My Cruel Husband

My Cruel Husband
Belajar masak tanpa rencana


__ADS_3

"Kamu tahu darimana kalau kuda milikku baik?"


"Aku datang ke kandangnya. Ternyata kandang kuda kita berdekatan,"


"Hihh ngapain sih dekat-dekatin kuda aku?! cari kandang yang jauh seharusnya,"


"Mommy aku yang menentukan kandangnya karena kuda itu dari Mommy. Dan sepertinya Mommy tidak tahu kalau kandang yang dipilih berdekatan dengan kandangnya si Pink,"


Pink adalah nama kuda Adrina. Terlihat dari ukiran kayu di luar kandangnya. Diberi nama pink sepertinya karena semua perlengkapan yang melekat di tubuh kudanya berwarna pink.


"Aku juga punya kuda,"


"Benar, Thalia?"


"Benar, kuda mainan tapi. Banyak malah,"


Tawa Adrian meledak. Ia kira Thalia juga punya kuda. Kalau benar memiliki kuda, mereka bisa berkuda bersama. Dan bukan hanya dengan Adrina saja Ia berkuda. Dengan Thalia juga bisa.


"Kalau aku tidak punya kuda. Tapi suka juga berkuda,"


"Sama seperti aku dulu. Aku berkuda pakai kuda punya Mommy atau kuda yang memang disediakan oleh tempat itu,"


***


Dashinta berjalan dengan anggun keluar dari lift seraya membawa beberapa map berisi dokumen. Ia akan masuk ke dalam ruang rapat dan menyiapkan semuanya sebelum rapat dimulai.


Sembari berjalan, sesekali Ia melihat ponselnya. Ia tengah khawatir karena Ibunya baru saja masuk rumah sakit dan sekarang ditemani oleh adiknya.


Disaat yang bersamaan seorang laki-laki juga berjalan di depannya. Saat sedang melirik jam tangan, Ia dan Dashinta bertabrakan hingga menyebabkan semua bawaan Dashinta terjatuh ke lantai.


Dashinta cepat-cepat merendahkan tubuhnya untuk membereskan semuanya. Selain tangannya bekerja, mulutnya juga tak henti mencibir pelaku yang telah menyebabkan ini semua.


"Berjalan dengan benar!" Lelaki yang menabrak Dashinta tadi menyentak kesal. Dashinta kembali berdiri tegap. Ia menelan ludahnya gugup. Di depannya saat ini adalah lelaki tampan berpenampilan menawan. Tubuh kekarnya dibalut dengan tuxedo mahal. Wajahnya licin bak porselen, rambutnya tertata rapi. Tanpa perlu mencari tahu, Dashinta sudah bisa menebak apa jabatan lelaki itu, pasti petinggi. Dan sepertinya dia adalah salah satu orang yang akan ikut rapat bersama Boss nya nanti.


"Maaf, Tuan. Aku--"


"Lagipula kenapa pakai sepatu tinggi sekali?! ini bukan acara fashion show, tapi kantor."


"Di kantor Tuan memang tidak ada yang memaki stiletto? ini sudah biasa dikenakan oleh---"


"Tapi milikmu tinggi sekali. Seperti ingin fashion show,"


"Ber--"


"Dashinta, cepat ke ruang rapat! jangan berdebat!"


Sebelum Dashinta berbicara sembarangan, Ferro yang kebetulan akan masuk juga ke ruangan yang sama dengan Dashinta, langsung memutus perdebatan yang sebentar lagi akan memanas.


"Maafkan Dashinta. Dia adalah sekretaris Tuan Devan,"


"Hanya sekretaris? penampilannya bak model saja," gerutunya seraya berjalan ke ruang aula dimana biasanya semua rekan berkumpul sebelum memulai acara.


Ferro terperangah mendengar ucapan lelaki itu. Ia menatap sebentar punggung lelaki yang Ia ketahui bernama Sky itu.


"Dasar Tuan arogan. Aku tahu dia orang hebat, tapi sombong sekali jadi manusia. Kalau tidak ingat aku ini hanya sekretaris, sudah aku piting kepalanya sampai lepas,"


Dashinta mengotak-atik laptop di depan proyektor dengan bibir tak henti menggerutu. Sampai office boy yang belum selesai membereskan meja dan kursi untuk rapat menoleh bingung padanya.


"Bisa-bisanya Boss bekerja sama dengan dia,"


"Artinya mereka bersinergi,"


Dashinta menoleh tajam pada lelaki yang sedang bekerja itu. Dashinta semakin kesal saat office boy terkekeh.


"Maaf kalau aku salah bicara,"


"Kamu tahu aku baru saja mengalami apa?"


"Tahu, kebetulan sebelum aku masuk ke sini, aku melihat semuanya."


"Menurutmu aku atau dia yang salah?"


Lelaki itu menunjuk Dashinta dengan sungkan. Mata Dashinta membulat tidak terima. "Kenapa aku?"


"Berjalan seraya fokus dengan ponsel adalah hal yang tidak baik. Sementara dia tadi hanya melirik jam tangan sebentar, tapi terlanjur ditabrak oleh---"


Sekali lagi ibu jari Kenta -nama office boy itu- mengarah pada Dashinta. Kemudian dia menangkup kedua tangannya di depan dada.


"Maaf kalau aku salah bicara. Ini hanya pendapatku saja,"


"Iya, tidak apa. Santai saja, tidak usah segan begitu padaku,"


****


Hari ini adalah jadwalnya Lovi mendatangi butik. Ia keluar dari mobil tapi sebelum masuk ke dalam, Ia berpesan pada supirnya, "Kalau mau pulang dulu, tidak apa. Aku akan memberi tahu kalau sudah mau pulang,"


"Iya, Nona. Tapi aku akan tetap di sini,"


"Okay, terima kasih."


Lovi membuka pintu butik dan para pegawainya yang tengah sibuk langsung menoleh ke pintu. Setelah melihat Lovi, mereka menghentikan kegiatan sejenak hanya untuk menyapa.


"Hallo, Nona."


"Hallo, wow fokus sekali kalian,"


"Iya, kejar target, Nona." sahut salah satunya yang membuat Lovi terkekeh. Memang bulan ini ada beberapa busana yang harus mereka selesaikan. Deadline antara klien yang satu dengan yang lainnya juga saling berdekatan.


"Rasanya baru tiga hari kita tidak bertemu, tapi sudah rindu denganmu."


Irene memeluk Lovi yang sudah dianggapnya sebagai adik sementara Lovi menganggapnya lebih dari sekedar tangan kanan.


"Kamu tidak membawa siapapun ke sini?"


"Siapa?"


"Adrian,"


"Dia belum pulang sekolah tadi. Setelah pulang, ada latihan sepak bola,"


Sebenarnya jadwal untuk berlatih itu masih dua hari lagi. Tapi karena ada seminar guru, jadi latihan dimajukan dari biasanya.


*****


"Kalian ada masalah apa sih?"


"Boss tidak lihat, tadi dia meminjam bolpoin saya? dia kan orang penting masa bolpoin saja pinjam?"


"Dia kehilangan bolpoin nya, Dashinta. Dan kamu yang duduknya paling dekat dengan dia. Ya sudah, jangan ributkan masalah kecil,"


Devan dibuat pusing dengan Dashinta dan Sky yang meributkan bolpoin. Devan belum tahu kejadian sebelumnya yang melatar belakangi Dashinta begitu kesal saat ini.


"Sudah pinjam, dihilangkan lagi. Tidak tahu diri sekali dia,"


"Percuma juga kamu marah-marah sekarang. Dia sudah tidak ada di sini. Malah saya yang pusing mendengar kamu bicara terus,"


"Usir saja, Tuan." saran Ferro yang mengundang lirikan sinis dari Dashinta.


"Jangan begitu menatap orangtua. Hati-hati dosa,"


"Siapa yang mulai lebih dulu?"


"Aku melakukan apa?"


"Hadehh tidak yang muda, tidak yang tua, semua sama saja. Hobi berdebat,"

__ADS_1


Usai memasukkan ponselnya ke dalam saku, Devan pergi dari ruang rapat meninggalkan Dashinta dan Ferro yang tengah adu mulut.


Di perjalanan menuju ruangannya, Devan bertemu dengan Bandy, office boy yang pernah mencari masalah dengannya.


"Bagaimana kondisi Ibumu?"


"Kemarin baru keluar dari rumah sakit, Tuan."


"Semoga segera pulih dan tidak kambuh lagi,"


Bandy mengangguk pelan. Devan berlalu sementara office boy itu mengusap dadanya dengan perasaan lega. Ia mengira Devan menghampirinya yang tengah membersihkan lantai karena ada hal penting yang berkaitan dengan pekerjaannya.


*****


"Ada anak baru di sekolah ini,"


"Siapa?"


"Sepertinya dia pintar, dan tampan sekali,"


"Aku bertanya 'siapa?' jawabannya malah tidak nyambung,"


Adrina dan Thalia baru saja membawa berita untuk sahabat-sahabatnya. Di kelas lain, ada anak baru yang berjenis kelamin laki-laki. Seperti kata Adrina tadi, dia tampan.


"Di dunia ini tidak ada anak yang bodoh," ujar Adrian yang tidak setuju kalau anak baru itu dikatakan pintar. Karena bukan dia saja yang pintar, semua anak juga pintar, apalagi di sekolahnya ini.


"Ck! kamu bisa diam tidak? memang aku bicara pada kamu?"


"Kamu sedang bercerita padaku 'kan?"


"Tidak, pada kalian." sanggah Adrina seraya menunjuk Adrian, Andrean dan Revin juga.


"Siapa sih? aku penasaran,"


Saat Revin akan bangkit, Adrian menahannya. "Nanti dia terlalu percaya diri kalau di cu---"


"Iri saja kamu! mau juga di curi-curi pandang?"


"Aduh maaf ya. Aku tidak hanya dicuri-curi pandang. Dipelototi karena terlalu tampan adalah hal biasa bagiku,"


Adrina melempar satu buah pensil ke arah Adrian yang memasang wajah tengil dan menyebalkan.


"Aku mau lihat ke kelasnya,"


Adrian menggeleng pelan melihat Revin yang sangat penasaran dengan kebenaran berita yang dibawakan Adrina dan Thalia.


"Paparazi mode on,"


"Awas-awas! pergi dari kursiku. Kamu hobi sekali duduk di tempatku,"


"Ini kursi sekolah. Bukan kursi pribadi,"


Gigi Adrina bergemelutuk. Tangannya mengepal ke arah Adrian yang tidak juga pergi dari kursinya.


"Pindah, Adrian. Di kursiku saja kalau mau,"


Adrian menggeleng seraya tersenyum pada Thalia yang baru saja menawarkan tempat untuknya.


"Kalau aku ditempatmu, kamu dimana?"


"Matamu!" sela Adrina saat Adrian bertanya seperti itu pada Thalia.


Adrina membuka matanya lebar-lebar menggunakan tangan di hadapan Adrian. Ia menjahili Adrian dan Thalia yang sibuk berdua.


Kini Adrina menatap Andrean yang paling kalem seperti biasa.


"Andrean, boleh bantu aku menghafal perkalian?"


"Sudah menghafal di rumah 'kan?"


Andrean mengangguk dan mempersilahkan Adrina untuk duduk di sampingnya dan Ia akan membantu Adrina menghafal.


"Kamu menyebutkan, nanti kalau ada yang salah, akan aku perbaiki."


"Perkalian berapa?"


"Terserah padamu,"


Adrina mengangguk sebelum memikirkan perkalian berapa yang akan Ia jabarkan. Adrian sudah mengusir Adrian tapi pada akhirnya Ia duduk di samping Andrean.


"Okay, aku mau perkalian delapan ya."


Andrean mengangguk dan mulai mendengarkan Adrina menghafal sementara Ia sudah siap untuk memberi tahu bila Adrina keliru.


"Delapan dikali satu hasilnya delapan,"


"Delapan dikali dua hasilnya enam belas,"


"Delapan dikali tiga hasilnya dua puluh empat,"


"Delapan dikali empat hasilnya tiga puluh dua,"


"Delapan dikali lima hasilnya empat puluh,"


"Delapan dikali enam hasilnya empat puluh delapan,"


Adrian memperhatikan kakaknya dan Adrina yang tengah serius. Adrian mendengus dan mengajak Revin serta Thalia untuk melakukan hal yang sama.


"Aku sudah hafal,"


"Ya aku juga. Tapi daripada kita seperti orang linglung diam saja, lebih baik menghafal juga seperti Adrina,"


Thalia dan Revin mengangguk dan mulai bergantian untuk menghafal. Dimulai dari Adrian dulu, kemudian Thalia, dan yang terakhir Revin.


Andrean bersyukur adik dan teman-temannya tidak sibuk mengobrol lagi. Seharusnya memang seperti ini. Karena guru mereka akan melakukan tes hitung-hitungan hari ini.


"Tidak ada yang salah lagi 'kan?" tanya Adrina setelah Ia menyelesaikan hafalannya. Andrean menggeleng dan memberikan ibu jarinya untuk Adrina.


"Tidak, sudah bagus hafalannya..."


"Aku juga mau, tolong beri tahu aku kalau---"


"Ah kamu tidak usah. Kamu sudah pintar, pasti tidak ada yang salah,"


"Jangan begitu, aku juga perlu belajar."


"Okay, aku dengarkan kamu."


Baru juga sampai delapan dikali tiga, guru mereka masuk dan menyapa mereka singkat. Setelah itu langsung memanggil nama siswa secara acak.


Setiap kegiatan pembelajaran di sekolah tentunya dipantau oleh orangtua karena memang sudah perjanjian dengan sekolah seperti itu. Seharusnya tidak ada lagi yang panik karena belum siap materi Tapi rupanya masih ada yang seperti itu. Karena intensitas belajar yang kurang dan sibuk dengan dunianya ketika sudah sampai di rumah. Tidak semua anak mudah diberi tahu dan tidak semua orangtua bisa memantau dua puluh empat jam karena mereka juga punya kesibukan. Jadi semuanya tergantung pada siswa.


"Adrian maju ke depan!"


Adrian adalah siswa kedua yang dipanggil. Adrian yang maju, Andrean yang jantungan. Ia yakin adiknya bisa, tapi sebagai kakak ada rasa khawatir adiknya tidak bisa melakukan yang terbaik.


Adrian mulai mengerjakan soal matematika dengan santai. Andrean berharap adiknya bisa menyelesaikan soal itu dengan baik. Setiap dirinya yang maju, Ia tidak pernah secemas ini. Tapi giliran Adrian yang maju, Andrean malah merasakan kecemasan berlebih.


Ada soal cerita mengenai penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian. Sebenarnya mereka sudah terbiasa diberikan soal-soal seperti ini tapi karena ada ini 'tes' jadi ada rasa takut. Sekolah mereka sudah terbiasa mengajak siswanya untuk berpikir kritis karena kurikulum yang digunakan juga internasional.


Setelah mengerjakan lima soal di samping guru, saatnya Adrian menghafal perkalian dari satu sampai sepuluh. Dua kali Ia tersendat, tapi setelahnya fokus lagi. Bila sedang ujian seperti ini, sosok Adrian yang hobi bercanda langsung hilang entah kemana.


"Tidak mau turun kelas?"


"Tidak mau, Ms."

__ADS_1


"Pintar, sepertinya kamu sudah siap untuk masuk ke primary school ya?"


"Sudah siap,"


"Okay, kamu bisa kembali ke tempatmu,"


Entah berapa soal yang benar, tapi Adrian mendapat pujian setelah Acha melihat hasil kerjaannya. Mungkin hasilnya tidak seburuk yang dibayangkan oleh Adrian sendiri.


Adrian tersenyum pada kakak nya seraya mengangkat sebelah alisnya. Ia menyombongkan diri karena sudah selesai tes, sementara kakaknya belum.


Lovi dan Devan tahu hari ini anaknya ada ujian harian. Menjelang masuk ke primary school kedua anak kembar itu sering menjalani ujian seperti itu untuk lebih meyakinkan pihak sekolah apakah anak itu siap untuk menapaki diri di primary school nanti.


****


Hari sudah semakin sore, dan Jhico belum juga tiba di kampus untuk menjemputnya. Akhirnya Vanilla memutuskan untuk ke mansion, melepas rindu dengan Mama dan Papanya, Ia juga sudah mengatakan pada Jhico agar menjemputnya di mansion saja.


Jhico tahu betul sebenarnya Vanilla kesal. Tapi mau bagaimana lagi? Jhico memang terjebak macet usai mengantar Keyfa ke rumahnya setelah berkunjung ke panti.


Daripada Ia memaksa Vanilla untuk tetap menunggu di kampus, akhirnya Jhico menyuruh Vanilla untuk pulang ke mansion orangtuanya saja. Dan setelah Jhico pulang bekerja, Ia akan menjemput Vanilla di sana. Selain terjebak macet, alasan Jhico putar kemudi ke klinik karena Ia mendapat laporan dari Ghea keadaan klinik saat ini sangat ramai pasien dan Kenzo mulai kewalahan menanganinya.


Keberadaan Vanilla di mansion membuat Jhico tenang. Di sana, Ia ada teman, dan tentunya ada yang menjaga juga.


"Aduh anak Mommy semakin kurus ya," Rena menyapa putrinya dengan kelakar. Vanilla yang tahu maksud terselubung dari ucapan Mama nya nampak merengut.


"Katakan saja yang jujur, Ma. Body ku semakin besar, iya 'kan?"


Rena mengangguk jujur. Tadi Ia ingin mengatakan itu tapi takut Vanilla tersinggung. Ia tahu betul sebesar apa rasa sensitif Vanilla selama hamil. Ia selalu memantau Vanilla melalui Jhico. Menantunya tak pernah bercerita hal-hal yang buruk dari Vanilla selama hamil. Tapi ketika Rena bertanya langsung pada Vanilla, banyak hal yang disembunyikan Jhico salah satunya adalah Vanilla yang suka marah-marah, sangat manja, dan suka membuat Jhico merasa lelah dengan segala permintaan anehnya.


"Jane belum pulang, kalau kamu mencari dia,"


"Dia sedang mencari baju untuk tunangan,"


"Baru dicari sekarang?"


"Iya, Mama baru tahu?"


"Astaga, anak itu bagaimana sih?! Mama sudah menawarkan diri untuk membantu, tapi dia menolak. Mama kira semuanya sudah siap. Mama juga lupa bertanya tentang persiapan acara tunangan. Terlalu fokus ke pernikahan,"


"Tiga hari lagi tunangan tapi baju belum ada, itu tidak wajar ya, Ma?"


Saat menikah Vanilla tidak merasakan betapa sulitnya mengatur waktu untuk mengurus semua perlengkapan menikah karena semuanya diatur oleh Rena dan juga Jhico. Jadi Ia tidak tahu serumit apa pekerjaan orang-orang dibalik suksesnya acara pernikahan.


"Menurut Mama tidak wajar. Kita harus terbiasa mempersiapkan semuanya sejak awal,"


"Sepertinya Jane stress menjelang menikah,"


"Iya, itu normal tapi jangan sampai ada yang terlupakan,"


"Ma, aku mau buat pancake."


"Mama saja yang buatkan. Kamu istirahat. Baru selesai kuliah 'kan?"


"Iya, aku ujian tadi."


"Lebih baik istirahat di kamar kamu,"


"Tidak, aku mau belajar cara buatnya."


"Kamu kelelahan nanti, Vanilla."


"Tidak, Ma. Hanya buat pancake,"


Rena mengangguk dan berjalan ke dapur. Sementara Vanilla menatap kesunyian mansion sebentar. Ia meletakkan tas nya di sofa, lalu mengikuti Rena ke dapur.


"Sepi sekali mansion ini,"


"Lovi ke butiknya, si kembar belum pulang sekolah---"


"Belum pulang? ini sudah sore,"


"Iya, jadwal mereka hari ini padat. Dan Auristella belum bangun,"


"Hmmm aku kira ada anak itu yang akan menyambutku tadi,"


"Dia sudah tertidur lumayan lama. Mungkin sebentar lagi bangun,"


"Aku tidak mau pulang kalau dia belum bangun. Aku harus mendapat ciumannya dulu,"


"Kamu datang ke sini hanya ingin dicium Auris?"


"Iya, salah satu alasan kedatanganku ke sini karena itu. Aku sangat merindukannya. Sebenarnya aku tidak ada rencana mau ke sini, tapi karena Jhico tidak bisa menjemput aku dengan cepat, ya sudah aku ke sini saja daripada hanya berdiam diri di kampus. Dia juga harus ke klinik katanya,"


"Ohh sibuk sekali dia ya. Sebentar lagi punya anak, Jhico jadi semakin giat cari uang,"


"Dia memang begitu sejak awal menikah. Jarang ada waktu untuk aku,"


"Tidak boleh bicara begitu,"


Rena mengeluarkan semua bahan-bahan yang dibutuhkan untuk membuat pancake, sementara Vanilla memperhatikan Mamanya itu.


"Memang benar, Ma. Sibuk dengan pekerjaan terus,"


"Ah yang benar? bukannya sebaliknya ya?"


Vanilla tak bisa menjawab. Sekarang Ia introspeksi diri karena ucapan Rena. Apakah benar dia yang sibuk?


"Ayo, ke sini. Katanya mau bantu,"


"Oh iya,"


Vanilla mencuci tangannya sebelum memulai. Rena menyiapkan adonan agar dicampur rata oleh anaknya. Semua takaran ada di tangan Rena. Vanilla hanya bertugas mengaduknya saja.


"Aku mau pakai pewarna pink, Ma."


"Jangan, yang original saja,"


"Aku mau pink. Biar lucu dan menggemaskan,"


Akhirnya Rena mengambil pewarna khusus makanan. Ia membuka tutupnya lalu menuangnya sedikit ke dalam wadah yang sedang berada di bawah kendali Vanilla.


"Kamu seperti anak kecil saja. Kenapa jadi suka yang berwarna? saat belum menikah tidak begini,"


"Aku suka yang imut-imut sekarang. Sayang aku tidak bisa masak. Kalau bisa, sudah pasti aku berkreasi di dapur untuk menghilangkan rasa bosan sampai Jhico pulang kerja.


"Seharusnya kamu belajar masak. Jhico pasti senang menikmati masakan kamu,"


"Iya, nasi goreng yang warnanya hitam saja dia makan karena itu buatan aku,"


"Huh? warna hitam?"


Tanpa menghentikan kerja tangannya, Vanilla mengangguk. "Iya, aku terlalu lama---"


"Astaga, makanan sudah gosong kamu berikan ke suami?"


"Bukan gosong, Ma. Hanya hitam, kata-katanya yang halus sedikit, tolong lah, Ma."


Rena menggeleng pelan tak habis pikir. Kalau warnanya sudah hitam artinya nasi goreng itu sangat tidak layak untuk dimakan. Tapi kenapa Vanilla membiarkan Jhico melahapnya?


"Kenapa kamu berikan ke Jhico? kamu sengaja membuat dia---"


"Dia sendiri yang mau. Saat aku akan membuangnya ke tempat sampah, dia melarang. Katanya masih enak dimakan. Ya sudah, aku biarkan saja dia makan nasi goreng model baru itu. Dan mungkin dia tertarik dengan warna nya, Ma. Warna hitam salah satu warna kesukaan Jhico,"


-------


Nasi goreng model baru😂 hrsnya namanya bkn nasi goreng lg ya. Menurut kalian apa yg cocok?🤣🤣

__ADS_1


__ADS_2