
Lovi bangun lebih dulu seperti biasanya. Ia melihat kedua anak dan suaminya yang masih terlelap. Perempuan beranak tiga itu tersenyum begitu melihat kakak dan adik yang gemar bertengkar malah saling memeluk ketika tidur.
Adrian terlihat begitu posesif memeluk leher adiknya. Dan Auristella juga sangat manja, Ia melingkarkan tangan mungilnya di perut sang kakak. Mereka sangat menggemaskan bila sedang akur seperti ini.
Lovi keluar dari kamarnya untuk menghampiri anak sulungnya. Andrean tidak ada lagi di kamarnya, mungkin sudah berada di lantai bawah. Karena sekalipun libur, Andrean tetap rajin bangun pagi dan biasanya Ia akan bergabung dengan kakeknya yang gemar lari pagi bersama supir, pengawal dan pekerja laki-laki yang lainnya.
"Andrean di bawah?"
Lovi bertanya pada pelayan yang tengah membersihkan kamar anaknya.
"Iya, Nona. Tadi sedang disuapi sarapan oleh Nyonya Senata,"
"Okay, terima kasih,"
Lovi pergi ke lantai bawah. Benar, anak pertamanya sudah mandi dan tengah mengenakan kaus kaki.
"Wow, sudah tampan anak mommy," pujinya dengan takjub. Ia mencium pipi Andrean sebagai ucapan 'selamat pagi'
"Sudah makan?"
"Sudah,"
"Ingin olahraga?"
"Ya, ikut Grandpa. Tapi hari ini kita akan naik sepeda,"
"Grandpa nekat ya? sudah tua tapi masih saja ingin naik sepeda," sahut Rena yang belum selesai menata meja makan.
Lovi mengusap kepala anaknya lalu datang ke dapur untuk membuat sarapan Auristella. Sarapan suaminya sudah dihidangkan oleh Rena di meja makan. Lovi hanya tinggal membuat teh atau susu hangat, sesuai permintaan suaminya nanti setelah bangun.
"Pergi dulu ya?" ujar Raihan pada orang-orang penghuni mansion itu. Ia keluar seraya menggenggam tangan sang cucu.
__ADS_1
"Ya, hati-hati."
"Andrean pakai sepeda sendiri? tidak ingin duduk bersama Grandpa saja?"
"Tidak, Andrean ingin sendiri,"
Raihan mengangguk dan Ia mengisyaratkan pekerjanya untuk menyiapkan dua sepeda miliknya dan Andrean.
"Kalau lelah, katakan pada Grandpa ya?"
"Aku sudah biasa, Grandpa. tidak akan lelah, tenang saja," ujarnya dengan datar. Raihan menanggapinya dengan terkekeh.
*******
"Ma, beberapa hari yang lalu aku dan Lovi bertemu dengan ayah,"
Devan menggunakan kesempatan yang ada untuk berbicara berdua dengan Senata. Kedua anaknya sedang melihat Lovi menyiapkan pakaian sekolah untuk esok hari, sementara Raihan dan Rena tengah menghadiri suatu acara.
"Aku ingin dia kembali berhubungan baik dengan Ayah, Ma. Tapi aku mengerti itu semua perlu waktu,"
"Jangan paksa Lovi, Devan. Kamu sudah tahu betapa menyakitkan kehidupannya dulu,"
*******
"Jangan ganggu Mommy. Lebih baik membantu,"
Auristella merusak tatanan pakaian yang sudah diatur Lovi. Lovi menjulurkan kemeja sekolah milik Adrian pada Auristella. Anak perempuannya itu menggeleng dan langsung menjauh dari Lovi.
Pandangan Lovi beralih pada anak keduanya yang entah sibuk dengan apa. "Adrian, apa yang kamu lakukan? biasanya kalau sudah tenang begitu, ada sesuatu yang kamu lakukan,"
Adrian menunjukkan robotnya yang tengah Ia bongkar. "Astaga, kenapa dirusak seperti itu?"
__ADS_1
"Bukan dirusak, Mommy. Ini diperbaiki,"
Lovi berdecak seraya menggeleng pelan. Ia memilih untuk kembali menyibukkan diri. Terserah anaknya saja. Asal Ia tidak saling mengganggu dengan Auristella.
"Seharusnya tidak perlu diperbaiki. Kalau sudah rusak, masih ada mainan yang lain."
"Tidak, ini mainan kesayanganku. Kalau dibelikan yang baru, aku akan senang,"
Lovi menoleh sebentar, tahu betul anaknya tengah memberi kode agar dibelikan mainan yang baru.
"Minta belikan saja pada Daddy,"
"Tidak mau, Adrian masih kesal dengan Daddy,"
Adrian dengan penuh tenaga membongkar mainannya sendiri tanpa bantuan apapun.
"Untuk apa membuat lelah diri sendiri? aku bingung dengan Adrian," ujar Andrean heran. Padahal masih banyak mainan yang lain, tapi kenapa memilih untuk menyulitkan diri sendiri? Adiknya aneh sekali.
"Andrean, tarik yang kuat!" titahnya pada sang kakak agar membantu Ia membuka bagian kaki robot.
"Tidak, memang mudah? seharusnya menggunakan alat khusus untuk melakukannya,"
Tanpa banyak bicara Adrian mencobanya sendiri. Terbuka, tapi malah jadi rusak. Karena dibuka secara paksa tidak dengan alat. Robot itu terpelanting karena Adrian terlalu keras menariknya.
Melihat itu Auristella terbahak. Ia memperhatikan robot kakaknya yang sudah bernasib menyedihkan.
Adrian bersiap memiting kaki adiknya agar berhenti tertawa. Ia kesal kalau sedang seperti ini malah ditertawakan bukan dibantu.
"Mainanku rusak kamu malah tertawa. Nanti bonekamu, aku beri makan cokelat lagi ya?"
"Nanti Mommy suruh kamu mencucinya lagi," Lovi menyahuti ancaman anaknya.
__ADS_1
------------