My Cruel Husband

My Cruel Husband
Menepati walaupun terlambat


__ADS_3

Sudah dua menit pertandingan dimulai, Adrian merasa yang saat ini di lapangan bukan dirinya. Ia berusaha memenangkan team-nya dari lawan dengan semangat yang benar-benar kosong.


Sementara orang yang menyebabkan anaknya bersedih itu terlihat memasuki tempat pertandingan dengan langkah kaki yang terbilang sangat cepat. Peluh di keningnya menunjukkan betapa besar usahanya untuk menepati walaupun ketika sampai di sana Ia tidak bisa lagi membisikkan kata-kata semangat untuk sang anak.


"Lov, Maaf. Maafkan aku, aku terlambat,"


Lovi menoleh saat lengannya disentuh seseorang. Lovi sedari tadi fokus menatap anaknya yang sedang menggiring bola.


"Maafkan aku. Aku tidak bisa datang tepat waktu,"


Lovi kembali fokus ke arah lapangan. Ia menjawab dengan dingin, "Jangan meminta maafku. Seharusnya kamu melakukan itu pada Adrian. Dia benar-benar berharap kamu di sini sebelum ini dimulai,"


Devan mengangguk. Ia memang akan melakukan itu ketika Adrian sudah selesai bertanding nanti.


Devan keluar dari kantor lebih lama karena Ia harus melakukan rapat terlebih dahulu yang sebenarnya tidak ada dalam agenda. Setelah selesai, Ia harus dihadapkan dengan kesulitan. Devan terjebak macet di jalan raya.


Sehingga terpaksa Ia menggunakan kendaraan roda dua. Menunggu kendaraan tersebut juga membutuhkan waktu yang lama. Maka ujian untuk Devan sebelum menemui anaknya semakin banyak.


Selama di perjalanan, Devan selalu membayangkan wajah sedih Adrian. Ini pertandingan yang cukup penting untuk Adrian. Ia dan Andrean begitu senang ketika ditunjuk sebagai wakil dari sekolahnya. Sayang, Andrean tidak bisa bertanding bersama sang adik karena kondisinya.


Devan bersorak agar Putranya merasa terdorong kembali. Adrian terlihat mengalihkan mata ke tribun penonton. Di sana Ia melihat Devan. Ia masih belum yakin. Sekali lagi Ia menatap barang sedetik. Benar! Daddy-nya ada di sana, memberinya dukungan. Dada yang sedari tadi terasa sesak, langsung lega luar biasa, seolah ada banyak pasokan oksigen yang memenuhi rongga dadanya.

__ADS_1


******


Devan dan Lovi berjalan bersisian keluar dari stadion perlombaan. Adrian berada dalam gendongan sang ayah dengan tangis yang belum reda.


Ia menangis karena kalah. 'Ia gagal membuat Lovi dan Devan bangga'. Selalu kalimat itu yang keluar dari mulutnya.


Devan sebagai ayah selalu meyakinkan bahwa Ia sudah melakukan yang terbaik. Dengan Ia mengikuti pertandingan, itu sudah lebih dari cukup membuat Lovi dan Devan bangga. Mereka memang bangga atas pencapaian yang diraih Adrian. Ia bisa seperti ini karena belajar sendiri. Devan tidak pernah mengajarinya. Semata-mata Andrean dan adiknya ini hanya mendapatkan pelatihan sepak bola dari sekolahnya saja.


"Adrian mau trofi. Tadi pemenangnya dapat itu. Adrian tidak,"


"Karena mereka pemenang, maka dapat trofi sebagai penghargaan. Kamu kalah, jadi tidak mendapatkan itu, Sayang." Lovi menjelaskan dengan sabar seraya menghapus air mata Adrian yang benar-benar membasahi wajah tampannya.


"Daddy, Daddy pasti kesal pada Adrian karena Adrian kalah,"


Padahal bukan seperti itu. Devan diam karena memikirkan cara untuk mengusir rasa sedih Adrian. Tadi Devan juga sempat membuat anaknya kesal karena Ia datang terlambat.


"Manusia tidak mungkin menjadi pemenang setiap saat. Tujuan kita diberikan kekalahan oleh Tuhan adalah, agar kita belajar lagi. Kalau selalu menjadi pemenang, maka ada rasa sombong dalam diri dimana kita sudah merasa sempurna sehingga tidak perlu lagi mencari ilmu,"


Adrian diam, mendengarkan baik-baik kalimat sang ayah. Sedikit demi sedikit hatinya mulai terbuka dalam menerima kekalahan. Pertandingan pertama Ia berhasil dikalahkan. Semoga dipertandingan selanjutnya, Adrian bisa lebih baik.


"Kenapa berhenti di sini?"

__ADS_1


Devan tidak menjawab. Ia keluar dari mobil dan itu menambah kebingungan Lovi serta Adrian.


Lovi bisa melihat dari dalam mobil kalau suaminya memasuki sebuah toko. Dari kaca toko tersebut Lovi bisa melihat barang apa yang dijual.


Hanya membutuhkan waktu beberapa menit Devan keluar lagi seraya memegang satu buah trofi yang besar. Lovi membulatkan matanya.


Pintu mobil dibuka, dan Devan mempersembahkan benda di tangannya kepada Adrian yang baru saja dikalahkan.


"Adrian tetap menjadi pemenang di hati Daddy dan Mommy, dan ini penghargaannya,"


Adrian langsung melonjak kesenangan. Ia mencium-cium trofi ditangannya. Perlakuan manis Devan ini mengusir kesedihan di hatinya.


Sementara menurut Lovi, ini benar-benar gila. Sebesar itu Devan menginginkan anaknya tersenyum. Lovi bingung harus mengatakan apa.


--------


UDH PD PAKE SKINCARE? SKRG UDH REBAHAN DONG YA? WKWKK. SELAMAT MEMBACA BWT KM YG UDH SIAP BOBOK


'NILLAKU' UDH UP TD PAGI YAAAA. SILAHKAN MAMPIR DI SANA. RAMAIKAN KOMEN. OKRAYYY??


__ADS_1


__ADS_2