"


"Belum apa-apa dia sudah berani buat anak Daddy sakit. Awas saja!"


Adrian merengek lalu memeluk Devan dengan erat, "Daddy tidak boleh melakukan sesuatu pada robotku,"


"Apapun yang membuat anak Daddy terluka atau sakit pasti akan mendapat hukuman. Jadi seharusnya--"


"Yang harus disalahkan adalah ikan itu, bukan robot Adrian."


Semua yang berada di ruang makan terkekeh mendengar sanggahan Adrian yang tidak akan pernah kalah dalam berdebat. Devan dibuat menyerah untuk membuat robot itu musnah karena pemiliknya benar-benar pandai dalam menjaga.

__ADS_1


__ADS_2