My Cruel Husband

My Cruel Husband
Andrean dan Adrian ingin berbagi


__ADS_3

"Mainanku ternyata banyak sekali ya, Dad."


Mereka sudah selesai makan. Dan saat ini tengah menikmati makanan penutup. Devan menoleh pada anak sulungnya.


"Kenapa, Sayang?"


"Aku boleh membagi separuhnya pada mereka yang membutuhkan?"


Sebenarnya Andrean memikirkan hal ini tadi, Dan Lovi menebak dengan tepat bahwa anaknya sedang memikirkan sesuatu. Andrean merasa sangat beruntung dan Ia ingin anak-anak lain yang tidak seberuntung dirinya bisa memiliki mainan juga.


"Boleh, Sayang. Daddy senang mendengarnya,"


Lovi menatap suaminya tak berkedip. Devan memang baik, terlepas betapa buruk masa lalunya dulu. Sekejam apapun dia terhadap orang, tapi tetap ingat kodratnya sebagai manusia yang harus saling membantu. Apalagi setelah meninggalkan masa lalunya yang sangat buruk, Devan semakin giat melakukan kebaikan agar menjadi berkat untuknya dan juga keluarga.


"Ingin diberikan ke siapa?"


"Terserah, Daddy."


"Panti saja ya? saat kunjungan awal bulan nanti,"


"Iya, aku juga perlu waktu untuk memilah mainan apa saja yang masih layak untuk mereka gunakan,"


"Andrean yakin?"


"Iya, Mom. Kenapa Mommy bicara begitu?"


"Tadinya Mommy mau mengatakan itu saat kita mau pindah. Tapi Mommy pikir, kamu pasti menolak. Ternyata malah sebaliknya,"


"Karena aku sudah besar, semakin jarang juga dipakai,"


Andrean selalu mengatakan dirinya sudah besar, dan hati Lovi selalu terenyuh mendengarnya. Anak yang dulu dia timang-timang dan selalu menangis saat Ia tinggal, sekarang mengaku sudah besar dan tidak begitu membutuhkan mainan lagi.


"Adrian mau berbagi juga tidak?"


"Hmm..."


"Ya sudah, tidak usah." putus Devan. Anaknya belum selesai berucap, Ia sudah menyanggah. Karena Adrian terlihat ragu, jadi lebih baik tidak usah.


"Mau, aku mau." jawab Adrian.


"Ya sudah, siapkan dulu mainan yang mau diberikan."


"Okay, Dad."


"Awu,"


"Auris mau apa?"


"Awu," Auristella mengikuti ucapan Adrian tadi. Saat ini Ia memang lagi gemar-gemarnya meniru perkataan dan perbuatan orang.


"Auris mau berbagi juga mungkin, Dad."


"Ndak,"

__ADS_1


"Hih? benar kataku 'kan? kamu itu pelit! tidak salah aku mengatakan kalau kamu itu pelit, kenyataan nya memang begitu,"


"Ssstt.... sudah, kalau Auris memang tidak ingin jangan dipaksa. Memberi itu harus tulus dari keinginan sendiri, bukan karena orang lain,"


******


"Kalau bertengkar biasakan untuk menyelesaikan nya secara baik-baik. Jangan kamu malah pergi, Jane."


Jane dan Richard sedang dinasihati oleh Raihan. Pasalnya mereka datang ke mansion malam-malam dan Jane mengatakan ingin menginap di sana karena rindu dengan tempat tinggalnya semasa belum menikah. Tentu saja alasan itu terdengar janggal di telinga Raihan dan juga Rena. Apalagi kalau dilihat dari gestur Jane dan suaminya. Jane terlihat enggan sekali menatap Richard sementara Richard sebaliknya.


Richard tidak sengaja membentak Jane lagi, kasarnya kembali keluar. Ia melakukan itu setelah Jane protes padanya yang mengingkari janji untuk makan malam bersama di rumah.


Richard sudah menjelaskan alasannya kenapa dia terlambat pulang, tapi Jane yang keras kepala tetap saja tidak peduli dengan alasan itu.


Sampai saat ini keduanya tidak ada yang ingin buka suara mengenai pertengkaran kecil itu.


"Ya sudah, kalian bisa istirahat sekarang. Agar esok pagi pikiran jauh lebih baik,"


Jane segera beranjak ke dalam kamar yang biasa Ia tempati saat masih gadis. Tidak ada yang berubah, sesuai permintaannya. Kamar Vanilla pun begitu.


"Ada apa sebenarnya, Richard? kamu tidak mau mengatakannya padaku?"


"Aku tidak sengaja membentaknya. Itu sudah terbiasa sebenarnya. Tapi entah mengapa malam ini dia begitu tidak terima,"


Jane sudah tahu suaminya bagaimana. Tapi malam ini seolah lupa akan hal itu. Dimarahi sudah menjadi makanan Jane sehari-hari selama menikah, bila Ia terlalu ikut campur tentang Richard.


"Dia sering sekali memancing amarahku. Dia tahu apa yang tidak aku suka, tapi dia lakukan. Aku tidak suka dia yang terlalu penasaran dan dia yang buat aku khawatir,"


"Urusanku menjadi milikku, Paman. Tapi urusannya menjadi milikku juga,"


"Tidak adil kalau begitu,"


"Biarkan saja, aku tidak ingin dia memendam suatu hal sendiri,"


Richard tidak ingin istrinya menyembunyikan suatu hal tanpa sepengetahuannya. Bukan hanya kegiatan yang dia lakukan, hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaan pun Jane tanyakan. Richard risih dengan hal itu.


*****


Lovi dan Devan membawa anak-anak mereka ke rumah Lucas untuk melihat keadaannya sekaligus mengundang Lucas untuk hadir di perayaan ulang tahun Auristella yang pertama.


Auristella melihat-lihat sudut rumah kakeknya dengan bingung dan itu mengundang senyum Lucas. "Rumah Grandpa Lucas kecil, Auris. Maaf membuatmu tidak nyaman,"


"Ayah, Auris merasa nyaman di sini. Rumah ini hanya terasa asing saja baginya,"


Tidak hanya dengan rumah, dengan orang yang baru dilihat pun Auristella suka menatap tak berkedip.


"Ayah ikut kami mau?"


"Ayo, Grandpa ikut Adrian,"


"Kemana?"


"Auris ingin cari gaun,"

__ADS_1


"Tidak, ayah sudah tua, tidak perlu ikut-ikut anak kecil belanja," jawab Lucas pada Devan.


"Namanya kakek-kakek ya pasti sudah tua, Grandpa. Memang ada aturan nya orang sudah tua dilarang ikut anak kecil beli gaun?"


Siapa lagi yang bisa mengatakan itu selain Adrian? si anak yang memiliki seribu satu cara agar orang mau ikut apa katanya.


"Grandpa ingin di rumah. Kalian saja yang pergi,"


"Ayolah, Grandpa."


"Grandpa mau makan besar ini. Makanan yang kalian bawa lezat sekali kelihatannya," Lucas beralasan agar Ia tidak diajak ke mall. Ia tidak ingin mengganggu waktu mereka berlima.


"Grandpa harus ikut!"


"Ya!" Auristella berseru mendukung kakak keduanya. Entah benar paham atau tidak yang penting 'iya' saja.


"Benar ayah tidak ingin ikut?" tanya Lovi memastikan.


"Ayah di rumah saja,"


"Ya sudah, nanti kami kembali lagi ke sini, Yah."


"Kami pergi dulu," Devan pamit begitupun ketiga anaknya yang memeluk Lucas sebelum pergi.


"Hati-hati di rumah, Grandpa."


*******


Selain membeli outfit untuk Auristella, tentunya Lovi juga menyiapkan baju untuk Devan, dirinya sendiri, dan kedua putranya. Mereka akan mengenakan yang senada.


"Kenapa tidak Mommy saja yang desain?"


"Mommy sedang ingin menggunakan jasa orang lain,"


"Semakin sibuk nanti. Sudah membuat desain klien, harus buat untuk acara keluarga sendiri juga. Mommy bisa kelelahan," ujar Devan. Sebenarnya dia sendiri juga yang tidak mengizinkan Lovi untuk mendesain baju untuk acara ulang tahun Auristella. Kesibukan Lovi akan semakin menjadi, belum lagi Ia harus mengurus hal-hal lain yang berkaitan dengan acara. Lovi ingin ulang tahun pertama Auristella sempurna.


"Aku mau beli sepatu,"


"Iya, memang mau beli. Tunggu sebentar,"


Adrian berjalan tidak sabaran keluar dari butik menuju tempat dijualnya sepatu-sepatu untuk anak kecil. Adrian terpana melihat banyaknya sepatu di sana dengan harga yang mahal.


"Seharus tidak usah beli sepatu, Mom. Di rumah sudah banyak sekali. Bisa buka toko sepatu malah," ujar Andrean menyarankan. Sikap hemat nya timbul lagi, dia tidak berbeda jauh dengan Lovi. Sementara Adrian sama persis dengan Daddy nya.


"Daddy yang mau belikan,"


Lovi melirik Andrean yang menghela napas jengah setelah mendengar ucapan Devan. Karena Devan sudah bicara seperti itu, jadi tidak ada yang bisa mengelak.


"Hanya kali ini ya, Devan. Sepatu kita sudah banyak sekali. Entah harus bagaimana lagi caranya merubah sikap boros mu itu. Sekarang jadi menurun ke Adrian,"


---------


__ADS_1


__ADS_2