
"Dad, aku sudah tumbuh gigi," seru Lovi dengan senang seraya mengangkat kedua tangan Auristella. Devan langsung menggendong anaknya.
"Aku baru tahu,"
"Iya, aku lupa memberi tahumu,"
Devan mencoba untuk membuka mulut Auristella. Tapi Ia menolak, menahan mulutnya dengan kuat.
"Padahal Daddy mau lihat, Sayang." dengusnya kesal. Ia tidak menyadari kalau bukan Lovi yang mengatakannya. Padahal setiap hari Auristella selalu bersamanya.
"Perlu perayaan tidak, Lov?"
"Huh? untuk apa?"
"Karena Auris sudah tumbuh gigi,"
Lovi memukul lengan suaminya yang tampak serius. Lovi malah tertawa seolah ucapannya tadi adalah guyon.
"Aku serius, Lov."
"Tidak perlu, Devan. Kecuali kalau dia sudah bisa jalan, mungkin bisa dibuat perayaan."
"Itu masih lama, Lov."
"Aneh kamu ini,"
*******
__ADS_1
Lovi sedang menyiapkan semua perlengkapannya dan Devan untuk beberapa hari ke depan.
Rencananya, nanti malam Ia dan suaminya akan terbang menuju London karena Devan harus menyelesaikan urusan pekerjaan di sana, dan Devan minta untuk ditemani. Setelah memiliki anak lagi, Devan tidak pernah manja seperti ini. Biasanya kalau ada perjalanan bisnis, Ia akan pergi bersama orang-orang kantornya yang juga terlibat.
Ketika Lovi menolak, Devan mengatakan bahwa Ia sangat menginginkan Lovi untuk ikut, anggap sebagai bulan madu katanya.
"Tapi bagaimana dengan Auris?"
"Lov, hanya sebentar. Ada kedua neneknya di sini,"
"Tapi aku tidak bisa meninggalkan mereka," Lovi tampak sedih ditengah bimbangnya. Satu sisi Ia ingin memenuhi keinginan suaminya tapi di sisi lain, Lovi harus mengemban tanggung jawabnya sebagai Ibu.
"Sudah lama kita tidak pergi berdua, Lov. Kamu tidak mau?"
Dengan segala bentuk bujuk rayunya, akhirnya Lovi menyerah. Ia akan memenuhi permintaan suaminya. Mereka pergi berdua dan meninggalkan ketiga anaknya di mansion.
"Aku juga tahu. Memang aku pernah membawa baju banyak kalau tidak membawa anak pergi?"
Devan menggeleng seraya menggusar kepalanya. Ia membantu Lovi dalam menyiapkan peralatan mandi.
Pintu kamar terbuka. Andrean dan adik keduanya masuk. Mereka memperhatikan kedua orangtuanya lamat-lamat. Sulit sekali membiarkan Daddy dan Mommy mereka untuk pergi. Karena sebelumnya mereka hampir tidak pernah berpisah.
"Nanti jangan lupa sering telepon Adrian ya, Mom?"
Adrian mengikuti kakaknya untuk duduk di tepi ranjang. Mereka melihat kesibukan Lovi dan Devan dalam diam.
"Pasti, Sayang."
__ADS_1
"Adrian kesal, kenapa tidak diajak juga. Pasti Daddy dan Mommy akan berlibur,"
"Kamu curiga saja. Daddy bekerja,"
Usai dengan kegiatannya yang ringan-ringan, Devan menghampiri kedua putranya. Ia membawa Andrean dan adiknya itu ke tengah ranjang lalu memeluk mereka sangat erat sekaligus memberikan ciuman yang bertubi-tubi.
"Jangan bersedih. Nanti kita akan sering menghubungi kalian. Memberi tahu kalau kita sudah datang ke tempat ini dan itu, sudah berjelajah kuliner, sudah--"
"Daddy, kenapa malah membuat Adrian semakin ingin pergi juga?! sudah cukup, tidak perlu dilanjutkan,"
Devan terkekeh geli. Ia menggigit bibir bawahnya menahan gemas. Tidak terasa, mereka sudah besar. Dulu saat ingin ditinggal bekerja saja mereka pasti merengek sampai akhirnya Devan menunda keberangkatannya. Sekarang, kedua anak itu mulai mengerti bahwa tidak selamanya Devan dan Lovi berada di samping mereka. Ada saatnya harus hidup mandiri karena kedua orangtua harus menyelesaikan pekerjaan yang hasilnya juga untuk mereka.
"Daddy dan Mommy hati-hati ya,"
"Kalian juga hati-hati dan jangan nakal," sudah berapa kali pesan itu disampikan. Baik oleh Lovi maupun Devan.
"Jangan ganggu Auris ya, Adrian. Kasihan dia kalau menangis tidak ada Mommy," satu lagi kalimat yang sudah beberapa kali diucapkan Lovi. Karena siapapun tahu bahwa Adrian gemar sekali membuat adiknya menangis. Lovi akan kepikiran kalau anaknya saling bertengkar.
Adrian meletakkan tangannya di pelipis seraya berseru, "Siap Mommy!"
Devan menyisir rambut depan kedua anak kembar itu menggunakan jemari kokohnya. Seraya memperhatikan keduanya yang tampak serius.
"Belajar untuk menjaga Auris. Kalau nanti Mommy dan Daddy sudah tidak ada di dunia, lalu kalian--"
Andrean segera memeluk ayahnya sangat erat. Ia menggeleng di dada Devan. Adrian pun melakukan hal yang sama. Mereka tidak ingin mendengar kalimat itu. Walaupun masih kecil, tapi keduanya sudah mengerti kalau yang dimaksud Devan adalah perpisahan untuk selamanya, ketika Devan dan Lovi tidak ada lagi di sisi mereka sampai kapanpun.
"Tidak boleh bicara seperti itu, Daddy!"
__ADS_1
--------