
"Katakan pada perempuan itu Dia tidak boleh pergi kemanapun selama Aku pergi,"
Devan keluar dari pintu kamarnya dan menemukan Ferro yang sudah menantinya.
"Baik, Tuan,"
Ferro mematuhi perkataan Devan lalu beralih Ke kamar Lovi dan mengetuk pintunya namun tidak ada jawaban apapun dari dalam.
Ferro menoleh ke belakang dan mendapati Devan yang mengerinyitkan dahinya bingung.
"Nona Lovi tidak menjawab, Tuan,"
"Perempuan bodoh sialan!" Maki lelaki itu seraya menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Kita akan akan terlambat," Ujarnya pada Ferro yang masih berusaha mengetuk pintu kamar Lovi.
Beberapa menit tidak ada suara apapun di dalam akhirnya Devan memutuskan untuk menggantikan posisi Ferro. Melakukan hal yang sama bahkan ia mengetuknya lebih kencang. Devan muak dengan orang yang berhasil membuang waktunya.
Ketika handle pintu tak sengaja bersentuhan dengan lengan Devan, Pintu pun terbuka perlahan.
Devan mengutuk dalam hati. Entah apa yang dipikirkan perempuan itu ketika membiarkan pintu kamarnya tidak terkunci seperti ini.
Devan memasuki kamar Lovi dan langsung disambut dengan suasana sunyi. Matanya menatap ranjang dimana Lovi tertidur dengan nyaman.
__ADS_1
Devan menoleh saat mendengar pintu berdecit. Ia mengisyaratkan Ferro untuk keluar membuat lelaki baya itu mundur perlahan. Dan menutup pintu kamar Lovi untuk menjaga Privasi Devan dan istrinya.
Ketika sampai di samping ranjang, Devan menatap perempuan itu dalam diam, menelusuri setiap bagian wajah manis perempuan yang selalu di sakitinya.
Tanpa sadar, tangan kekarnya mengusap rambut lembut Lovi dengan pelan seolah tidak ingin berbuat kejam lagi padanya. Namun batinnya berkata lain. Sisi kejam yang selama ini sudah tertanam di dalam diri Devan kembali bangkit.
Lovi bangkit dari posisi berbaringnya seraya mengusap wajahnya yang terasa perih. Ia menatap bingung ke arah Devan.
"Siapa yang mengizinkanmu untuk beristirahat? hm?" Devan menekan setiap kata yang keluar dari mulutnya.
"Maaf,Tuan,"
Devan ingin meraih rambut Lovi. Namun Lovi menggeleng dengan raut ketakutan.
Lovi menyesal tidur tanpa seizin Devan. Kejadian ini membuatnya harus lebih berhati-hati lagi dalam mengambil keputusan. Ia tidak boleh melakukan apapun bila Devan tidak mengatakannya.
Rasa lelahnya berhasil menjadikan Lovi seorang pembangkang. Lovi melupakan kenyataan bahwa Devan adalah pemiliknya.
"Aku tidak mengatakan kalau kamu boleh tidur! Lalu sekarang apa yang aku lihat? Dengan nyamannya kamu tertidur,"
Lovi tak bisa menahan kesedihannya lagi ketika Devan kian menyalurkan emosinya melalui makian.
"Kamu berhasil membuang waktuku!"
__ADS_1
Lovi ingin mengeluh, Lovi ingin berteriak sekencang mungkin untuk melepaskan semua kesedihannya.
Devan merendahkan tubuhnya dan meraih dagu Lovi kemudian menatap tajam manik yang sudah dipenuhi oleh kristal bening itu.
"Kamu melakukan kesalahan untuk yang kesekian kalinya dan Aku muak!"
"Karena itu, Lepaskan aku,Tuan," Lovi bergumam. Ia pun merasa tidak kuat lagi berada di dalam sangkar penderitaan ini.
Devan tertawa dan menajamkan matanya hingga menyala-nyala.
"Apa? Kamu baru saja mengatakan mimpimu?"
Lovi menggigit bibirnya sekuat mungkin mendengar kalimat Devan itu. Devan menghinanya. Ya, mimpinya sederhana. Ingin hidup bahagia tanpa kungkungan siapapun.
"Kamu lupa posisimu? Aku sudah menghabiskan uangku jadi tidak mungkin aku melepaskanmu,"
Lovi menelan ludahnya kelu. Ia tidak tahu kapan Devan bosan lalu membuangnya. Lovi sangat menantikan saat dimana itu terjadi.
Suara ketukan pintu dari luar berhasil menyita perhatian Devan. Ia melepaskan dagu Lovi hingga Perempuan itu menghela napas lega.
"Kamu tidak boleh keluar dari sini. Kalau kamu tetap melakukannya, akan ada seseorang yang melaporkannya padaku,"
***********
__ADS_1
Maapin up nya ngaret paraahhh😂 sibuk sklh gezzz malumin yakk hehehehe. like, coment, fav nya dungsss biar aku mkn semangaadd lanjutnyaa. maaciw