My Cruel Husband

My Cruel Husband
Ketika si tengil sakit


__ADS_3

Adrian menarik tangan Devan dan Lovi untuk masuk ke dalam kamar menuruti permintaannya malam ini.


Lovi bisa merasakan tangan anaknya yang panas. Rupanya bukan hanya batuk, anak itu sepertinya demam juga.


Lovi melepas tautan tangan Adrian dan sebelum Ia protes, Lovi menjelaskan,


"Mommy ambillkan obat demam dulu."


"Untuk siapa? Daddy sudah sembuh bukan?"


"Daddy belum sembuh dan sekarang kamu yang sakit,"


Devan segera menyentuh kening dan leher putra bungsunya. Benar, suhunya sangat tinggi.


Ia segera membawa Adrian ke ranjang sementara Lovi meraih sirup penurun demam di kotak obat.


"Memang Adrian sakit ya, Dad? Batuk saja tadi. Itu bukan sakit namanya,"


Masih mengelak dan berusaha menenangkan kedua orangtuanya yang tampak khawatir.


"Kenapa sakit, Sayang? Bukankah kita ingin berlibur?"


Lovi duduk di tepi ranjang dan melarang Adrian untuk berbaring. Kali ini Adrian tidak menolak untuk meminum obatnya karena tubuhnya memang tak bisa diajak kompromi. Ia butuh obat sekarang.


Setelah satu sendok cairan berwarna merah muda diteguk anaknya, Lovi mengangsurkan gelas berisi air putih.


"Ini karena minum es krim terlalu banyak. Dan terlalu lelah bermain. Besok-besok ulangi lagi ya?"


Lovi memang begitu kalau sudah marah. Ia akan mengungkit dan justru membiarkan anaknya untuk melakukan hal itu lagi. Karena percuma kalau dilarang, pasti akan berakhir ditentang. Lebih baik Ia persilahkan saja dari awal.

__ADS_1


Namun Adrian menangkap maksud lain. Ia justru senang ketika Lovi mengizinkannya banyak minum es krim lagi.


"Adrian akan datang sering-sering ke kantor Daddy. Nanti minta penjaga Daddy untuk belikan es krim lagi,"


Ia terlalu senang sampai tidak sadar kaau mulutnya sudah membongkar rahasia yang kemarin sangat dijaganya. Saat ini tanpa ditekan, Ia malah terbuka. Dasar Adrian!


Devan dan Lovi kompak melotot. Tak menyangka dengan keberanian anak itu. Tidak ragu berbohong demi mewujudkan keinginannya.


"Untuk apa kamu ke kantor Daddy lagi? Daddy tidak mau membawa anak nakal yang suka berbohong,"


****


Lovi terbangun di tengah malam saat Adrian yang tidur di sampingnya kian memeluknya erat dengan bibir yang meracau.


"Mommy, Adrian sakit."


Tak heran memang. Anak-anaknya selalu seperti ini jika sedang sakit. Terkadang meringis sampai-sampai Lovi merasa tidak tega.


Dengan perut yang mulai membuncit dan sedikit kesulitan, Lovi bangun dan meraih minyak aromaterapi untuk membuat anaknya tidak sakit lagi. Biasanya meracau adalah salah satu cara mereka memberi tahu kalau tubuh mereka sedang tidak baik-baik saja selama tertidur.


Andrean dan Devan masih nyaman dalam tidur. Anak dan ayah itu saling memeluk. Devan menjadikan lengannya sebagai bantalan untuk Andrean. Pemandangan yang dari dulu hingga sekarang membuat Lovi tersenyum senang.


Adrian mengerjap pelan. Ia merentangkan tangannya ingin dipeluk Lovi.


"Masih sakit?"


Ia mengangguk polos dan mengulurkan salah satu lengannya yang terasa kebas untuk kembali dipijat oleh Lovi.


"Terima kasih ya, Mommy."

__ADS_1


***


"Kamu tidak bawa ke rumah sakit? Sudah tahu anak sakit---"


"Hari ini aku ada meeting, Pa. Lovi sudah membawanya untuk periksa,"


Tanpa basa-basi Raihan masuk ke dalam ruangan putranya. Hal pertama yang Ia tanyakan adalah mengenai keadaan Adrian yang semalam Ia tahu sudah batuk parah padahal rencananya besok sudah berlibur ke Indonesia.


"Diundur saja lah. Setelah benar-benar pulih, kalian bisa langsung liburan. Membawa anak sakit untuk bepergian rasanya sangat mengkhawatirkan, Devan."


Devan duduk di kursinya dengan tenang. Membenarkan apa yang dikatakan Raihan. Memang hal itu sudah bersarang di kepalanya sejak Adrian sakit semalam. Wacana berlibur itu bisa dilaksanakan kalau mereka dalam kondisi baik. Mungkin Lovi juga punya keinginan seperti itu hanya saja belum sempat mengutarakannya pada Devan mengingat Ia sangat sibuk mengurusi Adrian yang tadi pagi sangat lemas.


Suara ketukan pintu membuat pembicaraan mereka terhenti. Raihan dan Devan kompak menoleh ke arah pintu. Seorang wanita berpakaian kantor tampak berdiri di depan pintu dengan canggung.


"Sebentar lagi rapat dimulai, Boss."


Devan mengangguk singkat dan mengibaskan tangannya di udara, mengusir sekretaris yang baru beberapa hari bekerja mendampingi Ferro sebagai orang kepercayaan Devan.


Setelah wanita itu keluar, Raihan tampak berdecak. Sementara Devan mulai menyiapkan berkas yang tadi dibukanya untuk dibawa ke ruang pertemuan.


"Kamu yakin mempekerjakan dia sebagai sekretarismu, Devan? Memangnya Ferro kurang profesional?"


Devan yang tahu maksud ucapan Raihan tampak mengangkat sebelah alisnya.


"Ferro sangat profesional. Tapi dia juga harus mengurus perusahaannya sendiri disamping menjadi orang kepercayaanku,"


"Kenapa harus wanita? papa tidak ingin percintaanmu kandas karena sekretaris seperti di drama-drama yang ditonton Mamamu,"


--------

__ADS_1


OKAYYY 4 EP LUNAS YAKK😂😂 JGN PELIT LIKE, KOMEN, VOTE, BINTANG 5 YOWW. FOLLOW AKYU JG ;) MWEHEHE.


__ADS_2