
"Aku sengaja mengantarnya ke sini agar tidak macam-macam di apartemen. Aku rasa bila hanya sendiri di sana, Vanilla akan merasa bebas. Kalau di sini, Adrian bisa menjaganya lalu melaporkan apapun tentang Vanilla padaku,"
Lovi menyambut sosok yang baru saja menekan bel dengan senyum hangat. Ia terkekeh begitu Jhico menyampaikan maksud kedatangannya bersama Vanilla.
Vanilla menghentak kakinya kesal lalu masuk ke dalam diikuti oleh Lovi dan Jhico. Suasana mansion masih sepi, tidak biasanya dua keponakan Vanilla belum beraktifitas.
"Dimana mereka?"
"Sedang bermain dengan Devan di kamar,"
"Devan tidak bekerja?"
"Bekerja, tapi tidak ada hal penting yang harus Ia selesaikan pagi ini. Dia akan datang ke kantor menjelang siang nanti,"
Vanilla menoleh pada suaminya, "Kamu tidak bekerja juga? kenapa masih di sini?"
"Aku akan berangkat sekarang. Tapi aku butuh sesuatu yang penting agar aku semangat menjalani hari. Pelukan kamu, Nillaku,"
Lovi menggelengkan kepalanya geli. Kenapa Jhico terlihat manja sekali dengan Vanilla? selama ini Jhico yang dilihatnya adalah sosok laki-laki yang tenang namun perhatian.
"Sejak kapan kamu seperti ini, Jhico? apakah sudah ada Jhico dan Vanilla junior?"
Mata Vanilla membulat terkejut. Ini kelakar atau harapan?
Sebenarnya hal ini sudah biasa terjadi. Mungkin baru kali ini Jhico menunjukkannya secara terang-terangan di hadapan orang selain Vanilla.
"Biasanya seorang suami akan seperti ini karena khawatir perhatian istrinya terbagi," lanjut Lovi kemudian.
"Tidak ada korelasinya dengan itu, Lovi. Dia memang aneh sejak lahir,"
"Doakan saja, Lovi. Karena sampai saat ini aku belum mendapatkannya,"
*****
Menjelang sore, Devan pulang ke mansion. Lovi terkejut begitu mendapati suaminya, padahal belum lama Devan sampai di gedung perusahaannya.
"Anak-anak dimana, Lov?"
"Bersama Vanilla di lantai atas. Kenapa kamu pergi sangat sebentar?"
"Lov, aku ingin mengatakan sesuatu,"
Devan duduk di sofa dan menepuk tempat di sebelahnya agar Lovi duduk. Kemudian mereka saling berhadapan. Devan tiba-tiba meraih kedua tangan Lovi untuk digenggamnya.
Mata Devan menjelajahi sekitarnya untuk memastikan tidak ada siapapun yang mendengar. Sepi, karena Rena dan Senata sedang pergi ke pusat perbelanjaan untuk membeli kebutuhan satu bulan dan pelayan sibuk bekerja.
__ADS_1
"Devan, jangan membuatku takut. Apa yang mau kamu katakan?"
"Ayahmu, ayahmu datang ke kantorku,"
Lovi melepaskan tautan tangan mereka dengan cepat. Pandangan Lovi menusuk. Berbanding terbalik dengan milik Devan yang menampilkan sorot serius.
"Untuk apa ayah ke sana? dan bagaimana caranya kamu mengenal ayah? aku tidak pernah memberitahumu apa-apa, Devan!"
"Aku suamimu, aku berhak untuk mencari tahunya. Di ponselmu itu masih tersimpan beberapa foto masa lalu kalian. Kamu menyimpannya di folder khusus, Lov. Tapi aku bisa melihatnya,"
Lovi bangkit dengan amarah yang merundungi dirinya. Devan membahas sosok yang belum bisa termaafkan oleh Lovi namun masih sangat disayanginya. Perasaan Lovi sulit dijelaskan untuk saat ini.
"Apa yang ayah lakukan?"
"Dia--- dia hanya meminta aku untuk menyampaikan rindunya padamu,"
"Oh, bukan untuk menjualku lagi?"
"Lov, hey, kamu tidak boleh berbicara seperti itu,"
"Memang seperti itu yang dia lakukan padaku. Sampai akhirnya aku hidup tersiksa,"
Devan mendorong Lovi dengan pelan agar kembali duduk di sofa, Devan juga menekan Lovi hingga punggungnya dan sofa benar-benar bertemu. Ia menatap Lovi dengan sorot berbeda. Ada luka terbuka di matanya yang tiba-tiba saja membuat Lovi sesak ketika melihatnya.
"Jadi kamu tersiksa hidup bersamaku? Ayah menjual kamu padaku,"
"Kamu mengatakan bahwa hidupmu tersiksa. Dan hidup yang kamu maksud itu ketika kamu bersama aku, bukan?"
"Ya, tapi itu sudah berlalu. Kamu tahu, betapa kejamnya dirimu. Sekarang aku bahagia, Devan. Kamu bukan lagi sosok yang kejam tapi sempurna untukku,"
****
"Aunty, pinjam ponsel boleh?"
"Aunty tidak punya ponsel lagi,"
"hm? kemana ponsel Aunty? harganya mahal, sayang sekali kalau sampai hilang. Aku saja belum dibelikan Daddy karena harganya mahal," curahan hatinya benar-benar polos.
Vanilla meledakkan tawanya saat itu juga. Mungkin itu alasan yang digunakan Devan untuk menolak keinginan anaknya yang ke dua itu. Pola pikir Adrian belum dewasa dalam memilah dampak positif dan negatif dari benda canggih tersebut. Vanilla bersyukur saat tahu bahwa keputusan yang diambil kakaknya adalah sesuatu yang benar.
"Tapi kamu sudah punya i-pad,"
"Terlalu besar untuk di letakkan dalam saku, Aunty. Dan juga i-pad itu sudah di setting Daddy, hanya bisa digunakan untuk bermain game saja,"
"Memang kamu mau melakukan apa dengan ponsel itu selain bermain game?"
__ADS_1
"Ingin bertukar kabar dengan Adrina,"
Kepala Vanilla lebih maju mendekat pada Adrian karena suara Adrian semakin mengecil ketika mengatakan itu.
"Adrina?"
"Iya, temanku,"
Sepertinya Vanilla pernah mendengar nama itu. Otaknya berputar pada momen ulang tahun si kembar, dimana Adrina hadir untuk ikut merayakan.
"Ya Tuhan, kamu seperti sedang dimabuk cinta saja,"
"Apa itu cinta?"
Andrean sudah lebih mengerti dengan topik itu sehingga Ia melempari adiknya dengan bantal sampai Adrian meringis dan memarahinya.
"Masih kecil sudah aneh-aneh. Kamu buang air kecil saja masih suka di tempat tidur tapi sudah berani sekali bersikap seperti itu. Jangan memikirkan perempuan! pikir masa depanmu!"
Vanilla mengerjap kagum saat Andrean memberi petuah untuk adiknya. Jarang sekali anak sulung Devan dan Lovi mengeluarkan kalimat yang lumayan panjang seperti tadi. Adrian berhasil memancing sisi lain dalam diri kakaknya terbangun. Andrean terlihat begitu menyayangi adiknya, Ia tidak ingin Adrian gagal membuat Lovi dan Devan bangga.
"Aku tidak mengerti,"
"Inti dari semua ucapanku tadi adalah, kamu tidak boleh menganggap perempuan lebih dari teman! otakmu itu digunakan untuk memikirkan cita-cita bukan cinta!"
"Ya, kami memang berteman. Adrina dengan kamu juga berteman,"
Vanilla memijat tulang atas hidungnya. Tiba-tiba saja Ia sakit kepala. Ia seperti berada di tengah para manusia seusianya dimana 'cinta' hampir selalu menjadi trending topic bila sedang berkumpul dan berbincang.
"Adrian, jangan macam-macam!"
"Memang aku melakukan apa? aku hanya ingin ponsel untuk bertukar kabar dengan Adrina. Kami berteman baik walaupun sering bertengkar. Pikiran Aunty dan Andrean selalu buruk tentang aku,"
"Untuk apa bertukar kabar?! kita baru saja bertemu di sekolah, Adrian!"
"Iya, juga ya," Adrian menggusar kepalanya setelah mengingat itu.
Vanilla menggeram gemas dan ingin sekali menggigit Adrian karena sudah membuat Ia kesal. Adrian sudah diberi tahu dengan cara yang beragam. Mulai dari baik-baik, sampai yang sebaliknya. Tapi Ia tetap kokoh pada keinginannya untuk 'bertukar kabar'.
Sepertinya Adrian sudah terbiasa dengan kehadiran teman yang sefrekuensi dengannya sehingga mereka benar-benar melekat walaupun sebenarnya pertemuan mereka yang intens baru terjadi sejak dua hari yang lalu.
-------
NILLAKU up gayysssss. Cek cek cek, sampai jumpa di sana jg yaaaa. Babayy
__ADS_1