
"Lov, aku masih ingin lagi,"
Plakk
"Sakit, Lov. Ya ampun kamu tega sekali denganku,"
"Kamu tidak punya otak lagi atau bagaimana? tadi katamu hanya empat. Tapi kenyataannya enam kali kamu keluar. Sekarang masih kurang lagi?! minta disembelih kamu ya?"
Devan terbahak kencang. Sekali lagi Lovi memukul tangannya yang bergerak liar tanpa aturan. Lovi menatap suaminya dengan tajam sebagai tanda peringatan.
Setelah Devan turun dari tubuhnya, Lovi segera menghampiri Auristella yang sudah melenguh dalam tidur pertanda Ia akan segera bangun.
*****
Makan siang hari ini Devan dan Raihan tidak kembali ke mansion. Mereka menyelesaikan pekerjaan secepat mungkin agar esok hari dan lusa tidak lagi memikirkan itu.
Selama makan, Adrian masih saja menangis usai kakinya diobati oleh Lovi. Setiap ingin di berikan obat, Adrian memang seperti itu. Merengek kesakitan padahal Lovi sudah mengobatinya dengan hati-hati. Luka di kaki sebelah kanannya sudah mulai membaik. Sudah dua hari Adrian mendapatkan luka tersebut dan selama dua hari itu pula Lovi tidak absen untuk memberikannya obat agar kondisinya tidak lagi memar dan mengeluarkan darah.
"Sakit, Mommy." Ia menangis sesenggukan di sela mengunyah makanannya.
"Karena kamu tidak bisa diam jadi darahnya keluar lagi. Harus dibersihkan kalau tidak, nanti infeksi,"
Lovi tidak bisa menahan cibirannya. Ia terlalu kesal dengan sikap anaknya yang selalu tidak tahu kondisi tubuhnya sendiri. Ia main bola lagi tanpa sepengetahuan Lovi yang sedang menemani Auristella tidur. Selama itu Ia tidak menangis malah tertawa senang saat berhasil mengalahkan kakaknya. Ketika diobati malah menangis. Kemana tawanya yang bergema tadi? Lovi gemas sekali rasanya. Ingin menelan anak itu bulat-bulat.
"Ini sudah sembuh,"
Lovi menghentikan suapannya pada anak itu. Lalu dengan pelan Ia menarik kaki Adrian agar naik di pangkuannya.
Ia menunjuk luka basah itu pada Adrian lalu menatap tajam, "Ini yang kamu katakan sudah sembuh? luka seperti itu tidak bisa sembuh cepat,"
Adrian kembali menurunkan kakinya seraya mendengus kesal. Ia mengambil piringnya lalu makan sendiri. Gerakannya dibuat kasar karena Ia terlalu kesal.
"Jadi tidak mau Mommy suapi lagi?"
"Tidak, terima kasih. Adrian bisa sendiri,"
__ADS_1
Lovi tersenyum miring sembari menggelengkan kepalanya heran. Benar-benar anak Devan. Bila sudah marah sikapnya terkadang mampu mengundang geli.
*****
"Jadi tidak perlu menerima kerja sama itu?"
"Tidak, Ferro. Mana mungkin aku bekerja sama dengan perusahaan itu,"
Setelah dua kali penawaran kerja samanya ditolak beberapa bulan lalu, kini Elea kembali mengirimkan surat permohonan kerja sama dari perusahaan milik ayahnya. Devan yakin perusahaan itu semakin turun. Terlihat pada beberapa proyek besar, perusahaan milik Glen, Ayah Elea tidak pernah lagi menunjukkan taringnya seperti dulu.
"Aku pikir kau sudah melupakan semuanya,"
Devan terkekeh dan terdengar menyeramkan di telinga Ferro. Lelaki itu melipat laptop nya lalu menatap Ferro dengan pandangan aneh.
"Tidak mungkin aku lupa. Dua hari yang lalu dia kembali bertemu dengan Lovi,"
"Apa yang dia lakukan?"
"Lovi mengatakan tidak terjadi apapun. Mereka hanya berbicara,"
Siapapun tahu bahwa Devan tidak akan main-main dalam bertindak, melakukan sesuatu pada orang yang telah berani mengganggu ketenangan keluarga nya.
"Baiklah, aku akan membuat surat penolakan,"
Ferro keluar dari ruangan Devan, meninggalkan pemilik ruangan yang kembali berkutat dengan berkas-berkasnya.
*****
"Ya Tuhan, apa yang kamu lakukan Auris?"
Seruan Lovi membuat suasana kian riuh. Suara Adrian yang berteriak begitu serasi dengan Lovi sementara tawa Auristella sangat tidak kontras.
Auris sedang memeluk boneka seraya berbaring dan Adrian berdiri di sampingnya. Ia akan melempar boneka kedua ke arah luka Adrian namun Lovi buru-buru mencegahnya.
"Kamu kenapa tidak menyingkir?"
__ADS_1
Adrian mendengus kesal. Nasibnya sekarang berbeda dengan yang dulu. Ia sudah menjadi kakak sehingga bila ada masalah sekecil apapun pasti dilimpahkan ke dirinya. Berbeda dengan dulu dimana Andrean lah yang lebih dewasa dan harus bisa mengalah sementara Ia bisa senang hati bila sudah dibela oleh kedua orangtuanya.
Tadi Ia membantu Auris untuk mengambil boneka. Tapi niat baiknya itu justru dibalas dengan kejam oleh adiknya. Lagi-lagi lukanya disentuh. Tadi oleh Lovi yang mengobati. Sebenarnya Auristella bukan lagi menyentuh, Ia sudah menyakiti.
"Auris, usiamu bahkan belum sebulan tapi kenapa sudah berbuat ulah, Sayang?"
Lovi menjauhkan boneka-boneka dari jangkauan Auristella. Anak perempuannya itu langsung merengek. Karena tidak ada lagi mainan dan kakaknya juga sudah pergi menjauh.
"Aku yang di salahi. Enak sekali jadi Auris," Ia tak henti mencibir. Ketika masuk ke dalam kamar, Andrean menoleh padanya.
Adrian membanting tubuh di sebelah sang kakak yang sedang melukis di atas ranjang. Andrean kembali fokus pada kegiatannya.
"Kenapa?"
Andrean bertanya tanpa menoleh.
"Diam! aku kesal,"
Andrean kembali menoleh saat pertanyaannya ditanggapi dengan tidak santai. Ada apa dengan adiknya ini?
"Dimarahi Mommy?" tebakannya pasti benar karena tadi Andrean mendengar nama Auristella dibawa-bawa oleh Adrian. Mungkin Adrian melakukan sesuatu lagi pada adiknya sehingga membuat Lovi geram.
"Berhenti jadi orang jahil, Adrian. Kamu tidak bosan dimarahi terus?"
"Siapa yang jahil?!"
"Kamu, siapa lagi?"
"Lihat lukaku! Auris melemparinya dengan boneka. Dia yang jahil. Bukan aku!"
----------
NILLAKU udh up yaa. Pdhl udh dr kemaren tp baru bisa lolos review tadi sore. Tumbenan lamaaaa_- Untuk WHY, Insya Allah up ntar malem. LIKE, VOMEN, RATE 5 JANGAN IRIT YAAAKK 😁TENCUUUUU💙
__ADS_1