My Cruel Husband

My Cruel Husband
Penggemar es krim


__ADS_3

Lovi tengah merajut baju untuk bayinya. Seperti saat mengandung Andrean dan Adrian. Dihari mereka keluar dari rahimnya, setelah dibersihkan oleh perawat, Lovi meminta perawat untuk memakaikan baju hasil karyanya pada bayi baru lahir itu.


"Mom, Adrian masih lama pulangnya?"


Lovi menoleh pada Andrean yang sedari tadi memperhatikan kegiatannya tanpa mengeluarkan sepatah katapun.


"Mommy tidak tahu, Sayang. Tapi sepertimya tidak lama lagi. Daddy pasti menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat sebelum adikmu merajuk lagi,"


Andrean mengangguk singkat. Ia meraih makanan ringan kesukaannya yang biasa Ia nikmati ketika menonton televisi. Pemandangan kali ini jauh lebih menarik. Dimana Lovi dengan telaten menjahit kain hingga menjadi baju yang menggemaskan.


Sebentar lagi sore dan Lovi serta Adrian baru saja makan siang. Mereka menunggu Devan dan Adrian yang Lovi kira akan pulang untuk makan siang. Namun ternyata suaminya sangat sibuk. Lovi mengerti karena Devan memang sudah lama tidak berkutat di kantor, mungkin banyak pekerjaan yang belum terselesaikan. Devan mengatakan kalau Ia dan Adrian makan siang di kantor. Akhirnya Lovi dan Andrean makan siang sedikit terlambat. Devan sempat merasa bersalah karena Ia kurang berkomunikasi dengan Lovi. Devan memang selalu seperti itu kalau kesibukan sedang melandanya.


***


Tak ada yang membelanya kali ini sehingga Adrian menyerah. Ia memilih untuk tetap bersama Devan di kantor. Devan sudah kembali ke ruang rapat sementara Ia sibuk menggulir layar ipad yang diberikan Devan tadi. Semenjak sakit, Devan memang melarang anaknya untuk bermain dengan benda tipis yang canggih itu. Namun saat ini Devan tahu kalau anaknya sangat membutuhkan itu untuk mengusir kebosanannya.


"Ayo ayo cepat!"


"Arrggh Kenapa kamu seperti siput sih? Larinya payah," anak itu berbicara pada pemain andalannya yang baru saja kalah dalam berlari. Padahal levelnya sudah lumayan tinggi. Kalau seperti ini Ia harus mengulang dari level awal.


Adrian menghela napas pelan dan memasang ancang-ancang untuk membanting ipad di tangannya. Namun tidak jadi. Kalau itu rusak sekarang, lantas Ia bermain apa? berhubung rasa kantuknya hilang, dan niat Adrian yang ingin membuat ayahnya kesal pun sudah tidak ada lagi, maka Ia butuh kesibukan yang lain.


Selang beberapa waktu, anak itu tiba-tiba saja mengusap tenggorokannya. Mata bulat itu menatap langit-langit seraya membayangkan minuman dingin yang nikmat.

__ADS_1


"Aku haus. Mau es krim kira-kira Mommy dan Daddy nanti tahu tidak ya?"


Telunjuknya mengetuk-ngetuk dagu dengan wajah serius berpikir. Ah daripada Ia bosan, haus, badmood, lebih baik menikmati es krim.


Ia berdiri dan melempar asal Ipad yang dipegangnya ke atas sofa dan hampir terjatuh.


Adrian melenggang santai ke arah pintu untuk membukanya. Ia mengeluarkan sedikit kepalanya untuk mencari bodyguard ayahnya yang ditugaskan untuk menjaganya.


Salah satu lelaki berbadan kekar dan berpakaian serba hitam itu menyadari kalau pintu terbuka. Ia menunduk terkejut, menatap Adrian yang jauh lebih pendek darinya.


"Ada apa, Tuan kecil?"


Tiga lelaki lainya pun kini beralih fokus pada Adrian yang tengah tersenyum lebar. Itu ciri-ciri Adrian kalau sedang ada maunya.


Mereka menelan ludah gugup. Kenapa harus bertanya pada mereka? memang mereka bisa menolak keinginan anak Tuannya?


"Saya belikan dulu, Tuan kecil."


Adrian melepas tangannya pada daun pintu, Ia keluar dari ruangan lalu bersorak senang.


"Jangan lama-lama ya,"


"Baik, Tuan kecil."

__ADS_1


Adrian masuk ke dalam ruangan Devan lagi. Raut senangnya benar-benar menggemaskan. Ia tidak sabar merasakan minuman dingin itu di tenggorokannya. Kalau tahu sebebas ini, sepertinya Adrian akan menyukai kantor Devan yang tadi dianggapnya sangat membosankan. Besok-besok Ia harus ke sini lagi dengan alasan mau menemani Daddy ke kantor!


***


"Daddy..."


Devan menoleh pada anaknya. Ia bisa melihat Adrian yang tampak menunduk. Seperti ada yang ingin disampaikan.


"Ada apa, Sayang?"


"Hmmm... Adrian mau..."


Alis tebal Devan menukik. Ia tak bisa memperhatikan wajah anaknya terlalu lama karena sedang mengemudi.


Devan masih menunggu kelanjutan kalimat anak itu dengan perasaan tak menentu takut Adrian meminta yang aneh-aneh.


"Adrian mau es krim," akhirnya keluar juga suara dari mulut anaknya. Bagi Adrian, dua cone es krim tidak akan cukup. Berhubung tadi Devan tidak tahu kalau Ia sudah menikmati es krim, pasti kali ini Devan menurutinya. Hitung-hitung sebagai penghargaan atas kesabaran Adrian yang sudah rela menunggunya bekerja hingga sore hari Seperti ini.


Devan mengangguk dan Adrian langsung memekik senang. Akhirnya Ia bisa minum es krim banyak. Biasanya Lovi tidak mengizinkan Ia dan Andrean untuk terlalu sering mengonsumsi es krim. Perkara terserang batuk dan radang tenggorokan, Adrian tidak peduli.


--------


HOLAHOLA ADRIAN DATANG🙌 TINGGALKAN JEJAK YAAAA👣MAACIW😚💙

__ADS_1


__ADS_2